
Mendengar penyataan Kemala yang mengatakan kalau ia merindukan seseorang jelas membuat dua teman dekat Kemala sangat terkejut bukan kepalang. Pasalnya, Kemala merupakan kembang desa yang digandrungi banyak pria tapi ia bukanlah wanita gampangan yang mau menerima hati semua pria yang menyukainya.
Dan sejauh yang teman-temannya ini tahu, Kemala masih belum memiliki tambatan hati, bahkan lamaran yang dulu pernah diajukan Vinot saja ditolak olehnya. Meski sekarang Vinot mereka anggap telah tiada. Padahal aslinya, gara-gara Vinotlah Kemala dan Richard terpaksa harus terpisah seperti ini.
Memang, Dewi dan Susi pernah mendengar kabar alasan Kemala menolak lamaran pria yang melamarnya, dikarenakan gadis itu sudah bertunangan dengan pria di kota tempat Kemala yang katanya bekerja di sana.
Namun hal itu tidak terbukti dan orang hanya menganggap Kemala beralasan saja agar bisa menolak para pelamarnya. Dan sekarang, sebuah kejutan besar keluar dari bibir gadis itu. Desas-desus yang menyatakan kalau Kemala sudah punya kekasih bukan isapan jempol belaka. Sepetinya, sang kembang desa memang punya tambatan hati meski mereka tidak tahu siapakah pria beruntung yang berhasil mendapatkan hati wanita tercantik di desa ini.
“Kemala! Tunggu! Katakana pada kami, siapakah orang yang kau rindukan itu? Apa dia ada di sini? Apakah orang itu yang digosipkan penduduk desa bertunangan denganmu?” ujar Dewi mengejar Kemala sabil memberondong banyak sekali pertanyaan.
“Ceritanya sangat panjang, aku tak bisa memperkenalkannya pada kalian semua bahkan menyebut namanya saja aku tidak bisa. Maafkan aku jika membuat kalian khawatir padaku. Tapi … untuk saat ini … aku ingin sendiri.” Kemala masih terserang virus gegana alias gelisah galau merana. Makanya ia ingin sendirian untuk saat ini.
“Tapi …” Dewi masih ingin banyak bicara dengan Kemala dan hendak mengejar langkah kaki temannya. Tapi lengan kiri Dewi dicekal kuat oleh Susi.
Temannya yang satu menggelengkan kepala, “Jangan kejar dia, kita beri dia waktu sendiri untuk menata hati dan pikirannya. Kasihan Kemala, mungkin rindu yang ia rasakan terlalu dalam sampai ia jadu bermuram durja seperti itu. Jika kau memaksanya, itu hanya akan membuatnya semakin merana.”
Yang dikatakan Susi benar, Dewi pun yang menatap punggung temannya pergi meninggalkannya berdua dengan Susi di belakang. Tiba-tiba, tampak dari kejauhan, Kartika and the gengnya datang menghampiri dan sengaja menghadang langkah Kemala.
Susi dan Dewi saling pandang. Mereka tahu betul siapa dan seperti apa Kartika. Mereka adalah sekelompok pembully di desa dan paling merasa cantik sendiri di desa ini. Karena khawatir. Dua sahabat Kemala berlari ke tempat Kemala berdiri di mana Kartika dan yang lainnya sedang mengepung gadis itu.
“Permisi,’ ujar Kemala hendak berlalu pergi, tapi langkahnya tetap di hadang dan Kartika.
“Lama tak bertemu, kau ingat aku?” tanya Kartika dengan gaya sombongnya.
__ADS_1
“Tidak, kita berdua tidak ada urusan. Permisi!” Kamala mengambil jalan lain dan nyelonong pergi. Tapi tiba-tiba rambut gadis itu ditarik sehingga Kemala mengerang dan melepas paksa tarikan rambutnya. “Apa yang kau lakukan? Siapa kau?” tanya Kemala mulai marah.
“Jangan berlagak sombong dengan pura-pura tidak mengenaliku? Kau itu Cuma mantan bunga desa buangan. Kau menolak semua pria yang melamarmu hanay demi tunangan fiksimu. Apa kau tidak tahu? Kau sudah dianggap gila dan tidak waras oleh semua orang. Kenapa masih berani menampakkan batang hidungmu di sini! dasar tidak tahu malu!”
“Kartika!” Bentak Dewi dengan keras karena wanita sok kecantikan itu sudah sangat keterlaluan.
