
Kemala sangat gelisah di kamar mandi, ia ingin sekali keluar ruangan tapi takut akan mengundang banyak bahaya. Istana ini dipenuhi makhluk penghisap darah. Bila Richard saja tidak tahan, apalagi dengan yang lainnya. Kemala juga tidak tahu apakah suaminya pergi meninggalkannya untuk membelikan apa yang ia butuhkan sekarang, ataukah mungkin saja vampir itu tidak tahan dengan bau anyir darahnya sehingga pergi menjauh sejauh mungkin.
Dari luar kamar mandi, terdengar suara pintu terbuka dan menutup pelan. Kemala semakin was-was siapakah yang datang. Richard ataukah bukan, gadis itu tidak berani bersuara dan memilih diam dengan tegang.
“Buka Kemala, ini aku. Kubawakan apa yang kau inginkan,” seru vampir Richard dari luar. Sungguh ini pemunduran bagi para vampir karena harus rela membuang semua harga diri hanya demi wanita yang dicintai.
Kemala langsung bernapas lega karena yang datang ternyata adalah suaminya. Ia membuka pintu kamar mandi dan tiba-tiba berkantung-kantung keresek besar berisi berbagai jenis pembalut langsung disodorkan Richard padanya. Jelas Kemala kaget dan kewalahan sampai-sampai pembalut itu jatuh berserakan di mana-mana.
“Kenapa banyak sekali?” tanya Kemala bingung.
“Aku tidak tahu merek apa yang biasa kau pakai, jadi aku beli saja semuanya.”
“Astaga! Apa kau mau beralih fungsi menjadi penjual pembalut, Tuan? Pilih saja salah satu atau dua, kenapa semua merek kau borong semuanya?” gerutu Kemala antara marah dan ingin tertawa. Ia tak bisa membayangkan bagaimana suaminya yang seorang vampir itu membelikan pembalut untuknya.
Pasti orang yang menjual pembalut ini bingung karena suaminya memborong semua pembalutnya. Bagaimana ekspresi Richard saat menanyakan pada sang penjual mengenai apa yang ia beli ditokonya, Kemala cuma bisa menerka-nerka.
“Jangan banyak protes. Cepat pakai dan keluarlah dari kamar mandi.”
Entah mengapa Kemala merasa ini sangat lucu, seorang vampir beli pembalut, apa kata dunia pervampiran jika makhluk sejenis mereka tahu tentang yang dilakukan Richard demi Kemala. Gadis itu membuka salah satu pembalut untuk ia kenakan dan menyimpan sisanya di tempat lebih kering agar bisa ia gunakan lagi nanti
Masih dalam kondisi malu malu meong. Kemala berjalan keluar dari kamar mandi dan tampak senang saat melihat tubuh tinggi tegap suaminya sedang berdiri di jendela layaknya bukan vampir saja. Kemala ingin mendekatinya untuk mengucapkan terimakasih tapi Richard malah melarangnya.
__ADS_1
“Jangan mendekat. Tetap disitu saja!” cetusnya tanpa mau menoleh pada Kemala.
Gadis itu terdiam dan mulai cemas. “A-apa … yang terjadi?” tanya Kemala. Aura vampir Richard serasa berbeda dari sebelumnya.
“Ternyata aku salah,” ujar Richard, suara tenornya terdengar gemetar seolah sedang menahan sesuatu. “Bau darahmu saat datang bulan ternyata 10 kali lipat lebih menyengat dari sebelumnya. Aku tak bisa ada didekatmu lebih lama dari ini.”
Spontan, Kemala mundur ke belakang agar Richard nyaman dengannya meski hal itu sama sekali tidak membantu. “Lalu … apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.
“Tidak ada pilihan lain, pulanglah kerumahmu dan temui ayahmu. Kau bisa kembali kemari saat kau selesai datang bulan,” jawab Richard masih memunggungi Kemala. Bukan karena ia tak ingin melihat wajah cantik istrinya, tapi karena mata Richard sedang menyala terang seolah siap memangsa mangsanya. Matanya berubah merah dan menyeramkan.
Vampir tampan itu tidak ingin Kemala tahu seperti apa wujud monsternya. Ia tak ingin Kemala ketakutan melihatnya. Dan dengan berat hati, ia mengizinkan istrinya pergi menemui ayahnya dengan berbagai macam persyaratan demi keamanan mereka bersama. Salah satunya, tak ada yang boleh tahu keberadaan Richard.
Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata betapa bahagianya Kemala mendengar ucapan suaminya. Akhirnya, Richard memberikan izin padanya dan spontan, gadis itu berlari memeluk tubuh suaminya dari belakang serta mengindahkan larangannya.
“Terimakasih suamiku, terimakasih banyak, terimaksih karena sudah mengizinkanku pergi menemui ayahku!” seru Kemala kegirangan sampai ia tidak sadar bahwa gadis itu telah mengakui Richard sebagai suaminya. “Aku janji padamu, aku akan kembali tepat waktu, siklusku hanya seminggu, begitu selesai, aku akan datang kembali kemari. Aku juga janji, keberadaanmu di dunia ini, takkan pernah diketahui oleh siapapun.
“Ehem, Kemala … tolong … menjauhlah dariku, aku takut … akan lepas kendali jika kau terus memelukku seperti ini,” ujar Richard dag dig dug ser dipeluk istrinya.
“Oh, maaf!” Kemala langsung melepaskan pelukannya dan berdiri menjauh dari Richard dengan malu-malu.
“Pergilah malam nanti supaya tidak ada orang yang melihatmu keluar dari istana ini. Maaf tidak bisa mengantar atau menemanimu untuk bertemu ayahmu, sungguh … bau darahmu bagai candu untukku. Aku akan menunggumu kembali, setelah itu … kita harus pergi menemui keluargaku dan memperkenalkanmu sebagai menantu mereka.”
__ADS_1
Deg!
Jantung Kemala serasa mau meledak mendengar suaminya akan memperkenalkan dirinya pada keluarga vampirnya. Gadis itu menelan salivanya dalam-dalam karena ia tidak tahu apakah ia siap atau tidak untuk menemui mertua Richard yang pastinya adalah seorang vampir juga.
“Jangan takut begitu, mereka tidak akan menyakitimu asal kau bersedia mengikuti prosedurnya.” Richard sudah bisa melihat wajah pucat istrinya karena takut bertemu keluarganya.
“A-aku baru tahu … kalau bertemu mertua vampir, harus ada prosedurnya,” ujar Kemala lirih dan entah kenapa ia mengagumi ketampanan suami vampirnya. “Katakan padaku, prosedur apa itu?”
“Nanti saja kujelaskan padamu setelah kau selesai datang bulan dan kembali kemari. Sekaligus kita praktekkan saja bersama. Maaf aku harus pergi, aku … tak bisa lama-lama di sini. Sampai bertemu lagi nanti. Aku pasti akan merindukanmu, dan jika kau merindukanku, bukalah jendela kamarmu, aku akan melihatmu dari situ.” Dengan sedikit ragu, Richard mendekatkan dirinya di depan Kemala dan mencium mesra kening istrinya.
Meski berat harus terpisah setelah kurang lebih sebulan bersama, Richard harus bisa menerima takdir yang digariskan untuknya karena beristrikan seorang manusia. Mata Kemala terpejam seakan merasakan ketulusan cinta Richard untuknya. Seminggu tidaklah lama, ia berjanji akan segera kembali begitu ia selesai dengan siklus reproduksi wanitanya.
***
Akhirnya, saat yang ditunggu Kemala telah tiba, tepat di malam hari dan dalam keadaan sepi, Kemala keluar dari istana Richard dan berjalan dengan segenap hati kembali pulang ke rumah gubuknya. Senang rasanya bisa kembali lagi ke rumah sederhana di mana sudah ada ayahnya yang terus saja berharap menunggu kehadiran putrinya. Sepanjang perjalanan, Kemala terus bercucuran air mata. Sesekali ia berhenti melangkah dan menatap jendela rumah Richard.
Gadis itu tersenyum ketika Richard melambaikan tangannya dan itu membuat air mata Kemala semakin deras mengalir. Pintu rumah Kemala masih terbuka saat ia memasuki pekarangan rumah gubuknya. Dari kejauhan, ia bisa melihat ayahnya yang duduk di ruang tamu sambil memandangi fotonya. Semakin tak tertahankan tangis Kemala dan tanpa sadar, ia memanggil ayahnya.
“Ayah …” ujar Kemala lirih dan ayah yang amat dicintainya, menoleh ke sumber suaranya.
“Kemala,” seru pria paruh baya itu seketika.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***