
"Kemana kamu membawaku pergi, kamu gak lagi mencoba mengerjai ku kan?" tanyanya yang kemudian Bagas pun menurunkannya.
"Kita sekarang sudah sampai ditempat yang dimana tempat ini adalah tempat favoritku. Dan disini sangatlah indah dan udaranya juga sangat segar, pastinya kamu juga bisa merasakannya kan sekarang?"
"Iya, aku memang bisa merasakan udara disini, tapi sayangnya aku tidak bisa melihat seperti apa pemandangan indah yang kakak maksud. Aku tidak percaya kalau tempat ini seindah yang kamu katakan tadi, bagiku tempat ini sangatlah biasa sama halnya seperti tempat yang lainnya. Jadi sudahlah ayo kita pergi sekarang aku tidak betah disini jadi ayo kita pergi," ajaknya yang berniat akan pergi tapi Bagas melarangnya.
"Apa kamu berkata seperti itu karena kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan. Apa kamu sangatlah sulit untuk bisa mempercayaiku, tapi sudahlah itu tidaklah penting. Karena aku tahu butuh waktu untuk membuatmu percaya karena aku juga tahu kamu belum mencintaiku sepenuhnya jika nanti perasaan kamu untukku sudahlah ada kamu juga akan percaya jika tempat ini memang sangatlah indah.
Dan satu hal lagi disini dipenuhi dengan ribuan bunga mawar putih mau pun mawar merah dan mungkin sekarang nampaknya biasa lantaran bunga-bunga disini belum bermekaran secara serentak dan nanti tanggal 14 satu bulan dari sekarang kita bisa melihat kembali pemandangan indah ini yang akan bermekaran secara serentak, jadi pertanyaan ku apa kamu bersedia menemaniku untuk datang lagi kesini?"
"Kenapa kak Bagas sangatlah b0d0h! Kak Bagas kan sudah lihat kalau aku ini buta apa gunanya aku harus datang lagi ketempat ini jika pada kenyataannya aku tidak bisa melihat semua pemandangan ini. Bahkan mungkin jika aku akan hadir dan melihat semuanya mungkin itu hanyalah mimpi, mimpi yang tidak akan pernah terjadi!"
"Terus jika pada kenyataannya mimpi itu beneran bakal terjadi. Dan kamu bisa mendapatkan pendonor kornea mata apa kamu beneran akan hadir ditempat ini untuk melihat semua ini?"
"Jika aku beneran mendapatkan pendonor dan bisa melihat semuanya aku sendiri yang akan datang kesini. Tapi jika nanti kamu mengajakku untuk datang pada tanggal 14 maaf aku tidak bisa!"
"Baiklah aku tidak akan memaksamu. Dan aku yakin cepat atau lambat ucapan mu bakalan terjadi dan aku sangat yakin jika suatu saat nanti kamu pasti bakal mendapatkan pendonor aku yakin itu!"
"Kenapa kak Bagas sangat yakin dengan ucapan mu itu? Apa kak Bagas seorang peramal?" mendengar ucapan Bintang, Bagas hanya tersenyum.
"Aku bisa berkata seperti itu karena mungkin akulah orang yang akan mendonorkan kornea mataku untuk kamu. Dan mungkin nanti kita akan berbalik nanti, kamu bisa memandang semua pemandangan indah ini sedangkan aku? Aku mungkin hanya akan mampu menghirup udara harum dari bunga ini?"Dirinya yang lalu melamun, Bintang memangilnya.
"Kak? Kak Bagas masih ada di sampingku kan? "tanya Bintang yang kemudian membuat lamunan Bagas tersadar.
"Iya aku masih ada disini bagaimana mungkin aku bisa pergi ninggalin kamu sendiri kalau kamu masih ada disini, ya sudah ini sudah mau sore jadi kita balik ya," ajaknya.
"Baiklah ayo!"
SATU BULAN KEMUDIAN
__ADS_1
Hari demi hari sudah berlalu, entah waktu yang berjalan terlalu cepat atau emang kita sendiri yang mempercepat waktu itu sendiri.
Dan dalam sebuah ruangan yang hanya terdapat beberapa alat medis terdapat lah seseorang Wanita yang sedang terbaring diatas brangkar Rumah sakit.
Terlihat jelas jika Wanita itu sedang memikirkan sesuatu. Mungkin karena pikirannya yang sudah terpenuhi dengan rasa ketakutan sekaligus kecemasan karena itulah yang membuatnya terdiam tanpa terucap, hanya mengatakan dalam hati untuk mencurahkan isi hatinya.
