Pengantin Pangeran Vampir

Pengantin Pangeran Vampir
BAB 50 Rindu yang Tak Tertahankan


__ADS_3

Hari pertama kepulangan Kemala, ayahnya langsung merasa baikan. Serasa sehat dengan kehadiran Kemala di rumah ini. Pria paruh baya itu sungguh bahagia bisa melihat kembali putri tercintanya. Berbeda dengan Kemala yang amat sangat merindukan Richard. Ia selalu terbayang wajah tampan sang vampir dan juga suara tenornya yang merdu didengar.


Awalnya, semua berjalan dengan lancar, dengan tulus Kemala merawat ayahnya sehingga kondisi sang ayah tercinta benar-benar membaik seperti sedia kala. Bahkan tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah 6 bulan lamanya Kemala tinggal dengan ayahnya dan selama itu juga, sang bunga desa tak kunjung mendapatkan kabar dari suami vampir tampannya.


Kendati demikian, Kemala tetap percaya pada suaminya dan setia menunggu kedatangannya meski rasa rindu terus saja menyerang Kemala tanpa henti. Lama kelamaan, rindu itu semakin berat dan dahsyat. Gadis itu jadi merasa sepi, sunyi dan sendiri tanpa adanya Richard disisinya.


Hari-hari Kemala selalu ia lalui lebih banyak di dalam kamar, ketimbang diluar. Ia lebih suka menyendiri dan menutup dunia luar karena ia tak bisa berhenti memikirkan suaminya yang setiap detiknya terngiang di kepala dan ingatannya.


Setiap waktu, Kemala selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Bagaimana keadaannya, apakah ia berhasil menangkap Vinot atau tidak. Apakah ia bisa menyembuhkan kedua orangtua Richard. Dan yang terpenting, Kemala sungguh sangat ingin tahu, apakah suami tercintanya sangat merindukannya sama seperti Kemala merindukan Richard.


Namun dibalik kerinduan yang melanda Kemala, ia selalu menutupi rasa gundah gulananya agar ayahnya tak curiga. Di depan sang ayah, Kemala tampak bahagia seolah tak terjadi apa-apa. Tapi ketika ia sendirian, Kemala diterpa kegalauan yang begitu mendalam.


“Bagaimana kabarmu, Suamiku? Kenapa kau lama sekali menjemputku. Mana aku tidak punya fotomu lagi. Aku takut jika terlalu lama, aku tak tahu apakah masih ingat seperti apa wajah tampanmu. Satu-satunya yang mudah kuingat hanyalah rambut panjangmu yang ikal.” Kemala memandangi jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah rumah Richard.


Sejujurnya, Kemala punya kelemahan, yaitu kesulitan mengenali wajah seseorang jika sudah lama tak bersua lebih dari 6 bulan. Gadis itu berharap, malam indah yang penuh dengan bintang ini, suaminya muncul dari balik tirai istananya seperti yang biasa Richard lakukan dulu. Kemala bahkan berkhayal mengira melihat suami vampirnya di salah satu jendela istananya.

__ADS_1


Sontak, gadis itu langsung berlari keluar ke samping rumah tepat di sebelah jendela kamarnya untuk memastikan apakah penglihatannya itu benar atau tidak. Tapi setelah ia mengusap matanya, ternyata itu hanya imajinasinya saja. Tidak ada siapa-siapa di istana kosong tak berpenghuni tersebut. Sebenarnya, ia ingin bertanya pada Gilberto, tapi entah kenapa, vampir satu itu tak tampak batang hidungnya beberapa hari ini.


“Saya tidak tahu Nona Kemala. Pangeran Richard tidak memberitahu apa-apa. Mungkin Yang mulia sedang sibuk sampai tak sempat memberikan kabar. Mohon sabar menunggu Nona Kemala. Dan percayalah, Yang mulia Richard, pasti akan segera kembali kemari.” Itulah kalimat yang selalu diucapkan Gilberto setiap kali Kemala menanyakan perihal tentang suaminya.


Kalau sang asisten sudah bicara seperti itu, tidak ada yang bisa dilakukan Kemala selain menunggu dan menunggu walau hati serasa kelu karena terus menerus diserang rindu tak berdebu.


Menyadari bahwa sosok Richard yang ia lihat ternyata hanyalah fiksi belaka, tentu saja Kemala kecewa berat, karena apa yang ia lihat tidaklah nyata. Gadis itu ingin menangis, tapi tidak jadi. Sebab ia tak mau siapapun melihatnya sedih seperti ini.


