
Ketakutan dalam hati Kemala semakin nyata kala melihat suaminya menatap marah kakaknya dan semua vampir yang ada di istana super duper megah ini. Entah apa yang terjadi di dalam keluarga vampir mereka, Kemala tidak bisa menebaknya. Yang jelas bukan sesuatu hal yang baik terutama perihal kedatangannya ke mari.
Sejak awal Kemala memang paham dan sangat mengerti bahwa manusia biasa seperti dirinya takkan bisa mudah masuk ke dalam keluarga dimana posisi dirinya adalah sebagai mangsa. Uniknya, ia jatuh cinta dan rela masuk ke dalam lubang lingkaran kehidupan makhluk yang menginginkan nyawanya.
Hanya atas nama cinta saja, Kemala bisa merasa nyaman dan aman berada di dekat Richard. Sang pangeran vampir tampan baik hati dan sangat sopan. Lain dari itu, sangat mengerikan membayangkan keluarga Richard juga menginginkan darah Kemala yang memang menjadi makanan utama mereka.
Dan sekarang, masalah semakin menjadi pelik kala suami Kemala bersitegang dengan saudaranya bahkan siap menentang siapa saja yang berniat jahat pada Kemala sekalipun mereka adalah keluarga Richard sendiri. Bukan ini yang diinginkan Kemala walau ia tidak tahu apa solusi untuk masalahnya. Haruskah ia bersedia mati demi bisa bersama dengan Richard?
Kemala tak bisa berpikiran seperti itu atau Richard akan dengan mudah membaca pikiran dan kegelisahannya.
“Kau melakukan kesalahan besar dengan menikahi manusia yang notabennya mereka adalah mangsa kita, Richard!” cetus Rexi, dengan tatapan mata menakutkan layaknya seorang vampir sejati. Vampir seram itu menatap Kemala penuh benci.
“Bukan kali pertama bangsa kita menikahi manusia, sebelum aku juga ada dan kini mereka bahagia. Apa salahnya jika aku memilih bahagia dengan istriku!” Richard tetap pada pendiriannya dan terang-terangan menantang kakaknya.
“Manusia itu sudah jadi sama seperti kita! Jelas kalian berbeda dengan mereka!”
“Dahulu sebelum jadi vampir, dia juga manusia dan keduanya baik-baik saja! Keluarga mereka mendukung? Kenapa kalian semua tidak mendukungku juga? Jangan katakan kalau ini demi keselamatan, tak ada ancaman bagi bangsa kita. Istriku juga takkan berkoar-koar pada spesiesnya bahwa ia menikah dengan vampir.” Richard tak mau kalah berdebat dengan kakaknya dan mati-matian membela Kemala. Tangannya semakin erat menggenggam tangan istrinya tanpa mau ia lepaskan.
“Sudah sudah … jangan berdebat!” Salvataro, selaku raja sekaligus ayah dari para vampir yang ada di sini, menengahi perdebatan putra-putranya. “Richard baru saja datang, aku yang memintanya kemari. Harusnya, kalian menyambutnya dengan hangat. Bukan malah mengajaknya berdebat.”
“Tapi Ayah … tidakkah ini sangat beresiko bagi kita. Keberadaan manusia ini bisa menjadi ancaman. Di belahan dunia sana sedang terjadi kekacauan yang diakibatkan oleh mereka berdua. Bagaimana aku bisa menerima manusia itu sebagai bagian dari keluarga kita!” Rex tetap tak setuju dengan kehadiran Kemala di tengah-tengah keluarga vampir ini.
Kemalapun sadar diri, jadi dia hanya diam sambil menundukkan wajahnya. Ditolak oleh keluarga mertua ternyata jauh lebih menyakitkan ketimbang patah hati.
Sementara Richard berusaha menenangkan Kemala agar tidak takut dan memperlihatkan kalau ia benar-benar protektif pada istrinya. Hanya saja, yang mengganjal pikiran gadis itu adalah, kekacauan yang sempat disinggung oleh kakak iparnya barusan. Entah Kenapa Kemala punya firasat yang buruk.
__ADS_1
Pasti ada sesuatu hal sedang terjadi di luar sana dan keluarga Richard berusaha menutupinya. Itulah yang menjadi pemicu putra sulung keluarga vampir ini menolak mentah-mentah kehadiran Kemala.
