Pengantin Pangeran Vampir

Pengantin Pangeran Vampir
BAB 76 Pak Po dan Divani


__ADS_3

Saat sedang asyik menikmati pemandangan alam yang indah di tempat sunyi nan sepi serta tak berpenghuni, Kemala dan Richard dikagetkan dengan suara teriakan menggema memenuhi alam sekitar. Keduanya menebak, suara teriakan tersebut bukan berasal dari suara teriakan manusia. Sebab, tempat ini sangat tidak mungkin bisa di tinggali manusia karena lokasinya sangat jauh dari peradaban.


“Richard? Suara siapa itu?” tanya Kemala antara takut dan juga kaget. Ia memeluk tubuh suaminya dan berlindung dibalik dekapan Richard.


“Sepertinya aku kenal, tapi aku tidak yakin. Ayo kita ke sana.”


“Tapi … bagaimana kalau di sana berbahaya,” seru Kemala menahan lengan suaminya.


“Harusnya sih tidak, suara tersebut adalah suara salah satu pasukan dari raja dedemit Refald. Artinya, kita sudah ada dalam dunianya. Jangan khawatir Cagiya, kalaupun ada bahaya, aku akan selalu melindungimu. Dan aku tidak merasakan ada bahaya apapun di sini, justru sebaliknya. Aku merasakan jiwa yang menyatu karena cinta.” Mata Richard menatap lurus jauh ke dalam hutan di mana pak Po dan Divani serta Refald dan Fey berada.


Tidak ada angin ataupun hujan. Richard tiba-tiba saja tersenyum. Tentu saja hal itu membuat Kemala penasaran, ada apakah gerangan.


“Apa ada yang lucu, kenapa kau senyam-senyum sendiri seperti itu? Apa … wilayah ini banyak demitnya? Apa salah satu dari mereka merasukimu? Kita tidak tahu apakah di sini berbahaya bagi kita atau tidak,” ujar Kemala mengutarakan segala kecemasannya.


Bukannya menjawab Richard malah tertawa keras. “Buahahaha … Cagiya, pemilik dunia ini sedang bersenang-senang. Ini membuatku memunculkan ide untuk izin padanya membuat gempa di sini denganmu. Sepertinya, ini tempat yang pas untuk kita karena di sini tidak ada manusia.”


“Kau ini bicara apa sih? Aku sedang cemas Richard? Kenapa kau malah membicarakan gempa? Kita datang untuk mengantarkan undangan pernikahan kita pada raja demit yang kau banggakan. Bukan membuat gempa?”


Richard memeluk tubuh istrinya dan menatapnya mesra. “Siapa bilang kita datang hanya untuk memberikan undangan, ada maksud lain yang ingin kulakukan denganmu selagi kita menjauh dari keluarga kita dan segudang keruwetannya. Aku merindukanmu, Cagiya. Aku rindu momen indah kita berdua seperti dulu. Menjadi manusia membuatku tak bisa bebas lepas bersamamu. Dan salam perjalanan ini, aku takkan buang-buang waktu lagi. Aku … ingin bertarung denganmu dan membuat gempa sedahsyat mungkin. Ayo kita cari raja demit, mudah-mudahan dia menyediakan tempat khusus untuk kita seperti yang ia lakukan sekarang.”


Richard bicara panjang lebar menjelaskan tujuan utamanya datang menemui Refald. Lagi-lagi, ia memperlihatkan senyum merekah ruahnya dan Kemala masih tidak mengerti alasan suaminya tampak sangat begitu bahagia.

__ADS_1


Sang vampir tampan itupun menggendong Kemala lalu melesat cepat masuk menembus rimbunnya pepohonan. Untuk kesekian kalinya, Kemala benar-benar serasa menjadi Bella kedua. Ada banyak sekali kesamaan diantara mereka. Sama-sama memiliki suami vampir, sama-sama menjadi manusia yang diistimewakan vampir dan keluarganya.


Paras suami vampir mereka ini sama-sama tampan dengan ciri khas mereka masing-masing. Sama-sama selalu diajak terbang ke sana kemari dan merasakan indahnya dunia tanpa peduli pada hiruk pikuknya kehidupan manusia di dunia fana. Hidup Kemala menjadi sempurna bersama Richard meski di dunianya kehidupannya ini adalah kehidupan terlarang dan sangat tidak masuk akal jauh dari nalar manusia normal.


