
Kali ini, Richard menggunakan cara yang berbeda untuk mengontrol jiwa vampir buah hatinya yang bersemayam dalam diri Kemala. Jiwa vampir yang dirasakan Kemala bisa datang dan pergi kapan saja tanpa bisa diprediksi. Dan Richard harus bisa mengendalikan itu semua agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Apalagi sampai melukai orang lain.
“Jangan berisik ya Cagiya. Di dalam sedang ada yang berperang. Tidak sopan mengganggu orang lain seperti ini.” Richard mencium kening Kemala lalu berlutut agar wajahnya sejajar dengan perut istrinya. Seketika Kemala diam seolah langsung menurut pada permintaan suaminya.
Sekarang, ganti Richard menenangkan anaknya.“Anak ayah adalah anak yang baik dan pintar. Ayah akan menjagamu dan ibumu serta mengajarimu banyak hal. Jangan jadi anak nakal ya Sayang. Ayah sangat menyayangimu. Baik-baiklah di dalam dan jangan buat ibumu kesakitan, oke.” Richard bicara pada anaknya sambil mengelus lembut perut Kemala.
Satu gerakan kecil membuat Kemala dan Richard langsung tercengang sekaligus senang. Itu merupakan tanda bahwa buah hati mereka mendengarkan apa yang Richard katakan barusan. Benar-benar bikin haru saja tingkah si Richard kecil ini. Belum keluar saja sudah bikin gemas apalagi bila sudah ada diluar.
“Ayo kita keluar cari makan bersama, jangan mengganggu ibumu lagi, ya Sayang. Bilang saja pada Ayah, akan kuberikan semua yang kau inginkan.” Lagi-lagi Richard mengelus perut Kemala dan mendapat satu tendangan kecil kembali.
Padahal perut Kemala ini masih lumayan rata, tapi gerakan sang jabang bayi vampir sudah terasa. Memang yang namanya dunia pervampiran sangat tidak masuk akal dan diluar nalar manusia. Apa yang mustahil bisa saja terjadi di sini
Sepertinya, peran Richard kali ini sangat penting bagi kehamilan Kemala. Ia harus mengajari anaknya untuk bisa mengontrol kekuatannya di mulai dari sekarang sekalipun sang jabang bayi vampir belum lahir ke dunia. Dengan begitu, ketika lahir nanti, Richard kecil sudah bisa beradaptasi dan hidup seperti ayahnya.
“Apa aku melakukan kesalahan lagi?” tanya Kemala yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Richard sedang menggendongnya menuruni tangga.
“Tidak apa-apa, aku akan selalu siap siaga menjagamu. Kau tidak pernah salah Cagiya. Kau sangat luar biasa. Untung saja Raja dan Ratu tidak marah kita buat keributan di depan kamar mereka. Berdoalah supaya besok tidak kena omel.” Richard tersenyum manis pada istrinya.
“Aku jadi tidak enak pada ratu Fey. Besok aku akan minta maaf langsung padanya. Dia sudah baik padaku tapi aku malah mengusik ketenangannya.”
“Kita akan minta maaf sama-sama. Jangan sedih begitu. Raja dan ratu orang baik. Jika tidak, mungkin sekarang mereka sudah keluar dan menendang kita dari rumah ini.”
“Turunkan aku, aku mau jalan kaki saja. kalau melihat lehermu, aku ingin sekali menggigitmu.”
“Oh iya? Ini … gigit saja.” Richard malah mendekatkan lehernya di depan wajah Kemala.
Namun gadis itu malah melompat turun menghindari suaminya karena Kemala tidak sedang bercanda. Tangan Kemala langsung digenggam erat oleh Richard.
Awalnya mereka berjalan pelan saat keluar rumah Refald dan Fey untuk berburu. Namun, tiba-tiba saja Kemala melesat cepat lebih dulu sehingga Richard harus mengimbangi kecepatan berlari Kemala yang sudah hampir sama seperti Richard.
Rupanya, alasan bumil bayi vampir itu lari, karena ia mencium aroma binatang yang tak sengaja melintas beberapa mil dari tempatntya berdiri sekarang. Kemala melesat cepat untuk mengejar kawanan kijang yang berlarian menuju padang safana. Tak perlu menunggu waktu lama, Kemala melompat dengan gerakan kilat menangkap salah satu kijang paling belakang.
