
Keduanya yang hendak akan pergi, langkah Bintang yang tadinya sudah melangkah kakinya beberapa langkah, spontan langkah itu terhenti setelah Bagas datang dan memberikan satu jeweran padanya. Rintisan sakit telah dirasa Bintang setelah Bagas yang menjewernya tanpa rasa ampun.
"Kak Bagas hentikan lepaskan! Sakit lepaskan!" Lantas Bagas pun melepaskannya, disusul Bintang yang melayangkan satu tendangan pada pantat Bagas.
"Gila! Apa kamu sudah gila Kenapa asal menjewer ku sakit tau?"
"Biarin! Siapa yang mengajarimu suka telat seperti ini? Bukankah rumah mu itu hanya beberapa langkah dari cenderawasih ini tapi kenapa kamu selalu telat, kenapa? Apa alasannya?"
"Astaga kak Bagas yang penting aku kan sudah datang jadi apa salahnya jika aku telat?"
"Oh jadi gitu pemikiran kamu?"
"Iya!"
"Baiklah, ayo ikut aku!"
"Kemana?"tanyanya spontan.
"Sudah nanti kamu juga akan tau! Anindya Aku pinjam si chubby ini ya?"ucapnya yang langsung menarik tangan Bintang.
"Baiklah! Dasar mereka berdua ini sangat lucu ya? Bukan saudara kandung bahkan tidak memiliki ikatan darah sekali pun, tapi jika disuruh berantem ngalahin tom, Jerry dasar!"ucapnya dengan menahan tawanya.
Berada di kantin dalam satu meja yang sama. Akan tetapi nampak dari raut wajah Bagas maupun Bintang sama-sama terlihat kesal.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu malah bengong? Kamu marah sama aku?" tanya Bagas kemudian ia pun menjewernya.
"Kak Bagas, sakit! Apa yang kamu lakukan kenapa kamu menjewer-ku terus-terusan lepaskan aku ... lepaskan tidak!"
"Iya aku akan melepaskan apa kamu sudah puas senyum gih!"ucapnya memaksa.
"Tidak! Aku tidak mau!"balasnya dengan jutek.
"Astaga ternyata Bintang yang dulunya aku kenal anak pendek, dekil dan nangisan rupanya sudah menambah jabatan sebagai si tukang ngambek'an ya?"ucapnya dengan meledek.
"Tidak lucu!"balasnya tanpa memberinya senyum.
"Kenapa? Apa yang aku lakukan tadi sangat keterlaluan?"
"Bukan!"
"Terus kenapa? Apa yang membuatmu jadi ngambek dan sedih seperti ini?"
"Aku lapar?"balasnya dengan memanyunkan bibirnya.
"Dasar! Tubuh sih kurus! Tapi kalau soal makanan kenapa kamu selalu ingat? Ya sudah cepat pesanlah biar aku yang bayar!"
"Serius?"ucapnya, Bagas hanya mengangguk.
Wajahnya kembali ceria, Bagas yang tak henti-hentinya memberikan tatapannya memandang Bintang dengan wajah ketulusannya sesekali ia memberikan senyumannya namun gadis disampingnya tak kunjung menyadarinya.
"Haruskah aku berkata jujur jika aku sangat mencintaimu agar aku tidak terlalu lama memendam perasaan ini? Sudah hampir 10 tahun lebih kita hanya sebatas teman dekat apa salah jika aku mengagumi sahabat kecilku ini?"batinnya yang terus saja memandanginya, beralih lirikan Bintang tertuju pada Bagas setelah dirinya tak sengaja melirik kearahnya, sekejap langsung membuang pandangannya dengan ekpresi tersipu malu.
"Kenapa kamu melihatku sampai seperti itu?"tanyanya yang merasa penasaran.
__ADS_1
"Gr! Siapa yang memandangimu yang benar saja!"
"Oh iya selain itu ada satu hal yang ingin aku tanyakan sama kamu? Diusia kita yang sudah menginjak masa pubertas bahkan memasuki masa remaja, sekaligus bisa merasakan apa itu cinta apa didalam hatimu sudah ada satu nama yang sampai sekarang masih terbayang-bayang dalam benak pikiran kamu?"
"Kenapa kamu tiba-tiba membahas soal cinta apa kamu sudah mulai merasakan apa itu cinta? Dan kira-kira siapa wanita yang berhasil masuk kedalam hatimu itu?"
"Bisakah jika aku tanya serius itu kamu jangan membahas masalah yang lain? Disini itu aku tanya tentang isi hatimu kenapa kamu malah menjalar ke lain?"
"Astaga kamu itu ternyata cepat sekali ya mudah tersinggung beda dengannya?"
"Dengannya? Maksud kamu?"
"Bukankah tadi kamu bilang siapa laki-laki yang berhasil masuk kedalam hatiku dan itulah orangnya?" Memberikan satu lirikan pada seseorang yang kebetulan mulai masuk kedalam kantin ini, dirinya yang masih malu hingga tak bisa memandanginya secara keseluruhan.
