
Pagi yang cerah, menyapa sejuta kehidupan semua makhluk yang ada di muka bumi ini. Disinilah hari-hari mereka dimulai dengan sejuta aktivitas para insan yang bernapas hingga pergantian hari selesai. Setelah sekian lama tenggelam di kegelapan malam. Akhirnya, sang vampir tampan mulai membuka diri dan hati. Ia yang tak diperbolehkan berhadapan langsung dengan sinar matahari, kini memberanikan diri menyambut datangnya mentari pagi.
Vampir tampan itu berdiri tegak sambil merentangkan kedua tangannya ketika sinar matahari mulai menampakkan sinarnya. Kemilau berlian seolah melekat di seluruh kulit Richard kala matahari menyinari tubuh kekarnya. Wajah tampannya jadi semakin bercahaya seolah ia adalah makhluk paling indah dan paling abadi di dunia ini. Bahkan berlian terindahpun kalah jauh dengan wujud Richard apabila ia menatap matahari secara langsung seperti ini.
Suasana hati Richard begitu bahagia hari ini. Sebab, ada Kemala disisinya dan ia sangat mencintai si kembang desa. Kebahagiaannya semakin lengkap karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dan keduanya sudah mengikat janji suci bersama. Tidak ada yang diinginkan Richard selain kehadiran Kemala dalam dunia gelapnya ini.
“Yang mulia,” ujar Gilberto dari balik punggung Richard. Vampir satu itu juga tampak berkilau kala berdiri dibawah terik mentari pagi.
“Ada apa Gil? Kenapa kau ikut kemari? Kau tampak aneh kalau berkilauan begitu.” Richard tersenyum menertawai asisten setianya. Padahal, wujudnya sendiri tak jauh beda dengan Gilberto. Sama-sama berkilau dan bikin mata silau.
“Ini pertama kalinya saya melihat Anda begitu bahagia, jadi saya juga ingin merasakan apa yang Pangeran rasakan saat ini. Sekali lagi, saya ucapkan selamat Yang mulia. Akhirnya, setelah berabad-abad lamanya, Yang mulia telah menemukan tambatan hati tercinta.”
“Terimakasih Gil, kini aku tahu seperti apa itu cinta. Indah sekali. Ah … aku harus bersiap-siap bertemu dengan ayah mertuaku. Ehm … menurutmu … bagaimana penampilanku, Gil? Aku baru membeli jas baru di Eropa.” Richard berputar-putar memamerkan penampilan barunya yang tadinya selalu berpakaian serba hitam ala zaman kerajaan budaya Eropa di tahun 80-an berubah jadi kekinian.
Sekarang, Richard tampak sangat berbeda meski rambut gondrong ikalnya masih ia biarkan terurai. Namun, tetap saja, ketampanan vampir tampan itu tetap paripurna seperti biasanya.
“Anda tampak selalu menawan Yang mulia, saya yakin Tuan Daries akan terpesona begitu melihat menantunya. Oh iya Pangeran … hadiah apa yang akan Anda berikan pada ayah mertua Anda? Tidak mungkin Anda datang dengan tangan kosong, bukan?”
“Haruskah?” tanya Richard karena ia memang tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan dengan siapapun. Makanya ia tidak tahu aturan berkunjung ke rumah mertua untuk pertama kalinya itu harus membawa buah tangan supaya menimbulkan kesan pertama yang menyenangkan.
__ADS_1
“Harus Yang mulia … biarkan saya saja yang ….”
“Aku akan berikan mertuaku mobil aston martin, pesawat pribadi, kereta listrik, kapal pesiar pribadi dan semua alat transportasi yang kupunya. Pasti dia akan suka. Sebab, aku tidak membutuhkan semua itu,” potong Richard bangga dengan semua harta yang ia punya.
Gilberto langsung tepok jidat melihat hadiah yang akan diberikan Richard pada mertuanya. “Yang mulia,” ujar Gilberto menahan sabar.
“Apa hadiah yang kuberikan kurang banyak?” tanya Richard.
“Bukan begitu Yang mulia, Saya akui, Yang mulia memang tajir melintir dan tidak membutuhkan semua alat transportasi itu. Tapi nggak gitu juga kali Pangeran Richard Athan Salvataro … Tuan Daries hanya manusia paruh baya biasa, tak butuh semua alat transportasi yang Pangeran sebutkan. Yang ia butuhkan adalah sesuatu yang bermanfaat untuknya. Semua hadiah yang Pengeran sebutkan barusan, tidak bisa Tuan Daries gunakan, sebab saya yakin beliau tidak bisa mengendarai semua itu.” Gilberto memberikan penjelasan.
“Kau benar …” Richard manggut-manggut, “kalau begitu … aku akan berikan sekalian sama supirnya. Jadi mertuaku tidak perlu menyupir sendiri. Nah, aku betul kan? Aku sangat pintar bisa langsung memahami maksudmu. Sekarang pergilah, cari pilot, masinis, kapten dan nahkoda serta sopir mobil. Carilah orang yang tepat dan dapat dipercaya, aku tidak mau yang sembarangan supaya bisa mengantar mertuaku kemana-mana dengan aman. Aku adalah menantu idaman, tidak ada menantu yang sehebat dan sepintar diriku, hahaha … aku pergi dulu. Kemala pasti sudah menungguku. Ah, dasiku … aku butuh dasi …” Richardpun pergi menghilang dengan sejuta kenarsisan yang ia punya sehingga Gilberto tidak tahu harus berkata apalagi.
***
Di tempat lain, Kemala semakin rajin bersih-bersih rumahnya. Sejak pagi buta gadis itu sudah bangun dengan hati riang gembira. Padahal Kemala baru saja tidur jam 03.00 pagi setelah pulang dari istana suaminya. Dan ia sudah tidak sabar menantikan kedatangan Richard untuk bertemu dan meminangnya langsung di depan ayah tercintanya. Setiap benda yang dipegang Kemala selalu terbayang wajah Richard dan kenangan keduanya saat berciuman mesra semalaman.
Dari kejauhan, Daries hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat putrinya yang sedang kasmaran. Sebenarnya, ia sangat terkejut ketika Kemala memberitahu bahwa hari ini orang yang dulu menyelamatkan nyawa ayahnya akan datang melamarnya sekaligus menjemput Kemala pergi dari sini.
Ada sedikit kesedihan di hati Daries saat melihat putri satu-satunya sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Tapi inilah yang memang diinginkannya sehingga kelak ia bisa tenang bila sewaktu-waktu dirinya dipanggil Sang Khaliq. Daries tak bisa menolak karena ia sendiri juga penasaran, seperti apakah calon menantu pahlawan kesiangannya.
__ADS_1
Sebab, berkat pria itulah akhirnya Daries diberikan umur panjang hingga sekarang. Jika saja, waktu itu, pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Richard, tidak datang tepat waktu, mungkin saat ini, Daries tidak akan ada di sini dan menyaksikan betapa bahagianya Kemala saat ini.
“Kemala,” panggil Daries pada putrinya yang sedang bersenandung ria mempersiapkan semua hal untuk menyambut pangeran sang pujaan hati.
“Iya, Ayah! Ada apa? Apa ayah butuh sesuatu?” tanya Kemala dengan senyumnya yang menawan.
“Belikan beberapa buah dan makanan di toko terdekat, rasanya tidak afdol bila tak menjamu makanan yang layak untuk calon menantu Ayah.”
Nah loh, saking bahagianya, Kemala lupa kalau Richard harus diperlakukan layaknya manusia. Ia tak berpikiran untuk menyiapkan hidangan apapun karena suami vampirnya tak makan makanan manusia.
“Ehm … sebenarnya, dia tidak suka makanan atau buah-buahan Ayah, jadi tidak perlu …”
“Tetap saja kau harus menyuguhkannya Kemala, dia suka atau tidak, kita harus menjamunya dengan baik.” Daries tetap memaksa putrinya pergi membeli apa yang Daries sebutkan barusan.
Kemala tidak bisa membantah ataupun menolak, sebab ia juga tak mungkin menjelaskan pada ayahnya kalau menantunya itu adalah vampir dan bukannya manusia. Bisa hancur dunia percintaan mereka berdua. Demi membuat ayahnya senang, Kemalapun pamit undur diri untuk pergi ke toko terdekat yang kebetulan ada di tengah-tengah desa.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1