
Berada dalam satu ruangan yang sama. Ditambah lagi Bintang dan Bagas yang berada dalam satu ranjang yang sama, dalam kondisi Bintang memeluk Bagas yang masih sama-sama belum sadarkan diri.
Tak lama terdengar suara gemuruh layaknya ada seseorang yang sedang berdemo mulai menghampiri arah tempat dimana mereka berada saat ini. Suara kegaduhan dan teriakan semakin terdengar sangat kencang, pintu terbuka dengan sangat keras hinga membuat suara itu tepat sampai ditelinga Bagas dan juga Bintang yang terlihat masih nyenyak tertidur pulas.
Tiba-tiba datang beberapa orang yang masuk ruangan ini dengan menyiramkan seember air tepat mengenai wajah mereka.
Terkejut, Bintang dan Bagas seketika bangkit dari tempat mereka berada saat ini. Beribu-ribu pertanyaan ingin sekali mereka pertanyaan-kan akan apa yang terjadi pada mereka saat ini.
Setelah sadar nampak raut wajah mereka dipenuhi dengan wajah kebingungannya. Apalagi melihat orang-orang pada menunjukkan raut amarahnya membuat Bagas mau pun Bintang ikut diselimuti rasa ketakutannya.
"Dasar tukang kumpul kebo apa yang kalian lakukan ditempat ini? Apa kalian habis bermalam indah malam ini?"tanya Laki-laki yang hampir botak.
"Ini tidak bisa dibiarkan, mereka pasti orang-orang mesum yang sudah bermalam tadi malam," cela pria satunya.
"Tidak! Kita tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami memang tadi sedang berteduh disini lantaran mobil-ku tiba-tiba mogok ditengah jalan dia sudah bersuami, kami tidak mungkin melakukan tindakan se'keji itu tidak mungkin," bela Bagas dengan tegas.
"Kalau kalian tidak mungkin bertindak macam-macam kenapa kalian tidur bersama disini apa itu masuk akal?"
"Kami berani bersumpah kami tidak pernah melakukan tindakan sebodoh itu, aku rasa ada seseorang yang sudah menjebak kita dalam situasi ini jadi kami mohon percayalah pada kami ...kami mohon," bela Bintang lagi.
"Dimana-mana yang namanya penjahat tidak akan pernah mau mengaku akan kesalahannya, termasuk pada kalian juga, jadi untuk apa kita harus percaya dengan tipuan dan pembelaan kalian ini. Sudah kita nikahkan saja mereka biar tidak jadi aib dikampung ini ayo cepat kita nikahkan saja mereka!"
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengannya. Apa yang dikatakan olehnya memang benar, ini sebuah jebakan ada seseorang yang sengaja menjebak kita dalam permainan ini. Jadi kami mohon percayalah pada kami, kami mohon,"bela Bagas.
"Alah sudahlah untuk kenapa kalian masih melakukan pembelaan juga, cepat kita bawa mereka ke balai desa dan cepat panggil penghulu dan keluarganya biar mereka segera dinikahkan ayo cepat bawa mereka!"
Gerombolan orang mulai memaksa keduanya untuk jalan, paksakan tidak manusiawi orang-orang lakukan untuk membawa keduanya sampai disalah satu tempat yang mungkin bisa dibilang balai desa.
Air mata Bintang terus saja terjatuh tidak bisa membayangkan jika semua ini akan terjadi padanya. Diikat dengan eratnya, sedangkan Bagas yang mendapatkan amukan dari beberapa warga yang membuatnya babak belur, berusaha menghalanginya namun tarikan warga membuatnya susah untuk mampu menjangkau tubuh Bagas.
" Kenapa? Kenapa lagi-lagi aku harus menghadapi kehidupan seperti ini kenapa?" batinnya kemudian sorakan semua orang yang pada meneriaki mereka berdua untuk segera melakukan ijab kabul.
"Baiklah aku mau," balas Bagas yang penuh dengan kepasrahan.
