PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA

PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA
Bab 41." Membaik."


__ADS_3

Terduduk disalah satu taman sembari menghirup udara segar di Rumah ini membuat hati Bintang cukuplah rileks dan bisa melepaskan semua penderitaan biar pun hanya sesaat.


"Mungkin waktuku untuk merasakan hawa sejuk seperti ini tidak akan bertahan lama, tapi biar pun begitu aku sangat suka dengan suasana damai seperti ini,"


Dari kejauhan seseorang sedang memperhatikannya, menghampiri dan memberikan sap tangan padanya beralih pandangannya terfokuskan pada seseorang itu.


"Apa kamu sedang menangis?" tanya seseorang itu yang kemudian Bintang pun berbalik badan.


"Kamu? Tidak! Aku tidak lagi menangis. Aku hanya kelilipan kok," balasnya yang mencoba menyangkal.


"Apa kamu masih ingin bohong juga dihadapan ku?"


"Sekarang aku tanya kenapa kak Bagas segitu pedulinya padaku?"


"Entahlah mungkin karena aku tahu penderitaan yang kamu alami maka karena itulah yang membuatku menjadi merasa kasihan dan perduli akan dirimu. Tapi sudahlah itu tidaklah penting!"


"Baiklah.


Tiba-tiba pandangan Bintang tertuju pada salah satu nampan yang terdapat beberapa buah seperti Apel, jeruk dan juga buah peer. Melihat kesegaran buah itu, tenggorokan Bintang seketika menjadi gatal. Dan akhirnya ia pun menggambil pisau yang berada di samping buah tersebut, tapi belum juga ia mengambil buah yang ia sukai seseorang dengan sigap langsung merebut pisau dari tangan Bintang.


"Astaga apa yang kamu lakukan, berapa kali aku bilang sama kamu, kamu tidak boleh melakukan tindakan bodoh seperti ini kenapa kamu mau mengulanginya lagi. Apa kamu udah gila," bentak Bagas yang spontan membuat pandangan Bintang pun bingung.

__ADS_1


"Maaf maksud kak Bagas apa? Aku tidak ngerti?" balas Bintang dengan kelopak mata yang menciut.


"Kamu itu ya, kamu ternyata tidak pernah bisa menjaga perkataan yang barusan kami katakan padaku bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah sadar dan tidak akan bertindak bodoh tapi kenapa kamu malah mau melakukan bunuh diri apa kamu sudah kehilangan akal sehat kamu?"sahut Bagas yang kemudian Bintang pun menimpali pembicaraannya.


"Apa bunuh diri? Siapa yang mau bunuh diri aku tadi cuma mengambil pisau itu. Karena aku inggin itu," ucapnya dengan jarinya yang menunjuk kearah salah satu buah segar yang tak lain adalah Apel.


"Apa? Jadi kamu bukan inggin bunuh diri dengan menusuk kan pisau ini ke tubuh kamu? Tapi kamu inggin apel itu?" tanya Bagas yang tidak percaya, sedangkan Bintang hanya mengangguk kepalanya.


"Iya, aku ingin itu," balas Bintang dengan wajahnya yang terlihat menahan tawa


"Astaga... maaf-maaf ya aku gagal fokus, aku kirain kamu bakal melakukan tindakan bunuh diri, tapi ternyata kamu malah ingin makan ya udah sini biar aku yg kupas buat kamu, karena anggap saja ini sebagai tanda maaf aku karena udah tuduh kaya tadi, maaf ya?"


"Iya gak papa lagian aku juga tahu kamu sendiri juga pastinya banyak masalah dengan urusan pribadi kamu, makanya pikiran selalu tidak fokus," balas Bintang dengan wajah yang masih menahan tawanya, sedangkan Bagas yang sudah dipenuhi wajah malu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Bertanya soal apa?"


"Apa tindakan yang kamu lakukan tidak akan membuat seseorang akan marah nantinya? Karena jujur setelah aku perhatikan, perhatian yang kamu berikan kepadaku sudah sangatlah melampaui batas! Biarpun kamu sudah menikah denganku ada seseorang lain lagi yang pastinya kamu cintai kan? Jadi...


"Jujur aja di dunia aku sudah tidak percaya lagi yang namanya cinta sejati, cinta suci, ataupun cinta abadi. Karena menurutku cinta itu cuma akan bisa membuat hati kita akan tersakiti dan dikecewakan. Bahkan ada juga yang hanya untuk di manfaatkan demi karena sebuah harta bukankah itu gila bukan?"ucapnya yang kemudian Bintang pun menimpalinya.


"Maaf, apa kamu pernah disakiti sama seseorang?"

__ADS_1


"Iya aku pernah, dimana dulu aku sangat mencintai seorang wanita. Bahkan aku rela mengorbankan apapun demi dia tapi nyatanya perasaan ku tidak akan mungkin terbalas karena seseorang itu sudah terlebih dulu mencintai pria lain, tapi ya sudahlah itu cuma masalalu. Dan aku tidak ingin mengingat masalalu itu lagi karena aku yakin suatu saat nanti aku pasti bakal menemukan cinta abadi entah itu siapa dia tapi aku sangat yakin," balasnya dengan tatapan mata yang tiba-tiba melirik kearah Bintang.


"Aku sadar mungkin karena hal inilah kak Bagas jadi menghindar dariku? Mungkin akibat perasaan kak Bagas yang tidak terbalaskan, kak Bagas menganggap jika semua wanita sama yaitu suka menyakiti, tapi kakak tenang saja ada aku disamping kak Bagas jadi kak Bagas jangan pernah menangisi apalagi menyesali apa yang sudah terjadi ya?"


Mendengar perkataan yang barusan diucapkan oleh seorang wanita yang berada disampingnya membuat hati Bagas pun lebih lega biarpun wanita yang ia katakan sesungguhnya ialah Bintang sendiri.


Bahkan tatapan yang ditunjukkan oleh Bintang kepada dirinya membuat Bagas bisa tersenyum lagi. Tatapan demi tatapan telah mereka lalui, bahkan tanpa sadar mereka sudah sama-sama saling memandangi satu sama lain hinga akhirnya ia sadar jika dirinya telah bersuami.


"Ya sudah kalau gitu aku pamit masuk dulu aku kayaknya butuh istirahat?"


"Iya kamu memang harus banyak istirahat jadi sudah masuklah disini juga dingin?"


"Iya kak aku akan masuk sekali lagi terima kasih untuk semuanya kak?"


"Kamu gak perlu seperti itu, aku ikhlas menolongmu jadi kamu tidak perlu memikirkan apa-apa lagi, yang terpenting sekarang kamu harus bangkit dan tunjukkan pada mereka kalau kamu pasti bisa, kamu pasti bisa jadi bangkitlah!"


"Iya Kak, sekali lagi terima kasih, terima kasih atas dukungan yang kakak berikan ke aku, aku janji mulai saat ini aku akan bangkit aku janji!"


"Baiklah saya suka sama semangat yang kamu tunjukkan."


"Ya sudah aku permisi dulu!"

__ADS_1


"Baiklah!"


BERSAMBUNG.


__ADS_2