
Bali.
Seorang pria berjas putih menggeram marah, kedua tangannya meremas rambutnya sendiri. Matanya melotot tajam melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Baru saja menerima telepon dari orang asing namun memiliki keterkaitan dengan sosok wanita beberapa bulan ini berhasil ia singkirkan jadi tidak menggangu atau mengancamnya lagi tapi sekarang kenapa wanita itu seakan kembali mengusiknya.
Ia tertawa cukup kencang, tangannya mengepal kuat, kuku-kukunya menancap tajam menekan telapak tangannya. Melampiaskan emosi, pria itu memukul meja kerjanya keras.
“Tidak! Wanita itu tidak akan berani mengusikku kembali, tidak yah! Aku yakin dia tidak punya keberanian dan orang yang menelepon ku hanya sekedar membual saja! Hahaha!”
Semua bukti sudah ia manipulasi dan orang yang mengaku sebagai ayah bayi yang dikandung Citra pun sudah ia bayar untuk tutup mulut jadi tidak akan ada yang bisa wanita itu lakukan. Andrew menghempaskan bokongnya di kursi, meremas tangannya, mengatur napas yang memburu serta emosi yang menguasai, ia harus tenang, tidak mudah bagi orang-orang mengusiknya.
****
Suasana rumah Bhanu kian ramai dengan kehadiran Citra seperti menambah personil keluarga mereka. Lingga beserta kedua anaknya datang berkunjung setelah beberapa hari hanya di rumah merawat Caca yang sedang sakit. Kehadiran Citra awalnya mengundang tanda tanya besar di kepala Lingga, tetapi setelah dijelaskan oleh Ane akhirnya Lingga paham namun ada hal yang masih tak bisa ia percaya bagaimana sang adik begitu pintar menyembunyikan hubungan terdahulu bersama Citra bahkan sudah terjalin bertahun-tahun. Mungkin jika sang ibu dan ayah tidak tahu, masih bisa diterima oleh akal sehatnya mengingat mereka berbeda kota, tapi dengan dirinya yang notabenenya berada di kota yang sama sekaligus di kompleks perumahan yang sama pula.
Citra masih canggung jika bersama Lingga sebab wanita itu nampak lebih diam kalau berdekatan dengannya. Dalam pikiran Citra dipenuhi hal yang tidak-tidak lebih kepada sikap penolakan walau tidak terang-terangan namun pikiran itu salah, Lingga hanya masih tidak percaya saja.
Di ruang tengah, semua orang bercengkrama satu sama lainnya begitu pula para anak-anak bermain bersama. Ibu Ane telanjur nyaman dan suka dengan Citra, makanya wanita itu membujuk sang putri mengajak Citra ke rumahnya lagi. Citra sendiri tidak keberatan karena keramahan dan kehangatan yang diberikan oleh keluarga Ane memberinya sebuah keluarga baru.
“Ya udah, kalian duduk di sini, ibu mau ke dapur buat bolu kukus—”
“Yang walnanya walna-walni kayak pelangi yah Uti!” celetuk Caca ketika telinganya berfungsi dengan baik mendengar ucapan Ratna walau ia sedang fokus bermain bersama Nai dan Satya.
Semua orang menggeleng pelan, Ratna mengacungkan jempolnya, “siap cucu Uti, tapi sabar yah nanti Uti buat banyak jadi mbak Caca bisa bawa pulang ke rumah,” balasnya.
Caca mengangguk antusias, “oke, makasih Uti antik!”
“Anak siapa sih kok lucu banget, sini Tante cium dulu lama udah gak cium mbak Caca nih,” sela Ane meraih tubuh montok Caca memberikan kecupan ke wajah cantik Caca berulang kali dan membuat gadis kecil itu terkekeh geli.
Citra tiba-tiba merasakan kebelet buang air kecil, ia mengatakan itu pada Ane dan meminta diberitahukan letak kamar mandi. Niatan Ane ingin mengantar Citra tapi ditolak oleh wanita hamil tersebut mengatakan jika bisa sendiri. Citra pun pamit ke kamar mandi, letak kamar mandi yang ada di lantai bawah dekat dengan dapur, ekor matanya menangkap sosok Ratna sibuk berkutat di dapur. Citra membuang hajat lebih dulu, dalam otaknya terlintas akan membantu Ratna membuat kue.