Binatang tersebut tak bisa bergerak akibat terkaman kedua tangan Kemala yang entah bagaimana caranya serasa amat sangat kuat. Gadis itu hendak menggigit leher sang kijang tapi dicegah oleh Richard.
“Tunggu Cagiya! Tidak seperti itu. Itu bukan cara keluarga kita. Lihat aku!” Richard menunjukkan tangannya yang berkuku runcing dan hanya dengan satu jari teluncuk, vampir tampan itu menyayat kulit kijang lalu menghisap darahnya seperlunya.
“Giliranmu,” ujar Richard pada Kemala.
__ADS_1
Walau sempat ragu, istri Richard itu akhirnya menghisap darah kijang seperti yang dicontohkan suaminya. Ternyata Kemala tak butuh darah banyak. Hanya beberapa hisapan, ia sudah selesai.
Agar darah kijang tidak merembet ke mana-mana. Richard segera menutup luka sayatan itu hingga tak kentara lagi. Sang kijangpun dilepaskan kembali agar berkumpul lagi dengan kawanannya yang sudah pergi lebih dulu dari sini.
Richard menatap Kemala yang masih menatap lurus si kijang. Tangan vampir tampan itu terulur sampai di sudut bibir Kemala yang belepotan dengan darah. Ia membantu mengusap darah itu sampai hilang.
“Kau hampir sama sepertiku sekarang Kemala. Bagaimana ini …”
Mata Kemala menatap wajah syahdu suaminya. Tangannya masih menyentuh satu pipi istrinya yang kini sudah tidak dalam kendali si jabang bayi vampir lagi. Ekspresi Kemala tampak tenang walah ia sempat shock atas tindakan yang barusan ia lakukan.
“Bisakah kau ubah aku sepertimu saat aku melahirkan nanti?”tanya Kemala dengan nada suara gemetar.
“Bagaimana dengan ayahmu? Apa dia bisa menerimamu yang berubah jadi monster sepertiku?” Richard malah balik bertanya.
Kemala terdiam, matanya mulai berkaca-kaca memikirkan ayahnya. Sebagai orangtua, jelas ayah Kemala takkan rela putrinya berubah jadi vampir. Bahkan jika saja Daries tahu putrinya menikah dengan vampir, mungkin saja ia tidak akan merestui pernikahan Kemala dengan Richard. Untungnya, sampai detik ini, Darries masih belum tahu kalau Richard dan keluarganya adalah vampir.
“Ayah tidak akan setuju. Jika dia tahu siapa kau dan keluargamu, aku yakin ia akan menentang pernikahan kita. Aku juga tidak bisa meninggalkannya sendirian di dunia ini.” Kemala menangis, ia teringat bagaimana perjuangan ayahnya yang membesarkannya hingga sekarang.
Richard memeluk tubuh istrinya dan menenangkannya. “Jangan menangis Cagiya, kau dan ayahmu layak bahagia sekarang. Aku akan menjagamu, dan semua orang yang kau cintai. Kita akan melalui ini bersama-sama sekalipun kita berbeda dunia. Toh cinta kita tetap abadi selamanya tak peduli seberapa besar cobaan datang menghadang.”
Kata-kata Richard sukses menenangkan hati Kemala. Keduanya saling berpelukan mesra dan menyatu dengan alam.
***
“Kalian baik-baik saja?” tanya Refald ketika Richard masuk ke dalam rumahnya.
“Ehm. Kami baik-baik saja Raja. Maaf kalau kami sempat membuat keributan. Begitu Kemala terbangun, kami langsung kembali pulang.”
Refald tak lagi bicara dan membiarkan Richard membawa istrinya beristirahat di dalam. Sementara Fey hanya diam melihat betapa romantisnya mereka berdua. Tidak seperti suaminya yang bisanya cuma encum doang.
“Kau sedang lihat apa?” tanya Refald menghalangi pandangan istrinya.
“Ck, kau ini kenapa sih? Tidakkah kau melihat betapa romantisnya mereka? Kapan lagi aku bisa melihat manusia dan vampir semesra itu."
