
Mencium telapak tangan Mama mertuanya, langkah kedua manusia itu perlahan mulai hilang dari pandangan Bagas, berlalu Bagas yang ingin menemui seseorang, seseorang itu sudah terlebih dulu berpapasan dengannya.
"Dengan Dokter Rusli?"
"Iya dengan saya sendiri?"
"Baiklah berhubung Dokter ada disini ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada Dokter?"
"Tanyakan mengenai soal apa? Apa ini ada hubungannya sama keinginan anda kemaren?"
"Iya Dok, saya sudah memutuskan secara matang, saya tidak keberatan jika operasi itu akan kita lakukan karena semakin cepat akan semakin baik jadi kapan? Kapan dokter akan melakukan pencangkokan mataku?"
Degh
Hatinya serasa hancur lebur mendengar sendiri seseorang itu mengatakan kata pencangkokan mata. Air matanya turun tak percaya seseorang yang sangat ia percayai akan mampu melanggar permintaannya, membungkam mulutnya tak terdengar sekata pun yang dilontarkan Wanita cantik itu.
Usai membahas masalah operasi pencangkokan mata, Bagas kembali masuk ke ruangan Bintang, langkahnya yang perlahan membuka kenop pintu, sadar seseorang akan masuk kedua matanya seketika terpejam berpura-pura tidak mendengar apa yang barusan dikatakannya. Menghampiri wanita yang tidak berdaya, tangannya mulai menggenggam tangan mungil tersebut.
"Aku sangat bahagia akhirnya tidak lama aku bakal melihat kebahagiaan yang akan menghampirimu Bintang, aku sudah tidak sabar?"
Matanya kembali terbuka lebar, sadar akan kesadaran Bintang dalam sekejab mata terkejut Bagas tak bisa ia hindarkan lagi.
"Bintang kamu tidak tidur?"
"Iya! Aku memang sedari tadi tidak pernah tidur kak? Aku juga mendengar sendiri semua perkataan yang kak Bagas katakan barusan! Kenapa? Kenapa kak Bagas segila ini rela mengorbankan mata kakak demi wanita penyakitan seperti diriku, kenapa?"
"Kamu sudah mendengar semuanya?"
__ADS_1
"Iya, aku sudah mendengar semuanya aku cukup terkejut tidak percaya ternyata kak Bagas akan sebodoh ini! Hanya gara-gara wanita penyakitan yang bisa kapan saja mati, kak Bagas malah dengan gilanya mau mendonorkan mata kakak. Sadarlah tindakan kak Bagas tidak akan berhasil mengembalikan kebahagiaan ku? Aku sekarang sudah tidak bisa apa-apa, kondisiku yang sudah dinyatakan kritis! Aku sudah tidak berguna akan sangat percuma jika kak Bagas merelakan kornea mata kakak sangat percuma!"
"Jadi apa kamu menolak keras tawaran baikku ini?"
"Tawaran baik? Haruskah aku menjelaskan resiko besar apa yang akan terjadi jika kak Bagas mendonorkan kornea mata itu? Aku rasa kak Bagas juga sudah mengetahuinya jadi untuk apa aku harus menjelaskannya juga! Sudahlah lebih baik kak Bagas pergi aku ingin sendiri! Ingatlah jangan pernah kemari jika kak Bagas masih berniat ingin melakukan tindakan bodoh itu!"
"Bintang! Sadarlah ini demi kebaikan kamu, aku mohon!"
"Pergi!"
Tak menjawab respon, mengalihkan pandangan menunjukkan akan kekecewaannya, tak banyak yang dilakukan Bagas dirinya kemudian keluar hanya melihat sekilas Bintang yang terdiam tanpa meliriknya sekalipun.
"Aku tidak bisa berfikir apa yang membuat kak Bagas jadi seperti ini? Apa rasa sayang yang kak Bagas berikan padaku sudah sangat melampaui batas, sampai-sampai dengan rela mendonorkan kornea mata untukku dan disisi lain masih ada sesosok ibu yang sangat butuh akan dukungan putranya. Apa yang kak Bagas lakukan sudah sangat membuatku sakit! Sangatlah sakit hanya demi aku, kak Bagas rela berkorban sampai sejauh ini hatiku sangatlah sakit!"
