Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 33


__ADS_3

Ratu dan raja semalam, mungkin itu lah yang saat ini dirasakan oleh pengantin baru. Ane dan Bhanu berjalan di atas karpet merah yang telah disediakan untuk mereka lewati menuju singgasana sang mempelai. Ane menggandeng lengan Bhanu—pria itu, merengkuh pinggang Ane mesra. Berbagai sorak ria menyertai dan lemparan kelopak mawar dari para pengiring pengantin. Ane tersenyum merekah begitu juga dengan Bhanu. Keduanya kini menjadi pusat perhatian di acara penuh cinta dan bahagia keduanya.


Bhanu membantu Ane naik ke atas pelaminan, di atas sana sudah ada orang tua Bhanu beserta Ratna dan Rangga. Sudah terlihat tamu undangan berjejer hendak naik memberi ucapan selamat kepada pengantin. Senyum merekah tentu menghiasi wajah Bhanu dan Ane menyambut para tamu undangan satu persatu. Hingga Ane terpekik senang ketika sahabat sewaktu menempuh pendidikan di dunia perkuliahan datang jauh-jauh dari kota masing-masing.


Linda dan Hanna menyempatkan waktu datang ke pernikahan sahabat mereka, kedua gadis itu berjalan senang sembari menggoyangkan tubuh dan tangannya tak lama langsung memeluk Ane erat.


“Astaga, kangen banget sumpah! Cantik banget sih,” ujar Linda usai memeluk Ane bergantian dengan Hanna ingin memeluk Ane juga.


“Terima kasih kalian udah datang, terharu deh,” Ane tidak bohong, bahkan ia menitihkan air mata saking haru dan senangnya, Linda dan Hanna masih mengingatnya.


“Eh, pokoknya ntar malam Lo harus kawin, kan nikah udah tuh, jadi bisa gaspol lah, bahaya soalnya,” bisik Linda sambil mencuri tatapan ke arah Bhanu.


“Iya, tahu gak, tadi tuh banyak banget bisik-bisik tetangga muji suami Lo, pelakor merajalela dikasih celah dikit langsung sat set sat set,” tambah Hanna memanasi Ane.


“Gue udah nitip kado ke nyokap Lo tadi, di pake biar makin hot, ingat Lo harus kudu hati-hati, gaspol aja biar suami Lo gak jajan di luar,” Linda kembali berujar tak tanggung-tanggung ia juga memasang ekspresi penuh waspada semakin mendukung apa yang dikatakan gadis itu.


Ane hanya mengangguk saja, tapi dalam hati ia juga memikirkan perkataan Linda. Matanya melirik ke arah Bhanu yang juga menatapnya penuh tanya karena penasaran bisik-bisik Linda dan Hanna. Belum sempat Bhanu bertanya, tamu selanjutnya datang mau tak mau ia mengurungkan niatnya menyambut tamu.


Ane kembali tegang ketika sosok gadis sempat menjadi saingannya. Rita, gadis itu datang bersama sang ibu.


“Selamat yah Mas, semoga Sakina mawadah warahmah,”


“Terima kasih, semoga kamu juga segera nyusul yah,”


“Aduh, Nak Bhanu, ibu padahal berharap kamu jodoh sama Rita, tapi yah jodoh gak ada yang tahu. Yowes, selamat semoga bahagia selalu,” ucap Ibu Rita—wanita itu bergeser ke Ane. Ia memberi salam dan selamat tetapi terselip kata yang tidak mengenakkan bagi Ane lebih tepatnya kata sindiran. “Walah, ini toh saingannya anak saya. Selamat semoga bahagia, tapi yo cah nom wes rabi, padahal masih banyak waktu buat cari kerja, sayang ijazah kamu cah ayu, yowes lah,”


“Mendapatkan jauh lebih mudah dari mempertahankan, lengah sedikit bisa hilang dari genggaman,” bisik Rita membuat bulu kuduk Ane merinding seketika.


Rita beserta ibunya turun dari pelaminan, Ane termangu sejenak dan ekspresi wajahnya berubah menjadi murung. Bhanu meraih pundak sang istri memandang wajah Ane, Bhanu pikir jika Ane tersinggung atas perkataan ibu Rita.


