
Entah bagaimana caranya pak Po bisa datang kemari meski Refald selaku raja dedemit yang berkuasa di dunia lain tidak memanggil anak buahnya yang oneng itu datang sekarang. Untung saja perangnya sudah berakhir telak di tangan Refald dengan misteri yang ditinggalkan ayah Kemala saat membisikkan sesuatu di telinga pangeran vampir tampan Richard. Jika tidak, mungkin pak Po bakal mengacaukan segalanya dengan ke-oonannya.
“Halo Yang mulia … akhirnya saya tiba dengan selamat setelah lumayan sedikit tersesat,” ujar Pak Po menghadap Refald sambil melaporkan hal yang tak ingin didengar Refald. Apalagi pak bicara seolah ia masih hidup saja, padahal ia sudah mati ratusan tahun silam.
“Siapa yang menyuruhmu kemari?” tanya Refald menahan geram,. Tangannya sudah mengepal bersiap memberikan hukuman pada pak Po kalau sampai jawaban yang diberikan pak Po tidak masuk akal.
“Lah, si vampir lampir itu yang bilang kalau Yang mulialah yang meminta saya datang kemari. Makanya saya membawa kakaknya si pangeran vampir sama vampir lampirnya ke sini atas perintah Raja sendiri.” Pak Po menjelaskan tetang keonengannya yang diperdaya Veronika dan Rexi sehingga mereka berdua terbebas dari belenggu Izanami ala Itachi buatan Refald.
Belum juga Refald buka suara, tiba-tiba saja kepala pak Po mendapat lemparan sandal dari Fey yang sudah gemas duluan dengan pak Po.
Plak!
“Adauw Ratu, kenapa hamba dilempar sandal!” teriak pak Po merasa sakit juga setelah dilempar sandal Fey dari belakang. Sekalipun ia adalah demit, pak Po bisa merasakan sakit bila yang menyerangnya adalah Fey atau Refald.
“Masih bagus kau cuma kulempar sandal daripada kuminta Refald untuk melenyapkanmu sekarang juga? Kenapa kau itu bodoh sekali sih pak Po. Kau membebaskan dua insan itu sebelum mereka berdua menyadari kesalahan mereka? Berapa lama kau menjadi anak buah Refald tapi masih oon juga. Jika Refald tidak memanggilmu, artinya kau tidak dipanggil dan tetaplah kau ditempatmu. Jangan kelayapan ke mana-mana. Kenapa kau mengikuti muslihat vampir lampir itu dan membebaskan mereka sebelum mereka bebas sendiri, ha? Astaga … kenapa ada pocong oneng sepertimu. Dan sekarang, di mana Divani? Kenapa dia tidak ada di sini? Kau apakan dia?” sengal Fey mulai mengomeli pak Po habis-habisan.
“Astaga Ratu, saya lupa … Divani saya tinggal di sana! Saya balik dulu Ratu! Mau jemput Divani!” ini kesempatan pak Po untuk melarikan diri dari nyanyian tak teraturnya Fey yang bikin telinga kepanasan.
__ADS_1
“Dasar pocong Edyaaannn! Bisa-bisanya kau meninggalkan istrimu sendirian di alam sana, sementara kau malah bermain-main di sini, ha? Kau itu pocong apa sih!” bentak Fey kesal tapi pak Po keburu pergi duluan.
“Pocong tampan tiada tara Ratu, tapi saya sendiri juga tidak tahu kenapa saya bisa oneng begini, mungkin bawaan dari sononya, Ratu! Harap maklum!” teriak pak Po sambil berlari menjauh.
Padahal pak Po itu makhluk tak kasat mata. Kalau mau pergi tinggal menghilang clang cling clang cing saja. Namun, berbeda dengan pak Po yang onengnya nggak ketulungan, jadi ia lupa kalau sudah jadi memedi. Pocong tampan itu malah jarang sekali memakai seragam kebesaran pocongnya dan memilih menjadi hantu normal meski kata ‘pocong’ masih tersemat didalamnya. Si pak Po itu pergi sambil berlari dan membuat Fey semakin tepuk jidat dibuatnya.
“Minggir Honey, biar kubereskan dia,” ujar Refald sudah tidak bisa lagi menahan sabar. Salah satu tangan Refald tiba-tiba muncullah gumpalan cahaya mirip rasenggannya Naruto dan langsung ia lemparkan ke arah pak Po tanpa peringatan.
Sontak saja pak Po yang terkena serangan Refald langsung terpental dan melayang ke atas langit-langit akibat dorongan kuat cahaya kekuatan Refald. “Huaaa Raja … kenapa saya dilempar lagi, kan baru saja datang, mana saya belum tahu siapa yang mau saya ajak perang!” teriak Pak Po dari atas langit-langit dan lambat laun suara itu semakin terdengar jauh lalu menghilang bagai ditelan bumi.
“Beres!” ujar Refald diikuti gelak tawa keluarganya dan pasukan para demit lainnya.
“Kenapa kau memperlakukan ayahku seperti ini, Raja demit? Apa salah ayahku?” sentak Veronika kasar. Rexipun ikut geram tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia tahu Refald jauh lebih kuat bila dibandingkan dirinya.
“Karena ayahmu sudah melukai ayah pangeran Rexi,” jawab Refald bijak dan ia menoleh pada kakak sulung Richard. “Apakah kau tidak ingin melihat bagaimana kondisi ayahmu setelah mendapat serangan dadakan dari dewan delegasi vampir ini Rex?” tanyanya dengan nada tidak senang.
Jelas Rexi terkejut dan langsung meninggalkan Veronika begitu saja. Kakak Richard itu masuk ke dalam rumah Richard untuk memastikan apakah yang dikatakan Refald itu benar atau tidak.
__ADS_1
“Katahuilah wahai dewan delegasi! Tugasmu bukan untuk mencari keuntungan dari vampir lain hanya demi melindungi posisimu saat ini. Kelak, cepat atau lambat, kaupun akan tersisihkan oleh ketamakanmu sendiri. Jika kau masih saja mengganggu kehidupan Richard dan Kemala, artinya kau akan berhadapan denganku dan menggali lubang kemusnahanmu di depan putrimu sendiri. Ini bukan hanya sekedar ancaman. Tapi ini peringatan. Jika kau menyayangi putrimu, harusnya kau tak memaksakan dia menikah dengan pangeran Richard.”
“:Lancang kau!” sengal Veronika dan hendak menyerang Refald, tapi Fey bergerak cepat dan menepis kasar tangan vampir lampir itu sebelum tangan tersebut menyentuh Refald.
“Jangan sekali-kali kau menyentuh suamiku dengan tangan kotormu itu! Sekalipun kau vampir? Aku tidak takut dengan lampir sepertimu!” cetus Fey sambil berkacak pinggang dan berdiri tepat di depan Refald.
Kalau saja saat ini situasinya tidak dalam keadaan bersitegang, mungkin Refald sudah merengkuh Fey dengan erat saking gemasnya melihat aksi istrinya yang sigap pasang badan bila ada wanita lain yang hendak menyentuh atau mendekati Refald. Semua pasukan dedemit Refald juga mendekat dan siap menyerang kapan saja bila dibutuhkan sehingga membuat nyali Veronika menciut.
“Selagi aku masih bersikap baik, bawa ayahmu pergi dari sini dan camkan kata-kata suamiku tadi!” usir Fey galak.
Matanya samapi melotot seolah mau melompat keluar. Semua wanita dari anggota keluarga Refald dan Leo langsung berdecak kagum pada ratu dedemit itu ketika melindungi suami demitnya. Semuanya histeris dan berteriak heboh layaknya sedang menonton aksi pertunjukan spektakuler ala Fey si ratu demit.
Bila semua orang sedang heboh karena Fey berhasil membuat para vampir pengacau itu pergi, lain halnya dengan Richard yang hanya diam terpaku dan tak bergeming dari tempatnya. Kemala yang melihat hal itu jadi bingung sekaligus penasaran, apa yang sedang dipikirkan suaminya dan apa yang dibisikkan ayah Kemala sampai Richard masih belum pulih dari rasa terkejutnya.
“Katakan Richard … apa yang dikatakan ayahku padamu sebelum ia pergi. Kenapa wajahmu sampai terpaku begitu? Apa ayahku mengatakan sesuatu yang buruk? Apa dia tidak merestui kita untuk selamanya?” tanya Kemala penuh cemas.
“Cagiya … ayah … ingin jadi sepertiku … bila waktunya tiba,” ujar Richard sambil terbata-bata saking tidak percayanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***