PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA

PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA
Bab 36." Menolak Bercerai."


__ADS_3

Kebahagiaan terpancar jelas dari raut wajah keduanya, tangisan sedih berpadu bahagia bercampur jadi satu. Disisi lain seorang wanita air matanya mulai berjatuhan dari kedua sudut mata sadar jika seseorang yang telah berjanji kini nyatanya janji itu hanya janji manis yang mampu dengan mudah tertiup angin. Kepercayaan yang selama ini selalu dijanjikan dengan mudahnya pria itu campakkan tanpa keperduliannya.


"Kamu berubah Sam! Kamu sangat berubah disisi lain kamu sangat berbahagia mendengar kabar kehamilan Bintang tapi disisi lain kamu lupa kalau aku juga hamil anak kamu! Biarpun status kita belum jelas bahkan kamu belum menikahi ku harusnya kamu juga memberikan ketulusan kamu itu? Saat ini aku sungguh-sungguh sakit? Aku sungguh-sungguh sakit karena kamu tidak memberikan kasih sayang yang sama pada calon anak kita aku sungguh sakit?"


Pagi yang cerah setelah memancarkan sinarnya. Disalah satu tempat Bintang berniat mendatangi Restoran Bagas. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama ia pun telah sampai di Restoran tersebut.


Sesampainya Bintang tepat didepan ruangan pribadi, terlebih dulu ia mengetuknya. Setelah mendapatkan perintah untuk masuk ia langsung membuka pintu, Ia melihat lelaki itu sedang duduk di-kursi kebesarannya. Pandangan Bagas yang sedari tadi fokus menatap layar laptop, kini teralihkan pada pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka. Dengan bersamaan hadirnya seseorang yang datang dan membuatnya terkejut begitu melihat siapa yang datang.


"Bintang? Kamu kembali lagi kesini?" tanyanya yang dengan nada halus.


"Aku datang kesini hanya untuk memberikan ini, cepat bacalah," ucapnya yang dengan bersamaan Bintang pun memberikan beberapa lembar surat tepat dihadapannya.


Setelah Bagas membaca dan mengeceknya, pandangnya pun seketika berubah. Dan sekejab ia pun bangkit dari tempat duduk bersemedinya tadi yang berlalu ia pun menghampiri dengan penuh banyak pertanyaan dan pertanyaan yang ingin ia tanyakan.

__ADS_1


"Surat perceraian sudah ada dihadapan kamu jadi cepat tanda tangani-lah surat ini," perintahnya tapi Bagas tampak acuh melihat lembaran kertas putih tersebut.


"Kak kenapa kamu diam? Jika kamu hanya diam kapan kita akan resmi berpisah. Aku mohon tanda tangani surat ini aku mohon!"


"Maaf aku tidak bisa!"


"Apanya yang tidak bisa kak? Pernikahan ini terjadi atas dasar terpaksa? Kita tidak akan mungkin menikah kalau bukan adanya seseorang yang menjebak kita! Entah siapa itu orangnya yang terpenting kita tidak bisa terus bersama apalagi melanjutkan pernikahan ini. Aku sudah punya suami yang benar-benar tulus mencintaiku bahkan adanya bukti buah hati ini aku tidak mungkin membiarkan pernikahanku dengan Samudra akan terus terjalin jadi Bintang mohon ceraikan aku! Ceraikan aku!"


"Mungkin jika suami kamu tipe orang yang benar-benar penyayang dan tulus terhadap istrinya aku masih bisa memikirkan masalah ini apalagi untuk menceraikan kamu. Namun sadar Suami yang kamu bangga-banggakan tidak setulus pemikiran kamu! Hal inilah yang membuatku berniat ingin melanjutkan rumah tangga ini, biarpun pernikahan kita hanya atas dasar salah faham aku tidak peduli menunggu surat perceraian kalian?"


"Aku tidak pernah ingin mencoba memancing amarah kamu Bin! Aku juga tidak lagi berbohong pada perkataan ku. Apa yang aku katakan itu sungguh-sungguh murni terjadi, kamu terlalu mencintainya makanya kamu dengan mudahnya terpikat rayuan dari pria brengsek itu?"


"Stop kak! Stop kak Bagas berkata yang tidak-tidak pada suamiku? Aku tau selama ini kak Bagas sangat membencinya? Bahkan dirinya pernah berkata kak Bagas menuduh dia dan Anindya selingkuh, tapi suamiku masih diam apa itu masih kurang membuat rasa benci kak Bagas mereda?"

__ADS_1


"Yang namanya pembohong tetap saja pembohong Bin! Kamu percayalah padaku dia bukan pria sebaik yang kamu kira? Dia sungguh-sungguh pria mata keranjang yang bisa melakukan apa saja demi nafsunya?"


Melayangkan satu tamparan pada pria itu, sang Pria yang terkejut atas tindakan dirinya langsung beranjak dari tempat dimana ia duduk saat ini.


"Ini apa maksudnya berani kamu menamparku?"


"Sekarang aku sadar kak Bagas memang tidak pernah sungguh-sungguh meminta maaf? Mulut kak Bagas memang berkata tapi tidak dengan hati kak Bagas yang sesungguhnya, hati kak Bagas masih sangatlah sama! Awalnya aku mengira aku bakal mendapatkan kasih sayang kembali dari seseorang yang aku anggap kakak namun nyatanya itu semua salah! Kak Bagas hanya berpura-pura minta maaf, jadi selamat! Selamat anda sendirilah yang menghancurkan kepercayaan ku selamat!"


Langkahnya akan kembali keluar dari ruangan ini, namun belum dirinya sepenuhnya pergi langkah mulusnya mulai kembali menghampiri pria yang sedari tadi hanya terdiam. Wanita itu terus melemparkan surat perceraian itu lagi, dengan perasaan bercampur aduk antara kecewa dan amarah yang menjadi satu. Bahkan tatapan matanya tak ia tunjukkan pada pria itu.


"Tujuan pertama ku hanya ingin menyampaikan surat ini? Jika hari ini anda masih belum bisa menanda tangani aku akan tetap menunggu sampai kamu menanda tangani surat ini permisi!"


Kekecewaan mendalam akhirnya Bintang tunjukkan pada Pria ini, beranjak pergi tanpa melirik sekalipun kearah pria itu, ia tampak menunjukkan wajah kecewakannya para Pria tersebut.

__ADS_1


Belum Bintang pergi dari ruangan ini, tubuhnya seketika dirangkul Bagas, mencoba memberontak namun usahanya telah sia-sia, keluar dari ruangan keduanya menjadi pusat perhatian semua orang tak terkecuali pada para pelayan, tapi tindakan mereka itu tak mampu menghentikan akan langkah dan niat bagas untuk membawanya pergi.


BERSAMBUNG.


__ADS_2