“Tante,” Citra menepuk pundak Ratna hingga wanita paruh baya itu terlonjak kaget, Citra meringis pelan karena aksinya dan segera meminta maaf. “Maaf, bikin Tante kaget,”
Ratna mengulum senyum, mengarahkan tangannya menyentuh lengan Citra, “gak apa-apa, kamu dari mana?”
“Kebelet pipis, hm, Citra boleh bantu Tante gak?” ujar Citra penuh harap mengigit kecil bibir bawahnya.
Ratna mengangkat satu alisnya, “serius? Tapi nanti kamu capek loh, kan lagi hamil kasihan dedeknya,”
“Gak kok, nanti kalau Citra ngerasa capek, Citra istirahat, gimana? Sekalian Citra pengen belajar jadi nanti kalau anak Citra lahir, Citra bisa buat kue juga buat anak Citra,” ujar Citra menerawang jauh.
Ratna mengangguk saja dan mempersilahkan Citra membantunya. Ia menyuruh Citra menyiapkan cetakan lalu mengolesinya dengan mentega. Ratna melanjutkan untuk menyelesaikan adonan kue yang telah ia campur.
“Bu—eh maaf maksudnya Tante udah selesai,” Citra meralat katanya hampir saja memanggil Ratna dengan sebutan ibu, jujur itu hanya spontanitas bibirnya berucap demikian.
Ratna menatap dalam manik mata Citra nampak mengecil atas ucapannya, mungkin wanita hamil itu nampak sungkan. Ratna merangkul pundak Citra dengan sayang.
“Tidak masalah kalau kamu panggil dengan sebutan ibu, lagian kuping ibu tuh agak aneh kalau ada yang panggil Tante, ibu emang lebih senang dipanggil ibu, jadi mulai sekarang jangan sungkan panggil ibu dengan sebutan ibu yah? Anggap saja ibu ini emang ibu kamu dan kamu ibu anggap sebagai anak ibu sama seperti Ane dan yang lain,”
Tak ada yang mampu diucapkan oleh Citra—ia memeluk tubuh Ratna erat sangat erat dan tak sadar menitihkan air mata haru karena diterima begitu baik oleh keluarga Ane.
__ADS_1
Di samping itu, Banyu mendesah lega baru saja sampai di rumah Bhanu. Ia memilih jalur darat seperti biasa menggunakan mobil pribadi sungguh melelahkan mengemudi selama 9 jam lamanya. Mendapatkan informasi mengenai rencana Ane membantu Citra menggerakkan hatinya ikut membantu. Banyu mengambil beberapa bingkisan mainan yang akan diberikan pada para keponakannya lengkap untuk Satya dan Caca pun sudah disiapkan apalagi mendengar jika Caca baru saja sembuh.
Banyu menenteng, dua kantung plastik berukuran besar berisikan mainan. Langkah kakinya melangkah pasti dan berhasil menapaki lantai ruang depan. Lebih dulu, Banyu melepas sepatu dan menaruhnya di rak.
“Assalamualaikum, om Banyu paling ganteng datang, ibu anak ganteng mu datang nih, adek mas ganteng mu datang nih,” salam Banyu diselingi kata-kata narsis.
“Om!”
“Om danteng tapi lebih danteng om Langga!”
Satya dan Caca berlari menyambut Banyu apalagi melihat ada sesuatu yang dibawa oleh pria itu. Caca dengan tak sabar ingin menarik tangan Banyu ikut ke ruang tengah sedangkan Satya tak mengalihkan pandangannya ke arah kantung plastik yang di bawa Banyu.
“Eits, tunggu dulu, om cuci tangan dulu, kalian duduk manis di sana dulu, nanti om bagi mainan, sana!” Caca dan Satya saling pandang kemudian berlari mengikuti perintah Banyu—pria itu menggeleng sambil tertawa kecil melihat kegesitan kakak beradik itu.
