
Keesokan paginya, beberapa teman Kemala yang dulu sering bermain bersama dengannya, datang ke rumah sang bunga desa untuk berkunjung. Lama tak bersua, akhirnya mereka saling bercuap-cuap sekaligus bernostalgia. Tidak ada yang tahu kalau Kemala sudah menikah, dengan vampir pula.
Baik Kemala ataupun ayahnya juga tak ada niatan untuk memberitahu karena suami Kemala hingga detik ini tak memberi kabar sama sekali. Gilberto menghilang tanpa jejak begitu saj dan bahkan pasukan tak kasat mata Richard juga tak terasa hawa keberadaannya. Semuanya seolah menghilang dari tempat ini.
Sebenarnya, Kemala khawatir bakal terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya dan ia takut kalau dirinya tak bisa melihat Richard lagi untuk selamanya. Namun pikiran itu mati-matian Kemala tepis sejauh mungkin. Ia yakin dan percaya suaminya Richard akan kembali seperti janji yang pernah ia ucapakan. Karena vampir, tidak pernah ingkar janji.
“Kemala, kok ngelamun aja, gimana?” tanya Dewi membuyarkan lamunan Kemala.
“Gimana apanya?” tanya Kemala tidak ngeh dengan pertanyaan Dewi. Maklumlah. Tubuh Kemala memang ada di sini, tapi hati dan pikirannya ada di tempat lain.
“Pergi jalan-jalan dengan kami. Ada toserba baru di ujung desa dan dengan kehadiran toserba itu segala akses keluar masuk desa jadi mudah dan desa kita sudah tidak tertinggal seperti sebelumnya. Besok adalah acara pembukaan Toserba yang akan dihadiri langsung oleh pemiliknya. Seluruh penduduk desa diundang termasuk kita,” terang Dewi lagi terpaksa harus menjelaskan untuk yang kedua kali.
“Ayolah Kemala. Ikutlah dengan kami. Kapan lagi kita bisa datang ke pesta para kaum borjuis di desa terpencil ini? Siapa tahu ada pangeran tampan yang mau kecantol dengan kami hehehe,” ujar Susi menambahkan dengan nada bercanda. Ia tahu kalau sahabatnya ini tampak sedih entah karena alasan apa. Makanya ia datang bersama Dewi untuk menghiburnya.
Karena tidak enak hati dengan kedua teman baiknya, akhirnya Kemala setuju dengan ajakan Dewi dan Susi pergi ke ujung desa untuk menghadiri pesta pembukaan toserba. Tentu saja dua wanita itu senang karena Kemala mau ikut dengan mereka.
“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” usul Dewi antusias.
“Kok sekarang? Bukannya acaranya besok?” tanya Kemala bingung.
“Hanya mengintip saja, seperti apa pesta yang akan diadakan besok. Sekaligus , aku mau lihat apakah ada pria tampan yang bisa kulihat untuk mencuci mataku,” jawab Dewi membayangkan akan banyak pria tampan hadir di acara itu.
__ADS_1
“Setuju! Aku juga mau, kali ada ada cogan yang mau sama aku. Ayo Kemala! Sudah saatnya kita cuci mata,” seru Susi jauh lebih bersemangat dari sebelumnya.
Kalau boleh jujur, Kemala sama sekali tidak tertarik dengan pesta dan segala macam isinya, mau cogan atau apa, Kemala tidak tertarik dengan semua itu. Satu-satunya sosok yang ingin dia lihat hanyalah suami vampirnya yang amat sangat ia rindukan. Dan bagi Kemala, hanya Richardlah yang paling tampan dimatanya.
Tidak ada pilihan lain, kedua teman Kemala ini memaksanya untuk ikut pergi bersama mereka di detik ini juga. Mau tidak mau, Kemala ikut setelah ia berpamitan pada ayahnya untuk pergi jalan-jalan sebentar.
“Kita akan cari gaun yang pas juga untu acara pesta besok. Bagaimana denganmu Kemala?” tanya Dewi setelah keduanya sedang dalam perjalanan menuju ujung desa.