“Ada apa Kemala,” ujar Ayah Kemala ketika melihat putrinya ada di luar rumah.


Kemala lumayan terkejut mendengar suaranya dan menutupi wajahnya yang suram. Ia berusaha tampak ceria di depan ayahnya padahal jauh dari dalam lubuk hatinya, Kemala menjerit sedih menahan rindu serindu-rindunya pada suami vampirnya yang entah sekarang ada di mana.


Tentu saja ayahnya tak bisa percaya begitu saja dengan ucapan putrinya. Sebab tindakan dan omongan, jelas sangat berbeda.


“Ini sudah 6 bulan sejak kedatanganmu ke rumah ini. Dan selama itupula, tak sekalipun suamimu datang kemari menengokmu. Aku diam, karena aku tidak punya hak mencampuri urusan kalian. Tapi jika melihatmu seperti ini, bukankah aku juga berhak tahu? Tidak ada ayah manapun di dunia ini yang tega melihat putrinya menangis di malam hari, tapi tampak terlihat ceria di siang hari. Apa yang terjadi pada kalian berdua? Katakana sejujurnya pada Ayah.”

__ADS_1


Ucapan ayahnya, sungguh membuat tangis Kemala pecah. Sepandai-pandainya Kemala menutupi perasaannya yang sesungguhnya. Ayahnya ternyata sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu demi menjaga hati Kemala.


Gadis itu berlari dan memeluk tubuh ayahnya lalu mencurahkan seluruh isi hatinya dengan menangis dalam dekapan orang yang amat dikasihinya. “Tidak terjadi apa-apa diantara kami berdua Ayah,” isak Kemala masih dalam pelukan ayahnya.


“Lalu, kenapa kalian harus berpisah bila tak terjadi apa-apa.”


“Mana aku tahu kalau Richard sangat lama kembali. Ia hanya berpesan supaya aku setia menunggunya sampai ia datang menjemputku walau aku tidak tahu kapan. Aku hanya merindukannya Ayah. Tapi aku juga tak bisa mencegahnya menyelesaikan hal yang harus ia selesaikan tanpaku. Maaf kalau soal ini aku tak bisa memberitahu ayah karena itu adalah privasi kami berdua. Sampai detik ini, aku masih menunggu suamiku Ayah. Dan aku percaya, ia akan datang suatu hari lagi.”


Ayah Kemala terdiam, ia tak tahu harus berkata apa. Pria paruh baya itu bisa merasakan kesedihan yang melanda putrinya. Namun, ia juga tidak punya hak untuk ikut campur bila Kemala memilih setia menunggu kehadiran suami yang entah bagaimana kondisi dan keadaannya. Masih ada atau tidak, baik Kemala dan ayahnya, sama-sama tidak tahu.


“Tidak baik jika kau terus mengurung diri seperti ini dari dunia luar. Kau bisa jatuh sakit sepertiku. Sesekali pergilah keluar dengan teman-teman sebayamu. Berkali-kali mereka menanyakan keadaanmu, tapi tak berani datang kemari karena kau lebih suka menyendiri di kamar. Mereka ingin kau melakukan aktivitas bersama mereka sambil menunggu kedatangan suaminya. Itu jauh lebih baik ketimbang kau hanya ada di dalam kamar saja.” ayah Kemala memberikan saran yang baik dan bermanfaat bagi Kemala agar putrinya tak terus dilanda kesedihan.


Kamalapun menyetujui saran ayahnya karena itu memang benar. Lebih baik, Kemala mencari kesibukan baru sembari menunggu kehadiran Richard kembali. “Ayah benar. Baiklah, besok Kemala akan menemui teman-teman Kemala dan banyak mengobrol dengan mereka. Maafkan Kemala ya Yah … Kemala sudah membuat ayah khawatir,” ujar Kemala sambil bersandar manja di bahu ayahnya.


“Tidak apa-apa anakku. Ayah hanya berdoa semoga suamimu cepat menyelesaikan urusannya dan kembali kemari untuk berkumpul dengan kita. Ini suda malam, angin malam tidak baik bagi kesehatan kita.” Ayah Kemala mengajak putrinya masuk ke dalam rumah dan mulai istirahat untuk menyambut datangnya mentari pagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2