“Gak usah dipikirkan, ambil positifnya dan buang negatifnya,” Bhanu membisik pelan tak lupa memberi kecupan mesra di kening istrinya tanpa tahu apa yang dibisikkan Rita di telinga sang istri.

__ADS_1


“Mas Banyu!” seru Linda ketika melihat Banyu seorang diri menikmati makanan. Gadis itu bahkan berlari memeluk tubuh Banyu.


Banyu melebarkan mata lebar bahkan hampir tersedak ketika Linda memeluk tubuhnya.


“Astagfirullah, kowe ki ngopo to,” Banyu melepaskan tangan Linda dari pundaknya.


“Ih, kangen tahu! Mas kan sama Ane udah nikah tuh, kawinin akunya kapan?” Linda mengedipkan mata berulangkali. Banyu menyentil dahi Linda mendengar ucapan absurd Linda.


“Nikah dulu!”


Linda melebarkan senyum dan memeluk lengan Banyu, “itu tahu! Yuk nikah! Masa Linda kalah saing sama Ane, yuk atuh mas mumpung Linda ada di Jogja nih!”


Banyu tak habis pikir jalan pikir Linda, ia memang pernah dekat dengan Linda hanya saja tapi tidak pacaran itu pun Linda tiba-tiba menjauh saat keduanya menjalin kedekatan. Namun kini Linda mendekat lagi seolah tidak terjadi apa-apa.


“Sesok nek ora udan,” balas Banyu asal.


Linda mencibir memukul lengan Banyu. Dari arah pelaminan, Rangga dan Ratna menatap tajam ke arah Banyu sebab ia membiarkan Linda bergelayut manja bahkan mungkin dada gadis itu menempel di lengannya. Banyu segera menepis tangan Linda, ini bukan yang pertama Banyu dipergoki namun Banyu tidak pernah melakukan diluar batas, Banyu tidak sesuci adik dan kakaknya tapi Banyu masih bisa mengingat dan mengontrol diri agar tetap sesuai batas.


Pukul 11 malam, Ane baru saja tiba di rumah. Gadis itu berjalan menuju kamar hendak membersihkan tubuh, pegal rasanya tapi ini adalah momen berharga dalam hidupnya. Bhanu memilih menemani beberapa keluarga sang istri lebih dulu di ruang tengah, para bapak-bapak berkumpul berbincang berbagai hal ada Rangga dan Banyu juga di sana.


Ane kesulitan membuka dress, ia tidak mungkin berlari ke ruang tengah memanggil sang suami, ia berpikir sebentar. Saat telinganya mendengar suara Ratna di luar kamar, Ane bangkit memanggil sang ibu.


“Ibu, tolongin Ane bentar!” Ratna menoleh ke sumber suara. Ia melihat Ane berdiri di ambang pintu.


“Kenapa? mau ibu panggilin mas Bhanu?”


“Ih, gak usah. Sini bentar deh Bu!” Ane menyeret tangan ibunya masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu. Ane berbalik memunggungi sang ibu lalu berucap, “tolong bantu bukain,”


“Oalah ibu kira apa,” Ratna menaruh kotak kado yang dititipkan Linda dan Hanna di meja nakas kemudian membantu Ane hingga Ane berhasil lepas dari dress yang dikenakan.


“Makasih ibu,” ujar Ane sembari mengecup pipi Ratna.

__ADS_1


“Iya sama-sama. Bersih-bersih gih, gantian sama suami kamu nanti kasian pasti udah capek banget nanti habis mandi ibu suruh ke kamar kamu,” ujar Ratna kemudian berbalik arah keluar kamar.


Ane lebih dulu memilih membersihkan wajahnya dari make up usai itu ia menyambar jubah mandi dan berlari kecil memasuki kamar mandi. Hampir lima belas menit lamanya, Ane habiskan berada di kamar mandi. Kini ia sudah wangi dan segar. Ane mengambil kado pemberian Linda dan Hanna. Matanya memicing ketika melihat baju berbahan tipis bahkan sangat tipis tentu Ane tahu baju itu, ia tak sepolos itu tak menahu kado yang diberikan Linda dan Hanna.


