Pengantin Pangeran Vampir

Pengantin Pangeran Vampir
BAB 91 Taruhan Leo dan Shena


__ADS_3

Leo berdecak kesal ketika Refald mulai mengeluarkan jurus pergombalan rianya pada Fey. Di tambah lagi, putra sulungnya juga unjuk kemesraan dalam keadaan baku tembak. Yuna di gendong Yeon menghindari serangan sementara istrinya terus menembaki musuh. Sedangkan Bima berkelahi dengan musuh yang mencoba menikamnya dari belakang. Tentu saja suami Aira itu menang telak karena ia jago sekali berkelahi dan terlatih sejak kecil.


“Yeey, kau keren sekali Bima sayang, itu baru anakku!” seru Shena setelah melihat aksi putra keduanya.


“Bagaimana denganku, Sayang?” tanya Leo mulai memasang wajah manyun. “apa aku tidak keren, berkat siapa Bima bisa jadi begitu? Benihku ini bibit unggul, semua anak kita pada keren semua. Bagaimana kalau kita buat anak lagi setelah ini, sayang kalau bibit unggulku dibuang terus,” ujar Leo benar-benar lose tanpa rem saat merayu istrinya.


Dasar gangster nggak akhlak. Dan tidak ada urat malunya sama sekali, sudah punya cucuk masih ingin nambah anak lagi.


Shena menahan tawa mendengar suaminya mulai kumat narsisnya. Wanita cantik itu menghela napas panjang karena ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan suami nggak ada akhlaknya Leo. Ujung-ujungnya pasti minta buta anak padahal Leo ini full servis setiap malam.


“Kau fokus saja sama musuh yang sedang menembaki kita. Mau kau rayu kayak gimana juga aku tidak akan pernah mau punya anak lagi. Sudah cukup Yeon, Bima dan Lea. Mereka bertiga sudah lebih dari cukup untukku. Kalau kau masih ngotot punya anak lagi, hamil dan lahirkan saja sendiri kalau perlu susui sendiri pula!” cetus Shena setengah kesal dan ia merebut senapan dari tangan Leo lalu menembaki musuhnya tepat mengenai tubuh mereka sehingga semuanya jatuh terkapar satu persatu.


Ternyata, wanita kalau sedang marah atau darahnya mendidih bisa menyeramkan juga. Leo yang ada dibelakang Shena sampai tertegun melihat aksi istrinya yang secara jitu menumbangkan musuh mereka satu persatu.


“Ya sudah, bagaimana kalau kita taruhan. Siapa yang paling banyak menembak dan menjatuhkan lawan dialah pemenangnya dan sang pemenang wajib mengajukan satu permintaan,” tantang Leo pada Shena.


“Baik! Siapa takut!” Shena balik menantang. “Yeon … Bima!” seru Shena pada kedua putranya.


“Iya Ibu!” seru Bima dan Yeon bersamaan. Kakak beradik yang kompak meski mereka berdua banyak bentroknya.


“Kalian jangan menembak lagi. Duduk manislah dan bergabunglah dengan para tamu undangan sang tuan rumah. Biar sisanya aku dan ayahmu yang bereskan!” terang Shena.


“Ibu …” Bima mau komplain tapi Yeon langsung mencegah adiknya.


“Bim … biarkan saja! kau duduk manis saja ketimbang kau tak diperbolehkan bertemu dengan Aira!” sergah Yeon.

__ADS_1


Bima menurut, ia cari aman dan mulai menurunkan senapannya. Sedang Yuna bingung 7 turunan karena ia baru sadar telah menikah dengan keluarga yang aneh bin ajaib tapi langka itu. Bahkan sepertinya ia jadi aneh juga sekarang.


“Aku mendukung ibu,” bisik Yuna pada suaminya.


“Sama, aku juga. Aku tidak mau adik lagi. 2 adik saja sudah cukup merepotkan bagiku, akan lebih memusingkan jika aku punya adik yang lebih parah daripada Bima dan Lea.” Yeon balas berbisik.


“Aku jadi kangen Lea. Ada di mana dia sekarang?” tanya Yuna saat suaminya menyinggung adik bungsunya.


“Sedang berpetualang, dia akan pulang bila sudah waktunya pulang. Ayo kita cari tempat yang aman untuk pertandingan ayah dan ibu,” ajak Yeon. Sementara Bima sudah lebih dulu duduk santai sambil menikmati hidangan.


