
Sesampainya Bintang ditempat itu, dia dibuat terkejut lantaran disini tidak ada satupun orang yang berkeliaran, bahkan Anindya sendiri juga tidak ada disini.
"Kemana Anindya bersembunyi kenapa aku tidak menemukan dia disini? Apa pria itu sudah berhasil menemukannya? Tidak! Kamu jangan berfikir yang tidak-tidak Bin, kamu harus tetap tenang oke!"
"Bintang?"
Seseorang dengan lembut telah memangil namanya, sadar akan suara itu dirinya membalikkan tubuhnya untuk memastikan siapa seseorang itu. Sesosok pria tampan berjas hitam yang dengan tampan dan tatapan keperduliannya perlahan mulai mendekatinya.
"Kak Bagas? Kenapa ada kak Bagas disini mana Anindya?"tanya Bintang dengan pandangannya yang melirik kesana-kemari.
"Aku disini Bin!" Menampakkan diri, Anindya mendekati Bagas mau pun Bintang yang saat ini pandangan keduanya sama-sama fokus kearahnya.
"An! Ini apa maksudnya?"tanya Bintang lagi dengan wajah terheran nya.
"Maaf aku sudah membohongi kamu, aku sengaja melakukan semua ini karena aku mau kalian akur kembali jadi bicaralah!"pinta Anindya pada keduanya.
"Terima kasih atas bantuanmu!"timpal Bagas padanya.
"Tenanglah kalian temanku jadi mana mungkin aku akan diam melihat hubungan kalian seperti ini?"
"Ya sudah aku cabut dulu!"
"Baiklah sekali lagi terima kasih!"
"Baiklah!"
"Kak ini apa maksudnya kenapa kamu menyuruh Anindya untuk mempertemukan kita seperti ini? Apa maksudnya?"
"Aku sengaja meminta bantuan padanya karena aku merasa dengan cara seperti ini kita mampu berbicara empat mata seperti ini? Tujuan pertama aku hanya ingin minta maaf sama kamu, mungkin ini terbilang sudah terlambat tapi menurutku tidak ada kata keterlambatan untuk meminta maaf jadi disini aku ingin mengatakan maaf! Maaf jika selama ini aku sudah membuat hatimu sakit karena aku, maafkan aku!"
"Kenapa kak Bagas harus berkata seperti itu? Melihat kak Bagas seperti ini saja sudah membuatku lega, aku cukup lega akhirnya aku tidak jadi kehilangan kakak kesayangan ku ini, terima kasih! Terima kasih kak Bagas Sudah kembali padaku terima kasih!"
"Jadi kamu sungguh-sungguh sudah memaafkan aku!"
"Iya aku sudah memaafkan kak Bagas, aku tau perubahan kak Bagas ada hal lain yang kakak sembunyi dan melihat sendiri kakak meminta maaf ini sudah sangat membuatku bahagia terima kasih!"
"Kamu jangan lagi menangis, ada aku jadi aku tidak ingin kamu menitihkan air mata dihadapan-ku lagi usap lah!"
"Terima kasih kak, aku sangat bahagia kak Bagas kembali padaku terima kasih!"
__ADS_1
Baru saja mereka berdamai dalam keadaan ke-salah pahaman, wajah Bintang seketika berubah memucat, bahkan darah yang seketika mengalir dari hidungnya telah menyadarkan Bagas sekejap berhenti dalam ucapannya.
"Bintang kamu mimisan lagi kamu tidak apa-apa kan!"tanya Bagas dengan wajah paniknya, sesekali membelai wajah Bintang untuk memastikan keadaannya.
"Tidak kak, aku baik-baik saja kok kakak tenang saja!"
Pandangannya mulai gelap, ia berusaha menatap kanan mau pun kiri tapi apa yang ia lihat hanyalah bayangan yang tidak cukup jelas dan hanya menyisakan pemandangan buram.
Tubuhnya yang seketika hampir roboh, ia berusaha menahannya dengan memegang tembok.
Tapi apa yang ia lakukan nyatanya belum sepenuhnya berhasil untuk menahan tubuh Bintang untuk tidak roboh.
Bagas yang melihat darah segar keluar secara terus-menerus dari hidung Bintang membuat dirinya semakin mencemaskan akan kondisi Bintang.
"Bintang apa yang terjadi denganmu kenapa kamu malah mimisan sebanyak ini kamu sungguh-sungguh tidak kenapa-kenapa?"
"Aku ingin sendiri jadi pergilah! Ayo pergi!"bentak Bintang yang langsung mendorong Bagas hinga terjatuh tersungkur. Bintang yang berusaha ingin bangkit dari tempat duduknya berusaha apa ia melakukannya tindakannya itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
Tiba-tiba mengerang sakit dengan sangat kerasnya, Bintang tak henti-hentinya menekan erat kepalanya untuk bisa menenangkan rasa sakitnya ini.
"Bintang apa yang terjadi denganmu Bintang!"
Berusaha Bintang menyuruh Bagas untuk pergi tapi tindakannya tak membuat Bagas bangkit dari tempat dan pergi dari hadapan Bintang. Ia malah semakin menunjukkan kecemasan akan kondisi Bintang yang tambah semakin mengerang kesakitan sejadi-jadinya, bahkan wajah pucat yang ia hasilkan membuat Bintang menjadi manusia tidak berdaya.