“Rex … kendalikan emosimu! Bicaralah yang sopan terhadap ayahmu! Ibu tidak suka kau bicara seperti itu. Kita harus menyambut tamu kita dengan baik. Kau mengerti?” Seorang wanita cantik berkulit putih pucat dan berpakaian anggun layaknya seorang ratu kerajaan bangun berdiri dari kursinya dan meminta putra sulungnya duduk.
Rex langsung buang muka dan tidak mau melihat Kemala. Sedangkan sang wanita anggun itu berjalan pelan menghampiri Kemala dan Richard yang berdiri berdampingan lalu memeluk keduanya bersamaan.
“Selamat datang kembali, Pangeran Richard, dan selamat datang di keluarga vampir kami … Kemala,” ujar wanita itu dengan sangat lembut dan keibuan.
“Halo Ibu,” ujar Richard lirih sambil menatap mata ibunya. Kalau diperhatikan dengan seksama, sepertinya mereka sedang bicara melalui pikiran mereka masing-masing.
Kemala spontan menunduk tanda memberi hormat pada ibu mertuanya yang bersikap baik padanya. Setidaknya, tidak semua keluarga vampir menolak kehadirannya di sini.
“Maafkan saya Yang mulia ratu … karena telah menimbulkan sedikit kekacauan,” ujar Kemala lirih masih belum berani menatap wajah cantik ibu mertuanya.
Sungguh, Kemala jadi terharu meski ia tidak tahu jenis makanan apa sajakah itu. Wajahnya tampak senang dan bersemangat meski ketegangan masih saja terasa. “Terimakasih, Yang mulia …”
“Panggil saja aku ibu … kau menantuku. Kau suka? Kau boleh mencicipinya.”
“Terimakasih Ibu. Saya sungguh menyukainya, tapi … bolehkah saya … bicara pada ibu? Hanya berdua saja, itupun jika ibu … tidak keberatan.”
Pernyataan Kemala yang meminta bicara berdua saja dengan ibu mertuanya sontak mengundang tanda tanya besar pada semua vampir yang ada di sini tak terkecuali Richard sendiri. Seketika para vampir-vampir itu menganggap Kemala bernyali besar.
Kalau manusia lain pasti sudah berpikiran negatif tentang semua makanan yang ada di di meja makan para vampir, tapi tidak dengan Kemala. Wajahnya memang pucat karena takut, tapi nyalinya besar.
“Kemala … kau tahu dengan siapa kau akan bicara?” tanya ibu Richard dengan tatapan seolah ia sedang mendapatkan mangsa yang menggiurkan. Ekspresinya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, lembut tapi siap menerkam.
__ADS_1
“Ibu dari suamiku. Ibu mertuaku.” Kemala masih tersenyum senang.
“Darahmu itu sangat wangi, tidakkah Richard memberitahumu? Aku saja tergiur berada didekatmu seperti ini.” Ibu Richard benar-benar vampir yang jujur.
“Iya Ibu, sejak awal dia sudah memberitahuku. Aku bahkan memberikan darahku untuknya jika dia lapar.”
“Kau tak takut jika aku lepas kendali? Hanya kau satu-satunya manusia di istana ini.”
“Tahu Ibu, silahkan jika Ibu menginginkan darahku.” Kemala menyodorkan lengan kirinya tepat dihadapan wajah ibu mertuanya. Kemala sungguh tulus dan rela bila darahnya dihisap oleh sang ibu mertua.
Mungkin Kemala sudah gila, tapi ia tahu bahwa kematian kapan saja bisa menjemputnya dan sepertinya ia tidak peduli akan semua itu. Mati sekarang atau nanti, bagi Kemala sama saja.
Yang namanya kucing kalau dikasih ikan asin, pasti tidak akan tahan dan akan langsung melahap makanan yang disodorkan. Begitupula dengan ibu Richard yang langsung tergoda dengan wangi darah Kemala. Wanita anggun itu bahkan mengendus-endus pelan kulit Kemala yang putih mulus sambil merasakan aliran darah yang mengalir di balik kulit indah istri Richard.
“Ibu … Kemala … hentikan! Ini tidak lucu,” pinta Richard sudah khawatir setengah mati. Ia hendak membawa pergi Kemala menjauh dari ibunya tapi langkahnya dihalangi oleh ayah Richard sendiri.
“Jangan ikut campur,” ujarnya.
“Tapi … Ayah …”
“Istrimu akan baik-baik saja, percayalah.” Salvataro tersenyum simpul dan itu membuat Richard bingung. Namun, pada akhirnya ia mengerti.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1