“Kita lihat saja nanti, kalau ada yang menarik, aku juga ingin beli,” jawab Kemala tak ingin mengecewakan temannya walau ia sama sekali tak tertarik pada apapun kecuali kehadiran Richard yang amat sangat ia nanti.
***
Cuaca sedang mendung saat Kemala dan teman-temannya tiba di area toserba yang akan dibuka besok. Ternyata. Bukan hanya mereka saja yang penasaran akan seperti apa bentuk dan wujud toserba satu-satunya yang bakal di buka di desa. Hampir semua penduduk desa juga berbondong-bondong datang untuk melihat persiapan pestanya yang bakal digelar dengan sangat mewah.
“Belum pembukaan saja, sudah seramai ini. Apalagi kalau pas pembukaan ya? Pasti lebih ramai dari gala premiere!” seru Dewi.
“Kok aku jadi ingin bekerja di toserba ini ya? Masih ada lowongan untuk gadis desa sepertiku nggak ya?” tanya Susi.
“Nanti coba saja kita tanya, tapi tanya ke siapa ya? Sepertinya yang ada disitu hanya pegawai bangunan saja, sama sekali tak tampak pemilik atau para pekerja yang mengelola toserba itu,” jawab dewi.
Netra kedua sahabat Kemala mengamati sekeliling bangunan berharap melihat orang yang bisa memberinya informasi sola lowongan pekerjaan di toserba mewah tersebut. Sedangkan Kemala, hanya diam tak memberi komentar apapun. Hal itu karena hati dan pikirannya hanya terpusat pada Richard seorang. Bahkan ia sempat kaget karena ia seolah melihat Richard di balik salah satu jendela toserba yang belum di buka.
__ADS_1
Gadis itu berlari mendekat kea rah gedung itu tapi langkahnya dihentikan satpam dan para pekerja bangunan lainnya supaya tidak mendekat karena masih dalam tahap perbaikan terakhir sebelum akhirnya besok dibuka untuk umum.
“Maaf Nona, Anda dilarang masuk kemari!” larang salah satu satpam itu.
“Tapi Pak. Saya melihat ada orang di dalam sana, saya ingin memastikan apakah yang saya lihat itu benar atau tidak,” seru Kemala. Ia sudah tidak melihat sosok yang ia rindukan lagi. Bangunan itu sangat sepi.
“Tidak ada siapa-siapa di dalam Nona. Kuncinya saja masih saya bawa dan kami sengaja tidak membukanya demi kemanan. Mungkin Nona salah lihat,” ujar satpam itu memberitahu. “Sebaiknya menjauhkan dari tempat ini Nona, agar pekerjaan kami bisa lekas selesai,” tambahnya.
Dan dengan perasaan kecewa yang begitu besar, Kemala pun pergi sambil menahan air mata yang hampir tumpah. Lagi-lagi, Kemala berhalusinasi melihat suaminya. Padahal itu bisa saja hanya imajinasi dan khayalannya karena terlalu merindukan Richard.
Aksi Kemala yang tiba-tiba saja berlari ke dekat gedung mengundang tanda tanya besar bagi kedua teman-teman Kemala. Dewi dan Susi berjalan ke arah Kemala yang menunduk untuk menyembunyikan air matanya.
"Ada apa Kemala? Kenapa kau menangis? Ceritakan pada kami. Kami perhatikan kau selalu tampak murung, tidak seceria dulu. Katakan pada kami apa yang terjadi padamu sampai kau jadi seperti ini?" tanya Dewi simpati pada Kemala.
"Dewi benar Kemala, kami berdua adalah temanmu, kami juga berhak tahu apa yang terjadi padamu karena kami tidak mau melihatmu terus-terusan sedih seperti ini?" tambah Susi.
Kemala malah menangis tapi itu tidak lama, ia membersit hidung dan memberitahu temannya soal apa yang terjadi pada Kemala.
"Aku ... aku hanya rindu pada seseorang sampai terus berhalusinasi melihatnya, itu saja!" jawab Kemala pergi meninggalkan kedua teman-temannya di belakang.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***