“YaAllah sexy banget!”Ane mengeluarkan lingerie dari kotak tersebut. Total lingerie yang diberikan ada 5 sungguh tak tanggung-tanggung sekali memberikan kado. Warna dan bentuknya juga berbeda-beda. Ane menimbang-nimbang memakai lingerie itu apa tidak. Namun perkataan Linda berputar di otaknya, ia menggelengkan kepala keras mengusir pikiran negatif. Keputusan Ane sudah bulat, bagaimana pun Bhanu telah resmi menjadi suaminya, sudah hak Bhanu.


“Bismillahirrahmanirrahim,” gumam Ane meraih satu lingerie berwarna pink untuk dipakai, Ane melirik tubuhnya di cermin sungguh sexy Ane berharap bisa membuat Bhanu senang dan bahagia. Ane menutupi tubunya menggunakan mukena takut jika orang datang ke kamar selain Bhanu. Selang semenit, ketukan pintu terdengar dan suara putaran kenop pintu. Bhanu muncul dengan wajah letihnya namun berbinar ketika melihat sang istri.


“MasyaAllah, bentar Mas mandi dulu terus kita sholat bareng,” Bhanu mengambil handuk di koper miliknya dan berjalan masuk ke kamar mandi. Ane meremas tangannya gugup gimana reaksi Bhanu melihatnya nanti. Sungguh tak bisa dibayangkan. Beberapa menit, Bhanu keluar dari kamar mandi bertelanjang dada menggunakan handuk melilit di pinggang. Semburat merah terlihat jelas di pipi Ane, baru pertama kali melihat pria seperti itu. Ane berdiri mengambil pakaian untuk Bhanu lalu diserahkan kepada sang suami. Bhanu mencuri kecupan di pipi Ane saat menerima pakaian dari tangan Ane.


Ane membalikkan tubuh enggan melihat Bhanu berpakaian. Bhanu mengajak Ane sholat isya secara berjamaah untuk pertama kali, Bhanu menjadi imam sholat bagi Ane sungguh rasanya sangat bahagia dan InsyaAllah kedepan Bhanu akan menjadi imam bagi Ane dan selalu menyempatkan waktu sholat berjamaah.


Ane mencium punggung tangan Bhanu—pria itu juga mengecup kening, pipi dan berakhir di bibir manis istrinya. Ane tentu saja malu dan detak jantung berdetak kencang, aliran darahnya berdesir. Tangan Bhanu menggapai mukena Ane hendak membuka mukena tersebut, Ane semakin tegang hingga berhasil terlepas dari tubuhnya. Betapa kaget seorang Bhanu melihat penampilan sang istri.


“Astagfirullahaladzim,”


“Mas gak suka?” gugup Ane takut jika Bhanu tak suka.


“Gak, cuma kaget aja. Mas pikir kamu capek—” Bhanu jadi gugup juga, bisa gila menahan gerah ketika penampilan Ane seperti itu, sungguh menguji iman.


Ane meraih tangan Bhanu menggenggam erat, “Mas boleh kok kalau mau ambil hak mas malam ini, Ane gak masalah justru Ane gak boleh menolak suami, InsyaAllah Ane siap kok mas!” ujarnya lembut meyakinkan Bhanu jika dirinya siap.


Bhanu mengembuskan napas, tangannya terulur membingkai wajah Ane sambil berkata, “sayang, makasih sudah ngertiin Mas. Tapi Mas juga gak mau buat kamu capek, mas juga mengerti kondisi kamu seharian ini kita—”


Ane menempelkan jarinya di bibir Bhanu, “kan Ane udah bilang ini kewajiban Ane dan hak buat Mas,” Bhanu terdiam tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ane mendesah pasrah dan melepaskan diri dari Bhanu, “gak masalah kalau mas gak mau, yaudah yuk istirahat aja,” belum sempat tubuhnya berdiri, Bhanu segera menahan lengan bahkan membopong tubuhnya naik ke atas ranjang.


“Terima kasih, sayang!” Bhanu mengecup kening Ane ketika sang istri telah baring di atas ranjang. Bhanu membisikkan doa di telinga Ane kemudian melakukan apa yang memang sudah menjadi haknya.


...Assalamualaikum, gimana udah mulai bosan? sabar yah lagi nunggu momen pas buat ngasih konflik. terimakasih masih setia dengan cerita ini jangan lupa untuk terus vote+like+comment....


...Big Love ♥️...

__ADS_1


__ADS_2