Pengantin Pangeran Vampir

Pengantin Pangeran Vampir
BAB 54 R.A.S


__ADS_3

Poster para kelompok sirkus yang terpampang jelas di depan pembukaan Toserba, mengalihkan pandangan Kemala di mana ia sangat familiar dengan gambar yang disuguhkan. Berbeda dengan kelompok sirkus lainnya, poster tersebut memperlihatkan beberapa pemeran yang aneh bin langka seperti manusia ular, tubuhnya berwujud manusia, tapi kakinya berbentuk ular.


Ada juga singa yang ditunggangi pria berjas hitam sambil membawa tongkat, bahkan ada vampir tampan yang sengaja memperlihatkan gigi dan taringnya. Kelihatannya semua gambar-gambar itu tampak seram, tapi itulah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk memikat orang-orang yang penasaran agar mau melihat pertunjukan sirkus mereka. Semakin, unik, maka orang akan semakin penasaran.


“Kemala ayo! Apa yang kau lihat?” seru Susi yang heran melihat temannya masih berdiri memandangi poster sementara ia dan dewi sudah hampir masuk ke ruangan pesta yang mereka nantikan dari kemarin. Yaitu ruang pesta dansa.


“E … sepertinya … aku mau lihat pertunjukan ini ….” Kemala menunjuk poster yang ia lihat.


“Nanti saja lihatnya, kita ke pesta aja dulu. Kalau di dalam sana membosankan, kita akan keluar dan lihat bersama pertunjukan sirkus itu,” ujar Dewi dan menyeret lengan Kemala agar mereka bertiga masuk ke dalam ruang pesta.


Toserba ini benar-benar sangat luas dan megah. Semuanya dirancang sangat sempurna sehingga begitu orang masuk ke dalam, langsung terpukau akan desain dan dekorasi ruangannya. Sejumlah makanan dan minuman mahal juga disuguhkan dengan baik dan sempurna. Tidak ada kecacatan sama sekali di pesta ini.


Mereka yang hadir di sini dipersilahkan makan dan minum sesuka hati secara gratis tanpa dipungut biaya apapun. Tentu saja, semua ini membuat hati Dewi dan Susi senang.


Sayangnya, tidak dengan Kemala. Saat ini, pikiran gadis itu hanya terpacu pada bayangan Richard dimana hanya rambut ikal suaminya saja yang ia ingat. Selebihnya, ia tak bisa mengingat seperti apa wajah tampan suaminya.


Bagaimana ini, aku tak ingat wajah suamiku sendiri? Bagaimana kalau dia datang dan aku tidak bisa mengenalinya? Batin Kemala.


Ia langsung bingung kenapa ia harus berkata seperti itu dalam hati seolah Richard benar akan kembali. Padahal, menurut Kemala belum tentu suaminya itu kembali karena baik Gilberto dan seluruh anak buah Richard sudah tak lagi menampakkan batang hidungnya di depan Kemala.


Bisa saja sesuatu yang buruk terjadi pada Richard sehingga membuatnya tak bisa kembali menemui ataupun menjemput Kemala seperti yang pernah vampir tampan itu janjikan untuknya. Hati wanita mana yang tidak sedih mananti suami yang tak kunjung kembali.


“Kemala, kau dengar aku, nggak sih? Kok kamu diam saja? Ngelamunin apaan sih? Pestanya asyik loh. Lihat tuh … semua orang pada dansa dengan pasangan masing-masing. Semua makanannya juga enak. Harusnya kamu seneng dong, kenapa malah bengong begitu?” Dewi membuyarkan lamunan Kemala.


“Maafkan aku, aku … hanya tidak fokus saja,” ujar kemala lirih tapi juga sedih karena semeriah apapun pesta yang ada di sini, kalau tidak ada Richard disampingnya, semua terasa hampa.

__ADS_1


Kedua sahabat Kemala menghibur Kemala agar tidak tampak murung. Mereka sengaja mencicipi semua makanan yang disuguhkan karena rasanya sangat enak dan bikin ketagihan. Namun, di saat ketiganya sedang asyik makan, tiba-tiba saja si ulat kadut Kartika datang berserta gerombolannya dan mulai bikin rese Kemala dan teman-temannya.


“Kau dapat gaun itu darimana?” tanya Kartika dengan nada mencibir. Mungkin dia iri karena gaun yang ia kenakan tak sebanding dengan gaun yang dipakai Kemala.


Jelas saja, Kemala sangat cantik memakai gaun dari orang misterius yang hingga kini tak diketahui siapakah dia. Selain itu, gaunnya hanya ada satu di dunia ini dan memang tidak dijual di manapun. Wajar kalau Kartika penasaran karena sepanjang menjelajahi pasar, Kartika tak menemukan gaun seindah gaun Kemala.


“YTTS dong! Kalau iri bilang aja bos!” sengal Dewi senang melihat muka masam Kartika si tukang kepo.


“Huh, palingan itu baju murahan yang kau buat sendiri sehingga tampak mahal.” Tanpa izin, Kartika meraih kain jaring yang melapisi bagian luar gaun indah Kemala dimana bahan dasar gaun ini adalah sutera termahal di dunia. Ia merobek kain jaring tersebut untuk membuktikan bahwa gaun ini adalah gaun palsu.