Banyu meletakkan hadiah-hadiah buat keponakannya di samping sofa, ia melangkah ke arah kamar mandi namun matanya menangkap pemandangan tak biasa di dapur. Dua orang wanita cantik walau berbeda usia sedang memasak bersama diselingi tawa, matanya mengecil menelisik sosok wanita yang membelakangi sedang berdiri di samping wanita berhijab tentu saja ia sudah bisa menebak siapa wanita berhijab itu. Tak sadar kaki Banyu melangkah mendekati tetapi langkahnya terhenti ketika satu sosok dari kedua wanita itu berbalik badan.
Sepersekian detik keduanya saling pandang, namun tatapan keduanya bukan tatapan biasa sorot mata itu menyiratkan suatu yang sulit dijelaskan. Ratna menyaksikan bagaimana tatapan dari anaknya, ada yang berbeda. Ratna sangat mengenal karakter ketiga anaknya dan ia yakin jika ada suatu hal yang Banyu rasakan pada Citra. Ratna berdeham cukup keras agar keduanya sadar dan memutuskan pandangan.
Banyu segera mengubah ekspresi, menarik ujung bajunya, memasang senyum pada sang ibu.
“Ibu ku cantik, Banyu cuci tangan sama kaki dulu yah,” pamit Banyu berjalan cepat menuju kamar mandi sambil mengusir bayang-bayang wajah Citra yang terekam jelas di kepalanya.
Kaki Ratna melangkah ke depan agar tubuhnya berdampingan dengan Citra, mata tuanya melirik Citra terdiam di tempatnya menatap lurus ke arah kamar mandi.
“Nak,” Citra merasakan tepukan pelan di pundaknya, ia tersentak dan segera menoleh ke arah belakang di mana Ratna tengah menatapnya.
“Eh, ibu, maaf Citra melamun,” ujarnya tak bohong sebab sedari tadi ia memang melamun hal tak jelas tiba-tiba saja melintas di kepalanya mengenai Banyu.
Citra mengelus kaki mungil Chana, kulit halus dan lembut. Ia pun tak sabar anaknya lahir, hari-harinya pasti akan jauh lebih berwarna karena ada sosok baru yang akan menemaninya.
“Oke, ponakan om yang cantik dan ganteng, sini merapat sama om Banyu, karena pembagian sembako akan segera di mulai haha,” seru Banyu jenaka. Caca dan Satya bergerak lincah mendekati Banyu memangku dua kantung besar, melihat kedua kakak sepupunya mendekati sang paman, Nai tak mau kalah ia ikut mendekati Banyu. Setelah semuanya duduk manis di depannya Banyu memberikan satu persatu hadiah pada ponakannya.
Satya mendapatkan mobil remote control berwarna merah, Caca mendapatkan satu set mainan masak-memasak beserta satu boneka berbie terbaru, untuk Nai ada sebuah mainan boneka lucu yang bisa mengeluarkan musik sedangkan buat Chana berbeda sendiri mengingat ponakannya yang satu itu masih bayi jadi ia membelikan piyama lucu berwarna pink peach dan sepatu berwarna putih dengan khiasan bunga-bunga kecil berwarna pink.
“Thank you so much uncle Banyu!” Satya lebih dulu mengucapkan terima kasih sambil mencium pipi Banyu.
Caca mengikuti sang kakak, “makasih om dantengna Caca, sini Caca cium,”
Banyu terkekeh pelan dan mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga Caca bisa mencium pipinya.
Nai mengerjapkan matanya lucu, memerhatikan setiap gerak-gerik sepupunya. Nai akhirnya ikut-ikutan, dengan gerakan lincah ia merangkak naik ke pangkuan sang paman.
“Yang ini mau apa nih? Mau makasih juga?” Banyu mencubit pipi gembul Nai.
“Adek Nai, harus bilang makasih sama om karena udah kasih mainan, ayo dek bilang makasih om,” ujar Satya pada Nai.
Nai menoleh singkat ke arah Satya kemudian beralih pada Banyu.
