
Sepertinya, Kemala harus terbiasa dengan kedatangan Gilberto yang suka muncul tiba-tiba dan mengagetkan dirinya. Kalau tidak dibiasakan, lama-lama ia bisa jantungan. Namun, yang terpenting sekarang bukan soal kehadiran dadakan asisten kepercayaan suaminya, melainkan Kemala harus segera menyelesaikan masalah yang baru saja Richard ciptakan meski masalah baru yang lebih besar tengah menanti keduanya.
Hilangnya jasad Vinot secara misterius, menimbulkan ancaman baru bagi Richard dan Kemala. Richard sendiri juga sudah memerintahkan anak buah tak kasat matanya untuk menemukan jasad yang hilang itu bagaimanapun caranya. Pangeran vampir itu hanya berharap bahwa dugaannya salah dan tidak menimbulkan bahaya lain bagi Kemala. Hanya ada satu hal yang harus dilakukan Richard saat ini, ia tak boleh meninggalkan Kemala barang sedetikpun.
Dengan kemampuan yang Richard miliki sebagai seorang vampir, ia memahami apa yang ada dalam pikiran istrinya untuk menyelesaikan masalah Richard sementara, dan itu memang masuk akal. Gilberto menyerahkan barang belanjaan Kemala yang sempat jatuh berserakan dan bahkan mengganti kereseknya dengan yang baru karena keresek sebelumnya telah rusak.
“Terimakasih Tuan Gil …”
“Panggil Gil saja Nona,” ralat Gilberto ramah.
“Ah iya … tapi …”
“Turuti saja apa yang dia katakan daripada nanti dia menggerutu padaku. Dia selalu merasa aneh saat kau memanggilnya dengan sebutan ‘tuan’. Tidak ada yang memanggilnya begitu semenjak dia menjadi vampir ratusan tahun yang lalu,” sela Richard.
“Dan ini jas Anda Yang mulia.” Richard menyerahkan sebuah pakaian yang biasa Richard kenakan.
“Kenapa kau repot-repot, Gil. Padahal aku sengaja pamer tubuhku pada istriku. Dia tak berkedip kalau aku bertelanjang dada begini,” goda Richard dan Kemala jadi salah tingkah sendiri kerena yang dikatakan suaminya memang benar.
Untungnya istri Richard ini cepat menguasai diri sehingga tak kemakan godaan suaminya. Gadis itu baru sadar kalau usia dua vampir yang ada didekatnya ini sudah tua sekali. Tapi melihat penampilan mereka, seperti baru kepala dua. Pantas saja pakaian yang mereka kenakan sangat jadul dan agak kuno. Richard juga tidak tahu apa itu pemballut wanita.
“Bawa aku memutar menuju jalan utama rumahku. Dan tinggalkan aku di sana sendirian,” ujar Kemala sambil memeluk leher suaminya dengan kedua tangannya untuk minta digendong.
“Kau yakin dengan semua ini?” tanya Richard memastikan, matanya juga sempat menatap Gilberto yang langsung menganggukkan kepala seolah memberitahu bahwa asistennya itu sudah siap dalam segala hal kemungkinan terburuknya.
__ADS_1
“Aku rasa … inilah jalan terbaik untuk kita semua. Takkan kubiarkan siapapun mengusik ketenangan orang yang kucintai, termasuk ketenanganmu. Tidak ada seorangpun yang boleh tahu keberadaanmu di sini. Pilihanku jatuh padamu, tapi aku percaya, dengan kecepatan berlarimu, kau bisa membawaku kemari setiap kali aku merindukan ayahku. Kau bisa lakukan itu untukku, kan?” mata Kemala berbinar penuh harap pada Richard.
“Tentu saja, kau bisa menemui ayahmu kapan saja, tapi kusarankan hanya di malam hari. Sebab, kalau siang, aku bisa terlihat oleh orang.”
“Tidak masalah, asal masih bisa bertemu dengan ayah, kapan saja tidak apa-apa. Maafkan aku Richard, karena aku … kau …”
Belum juga Kemala melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah ciuman manis mendarat di bibir merahnya. Ciuman manis dari Richard ini sekaligus membungkam Kemala agar tidak lagi bersuara.
“Takkan kubiarkan siapapun menyentuhmu ataupun menyakitimu, Kemala. Kau harus ingat kalau kau adalah milikku seutuhnya. Jangankan hanya satu Vinot, 1000 Vinotpun akan kulenyapkan jika sampai berani macam-macam denganmu.” Untuk kedua kalinya, Richard mencium lembut bibir Kemala yang tertegun bahagia sambil membantu mengeratkan pelukan tangan istrinya dilehernya. “Aku menunggu aktingmu,” ujarnya sambil tersenyum.