Kejang-kejang secara tidak terkendali membuat Bagas yang melihatnya dengan kedua matanya langsung hanya bisa menangis entah karena diselimuti rasa takut atau rasa kasihan nya.
Kedua matanya yang tiba-tiba tertutup, kedua tangannya yang berhenti melakukan pemberontakan, terdiam bagaikan mayat hidup akhirnya membuat Bagas berani untuk mendekatinya, tapi setelah Bagas menghampirinya ia hanya bisa memandang Bintang yang hanya sudah dalam kondisi pingsan tidak sadarkan diri.
Masuk kedalam salah satu ruangan yang terdapat seorang wanita yang masih terbaring. Bagas segera menghampirinya, sedangkan seseorang itu nampak terkejut dengan siapa yang menghampirinya sekarang.
"Kamu ngapain ada disini?"
"Tidak penting kenapa aku masih ada disini, kenapa kamu tidak pernah bilang soal penyakit kamu ini? Kenapa juga kamu harus menyembunyikannya dari kita semua termasuk aku! Kenapa?"
"Apa maksud kamu aku tidak mengerti?"
"Jadi kamu masih tidak mau ngomong yang sejujurnya sama aku? Kamu masih mau menyembunyikan soal penyakit kamu ini? Apa perlu aku bertanya lagi pada Dokter?"
"Jadi kamu sudah mengetahui semuanya?"
__ADS_1
"Iya aku sudah mengetahui semuanya!"
"Sekarang kamu sudah tahu apa kamu ingin memberitahu Samudra soal ini? Atau mungkin Anindya yang nantinya akan menganggap ku lemah akan kondisiku lagi!"
"Tapi aku tidak bisa jika hanya berdiam diri! Kondisi kamu akan semakin memburuk jadi aku harus memberitahu mereka!"
Langkahnya yang akan pergi, sigap Bintang langsung menghalanginya dan membuat langkahnya itu pun terhenti.
"Jangan! Aku minta sama kamu, kamu jangan pernah memberitahu soal ini kepada mereka karena aku tidak inggin dia mengetahui kondisi ku saat ini aku mohon jangan beritahu dia aku mohon!"
"Tapi Kenapa?"
"Karena aku tidak inggin dia sampai mengetahui penyakit ku ini, biar aku sendiri yang merasakan penderitaan ini asal dia jangan sampai ikut dalam penderitaan ini aku mohon jangan beritahu dia aku mohon!"
"Aku bener-bener bingung sama kamu aku tidak tau harus berkata apa lagi sama kamu, baiklah jika kamu tidak inggin dia sampai tau kondisi kamu sekarang tapi setidaknya mulai sekarang kamu mau kan melakukan kemoterapi, ini semua demi dia, kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa melewati semua ini dan aku akan slalu mendukung kamu jadi kamu tidak boleh pantang menyerah kamu harus semangat!"
"Kamu dengan semangat memberikan dukungan kamu kepadaku tapi aku rasa dukungan itu sama sekali tidak akan berarti. Atau mungkin aku juga akan lupa dengan kata-kata itu. Satu hal yang membuatku merahasiakan rahasia ini karena selain menderita dengan rasa sakit yang sewaktu-waktu bisa menyerang ku! Aku juga mampu lupa akan seseorang, jadi sebelum aku ma*i bisakah kamu mengabulkan permintaan aku!"
"Apa permintaan itu?"
"Aku tidak meminta banyak permintaan darimu, tapi aku hanya minta satu permintaan tolong jangan pernah kasih tau mereka tentang penyakit ku aku mohon?"
"Baiklah aku akan merahasiakan kondisi kamu dari semua orang termasuk pada Samudra atau pun Anidya, tapi untuk sekarang ini apa rencana kamu selanjutnya apa kamu akan pulang taukah kamu akan tetap menatap disini?"
"Aku ingin pulang! Dengan kondisiku seperti ini aku tidak ingin kelihatan lemah, jadi mungkin dengan aku pulang itu akan lebih baik!"
"Baiklah tapi kamu harus ingat perkataanku barusan tetap semangat, kamu jangan pikiran banyak hal yang perlu kamu pikirkan ialah kondisi kamu paham!"
"Iya Kak aku paham! Terima kasih kak! Terima kasih Kak Bagas sudah ada disaat aku sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi penyemangat ku! Aku tidak tau jika tidak ada kak Bagas apa yang akan terjadi aku mungkin sudah tidak tau lagi dengan siapa aku harus meluapkan semua kesedihan ini? Belum lagi aku sangat yakin jika kondisiku tidak akan lama aku akan pergi hal itulah yang membuatku tambah semakin yakin jika aku memang tidak akan pernah selamat!"
"Kamu jangan berkata seperti itu? Yang namanya penyakit pasti ada obatnya entah itu apa obatnya tapi aku sangat yakin jika penyakit kamu itu akan sembuh aku yakin! Sudah jika kamu sudah memutuskan untuk pulang aku akan antar kamu jadi jangan menolak paham!"
"Iya Kak aku tidak akan menolaknya."
"Baiklah kamu tenang saja aku tidak akan memberitahunya kamu tenang saja,"ucapnya.
"Baiklah!"
BERSAMBUNG
__ADS_1