
Kemala jelas sangat penasaran dengan apa yang Richard lakukan pada pria yang hendak membunuhnya. Mendadak suasana menjadi sepi setelah sempat terdengar erangan si algojo saat Richard tiba menyelamatkan dirinya di detik-detik terakhir sebelum Kemala di eksekusi.
Namun, Richard tetap enggan memberitahu Kemala dan memilih merahasiakannya. Vampir tampan itu bahkan sengaja tidak memberitahu Kemala apa yang Richard dan saudara-saudaranya lakukan terhadap Beralda dan keluarganya yang lain.
“Kenapa kau tidak memberitahuku apa yang terjadi? Aku melihat ada banyak sekali darah berceceran di dinding dan baunya sangat menyengat. Sebagai vampir, tidakkah kau tergoda?” tanya Kemala saking penasaran. Richard membawa Kemala kembali pulang kerumahnya dan kini mereka berdua ada di dalam kamar mandi kamar utama mereka.
“Akan lebih baik kalau kau tidak tahu apa-apa Cagiya. Yang kami lakukan lebih mengerikan dari apa yang para manusia keji itu lakukan. Aku tak mau kau menganggap jenis kami memiliki citra buruk dimatamu. Dan kau harus tahu satu hal. Kami adalah vampir pemilih. Tak sembarang manusia kami hisap darahnya. Seperti aku, aku hanya mau menghisap darah perjaka ting ting saja. Tidak mau yang lain.” Richard membantu melepas pakaian istrinya dan Kemala baru sadar ada di mana dirinya sekarang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Kemala kembali membenahi pakaiannya yang hampir saja melorot karena resleting gaun Kemala dibuka oleh suaminya.
“Melepas pakaianmu,” jawan Richard dengan muka polos.
“Kenapa kau yang melepaskan pakaianku?” tanya Kemala lagi.
“Kau sangat kotor Cagiya? Aku mau memandikanmu supaya kau kelihatan bersih dan cantik, masa kau mau menemui kakakku dalam keadaan seperti ini?” terang Richard seolah tindakannya melepas pakaian seorang istri tanpa izin itu lumrah dilakukan.
“Aku bukan anak kecil lagi Suamiku. Aku bisa mandi sendiri. Sekarang keluarlah, aku akan membersihkan diri.” Kemala balik badan membelakangi Richard yang tak bergeming dari tempatnya. “Kenapa masih berdiri di situ? Keluarlah dulu!” pinta Kemala lagi.
“Ehm … kalau diingat-ingat, aku belum pernah melihatmu mandi. Aku akan tetap di sini, kau mandilah. Atau kita mandi berdua?”
“Hah? Memangnya vampir butuh mandi juga? Kau selalu harum dan wangi sepanjang hari, bahkan setelah kau bergulat ditempat yang kotor sekalipun tubuhmu itu tetap bersih tak ada noda sedikitpun. Jangan bicara yang tidak-tidak, kalau kau tetap di sini, kapan aku mandinya.”
“Membiarkan melihatku mandi atau terjadi gempa tektonik. Kau tinggal pilih. Ku hitung sampai 3. Satu … dua … ti-…,”
__ADS_1
“Mandi!” jawab Kemala cepat meski ia tak suka pilihan yang diberikan Richard. “Kau boleh melihatku mandi,” ujarnya kesal tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak ingin ada kehebohan lagi diluar sana bila Richard mengajaknya membuat gempa.
Mau tidak mau, Kemala terpaksa memilih pilihan yang aman meski ia benar benar malu dilihat suaminya ketika dirinya membersihkan diri.
“Semoga saja imronnya kuat dan tak memaksaku buat gempa di sini,” gumam Kemala sambil membilas seluruh tubuh indahnya dengan air mulai dari atas hingga bawah. Airnya hangat sehingga membuat Kemala lebih rileks setelah ketegangan yang baru saja dialaminya.
Seperti yang dikatakan Richard saat meninggalkan rumah neraka ini. Dengan mandi seperti ini, Kemala melupakan kejadian mengerikan tadi dan hanya menganggap itu sebagai mimpi buruk belaka.
“Aku bisa mendengarmu, Cagiya. Imronku sangat kuat sekarang. Jangan khawatir,” ujar Richard sambil tertawa melihat istrinya langsung buang muka membelakanginya.