Namun, sekuat apapun Kartika merusak gaun Kemala, tangannya tetap tak berhasil merobek kain tersebut. Jangankan robek, rusak sedikit saja nggak. Artinya, gaun Kartika ini benar-benar asli dan sangat mahal, bahkan merupakan barang paling limited edition banget.


“Huh, nggak robek kan? Gaun ini asli, bukan murahan kayak yang nuduh!” cetus Susi sengaja menyindir Kartika.


“Apa maksudmu!” bentak Kartika sambil menuding Susi dengan jari telunjuknya.


“Sudah-sudah hentikan, jangan bertengkar di pesta orang. Nggak enak sama yang lainnya terutama sama sang pemilik pesta ini,” sergah Kemala menengahi. Ia melihat sekeliling dan mereka lumayan dilihatin banyak orang.


“Iya benar Sus. Jangan ladeni si panci comberan ini! Buang-buang tenaga aja!” ujar Dewi.


“Siapa yang kau sebut panci comberan, ha?” bentak Kartika tak terimalah.


“Ya kaulah, siapa lagi? Yang pantas menyandang gelar panci comberan kan memang Cuma kau!” Dewi tak mau kalah.


Mereka semua hampir saja adu jotos kalau saja Kemala tak segera menengahi mereka. “Tolong! Hentikan! Kalian merusak pesta orang! Apa kalian semua mau diusir, ha? Hanya soal gaun! Kenapa dipermasalahkan!” tegas Kemala pada sahabat dan juga pengganggunya. “Dan kau Kartika! Kalau kau menginginkan gaun ini, akan kuberikan padamu. Tapi .., apa kau tidak malu bila memakai bekasku?” tanya Kemala dan hal itu membuat Kartika sekaan mendapat pukulan telak dari Kemala.

__ADS_1


Terang saja Kartika ciut, mana mau ia memakai gaun bekas orang lain apalagi itu adalah bekas Kemala. Dengan dongkol iapun menjauh dari Susi dan juga Dewi.


Susi pun salut akan kebijaksanaan Kemala dalam memskakmat pembencinya dan ia mulai mengontrol emosinya. Tubuh susi yang dipegang Kemala perlahan ia lepaskan pertanda kalau ia sudah aman. Yang dikatakan Dewi benar, meladeni orang yang sudah terkena penyakit hati, sama saja bikin otak tidak waras. Mending kayak Kemala, yang selalu menghadapi segala hal dengan kepala dingin, bukan dengan emosi.


“Huh, dasar parasit kalian itu! Aku ingatkan satu hal ya? Jangan pernah dekati sang pemilik toserba ini apalagi sampai cari-cari perhatian padanya. Sebab dia milikku. Kalian dengar itu? Pemilik Toserba ini adalah milikku. Bukan yang lain. Camkan itu baik-baik!” ancam Kartika lalu mereka pergi meninggalkan Kemala dan kedua temannya.


“Dasar panci comberan sok kepedean! Memangnya si pemilik toserba ini mau sama kamu, ha? Kalaupun dia mau, pasti orang itu sudah buta mata, hati dan pikiran!” teriak Dewi jadi ikutan kesal. Entah yang diteriaki itu benar atau tidak.


Ganti Dewi yang emosi sekarang. Sedangkan Kemala sendiri malah diam karena ia sama sekali tak tertarik dengan pemilik Toserba setelah sang mandor yang merenovasi rumah Richard mengatakan bahwa ciri-ciri pemilik toserba ini tidak sama dengan ciri-ciri fisik suaminya.


Akhirnya, yang ditunggu-tunggupun datang. Acara pesta pembukaan dimulai dan sang MC memanggil pemilik Toserba yang baru saja datang dari luar negeri untuk memberikan acara sambutannya.


Setelah berbasa basi sebentar, sang MC memanggil sang pemilik Toserba ini. “Oke, yang pasti suda ditunggu-tunggu sejak tadi. Mari kita sambut … Mr. Athan! Atau yan sering kita kenal dengan R.A.S!” seru sang MC dan tepuk tangan meriah langsung menggema di ruang pesta ini.


Hanya Dewi, Susi dan Kemala saja yang tampak shock setelah nama sang pemilik Toserba diucapkan. Bagaimana tidak? Nama itu adalah nama inisial yang mengirimi Kemala gaun indah dimana gaun tersebut sedang dikenakan Kemala sekarang.


“Kemala … bukankah ….” Susi dan Dewi berucap bersamaan. Dan mereka tampak shock menatap sang pemilik toserba.


Seorang pria berjas hitam rapi dengan potongan rambut lurus dan cepak, turun perlahan dari tangga sambil membawa minuman dalam gelas. Ekspresi pria tinggi dan sangat tampan itu kharismatik. Ditambah lagi ia bermata keemasan. Sejak kemunculannya pertama kali, semua netra tak bisa berkedip memandangnya tanpa henti.


Hampir semua wanita mengirim simbol cinta untuk pria tersebut tapi tak satupun dari mereka dilirik balik oleh sang pria. Matanya menatap lurus pada seorang wanita dan berhenti berjalan ketika ia berdiri tepat di depan wanita itu. Sontak semua orang terkejut karena sang pemilik toserba punya target sendiri.


“Lama tak bertemu, Cagiya!” ujarnya sambil tersenyum manis pada wanita yang sedang shock berat didepannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2