"Bintang kamu mencintainya?"
"Iya! Aku mencintainya apa kamu puas!"
" Samudra?"
Teriakan Bagas menyebut nama Samudra seketika terdengar menggelegar, seluruh kantin yang mendengarnya sekejap mata tatapan semua orang tertuju kearahnya. Samudra yang sekejap malu tidak punya muka lagi sekejap ia membungkam mulut.
"Bagas Ada apa?" Sekejap Bintang menghempaskan tangan yang membungkamnya.
"Dia menyukaimu?"timpalnya.
"Apa?"balas samudra dengan wajah terkejutnya.
"Tidak! Jangan percaya sama apa yang dikatakan pria gila ini dia bohong! Dia sangat bohong, sangat percaya!"
"Kamu dengar darimana? Aku bahkan belum mengedarkan undangan itu? Dan tanggal 5 Mei kamu tau darimana kalau itu hari ulang tahunku?"
"Baiklah jika itu memang benar, soal tau darimana tanggal ulang tahunmu tidak sia-sia ternyata aku membuntuti akunmu? Ya sudah teman-teman kita kembali dan kamu tenanglah nanti malam aku akan datang jadi tunggulah aku!"
"Cie ...jadi ternyata secara diam-diam Samudra mengagumi sosok Bintang Cie ....jadian, jadian!" Ledekan temannya yang akhirnya mampu membuatnya tersipu malu.
"Ini aku tidak salah dengar kan? Dia sungguh-sungguh tau hari ulang tahunku? Ini aku tidak bermimpi kan?" Sontak Bagas yang mendengar ucapan ia seketika melayangkan cubitan tepat pada pipi chubby Bintang dan spontan ia yang terkejut ia langsung melayangkan pukulannya.
"Aw kau sudah gila!"
"Kamu berani mencubit pipi chubby ku sekali lagi akan ku injak kau mengerti!"
"Cie yang lagi kasmaran cie ...."ledeknya.
"Ih kamu tidak takut sama ancaman ku?"
"Tidak! Lagian siapa juga yang harus takut sama ancaman wanita bakpao seperti mu gila kali!"
"Ayo bilang apa kamu tadi!"
"Si bakpao apa kamu tidak terima!"
"Dasar tiang listrik!"
__ADS_1
Spontan Bagas yang tak ingin mendapatkan amukan Bintang seketika menghindarinya dengan cara berlari dengan cepatnya. Disisi lain Bintang yang tak tahan lagi ia melayangkan satu sepatu yang dikenakannya, naas sepatu yang barusan ia lempar bukan mengenai musuh yang ingin ia lempar melainkan sepatu itu mengarah tepat kearah guru Matematika guru yang paling galak disekolah ini seketika wajah paniknya tidak bisa ia hindari lagi.
"Mati aku!"
"Siapa yang melempar sepatu ini?"
"Dia buk!"jawab Bagas secara spontan, menunjuk kearah Bintang dengan ledekan-nya.
"Bagas!"teriaknya yang saat itu juga para pelajar spontan tutup kupingnya.
"
"
"
"Hari yang sangat sial? Iya sangat sial!"
"Sudah anggap saja ini sebagai pelajaran dan anggap saja ini sebagai cara diet alami yang kau dapatkan, ini ambil!"
"Ogah! Ngapain juga aku terima minuman dari orang yang sudah bikin aku berdiri disini, buang saja!"
"Mubazir jika minuman ini dibuang, ya sudah karena aku baik dan menghormati sahabat ku aku akan menemanimu panas-panas'an disini!"
"Serius?"
"Bohong! Gila kali aku berpanas-panasan disini yang ada kulit putihku ini akan hitam ya sudah nikmatilah berpanas-panasan disini!"
Merasa kesal raut wajah Bintang berubah menciut, melihat melihat yang terlihat manyun tak terobati langkahnya tak jadi pergi.
"Kenapa kamu tidak jadi pergi! Cepat pergi sana daripada bikin otakku semakin panas!"
"Kayaknya aku tidak jadi pergi! Aku sadar kayaknya adikku ini sangat butuh dukungan jadi lebih baik aku disini saja!"
"Kamu sungguh tidak akan pergi? Kamu sungguh akan menemaniku?"
"Iya! Aku tidak akan pergi!"
"Terima kasih!" Spontan Bintang yang sangking semangatnya ia langsung menendang Bagas yang saat itu ia langsung tersungkur ketanah.
"Astaga kau ini kuda Nil atau kelinci kenapa sekali tubrukan langsung membuatku roboh?"
"Maaf! Aku tidak sengaja maaf maaf ya?"
"Iya aku maafin untung saja aku sudah anggap kamu adik coba saja jika tidak sudah aku bejek-bejek hari ini paham!"
"Iya ...iya ... Maaf! Maaf!"
"Akhirnya aku tidak melihat wajah manyun kamu lagi? Gitu dong kalau kamu senyum gini kan enak lihatnya?"
"Dasar gombal!"
FLASHBACK.
__ADS_1
BERSAMBUNG