Pengantin Pangeran Vampir

Pengantin Pangeran Vampir
BAB 64 Wanita Berhati Emas


__ADS_3

Baik Dewi dan Susi tidak habis pikir dengan kisah cinta antara Kemala dan Richard. Meski tidak tahu bagaimana awal pertemuan dan perkenalan mereka hingga sampai seperti itu, dua sahabat Kemala, tetap menginginkan yang terbaik untuk si kembang desa.


Menurut mereka, Kemala layak mendapatkan kebahagiaan karena sejak dulu hinga sekarang, gadis itu selalu dikucilkan karena berasal dari keluarga sederhana dan anak yatim pula. Meski berparas cantik, teman-teman Kemala sering membulinya, tapi hal itu tak menciutkan nyali Kemala untuk tetap semangat menjalankan hidup apa adanya dan tak pernah memaksakan diri agar sama dengan yang lain.


Entah kenapa Susi dan Dewi ikut senang jika sekarang Kemala menemukan pengeran tampannya yang bisa menjamin kebahagiaan Kemala yang dulu tidak pernah ia dapatkan. Seorang pangeran tampan, tajir dan sopan. Si bunga desa benar-benar beruntung mendapatkan Richard yang Dewi dan Susi anggap sebagai makhluk Tuhan paling sempurna.


Kemala dengan riang masuk ke dalam toserba. Gadis desa itu memang sangat sederhana dan berpenampilan apa adanya. Ia sengaja memilih pakaian yang ia kenakan sehari-hari dan ingin membeli pakaian di toserba milik suaminya. Tentu saja menggunakan uang Richard melalui kartu yang baru saja diberikan suami vampirnya saat menyematkan jasnya pada Kemala.


Gadis itu masuk ke salah satu distro dan langsung memilih-milih pakaian yang ia suka. Semua modelnya banyak dan masih baru, kualitas barangnya juga bagus. Harganya terjangkau untuk penduduk desa dan pengunjung luar desa lainnya. Hari pertama saja toserba ini sudah ramai dipadati pengunjung.


“Wuah, kualitas pakaiannya bagus harganya juga terjangkau. Nggak kalah dengan barang-barang harga mall kayak yang di kota-kota besar lainnya. Kayaknya aku mau borong nih,” ujar Dewi senang sambil memilah-milah pakaian yang ia suka begitupula dengan Susi.


Namun hal sama tidak terjadi pada Kemala. Ada seorang penjaga distro yang sejak tadi membuntuti Kemala kemana-mana seolah tidak suka dengan kehadiran Kemala di distro ini. Sayangnya yang diikuti malah sibuk memilah-milah dan terkesan cuek-cuek saja.


“Mbak, kalau nggak mampu beli baju di sini. mending mbaknya pergi saja deh,” ujar penjaga distro sambil mencibir penampilan Kemala yang memang tampak sangat biasa saja apalagi jas yang diberikan Richard ia gantungkan di lengannya sehingga tak terlihat.


“Memangnya kenapa Mbak? Apa saya kelihatan nggak bisa beli baju di sini, ya?” tanya Kemala sambil tersenyum ramah. Ia sudah biasa dihina dan diremehkan apalagi soal penampilan, jadi hal seperti ini tak membuat Kemala berkecil hati apalagi sampai marah dan terbawa emosi.


“Mbaknya ngaca deh. Pakaiannya mbak aja biasa banget, sedangkan pakaian di sini harganya lumayan mahal kalau untuk orang sekelas Mbak. Daripada besok Mbaknya nggak bisa makan, mending uang dibuat Mbaknya makan deh. Lagian juga Mbaknya buang-buang waktu saya aja. Mending saya ngelayani 2 wanita yang asyik memilih baju di sana daripada harus ngawasin Mbak.”


Kemala menatap 2 orang yang dimaksud penjaga stand yang ternyata adalah Dewi dan Susi, teman Kemala sendiri. “Oh, ya sudah kalau gitu Mbak, saya bayarin aja semua pakaian yang dibeli 2 wanita itu, pakai kartu ini.” Kemala menyodorkan kartu goldnya yang ia dapat dari Richard.

__ADS_1


Mulut penjaga stand itu langsung melongo melihat kartu emas itu dimana kartu tersebut hanya dimiliki oleh milyader paling kaya di seluruh dunia. Bukan black card lagi loh, tapi gold card. Dan gadis yang ia kira miskin itu punya kartunya para sultan.


Mbak-mbak penjaga stand itu ragu untuk menerima kartu gold yang disodorkan Kemala padanya. Tangannya bahkan sampai gemetar. Namun, pada akhirnya, ia terima juga kartunya.


Dewi dan Susi hendak membayar pakaian yang mereka beli, tapi dilarang oleh Kemala karena ia yang akan membayar semuanya. Meski bingung, Dewi dan susi iyain aja.


Sang penjaga stand menghitung semua pakaian yang dibeli Dewi dan Susi lalu menggesek kartu gold yang tadi diberikan Kemala. Selagi bekerja, mbak-mbak penjaga stand tersebut berkeringat dingin saking gugupnya karena ia telah salah menilai orang. Apalagi saat Kemala menekan password, semakin yakinlah ia kalau wanita yang hina ternyata sultan juga.


Penjaga stand itu juga baru sadar bahwa jas yang ada di lengan Kemala adalah jas limited edition. Mbaknya langsung menundukkan kepalanya tanpa berani melihat wajah Kemala lagi. Ia mengembalikan gold card pada Kemala tanpa berani mendongakkan wajah.


“Terimakasih atas kunjungan Anda,” ujar penjaga stand itu gugup dan gemetar sehingga membuat Dewi dan Susi heran.


“Ada apa dengan penjaga tadi, kok kayaknya dia ketakutan liatin kamu. Trus kamu kok nggak belanja, malah bayarin belanjaan kami. Terus yang kamu pegang itu kartu apa, sih?” Dewi memberondong banyak pertanyaan pada Kemala saat mereka keluar distro.


“Aku nggak tahu ini kartu apa, yang jelas bisa buat kita belanja dan senang-senang. Soal mbaknya tadi aku juga nggak ngapa-ngapain. Kalian tahu sendiri, kan aku ramah banget loh sama dia. Dia melarang aku belanja di sana juga aku turutin,” terang Kemala.


“Kenapa dia ngelarang kamu?” tanya Susi masih bingung.


“Ehm … dia bilang sih katanya aku nggak pantas aja beli pakaian di sana, katanya aku nggak sanggup bayar karena untuk makan aja susah. Ya sudah, aku nggak jadi beli apa-apa di sana. Eh pas aku berikan kartu ini buat bayar baju kalian, dia jadi begitu. Menurut kalian dia kenapa?” ganti Kemala yang bertanya.


“Wuah kurang ajar benget itu orang. Beraninya di menghina calon istri pemilik toserba ini. Belum tahu aja dia. Yuk kita samperin terus labrak itu orang!” seru Dewi hendak balik lagi tapi langsung dihalangi oleh Kemala.

__ADS_1


“Eh nggak usah, jangan. Sudah biarkan saja. Dianya ketakutan begitu liat aku. Kalau kita balik lagi, ntar dianya malah lebih takut lagi.”


“Tapi kau udah direndahin Kemala, masa nggak nyadar sih?” pekik Susi jadi ikut kesal padahal bukan dia yang dihina dan dianggap remeh.


“Sudahlah, aku udah biasa diperlakukan seperti itu. Tidak masalah, toh tubuhku masih utuh meski aku sering dihina dan diperlakukan tidak adil di dunia ini. Kalian pasti lapar kan, bagaimana kalau kita makan dan aku yang bayar pakai kartu ini. Sepertinya ini kartu ajaib kayak pintunya doraemon.” Seru Kemala senang seperti anak kecil yang baru dapat hadiah mainan baru.


Dua teman Kemala hanya menatap lurus wanita yang memang tampak sangat bahagia itu. Jika orang lain, pasti sudah memperkarakan masalah ini. Tidak seorangpun di dunia ini yang mau direndahkan dan hanya dipandang sebelah mata apalagi sampai dihina dan harga dirinya diinjak-injak.


Namun berbeda dengan Kemala yang menerima semua itu dengan lapang dada selama tak ada yang berkurang dari tubuhnya. Sungguh hati Kemala benar-benar terbuat dari emas. Pantas saja jika ia mendapatkan jodoh yang luar biasa seperti Richard.


“Dibalik semua penderitaan yang dialami Kemala, ada kebahagiaan disekelilingnya. Pemilik toserba ini sepetinya adalah orang yang tepat menjadi pendamping Kemala dibandingkan dengan siapapun. Ah … aku iri, kenapa aku tidak punya hati emas seperti teman kita itu.” Dewi menitikkan air mata saking terharunya.


“Mari kita dukung dia terus, aku kok ya geram sama mbaknya tadi. Kita laporin aja sama si pak Athan agar wanita itu dipecat dari sini,” usul Susi.


“Ya sudah, kau temani Kemala makan, aku akan buat perhitungan dengan mbak-mbak yang tadi.” Dewi membagi tugas dengan Susi dan mereka berdua sepakat untuk membantu serta mendukung Kemala dibalik layar.


Sayangnya, ketika Dewi tiba di distro yang tadi ia datangi, ia melihat Richard alias pemilik Toserba mengusir paksa penjaga stand yang tadi sudah bersikap tidak sopan pada istrinya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2