Pengantin Pangeran Vampir

Pengantin Pangeran Vampir
BAB 80 Saranjana


__ADS_3

Sebenarnya, Kemala bingung dengan ajakan Fey yang akan membawanya pergi berbelanja. Sepanjang perjalanannya kemari, ia tak pernah melihat ada pasar, mall atau tempat perbelanjaan manapun. Semua tempat hanya dipenuhi dengan hutan dan pepohonan serta bukit dan gunung menakjubkan.


Mustahil kalau di tengah-tengah gunung begini ada pusat perbelanjaan. Siapa yang jual dan siapa pula yang berbelanja, itu yang Kemala bingungkan saat ini.


“Kau akan bersenang-senang dengan Ratu. Di dunianya ini tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Aku pasti akan menjemputmu begitu kau puas bersenang-senang.” Richard membelai mesra rambut istrinya.


“Ehm, aku tahu. Aku pergi dulu.” Kemala menatap suami vampir tampannya sambil tersenyum.


Hal serupa juga dilakukan Refald saat mengizinkan Fey pergi bersenang-senang dengan Kemala. “Jangan buat istri pangeran itu terlalu shock Honey,” ujar Refald memberikan pesan.


“Aku tahu apa yang harus kulakukan, kau tidak perlu khawatir. Jangan lupa jemput kami, oke.” Fey mencium tangan suaminya dan Refald membalasnya dengan mencium kening istrinya.


Dua pasang pasangan suami istri itu tak segan-segan pamer kemesraan terhadap pasangan masing-masing. Dan yang paling parah adalah Refald-Richard, saling adu ciuman pada istri-istri mereka masing-masing. Untung keduanya adalah pasangan suami istri jadi sah sah saja kalau mau adu keencuman satu sama lain. Benar-benar duo mesum dari dunia lain yang bikin tepok jidat.


Setelah mendapat izin dari para suami dengan bonus adu keencuman dari sang suami, baik Fey ataupun Kemala langsung pergi ke tempat yang bakal menjadi tujuan mereka. Kemala menatap suaminya yang melambaikan tangan padanya lalu membalasnya dengan lambaian tangan pula.


“Ratu, kita akan pergi ke man?” tanya Kemala sudah tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya disaat keduanya berjalan masuk ke dalam hutan rimba.


Meski pemandangan di sepanjang jalan yang dilewati Kemala dan Fey sangat indah, tapi sebagai manusia normal kalau berjalan kaki begini, bisa bikin lelah juga. Untungnya, Kemala bukanlah gadis manja, ia tumbuh di desa dan sudah terbiasa berjalan kaki apalagi masuk ke dalam hutan di mana lingkungan tempat tinggalnya juga dikelilingi oleh hutan.


“Kita akan sampai sebentar lagi, bersabarlah. Kau lelah? Apa kita istirahat sebentar?” tanya Fey penuh perhatian pada Kemala. Bagaimanapun juga, Fey harus hati-hati karena istri dari pengeran vampir itu sedang berbadan dua.

__ADS_1


“Tidak, tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa berjalan kaki. Ini tidak masalah. Hanya saja … memang ada tempat perbelanjaan di tempat ini?” tanya Kemala.


“Ada, setelah melewati garis hutan itu, kau akan melihat pusat perbelanjaan serta hal-hal menakjubkan yang ada di sana.” Fey menjelaskan dengan senang. Seolah ia sangat suka kalau ada teman manusia yang bisa ia ajak berbelanja di tempat yang sulit dijangkau oleh manusia biasa.


Fey tidak mungkin mengajak Shena atau teman-teman manusianya karena mereka tak terhubung dengan dunianya di dunia ghaib ini. Akan sangat berbahaya bagi manusia biasa bila sering berkeliaran di dunia lain tanpa ada hubungan apapun dengan makhluk dari dunia lain seperti halnya dirinya yang terhubung dengan Refald selaku raja dedemit.


Para penghuni dunia lain takkan bisa menyentuh atau menyakiti Fey karena ia mendapat perlindungan ketat dari Refald. Makanya, Fey bebas berkeliaran di mana saja tanpa perlu khawatir pada apapun. Dan saat mengetahui Kemala akan datang, istri Refald ini langsung senang.