Vampir tampan itu tersenyum menang. Matanya tak bisa berkedip melihat istrinya sedang sibuk melakukan ritual mandi yang sudah rutin Kemala lakukan sehari-hari. Bahkan dengan mesranya, Richard membantu mengelapkan rambut istrinya yang basah setelah Kemala selesai dengan ritual mandinya.
“Kau cantik sekali,” ujar Richard menatap Kemala tanpa kedip.
Kemala jadi tersipu malu dipuji suaminya seperti itu. Tanpa permisi, Richard menggendong istrinya dan membantu mengenakan pakaian yang jauh lebih indah dan elegan dari sebelumnya.
“Mereka sedang bertugas,” jawab Richard saat membantu menyisir rambut panjang hitam legam Kemala di depan cermin.
“Tugas apa?” tanya Kemala penasaran.
“Nanti kau akan tahu.” Richard menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya pergi keluar rumah. Tak lupa vampir tampan itu memakaikan mantel tebal supaya Kemala tetap merasa hangat karena udara di luar sangat dingin.
Ini sudah menjelang pagi, tapi diluar rumah Richard orang-orang pada sibuk berlalu lalang menuju suatu tempat yang menjadi pusat kerumunan. Kemala jelas bingung tapi tidak untuk Richard yang sudah tahu apa yang terjadi di tempat kerumunan itu.
__ADS_1
Mereka berdua membaur dengan yang lain dan betapa terkejutnya Kemala setelah melihat apa yang terjadi di depan mata Kemala. Sebuah video memperlihatkan rekaman tentang kronologi kejadian yang menimpa Kemala dan Richard mulai dari dibius dan dibawa ke ruang eksekusi. Semua itu ditampilkan oleh dua sosok yang tampak familiar di mata Kemala.
“Bu-bukankah … mereka … adalah kakak ipar?” tanya Kemala pada Richard untuk memastikan apakah perkiraannya itu benar atau salah.
“Iya, mereka menyamar sebagai tim IT dan menyadap apa yang sudah keluarga keji itu lakukan pada kita. Mata Richard menatap tajam sekelompok orang yang diikat dan mulutnya di lakban dalam satu tiang.
Sontak Kemala sangat terkejut karena rencana Richard membongkar aib manusia tak beradab berjalan dengan sangat lancar dan Kemala akui ini sangat luar biasa. Namun, bukan Kemala saja yang terkejut ketika menyaksikan video tersebut dan langsung merutuki keluarga Beralda tanpa ampun.
Mereka bahkan hendak membakar keluarga yang tampak kelainan itu hidup-hidup. Inilah yang Richard rencanakan, vampir itu ingin semua orang tahu seperti apa kehidupan asli Beralda dan keluarganya di balik topeng yang mereka gunakan untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan.
Saat adegan terakhir di mana Kemala hendak dipenggal, lagi-lagi Richard memeluk kepala istrinya agar Kemala tak melihat adegan yang ia lakukan saat melenyapkan suami Beralda yang bisa dikatakan sadis.
“Kau tidak boleh lihat.” Richard mendekap kepala Kemala dan langsung membawanya pergi dari kerumunan ini. Tentu aja mereka pergi sambil berpelukan dan Richard menutupi mata Kemala dengan tangan.
“Aku mau lihat, kenapa kau malah mengajakku pergi. Aku penasaran,” rayu Kemala tapi sepertinya rayuan mautnya tidak mempan. Sayangnya Richard tidak goyah, ia tetap tidak mengizinkan Kemala melihat video rekaman sadis dan mengerikan itu.
“Kau cukup lihat wajah tampanku saja Cagiya.”
“Aku sudah melihat wajahmu setiap hari. Aku penasaran dengan akhir dari video itu. Apakah dia mati? Atau melarikan diri? Kau apakan orang itu?”
“Ayo pulang saja dan buat gempa daripada kepoin segala hal yang terjadi di sekitar kita.” Richard tak ingin membicarakan hal mengerikan yang sudah terjadi.
Dalam waktu kurang dari 1 menit, vampir tampan itu sudah membaringkan Kemala di tempat tidur alias balik lagi ke rumah yang mereka sewa.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***