"Bintang! Sadarlah kita tidak ada pilihan lain, kali ini kita sudah diterpa musibah yang sangat besar. Dan sayangnya dalam masalah kita ini tidak ada orang yang bisa membantu kita menyelesaikan ke-salah pahaman ini. Untuk Ayah yang ada didalam kandungan kamu ini biar aku sendiri yang menjelaskannya jadi aku mohon percaya sama aku kali ini kita harus menikah biar pun sekarang kita lagi dalam keadaan terpojok kita harus melakukannya jadi aku mohon! Jika kita tidak segera menikah, mereka bisa-bisa melakukan tindak masa lebih keras dari ini, jadi demi keamanan kita berdua kamu harus bersedia menikah dengan-ku?"
"Baiklah jika permasalahan ini hanya bisa diselesaikan dengan cara ini aku bersedia!"
Dengan keadaan pasrah dan pikiran yang kosong, Bintang akhirnya menyetujuinya, bersanding bersebelahan dengan calon mempelai laki-laki yang tak lain adalah Bagas.
Tidak ada acara kemewahan mau pun kemeriahan yang terjadi pada ijab kabul pada sore hari ini. Yang ada hanyalah tetesan demi tetesan air mata yang terus saja menjatuhi kedua pipi Bintang. Tidak ada gaun mau pun kebaya mewah yang melekat ditubuh Bintang pada ijab kabul pada umumnya yang ada hanyalah pakaian biasa yang ikut jadi saksi atas awal hancurnya kehidupannya.
Setelah Syah menjadi sepasang Suami-istri. Mereka akhirnya dibebaskan dari serbuan masa yang sedari tadi hampir membuat jantung mereka melayang lantaran tuduhan ini.
__ADS_1
"Aku tahu semua ini terjadi karena kesalahan-ku. Jika saja pada malam itu aku tidak memutuskan untuk berteduh mungkin nasib kita tidak akan seburuk ini. Dan untuk menyelesaikan masalah-mu pada Samudra biar aku yang menghadapinya karena semua ini salah aku, jadi akulah yang harus membereskan semua ini!"
"Sekarang kita sudah menjadi sepasang suami-istri aku ingin kamu sekarang talak aku?"
"Apa maksud kamu Bin? Aku tahu pernikahan kita ini memang tidak seharusnya terjadi, tapi apa kamu sadar aku baru saja mengucapkan ijab kabul dengan janji pernikahan jadi mana mungkin kamu bisa mempermainkan janji pernikahan secepat ini? Tidak!"
"Tapi itulah kenyataannya! Kita tidak akan mungkin menjadi sepasang suami-istri, aku sudah bersuami bahkan Sekarang aku hamil aku tidak mungkin membiarkan ini semua berlarut-larut aku tidak bisa!"
Se'ucap kata yang mampu Bintang ucapkan dengan berbarengan tangisannya yang tidak bisa ia bendung lagi. Selangkah Bintang akan berlari, sigap Bagas menghalanginya.
Tak ada satu ucapan yang terlontar dari mulutnya. Tak sanggup untuk menghadapi semua ini, Bintang berlari sekuat tenaga agar jejaknya tidak bisa diraih oleh Bagas. Sedangkan Bagas yang mengejarnya langkahnya terhenti setelah ia kehilangan jejak Bintang yang entah kemana ia pergi.
"Kemana kamu Bin? Kemana kamu sekarang?"
Merasa menyesal Bagas melampiaskan semuanya, memukul-mukul batang pohon sebagai pelampiasan dari kemarahan dia saat ini, hinga darah bercucuran pada telapak tangan Bagas tapi rasa sakit itu tidak mampu ia rasakan dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini
Berbalik dari arah ia mengejar Bintang tadi, siapa sangka Bintang sengaja bersembunyi dibalik semak-semak untuk bisa menghindari kejaran Bagas barusan. Setelah ia tidak lagi mendengar suara Bagas, ia perlahan-lahan keluar dari persembunyiannya.
"Maafkan aku Kak Bagas maafkan aku. Bukan kamu yang salah semua ini sudah takdir, tapi aku tidak bisa membiarkan takdir ini terus berjalan dan aku juga tidak mau hanya karena kesalahpahaman ini aku harus menyakiti hati Samudra ataupun dirimu aku tidak bisa!"
BERSAMBUNG.
__ADS_1