Sedangkan para penjahat yang jadi incaran Leo dan Shena sedang waspada sambil menatap bingung dua sejoli yang sedang taruhan itu. Mereka berdiri sejajar sambil membawa senapan masing-masing. Mereka bahkan tidak memakai pelindung apapun. Kalau para musuh ini mau, mereka semua bisa menembaki Shena dan Leo saat keduanya lengah.


Namun anehnya, mereka tak bisa mengangkat senjata api meraka seolah tertahan oleh sesuatu. Dan ternyata, semua itu ulah Rey dan Dewa yang sengaja membuat para musuh mereka tak bisa menggerakkan senjata sebelum perang taruhan antara Leo dan Shena di mulai.


“Rey … Dewa!” seru Leo dengan lantang tana menoleh pada dua keponakannya. Sebaliknya, Leo malah menatap penuh cinta istrinya.


“Haruskah kita melakukan ini? Kenapa kita ikut campur taruhan mereka?” tanya Dewa bingung tapi ia tetap melaksanakan tugasnya melindungi paman dan bibinya dari senjata api musuh.


“Karena mereka Paman dan Bibi kita. Mereka memang gila, tapi mereka tetap keluarga kita. Bukankah itu yang ayah dan ibu ajarkan pada kita. Keluarga adalah yang utama. Dan kita harus jadi yang terdepan untuk melindungi mereka semua sekalipun mereka semua gila dan langka, hehe.” Rey terkekeh dan Rhea malah mengajak Dea berkumpul dengan Yuna untuk memberikan dukungan sepenuhnya pada Shena.


“Sayang! Kau mau ke mana?” tanya Rey pada istrinya.


“Aku amu mendukung bibi Shena!” seru Rhea senang begitupula dengan Dea.


Dewa sendiri tidak bisa bilang apa-apa saat istrinya ikut bergabung dengan kumpulan para wanita tangguh gabungan keluarga Leo dan Refald.

__ADS_1


“Bibi Shena! Kami mendukungmu Bi … kalahkan Paman Leo!” seru Rhea dan Dea bersamaan.


“Ibu … aku juga sangat mendukung Ibu! Semangat Bu!” seru Yuna sambil memberikan simbol cita pada Shena.


Leo jadi cemberut karena tidak ada yang meneriakinya seperti yang terjadi pada Shena. “Woy kalian yang di sana!” serunya pada Bima, Yeon, Rey dan Dewa. “tidakkah kalian mendukungku?” teriak Leo dengan nada mengancam.


Para lelaki itu malah memalingkan wajah seolah mereka tidak dengar. Leo jadi ingin sekali mengangkat senjata dan menembaki kepala anak dan keponakannya karena kesal tidak dikasih dukungan.


“Sialan! Awas saja kalian!” geram Leo mau mengangkat senjatanya.


“Berani kau melukai mereka, kepalamu akan kutembak juga!” ancam Shena menodongkan senapannya di kepala suaminya.


Tentu saja Leo mengurungkan niatnya dan langsung menurunkan senjatanya. Iapun balik badan dan menatap wajah serius istrinya.


“Ayolah Sayang … sama kau tidak paham keluarga kita. Rey dan Dewa tidak akan mempan aku tembak. Yeon dan Bima bakal disembuhkan Dewa dan mereka tidak akan kenapa-napa. Kau tak perlu seserius itu padaku!” protes Leo.


“Lawan mu bukan anak dan keponakanmu. Aturannya kita akan membasmi musuh yang mencoba mengacaukan pesta ini. Kalau kau sampai melenceng ke mana-mana, akan kutebas kepalamu sekarang juga!” ancam Shena.


Dan diluar dugaan, tiba-tiba Leo memegang ujung senapan Shena lalu menari senapan tersebut hingga wanita yang berdiri di depan Leo itu jatuh ke pelukannya. Tanpa jeda, Leo langsung mencium mesra Shena dihadapan semua orang yang sedang tegang menunggu aksi perang keduanya. Tapi ternyata ….


“Astaga … mereka mau taruhan apa bulan madu sih?” tanya Fey yang sejak tadi memerhatikan apa yang terjadi di kubu Leo dan Shena.


“Sudah ku duga, ujung-ujungnya pasti juga nggak ada akhlak!” ujar Refald tapi matanya langsung tertuju pada Raja Salvataro yang terkena serangan ketua dewan delegasi.


Refald mengesampingkan drama nggak ada akhlaknya Leo dan Shena untuk fokus pada dewan delegasi itu. Sedangkan Richard fokus pada ayah mertuanya yan sudah tampak sangat shock mengetahui hal mustahil dan mistis terjadi di depan matanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2