
Kemala langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis di sana. Agar tangisannya tak terdengar ayahnya. Gadis itu menutup wajah cantiknya dengan bantal dan menumpahkan segala rasa yang rasakan selama ini. Sudah 6 bulan lebih ia tak menerima kabar apapun dari Richard. Ia sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa menemukan suaminya.
Pernah terbersit dalam pikiran Kemala untuk mengakhiri hidupnya, siapa tahu suami vampirnya itu datang menyelamatkannya. Namun, hal itu tidak jadi ia lakukan karena teringat akan ayah yang amat Kemala cintai lebih dari apapun. Selain itu, ia juga sedang menunggu kehadiran suaminya.
Bagaimanapun juga, Kemala tidak boleh goyah. Gadis itu menganggap bahwa ini adalah ujian cinta yang harus Kemala lalui sampai Richard benar-benar kembali. Walau semua ini, terasa sangat pedih dan perih. Kemala harus bisa melaluinya.
“Kemala, ada Susi dan Dewi diluar. Temui mereka Nak. Kenapa kau malah mengurung diri di dalam,” seru ayah Kemala dari luar pintu. Mungkin pria paruh baya itu belum tahu kalau putrinya sedang menangis tersedu-sedu.
“Sebentar Ayah, Kemala ganti baju dulu!” seru Kemala terdengar serak. Buru-buru gadis itu mengusap air matanya dan mengelapnya dengan tisu. Ia pun keluar kamar dan masuk dalam kamar mandi untuk membasuh mukanya agar tidak kelihatan kalau ia habis menangis.
“Ada apa?” tanya Kemala pada kedua temannya yang ternyata menyusulnya ke rumah.
“Kamilah yang harusnya bertanya padamu Kemala. Kenapa kau tiba-tiba berlari sekencang itu setelah tahu kalau rumah disebelahmu ini mau direnovasi? Apa … kau kenal pemilik rumah itu?” tanya Dewi sungguh ingin tahu.
Kemala terdiam dan wajahnya masih tampak sedih, tapi ia berusaha keras untuk tampak biasa saja di depan sahabatnya. “Tadinya kukira aku kenal, tapi ternyata aku salah. Aku tidak mengenal pemilik rumah besar itu.” Jawab Kemala, matanya menatap lurus dan tidak fokus.
Tiba-tiba saja, Kemala dikagetkan dengan seorang kurir yang mengantar paketan berukuran lumayan besar. Tentu saja Kemala kaget karena ia tak pernah memesan apapun.
“Paket Mbak!” seru kurir itu dan Kemala keluar untuk memastikan apakah paket tersebut benar dikirim untuknya atau hanya salah alamat.
“Paketnya buat siapa ya, Mas?”
“Atas nama Kemala, apa benar ini rumahnya?” tanya sang kurir.
__ADS_1
“Benar. Mas. Saya Kemala. Tapi saya tidak pernah merasa memesan paket apapun Mas. Kali aja Masnya salah orang.”
“Kayaknya benar deh Mbak, di desa ini yang namanya Kemala cuma Mbaknya saja. desa dan alamatnya sama kok Mbak. Nggak mungkin kalau saya salah alamat.”
Kemala melihat alamat yang dikirim tapi tidak ada alamat pengirimnya. Dan ternyata memang benar. Alamat yang tertera memang alamat rumah Kemala. Namun, tetap saja gadis itu bingung dan memanggil ayahnya untuk bertanya apakah ayahnyalah yang memesan peket.
Ternyata jawabannya tidak. Kemala juga menanyakan apakah 2 sahabatnya itu yang memesan atas namanya. Baik Dewi dan Sisi sama-sama kompak kalau mereka tidak memesan paket apapun untuk Kemala. Lagian bagaimana mereka bisa pesan, kalau uang mereka saja pas-pasan.
“Mbak, bisa tanda tangan di sini Mbak, sebab saya harus mengantar barang yang lainnya,” ujar kurir tadi karena ia tak bisa menunggui kebingungan Kemala.
“Oh, iya Mas. Maaf ya …” Kemalapun terpaksa menandatangi barang yang dikirim untuknya dan langsung membukanya begitu sang kurir pergi.