Di kejauhan, Richard melihat ada sepasang suami istri sedang ribut sendiri. Pasangan tersebut, tak lain dan tak bukan adalah pak Po dan Divani. Bagai angin, Richard melesat cepat ke arah mereka dan berdiri tepat dihadapan pak Po dan Divani.


“Halo,” sapa Richard ramah.


Seketika Divani melepaskan jewerannya dari telinga pak Po. Pak Po pun terkejut melihat vampir tampan menggendong manusia dan seketika dengan sok kerennya berdiri di depan istrinya sebagai pelindung.


“Heh vampir, ngapain kau ke mari? Dan bagaimana bisa kau masuk ke sini? Untuk apa kau bawa manusia itu kemari? Kau mau membunuhnya di sini? Kau pikir ini tempat eksekusimu apa?” sengal pak Po memberondong tuduhan yang tidak-tidak pada Richard.


Divani yang ada di belakang pak Po pun geram dan mendorong suaminya menjauh dari hadapannya sehingga jiwa pak Po melesat ke arah samping. Dorongan hantu Divani sangat kuat sehingga suaminya itu melesat cepat semakin masuk ke dalam hutan.


“Ezi? Kau tidak tahu siapa dia?” tanya Divani kesal. Onengnya pak Po dari dulu tidak hilang-hilang.


“Tidak? Memang dia siapa? Artis ternama di dunia saja aku nggak kenal apalagi dia? Emang dia artis?” pak Po balik bertanya dan memerhatikan Richard yang masih betah menggendong Kemala.


Sementara Kemala, jangan ditanya lagi. Ia bingung dan bengong melihat tingkah dua pasangan yang ada dihadapannya. Aksi konyol yang barusan mereka perlihatkan, membuat Kemala terheran-heran. Ditambah, wujud pak Po dan Divani, tampak seperti manusia biasa yang sangat sempurna.


Dua sosok tersebut sangat cantik dan juga tampan. Namun, sekali lihat, Kemala bisa menyimpulkan bahwa pasangan suami istri itu bukanlah manusia seperti dirinya, melainkan salah satu demit penghuni dunia aneh tapi indah ini.

__ADS_1


“Maafkan atas kelancangan suami saya, Pangeran. Dia memang bodoh dari sononya. Harap maklum,” sapa Divani dengan ramah dan bahkan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


“Tidak apa-apa Miss Divani. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi. Halo, Mr. Po. Kita bertemu lagi.” Richard tersenyum ramah pada pak Po tapi si poci pocicu itu malah buang muka.


“Sepertinya, suamimu salah paham pada kita. Oh iya perkenalkan. Ini Kemala, dia istriku.” Richard dengan bangga mengenalkan Kemala dan menurunkan tubuh istrinya dengan pelan.


Meski masih terkejut dan tidak paham dengan situasi yang terjadi di sini, Kemala tetap bersikap santun dengan menundukkan kepala sama seperti yang dilakukan Divani untuk menyapa salah satu pasukan demit kepercayaan Raja Refald.


“Wuah, syukurlah Anda akhirnya telah menikah. Saya turut senang Pangeran. Dan istri Anda sangat cantik sekali,” seru Divani sambil tersenyum bahagia sambil menjabat tangan Kemala. “Anda pasangan yang sangat serasi,” ujarnya pada Kemala.


“Terimakasih banyak,” ucap Kemala bingung sebingung-bingungnya tapi ia tetap ramah pada Divani.


Sementara pak Po duduk diatas batu sambil membelakangi Richard dan istrinya. Sepertinya pocong tampan itu masih enggan melihat Richard entah karena alasan apa. Divani yang melihat suaminya ngambek mencoba mendekatinya dan mejelaskan suaminya.


“Kenapa kau masih marah, ha? Bukanlah raja dan ratu sudah menjelaskan padamu? Dan semua fakta itu benar adanya. Pangeran Athan, sudah menikah dan ia memilik istri yang sangat cantik sekali. Kenapa kau marah?” tanya Divani.


“Aku tidak marah, aku panas!” cetus pak Po. “Kau istriku Di, tapi kau bisa langsung mengenalnya setelah sekian lama kalian tidak bertemu.”


“Apa salahnya jika aku mengenalnya? Kau cemburu hanya karena aku mengenalnya sementara kau tidak? Bagaimana kabarmu tentang membawa ratusan wanita mulai dari kalangan remaja sampai emak-emak ke hadapanku setiap kau habis ditendang raja Refald? Aku tidak pernah protes atau marah padamu karena parasmu memang tampan? Tapi kenapa kau marah?”tanya Divani pada suaminya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2