Kini mereka berdua sudah keluar dari hutan rimba dan ada di padang safana yang luas dan hijau. Fey mengajak Kemala berdiri di tepian danau yang indah dan juga luas di mana ditengah-tengah danau tersebut ada sebuah bukit menakjubkan. Dan di balik buti tengah danau itulah pusat perbelanjaan yang dimaksud Fey ada.


Sebuah kota megah dengan berbagai macam model gedung pencakar langit tampak terlihat dari posisi Kemala dan Fey berada saat ini. Kemala tak percaya ia benar-benar melihat ada sebuah kota. Berkali-kali ia mengusap mata, takut kalau ia hanya berkhayal, tapi nyatanya tidak. Kota indah dan megah itu nyata.


“Itu kota Saranjana, sebuah kota yang dikenal sebagai kota ghaib di dunia manusia,” terang Fey sambil memandang semua bangunan yang ada di kota yang ada dihadapannya dan lokasinya ada di tengah-tengah danau.


“Kota ghaib?” tanya Kemala masih takjub pada apa yang ia lihat.


“Sering disebut sebagai kota tak kasat mata karena tak bisa dilihat oleh orang awam. Tapi kau dan aku bisa melihatnya karena kita berdua punya suami yang terikat dengan dunia lain. Suamimu adalah vampir, dan suamiku adalah seorang raja dedemit. Sebagai istri mereka, hal ghaib seperti ini bisa kita lihat hanya dengan mata terbuka.”


“Jadi … hanya kita saja yang bisa melihat kota itu?”


“Ehm … sebagian manusia yang punya kelebihan atau istilahnya indra ke-6, juga bia melihatnya. Dan bahkan ada beberapa manusia, bisa keluar dan masuk kota itu dengan sadar atau tanpa sadar. Kau mau coba ke sana? Tempatnya sangat indah. Aku sering ke sana dengan Refald kalau lagi bosan.”

__ADS_1


Kemala bingung dan ragu, tapi karena yang mengajak adalah ratu demit dari dunia lain, maka tidak ada salahnya untuk mencoba. Dengan berjalan di atas jembatan pelangi, Kemala menuju kota yang dinamai dengan kota Saranjana. Sepanjang perjalanan, Kemala tak henti-hentinya disuguhi dengan pemandangan yang menakjubkan disekelilingnya.


Semua tampak bagai negeri dongeng dan Kemala sungguh tak pernah menyangka bakal bisa mengalami hal ghaib dan ajaib seperti ini. Begitu tiba di kota yang dimaksud. Mulut istri Richard itu tak bisa mengatub karena takjub.


Ini adalah kota modern, sangat maju dengan jejeran gedung menjulang tinggi bak kota impian semua manusia di muka bumi. Kota ini ternyata sangat ramai. Padahal dari kejauhan tadi tampak sepi seperti tak berpenghuni. Ternyata ada banyak sosok menyerupai manusia tinggal di kota ghaib ini.


“Ratu … apa mereka semua manusia?” tanya Kemala pada Fey yang berjalan disisinya.


“Sebagian bukan sebagian iya. Para manusia ini adalah manusia yang tersedot ke dunia lain dan tidak bisa kembali. ada sih yang bisa, tapi tidak semuanya,” terang Fey dan keduanya kini telah sampai di pusat perbelanjaan di mana semua barang yang dijual di sini sangat menakjubkan.


Tentu saja Fey dan Kemala langsung menyerbu semua barang yang mereka inginkan dan menikmati acara belanja bersama di kota Saranjana. Sebuah kota tak kasat mata dimana peradabannya jauh lebih modern ketimbang peradaban di dunia manusia. Tak heran bila manusia yang tersedot dalam dunia lain dan terjebak di sini tak ingin kembali. Kehidupan di sini jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan di dunia nyata.


Sementara Refald dan Richard terlibat suatu pembicaraan yang sangat serius. Mereka berdua menatap tajam suatu tempat yang mereka yakini sebagai tempat di mana para istri-istri mereka berada saat ini.


“Waktunya, tiba Pengeran. Begitu matahari terbenam … istrimu … akan mulai merasakannya. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” tanya Refald pada Richard yang berdiri disebelahnya.


“Aku tahu, dan aku juga sudah siap,” jawab Richard.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2