Ternyata eh ternyata, paket besar yang dibungkus rapi itu dikirim atas nama R.A.S. dan isinya adalah gaun pesta yang sangat indah dan elegan layaknya gaun yang biasa digunakan oleh seorang putri.
Melihat gaun seindah itu, tentu saja Kemala dan dua temannya langsung menganga. Merea bertiga terpukau akan motif dan keindahan gaunnya yang berwarna putih dilapisi kain berjaring indah menghiasi seluruh gaun elegan tersebut.
“Ini sih gaunnya para sultini. Coba kau pakai saja Kemala, kayaknya gaun ini sangat cocok untukmu,” tambah Susi.
“apa ini dari orang yang membuatmu sedih? Ciee … pasti dia yang mengirimkan gaun ini untukmu kan?” tebak Dewi.
Kemala melihat nama pengirimnya yang hanya bertuliskan inisial saja. ia sungguh tidak yakin kalau yang mengiriminya gaun seindah ini adalah suaminya. Sebab, nama Richard yang Kemala tahu hanyalah Richard Salvataro,. Harusnya kalau di singkat jadi ‘R’ dan ‘S’, bukannya RAS.
“Sepertinya bukan. Su- … emh, maksudku … aku … orang yang kusuka .., nama inisialnya tidak sama. Aku rasa bukan dia.” Kemala ketar-ketir, hampir saja ia keceplosan salah ngomong. Kemala sudah terbiasa memanggil Richard dengan sebutan ‘suamiku’.
__ADS_1
“Siapapun itu, pokoknya gaun ini adalah gaun terindah yang pernah aku lihat, iya kan Dew?” tanya Susi pada Dewi dan sahabatnya itu setuju.
“Jadi Kemala … besok kita harus ke pesta pakai gaun ini. Jangan sampai kau tidak datang. Kami berdua akan menjemputmu. Oke!”
“Tapi …”
“Ayolah Kemala. Ini kesempatan langka, kapan lagi desa kita mengadakan pesta layaknya desa-desa lainnya. Sesekali kau juga harus keluar rumah dan bersenang-senang dengan kami. Itupun jika kau masih menganggap kami sahabatmu,” bujuk Dewi sehingga Kemala mau tidak mau dan dengan sangat terpaksa memenuhi keinginan temannya datang ke pesta pembukaan Toserba bersama mereka berdua.
Melihat Kemala menganggukkan kepala, tentu saja Susi dan Dewi tampak sangat bahagia. Mereka berdua meminta Kemala mencoba mengenakan gaun pemberian dari seseorang yang misterius dan hasilnya, gaun itu benar-benar pas di tubuh sang bunga desa.
Orang kalau dasarnya sudah cantik mau di kasi apapun pasti tetap tampak sangat cantik. Dan inilah yang terjadi pada Kemala. Tanpa memakai gaunpun sudah cantik jelita, apalagi saat Kemala memakai gaun, cantiknya bagai bidadari turun dari surga.
***
Akhirnya, pesta yang dinanti-nantikan pun tiba. Kemala dan kedua teman-temannya sepakat berangkat bersama ke lokasi pesta yang tengah diadakan. Suasana di pesta itu tampak sangat meriah apalagi dalam pesta tersebut didatangkan sebuah kelompok sirkus paling terkenal dunia yang banyak dicari-cari para sirkuis untuk menanti aksi memukau mereka.
Sirkus itu adalah sirkus langka dan melegenda di mana disetiap aksinya selalu bisa menghipnotis orang yang melihat penampilan dan pertunjukan mereka. Ini pertama kalinya bagi Kemala melihat ada pertunjukan sirkus di desa. Pantas acaranya melebihi konser bintang superstar mendunia.
“Kok ada sirkusnya ya? Wuah … posternya saja keren banget,” seru Dewi senangnya bukan kepalang. Mereka bertiga sedang mengantri masuk ke ruang pesta yang digelar outdoor dan indoor.
Outdoor bagi mereka yang ingin menonton pertunjukan sirkus dan indoor bagi mereka yang ikut pesta dansa. Kemala terus memerhatikan poster besar yang terpampang jelas dihadapannya.
“Aku pernah melihat poster ini, tapi … di mana ya?” gumam Kemala lirih. Matanya tak pernah lepas mengamati poster yang tidak asing lagi baginya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***