“Lalu kita?” tanya Refald lagi. Tatapan mata Refald sangat tajam dan sedikit menakutkan.
“Aku mau telepon Shena dulu. Aku akan minta dia untuk ikut menghadiri pernikahan fenomenal Richard dan Kemala.” Fey langsung mengalihkan pembicaraan sekaligus menghindar sambil berlari masuk ke dalam karena ia malas meladeni Refald kalau sedang kumat.
__ADS_1
“Honey, kau jangan kabur. Kau belum jawab pertanyaanku! Aku kurang romantis apa padamu? Aku juga sering menggendongmu. Apa kau ingin kukurung dalam kamar seminggu, ha? Honey! Kau dengar aku! Awas saja nanti malam!” seru Refald disertai dengan ancaman, tapi yang diteriaki tak menggubris dan malah sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
***
Setelah selesai bicara dengan Shena, Fey menutup kembali teleponnya dan mencari keberadaan Refald. Sayanganya sang raja demit sudah tidak ada di rumah. Entah ia pergi ke mana. Karena khawatir, Fey pun pergi keluar dan sengaja meninggalkan Richard dan Kemala berdua saja di dalam kamar.
Satu jam kemudian, Pak Po dan Divani datang untuk bertemu dengan Refald dan Fey. Namun orang yang pocong tampan itu cari ternyata tidak ada. Sebaliknya, ia malah menemukan Richard dan Kemala yang baru saja keluar dari kamar mereka sambil gendong-gendongan.
“Sedang apa kau di sini?” tanya pak Po masih saja ketus pada Richard.
“Ezi, sudahlah. Jangan cari gara-gara lagi. Apa kau ingin raja dan ratu marah padamu?”Divani mencegah suaminya untuk tak memancing keributan.
“Aku hanya tidak suka vampir itu di sini! Melihatnya membuatku teringat akan masa lalumu. Benar-benar menyakitkan.”
“Kau kan sudah mati? Kau juga tidak punya hati? Menyakitkan darimananya Zi Ezi …! Jangan kumat deh.”Divani heran juga dengan sikap pocong oneng satu ini.
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Berapa tahun kalian dulu dekat? Setahun, dua tahun? Oh nggak ya? 3 tahun? Seberapa lamapun kalian berhubungan, aku boleh tepuk tangan buat kalian berdua, kan?” ujar pak Po lagi-lagi menirukan salah satu adegan yang ada di film layangan putus. Bahkan ia tepuk tangan beneran.
“Stop Ezi!”
“Kenapa? Kaget ya?”cetus pak Po dengan wajah dongkolnya.
Belum juga Divani buka suara tiba-tiba saja Kemala langsung menyerang pak pak Po dengan mendorong tubuh pocong sok melodrama itu sampai terpental dan nyangsang di atas lampu besar saking kuatnya dorongan Kemala. Mata merah Kemala menyala terang tanda ia sangat marah dengan pak Po.
“Adaowww! Kok bisa sih aku nyangsang di sini. Turunin dong!” teriaknya. Tubuh pak Po memadat ketika ia bersentuhan dengan Kemala yang kini mulai dikuasai lagi oleh Richard kecil. “Aduh Bumil Bumil. Napa main seruduk-seruduk saja sih! Turunin nggak!”
“Nggak! Minta maaf dulu pada suamiku!” bentak Kemala tak takut dengan lak Po.
“Di … turunin aku!” pintak pak Po pada istrinya.
“So … rasain kau di atas sana. Salah sendiri pakai acara sok main drama. Kau pikir kisah kita ini film layangan putus apa? Jangan macam-macam kau Ezi! Nikmati saja duniamu di atas lampu!” Divani meledek suaminya dan langsung berlalu pergi tepat saat Refald dan Fey kembali.
“Ada apa Di? Di mana pak Po?” tanya Fey.
Divani langsung menunjuk lampu yang ada di atas mereka.
"Astaga pak Po kenapa kau rebahan di sana? Kau sudah bosan dengan pohon pisang? Makanya kau ganti tempat baru?" tanya Fey setengah meledek.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***