“Cih!” bibir mungil Nai bergerak mengucap kata itu lalu tangannya direntangkan memeluk Banyu.
__ADS_1
Banyu membalas pelukan Nai hangat tak lupa mengelus punggung ponakan kecilnya.
“Oh iya dek, jadi mulai kapan mas bergerak?” tanya Banyu memulai obrolan mengenai rencana mereka.
Ane melirik Citra, sebuah anggukan kepala diberikan padanya, “secepatnya sih, soalnya jangan mengulur waktu terlalu lama, jika bisa diselesaikan secepatnya yah kenapa tidak. Btw, cafe nanti gimana mas?”
“Yah, itu bagus, mas juga maunya cepat sih mumpung mas belum sibuk ngurus cabang baru, kalau urusan cafe mas bisa serahin ke Reynand sementara waktu, besok atau lusa juga mas udah bisa sih langsung ke Bali,”
“Gimana menurut mbak?” Citra menengadah melirik Ane dan Banyu secara bergantian.
“Mbak sih terserah, kalau memang m—mas Banyu punya waktu yah gak masalah, lebih cepat lebih baik, bukan?” Ane mengangguk setuju.
“Maaf mbak, gak usah manggil mas deh soalnya mbak lebih tua dari saya,” sanggah Banyu saat Citra memanggilnya mas.
Citra melebarkan matanya lucu, lalu dengan polosnya berkata, “terus manggilnya apa dong?”
“Sayang?” Banyu menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi menggoda Citra secara gamblang.
Mata dan mulut Ane membulat tak percaya, bagaimana sang kakak begitu gampang menggombal. Citra terpengarah sesaat.
Banyu tertawa geli melihat ekspresi yang ditunjukkan dua wanita di depannya, “bercanda, yaAllah, serius banget!” serunya.
“Tapi gak lucu tahu mas, liat tuh mbak Citra sampai bengong gitu,” timpal Ane, Citra mengubah ekspresi wajahnya dan memasang senyum maklum. “ya udah, Ane pamit ke atas dulu mau tidurin Chana, mbak Nai nanti habis tidurin adek, mbak juga bobo, oke?”
“Te!”
“Mas Satya sama mbak Caca juga bobo, nanti sore bunda jemput kalian, habis balik arisan,”
“Siap Tante!” jawab Satya dan Caca kompak.
“Hm, ya udah aku juga balik aja deh, soalnya sore mau check up kandungan,” celetuk Citra hendak pamit pulang.
“Mbak sama siapa? Sendiri?” tanya Ane.
“Iya, kan biasanya emang sendiri,”
“Mau Ane temani, gak?”
“Gak usah, kasihan kamu kan jaga anak-anak, mbak bisa kok, yah terbiasa sih lebih tepatnya,” balas Citra diselingi tawa kecil.
Ratna datang dari arah dapur membawa nampan berisi, piring di atasnya telah diisi beberapa kue yang dibuatnya.
“Sama ibu aja, nanti ibu temani, gak ada penolakan, ibu kan mau lihat cucu ibu juga,”
“Ibu, gak usah, Citra bisa sendiri kok, kasihan ibu kan habis masak terus buat kue juga pasti capek,”
Ane dan Banyu saling lirik, ada yang mereka lewatkan rupanya. Kedekatan antara Citra dan Ratna nampaknya tidak biasa. Namun begitu, keduanya senang dan tidak keberatan sama sekali apalagi Ane yang tahu bagaimana kisah hidup Citra dari penuturan sang suami, yah apa yang keluarganya berikan mengobati rasa rindu yang dirasakan Citra selama ini.
“Gak apa-apa, lagian masih ada beberapa jam buat istirahat kan? Terus sore nemenin kamu deh, mas nanti anterin kita yah?” Ratna melemparkan senyuman penuh arti pada sang anak.
__ADS_1
Banyu mendelik, menerka maksud senyuman aneh sang ibu namun begitu ia menyetujui perkataan Ratna. Citra tidak punya pilihan lain, sambil melahap kue buatan Ratna setelah dipaksa makan oleh wanita paruh baya itu.