
Setengah hari menjalankan aktivitas kerjanya pukul 13:00 siang para pelayan mendapatkan kesempatan untuk mengistirahatkan tubuhnya, Clara yang sesekali mencuri pandangan Bintang terlihat dirinya ingin mengatakan sesuatu namun engan untuk ia katakan, berbalik Bintang yang melirik dirinya tak sengaja memergoki Clara yang menghindar ketika dirinya menatapnya.
"Clara kamu kenapa? Apa kamu ingin mengatakan sesuatu? Aku lihat kamu seperti sedang kebingungan?"
"Baiklah aku bakal jujur Bin! Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu?"
"Katakan soal apa?"
"Sebenarnya masalah ini sudah lama ingin aku katakan sama kamu, tapi karena merasa penuh beban akhirnya aku urungkan niatku untuk memberitahumu, tapi sekarang ini aku sudah putuskan jika kamu memang harus tau soal ini?"ucap Clara dengan keseriusannya.
"Sedari tadi kamu ngomong tapi aku masih tidak paham maksud kamu? Jika kamu ingin mengatakan sesuatu ayo katakan saja aku siap kok mendengarnya?"
"Gini Bin, sebenarnya aku selama ini telah bohong sama kamu, aku tidak jujur sama kamu jika Restoran ini sebenarnya milik Bagas, aku akui aku salah karena dari awal aku tidak jujur jadi maafkan aku! Maafkan aku!"
"Tunggu! Kak Bagas? Jadi maksud kamu restoran ini milik kak Bagas kamu serius?"balas Bintang dengan ekpresi tidak percayanya.
"Iya aku serius, kamu tidak marah kan?"
"Sekarang dimana dia aku ingin menemuinya katakan dimana kak Bagas, Clara?"
"Bintang aku senang bisa melihat kamu bahagia seperti ini? Tapi aku mohon untuk kali ini kamu percaya padaku untuk jangan menemuinya terlebih dulu kamu bersedia kan jadi aku mohon jangan temui dia dulu ya?"
"Tidak Clara selama ini aku sudah menantikan pertemuan ini dengan Kak Bagas? Bahkan setiap malam aku memimpikan dia jadi aku harus bertemu dengannya jadi katakan dimana dia katakan Clara?'
__ADS_1
"Baiklah jika itu keputusan kamu aku akan katakan dimana Bagas berada, dia sekarang ada di ruangan pribadinya yaitu ruang yang kemaren kamu bertemu dengan orang gendut itu, jadi pergilah!"
"Baiklah Clara sekali lagi terima kasih!"
Mendapat kabar jika seseorang yang di sayanginya telah kembali, dengan penuh kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajahnya, Bintang telah sampai didepan pintu salah satu ruangan pribadi seseorang yang ingin dia temuinya.
Mengetuk pintu beberapa kali, mendapatkan ijin untuk masuk dengan penuh semangat dirinya membuka pintu tersebut, kaki mulusnya yang berhasil menginjakkan ruangan ini, tatapan matanya terfokuskan pada salah satu Pria tampan yang masih duduk di kursinya kerjanya. Berbalik banding pandangan pria tampan itu ikut menunjukkan wajah kagetnya melihat seseorang yang tidak ingin ia temui sudah berdiri tegak didepan pandangannya, Bintang lantas menghampiri dan tak lupa pelukan ia berikan pada seseorang yang selama ini sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
"Kak Bagas? Ini benar-benar kak Bagas kan? Bintang tidak lagi salah lihat kan?"
"Lepaskan aku! Apa maksud kamu memelukku seperti tadi kamu tidak sadar dengan siapa anda berhadapan saat ini! Aku bosmu apa kamu pantas memeluk atasan kamu seperti ini?" Dirinya lantas menepis tangan Bintang tak menginginkan gadis itu untuk memeluknya.
"Ada apa Kak? Apa yang kakak maksud ini Bintang kak! Kak Bagas tidak lupa kan denganku? Bintang gadis mungil dan chubby yang biasa kakak sebut untuk meledekku kakak tidak lupa kan?"
"Iya aku ingat dengan sebutan itu, tapi itu sudah masalalu sekiranya itu terjadi lima tahun yang lalu dan sekarang kenapa juga harus diungkit lagi? Dulu ya dulu, sekarang dan sekarang jadi apa yang perlu di ingat lagi sudah kamu keluarlah aku masih banyak kerjaan keluarlah!"
"Kamu itu ternyata susah sekali menurut atas perintah atasanmu! Disini aku memerintahkan kamu apa kamu budek?"
"Kak? Apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Bagas kenapa kak Bagas jadi seperti ini? Ini Bintang kenapa kak Bagas malah bersikap seolah-olah kita asing kenapa?"
"Aku bilang pergi!"
"Baiklah jika itu kemauan kak Bagas aku akan keluar! Maaf jika hari ini aku sudah bikin kakak kesal, maafkan Bintang jika bintang sudah membuat masalah maafkan aku!"
__ADS_1
Bertahun-tahun aku menginginkan kesempatan ini untuk bisa bertemu lagi dengannya, namun nyatanya semua dugaan-ku salah! Kami memang bertemu saling pandang tapi apa gunanya pertemuan ini jika seseorang yang selama ini aku anggap kakak nyatanya sudah terlebih dulu melupakan aku! Perilakunya sudah menunjukkan jika Kak Bagas memang sudah tidak mengharapkan pertemuan ini untuk hadir kembali dia sudah berubah! Sudah sangat berubah!"
Batinnya yang hanya mampu berkata, tak mampu menunjukkan seperti apa rasa kekecewaan yang ia pendam saat ini.
"Maafkan aku Bin mungkin dengan cara inilah hubungan kita akan mulai memudar, aku sengaja berperilaku seperti ini karena aku ingin kamu membenciku dan dengan cara seperti inilah aku akan mampu melupakan kamu maafkan aku! Maafkan aku!"batin Bagas yang ikut kecewa namun hatinya sudah terlanjur menyakitinya.
Dirinya yang memutuskan akan pergi, setiba di keluar pintu tubuh Bintang seketika roboh Bagas yang melihatnya sekejab langkah kakinya mulai mendekati namun ego dan gengsi yang sudah terlebih dulu menghalanginya.
Darah kental yang lagi-lagi keluar dari sudut hidung membuatnya tambah semakin sakit, bukan rasa sakit akan menahan rasa sakit yang ia derita namun dirinya harus berpasrah jika sesuatu yang tidak ia inginkan sebelumnya benar-benar akan terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada hamba kenapa lagi-lagi hamba harus mengalami mimisan seperti ini ada apa?"batinnya sesaat langkah kaki seseorang mulai mendekatinya dan bergegas seseorang itu membantunya untuk berdiri.
"Astaga Bintang kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa kan?"
"Tidak Clara aku baik-baik saja kok kamu janganlah cemas!"
"Bintang kamu mimisan lagi? Ini sudah kesekian kalinya kamu mimisan kamu sungguh-sungguh tidak apa-apa? Kamu sudah periksa ke Dokter tentang keadaan mu?"
"Kamu jangan cemas Clara aku baik-baik saja, ini hanya gejala biasa aku tidak apa-apa kok janganlah cemas!"
"Baiklah kalau gitu ya sudah aku bantu kamu untuk membersihkan darah mimisan kamu!"
"Baiklah!"
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa dengan Bintang ini benar sudah kesekian kalinya dia mimisan apa sungguh-sungguh dia tidak apa-apa? Tapi kenapa firasatku menunjukkan jika dia sedang tidak baik-baik saja?"
BERSAMBUNG.