Dalam hitungan detik, Richard sudah berpindah tempat ke lokasi di mana Kemala menjatuhkan barang belanjaannya. Sampai di sini, Richard masih berjalan beriringan sambil bergandengan tangan mengantar istrinya pulang ke rumah untuk menciptakan sebuah alibi bahwa Kemala tidak terlibat dalam kasus hilangnya Vinot. Meski mereka berdua tahu kalau manusia bejaat itu telah tiada dari muka bumi ini.
“Berhenti mengantarku, sampai di sini saja, pergilah dan temui aku malam nanti.” Kemala berjingkat sambil mengecup pelan pipi dingin suami vampirnya. “Sampai ketemu lagi nanti, bye.” Sambil tersenyum, Kemala melambaikan tangannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Richard.
Namun, tangan Kemala ditarik oleh Richard sehingga tubuh gadis itu jatuh kepelukan suaminya. “Bukan begitu cara memberi salam perpisahan sementara, tapi seperti ini …” Richard mengecup bibir atas dan bawah Kemala secara bergantian sekaligus merasakan indahnya cinta yang sedang bersemi diantara mereka berdua.
Richard sendiri hanya tersenyum gemas melihat kepergian istrinya. Ia sudah amat bisa mengontrol jiwa vampirnya saat berada di dekat Kemala sehingga saat menyentuh atau mencium Kemala tak ada reaksi apa-apa.
Rasa bahagia, tengah menyelimuti pikiran Richard karena seorang vampir tidak memiliki hati ataupun jantung. Vampir itu merasa seperti manusia dan laki-laki normal yang haus akan cinta.
Sebanding dengan Kemala, sebenarnya hati Kemala sangatlah tegang. Berkali-kali ia menghirup dan membuang napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak cinta dihatinya. Ia tak ingin terlalu larut dalam buaian pesona suami vampir tampannya.
Dari jauh, rumah Kemala beserta kerumunan warga desa sudah terlihat olehnya. Gadis itu segera memasang ekspresi polos seolah tak tahu apapun yang sedang terjadi saat ini.
__ADS_1
Semua orang langsung memandang ke arah Kemala yang baru saja datang membawa belanjaan. Kepala desa langsung memberondong berbagai macam pertanyaan pada Kemala dan gadis itu menjawab semua pertanyaan tersebut dengan santai.
“Saya memang bertemu dengan Kak Vinot di salah satu warung saat berbelanja, Pak Kades, tapi setelah itu kami berpisah. Saya pulang lebih dulu.” Itulah keterangan yang diberikan Kemala dengan tenang dan sangat meyakinkan.
“Kau yakin tidak bersamanya? Kenapa pakaianmu basah begitu? Ini hanya mendung, belum hujan.”
“Tadi saya terjatuh saat melewati jalan tanjakan, Pak. Kebetulan tempatnya dekat sungai, saya tidak ingin ayah saya khawatir jadi saya membersihkan pakaian saya terlebih dulu. Sebenarnya ada apa ini Pak? Apa yang terjadi dengan Kak Vinot?” tanya Kemala pura-pura tidak tahu.
Dari kejauhan, Richard menyunggingkan senyum karena istrinya jago sekali berakting.
“Dia menghilang, aku kira dia kesini untuk meyakinkanmu menjadi istrinya. Aku hanya tidak habis pikir Kemala, kenapa kau menolak putraku. Tidak tahukah kau betapa hancur hatinya saat lamaranku untuknya kau tolak?” kepala desa itu terkesan seolah menyalahkan Kemala atas hilangnya Vinot.
“Pak Kepala Desa, tidak tahukah Anda apa yang sudah putra Anda perbuat pada semua gadis di desa ini?"
"Apa maksudmu?" alis kepala desa itu terangkat menatap Kemala.
"Jika Bapak ingin tahu apa alasan saya menolak Kak Vinot, silahkan survey semua penduduk di desa ini, berapa wanita yang tengah berbadan dua tanpa suami, dan tanyakan pula pada mereka siapa ayahnya,” ujar Kemala lirih. Ia berharap penduduk desa lain tak mendengar pembicaraan mereka berdua karena Kemala tak bermaksud mengumbar aib seseorang.
Istri Richard ini hanya ingin mengusir semua orang dari sini dan berharap tak ada yang mengganggu ketenangan hidup ayah Kemala lagi. Kemala yakin, kepala desa yang langsung berkeringat dingin itu tahu maksud dari ucapannya.
Tentu saja Kepala desa itu memang terkejut mendengar pernyataan Kemala dan berubah panik sendiri. Tanpa dikomando, kepala desa itupun langsung pergi meninggalkan rumah Kemala.
“Ayo kita cari Vinot di tempat lain!” seru ayah Vinot dan langsung melengos pergi diikuti oleh warga desa tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***