Air matanya mulai berjatuhan, menangis sejadi-jadinya memalingkan pandangannya ke kanan tak membiarkan siapa pun orang melihat akan kehancuran dirinya. Disisi lain, diluar pintu ekpresi Bagas menunjukkan akan kekecewaannya, bukan kecewa karena tindakannya tidak mendapatkan perhatian dari Bintang.
Sesosok wanita cantik terlihat nyenyak dalam tidurnya, kenop pintu yang terbuka menunjukkan akan adanya langkah kaki sepatu hitam wanita yang perlahan mulai menghampirinya, tangan seseorang itu mulai menyentuh wajah cantik wanita tersebut. Merasakan adanya belaian seseorang yang menyentuh wajahnya kedua mata cantik mulai terbuka.
"Siapa ini? Jika ini kak Bagas aku minta kak Bagas keluarlah aku ingin sendiri, keluarlah!"usirnya.
"Ini Mama sayang?"
Kata-kata yang terlontar dari mulut seorang wanita, pandangan mata Bintang tak terhindarkan mendengar suara seseorang tersebut. Tubuhnya ingin sekali menjauh namun kedua tangan Mamanya terlebih dulu meraih tangan putrinya dan membekap tubuh putrinya dalam dekapan hangatnya.
"Mama? Kenapa Mama bisa ada disini?"tanya Bintang yang tak percaya.
"Kenapa sayang? Kenapa kamu tega membohongi Mama sampai sejauh ini? Melihat kondisimu yang seperti ini kenapa kamu tidak berkata jujur sama Mama, kenapa?"
__ADS_1
"Jadi Mama sudah tau kondisiku yang seperti ini?"
"Iya Mama sudah tau, Bagas bersikeras melarang Mama untuk jangan menemui kamu, tapi hati Mama selalu menyebut nama kamu Mama ingin sekali bertemu dengan kamu sayang? Mama sangat kangen sama kamu?" Kembali memeluknya dengan erat, Bintang nampak terdiam tak berkutik tak tau lagi apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Ingat sayang apapun yang terjadi Mama akan selalu ada untukmu? Kamu janganlah cemas jika penyakit yang kamu alami sudah sampai di stadium akhir karena Mama akan selalu ada untukmu, Mama akan selalu ada untukmu sayang jadi janganlah takut!"
"Sta ...stadium akhir? Mama tidaklah bohong kan?"
"Untuk apa Mama harus bohong sayang? Apa yang terjadi sudah Tuhan yang mengatur, kondisimu yang seperti ini Mama sendirilah yang akan merawat kamu nanti jadi janganlah cemas sayang!"
"Stadium akhir? Itu artinya nyawaku benar-benar tidak akan lama? Kenapa kak Bagas tidak pernah memberitahuku jika penyakitku semakin parah?"
Dalam hatinya ia masih mampu mengatakan kata-kata itu, sekejap raut wajahnya mulai berubah, mencengkram selimut dengan kasarnya sesuatu lain telah terjadi namun lagi-lagi ia lebih memilih untuk menyembunyikannya.
"Tuhan sampai kapan kamu ingin menyiksa hamba dengan cara seperti ini sampai kapan?"batin Bintang yang terus terisak, air matanya ingin terjatuh namun dengan kuat ia berusaha untuk menahannya.
"Sayang kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu berkeringat banyak kamu tidak kenapa-kenapa kan?"
"Bintang merasa mules? Mama tidak keberatan jika Bintang minta bantu Mama untuk mengantar kekamar kecil dulu?"
"Baiklah Mama akan antar sayang!"
Langkahnya beranjak pergi dari tempat ia beristirahat, Bintang yang sudah berada didalam ia sengaja mengunci dari dalam sekejap tubuhnya roboh merasakan rasa sakit yang amat menyiksanya. Mulutnya seketika ingin menjerit namun dirinya tak mampu melakukan itu semua disaat Mamanya masih ada didalam.
"Tuhan! Jika seperti ini caramu menyiksaku tolong! Tolong cabut nyawa hamba tolong ...."
BERSAMBUNG
__ADS_1