“Apa!” tantang Kartika. “Kalian jangan ikut campur! Urusanku dengan Kemala, bukan dengan kalian! Pergi dan jadilah pecundang sana!”
“Sebenarnya apa masalahmu denganku? Katakan saja, tapi jangan ganggu teman-temanku!” Kemala berdiri tepat dihadapan Kartika yang tubuhnya lebih pendek dari tubuh tinggi Kemala.
“Huh, aku hanya memperingatkanmu. Aku dengar pemilik toserba itu akan tinggal di istana angker yang ada di sebelah rumahmu. Saat ini bangunan itu sedang direnovasi supaya layak ditinggali. Jangan sampai kau tebar pesona pada pemilik toserba itu karena dia sudah jadi incaranku. Camkan itu baik-baik … eh … kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!” teriak Kartika kesal karena tiba-tiba saja Kemala pergi berlari sekencang mungkin menuju rumah yang disebutkan Kartika di mana rumah itu adalah rumah suaminya.
Dewi dan Susi juga terkejut melihat reaksi Kemala seolah shock sampai harus berlari kencang meninggalkan mereka.
“Kaulah siluman yang sesungguhnya! Dasar tak sadar diri!” cetus Dewi dan ia langsung pergi menyusul Kemala bersama Susi.
“Sialan kau! Awas kalian semua!” teriak Kartika dengan wajah merah saking marahnya.
Sementara itu, Kemala terus saja berlari secepat mungkin agar lekas sampai ke depan istana Richard yang kabarnya akan di huni orang lain. Gadis itu tidak percaya kalau istana suaminya akan ditinggali orang lain selain dirinya dan suaminya.
“Tidak … tidak mungkin … bagaimana rumah suamiku bisa menjadi milik rumah orang lain? Apa yang terjadi sebenarnya? Tidak … aku tidak bisa menerima ini. Itu rumah Richardku. Takkan kubiarkan siapapun mengambil alih rumah suamiku!” gumam Kemala sambil terus berlari dan berlari tanpa peduli pada apa yang ada disekitarnya.
Sampai akhirnya, Kemala tiba di depan istana rumah Richard. Dan ia sangat terkejut sudah ada banyak orang keluar masuk di sana untuk mengganti dan memperbaiki barang di dalam istana tersebut. Kemala shock bahkan tubuhnya lemah lunglai seketika. Tanpa sadar, ia juga ikut masuk ke dalam dengan langkah terhuyung berharap apa yang ia lihat ini tidak nyata. Tapi, beberapa orang mencegah langkahnya untuk masuk lebih dalam lagi.
__ADS_1
“Berhenti di situ Nona! Siapa Anda?” tanya salah satu mandor yang bertanggungjawab untuk merenovasi istana yang notabennya milik Richard, tapi sudah diambil alih orang lain.
Kemala bingung harus bilang apa, orang lain tidak akan percaya kalau ia mengatakan bahwa dirinyalah nyonya rumah di sini. “E … rumah ini ….”
“Rumah ini sudah diambil alih oleh pemiliknya Nona. Kami diperintah untuk merenovasi semuanya agar layak huni. Jika Anda tidak ada kepentingan, tolong pergilah dari sini karena orang lain dilarang masuk kemari,” terang mandor itu.
“Siapa pemilik yang kau maksud?” tanya Kemala penasaran san enggan keluar dari tempat yang menurutnya masih milik Richard.
“Dia pemilik toserba yang akan dibuka besok, beliau akan datang besok sekaligus mengawali pesta pembukaan toserbanya dan akan tinggal di sini.”
“Seterusnya?” tanya Kemala masih dengan rasa terkejutnya.
“Ehm … sepertinya begitu. Ada apa Nona, apa Anda kenal pemiliknya?” sang mandor malah balik bertanya.
“Apa … pemiliknya berwajah tampan, berambut panjang ikal dan hitam legam? Orangnya tinggi dan kulitnya putih pucat, punya mata keemasan dan ia memiliki suara tenor yang merdu didengar?” tanya Kemala dengan harap-harap cemas.
“Ehm … sepertinya rambutnya tidak panjang Nona. Rambutnya cepak dan rapi, lurus dan tidak ikal. Mungkin Anda salah,” terang mandor itu lagi dan berlalu pergi.
Bertapa hancur lebur hati Kemala saat ini. Tak ada yang bisa ia lakukan selain meninggalkan tempat ini dengan hati merana.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1