Kemudian lamunan itu pun tersadar setelah sesosok laki-laki datang dan memanggil namanya dengan sebutan sayang.
Sayang mungkin kata itulah yang membuatnya sangat terkejut, lantaran selama lima bulan ia menikah dengan seorang laki-laki barulah sekarang kata manis itu baru terucap dari mulut dari seorang yang tak lain adalah Suaminya sendiri.
Bintang menengok ke arah sumber suara yang tengah memanggilnya, suara yang sangat dia kenal, suara yang akhir akhir ini tak pernah ia dengar, Bintang membuka matanya dengan pelan namun pasti.
Dan datang lah Bagas, Bagas yang melihat wanitanya tiba-tiba menangis bergegas ia pun berjalan ke arahnya lalu mulai memeluknya.
" Setelah berhasil bercerai dengan Samudra mulai sekarang dan detik ini aku akan menyebutmu dengan sebutan itu karena kamu memang sangat pantas untuk mendapatkan ucapan sayang itu jadi kamu tidak masalah atau keberatan kan kalau aku memanggilmu dengan sebutan sayang itu?"ucapnya yang tak mau melepaskan pelukannya.
"Iya aku sama sekali tidak akan keberatan," balasnya yang kemudian Bintang membalas mendekap tubuh Bagas.
Melihat Wanita yang kesakitan tidak berdaya, Bagas hanya mampu mendekap tubuh Wanitanya dengan erat dan berteriak sekeras mungkin memangil Dokter.
Rasa sakit yang tidak tahan akhirnya membuatnya pasrah dengan jatuh pingsan tepat berada di pelukan sang Suami.
"Bintang bangun ...Bintang bangunlah.
"Apa yang terjadi?"
"Dokter Istri saya tadi menjerit kesakitan bisakah Dokter langsung memeriksanya?"
"Baiklah, mendingan sekarang anda keluarlah!"
__ADS_1
"Baik Dok!"
"
"
"
"Gimana Dok keadaannya. Apa penyakit yang dideritanya tambah semakin parah. Dan sampai kapan penderitaan Istri saya akan berakhir dan bagaimana caranya untuk bisa memulihkannya cepat kasih tahu saya?"
"Anda yang sabar mendingan sekarang Anda banyaklah berdoa agar Istri anda bisa melewati masa sulitnya ini. Dari pemeriksaan kami, kami mendapatkan kabar buruk jika kanker yang diderita Istri anda sudah memasuki tahap akhir. Sekarang tindakan medis tidak mampu lagi untuk menyelamatkan Istri anda. Kalau pun dengan tindakan operasi mau terapi semua itu sudahlah percuma karena kanker otak yang diderita oleh Istri anda sudah melewati batas dan sudah sangat parah. Bahkan organ jantung, ginjal mau pun hati perlahan-lahan mulai akan terkontaminasi jadi bersabarlah iikhlaskan kepergiannya nanti!"
Deg!
Jantung Bagas seakan berhenti, ia seketika terdiam tanpa berkata apa-apa sama sekali. Dadanya seakan-akan merasa sesak, tangisannya pecah. Bahkan tubuhnya rasanya tidak sanggup lagi untuk berdiri tegap yang seketika tubuh itu pun tersungkur kelantai setelah ia tahu keinginannya untuk menata hidupnya lebih baik lagi dan menjadi seorang Suami yang sempurna nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan.
Tubuhnya seketika tersungkur jatuh kebawah dan tidak mampu lagi untuk menopangnya. Dokter yang melihatnya ia langsung mencoba menyuruhnya berdiri tapi Bagas menolaknya.
Akhirnya membuat Dokter ikut bersimpuh duduk dilantai disampingnya.
"Saya tahu pasti anda sangat bersedih untuk mengikhlaskan kepergiannya. Tapi sadarlah setiap manusia pada akhirnya kita juga akan mati sama halnya seperti kita, jadi bersabarlah ...bersabarlah! Dia butuh dukungan dari anda jadi anda harus kuat! Ya sudah saya masih ada tugas jadi anda gak keberatan kan kalau saya tingal.
"Iya Dok tidak masalah, sekali lagi terima kasih...terima kasih!"
"Iya sama-sama Tuan, mari!"
"Silahkan Dok!"
Mata hitam nan pekat itu mulai perlahan terbuka, mata indahnya mulai melirik ke segala penjuru arah, perlahan Bagas mulai menghampirinya menggenggam dengan erat tangan mungil sekaligus memberikan kecupan pada Kening wanita yang dicintainya, Bagas akhirnya meneteskan air matanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG