
"Maafkan aku kak! Maafkan aku, aku tidak bisa berkata sejujurnya pada kak Bagas, maafkan aku!"
Perginya Bagas dari tempat tadi, Bintang yang memutuskan pindah arah dirinya hanya mampu menatap sekeliling berharap ada tempat baru yang bisa buat ia berteduh, sesaat dirinya melihat pos ronda yang dirasa sepi tanpa adanya seseorang disana.
"Mungkin dengan tempat ini aku bisa beristirahat sejenak. Maafkan Mama sayang! Maafkan Mama kali ini Mama belum bisa mencari tempat nyaman untukmu maafkan Mama!"
Hanya menyandarkan punggungnya pada tembok kayu, mata cantiknya sulit untuk terpejam belum lagi hawa yang dingin tak memungkinkan dirinya untuk bisa tertidur dengan pulas nya. Dari arah barat muncul dua seseorang yang berjalan dengan lagak bajingan, melirik kanan kiri yang terbilang sepi seseorang itu melirik kearah satu temannya memberikan kode jahat yang sama-sama terlintas dalam benak pikiran jahatnya.
"Hei cantik sendirian saja mau abang temenin gak ini kan sudah mau malam?" tawarnya dengan raut wajah yang sedikit menyeramkan.
"Iya atau mau abang temenin sebentar, kayaknya kamu lagi kecapean?" timpal laki-laki lain yang mulai mendekati bahkan mencolek dagu Bintang.
"Kalian? Kalian jangan macam-macam padaku, jika selangkah kalian berani mendekat aku akan teriak!" ucapnya yang merasa sangatlah cemas.
"Teriak saja, kan disini tidak ada orang sama sekali jadi mau minta pertolongan sama siapa? Ayo tunggu apa lagi bawa dia sekarang!" perintahnya yang kemudian kedua preman itu pun mulai menarik Bintang.
"Kalian mau ngapain lepasin aku! tolong ...tolong ...lepasin aku! Tolong ...."
Beberapa tendangan pun tepat mengenai dua preman tersebut yang akhirnya membuat kedua preman itu pun tersungkur secara bersamaan.
"Dasar bajingan berani sekali anda menganggu kesenangan kita," ucapnya yang baru aja mau melangkah untuk melawannya, dalam sekejab niat seseorang itu pun berubah setelah kedua preman itu mendengar suara mobil polisi.
Lantaran terkejut dan tidak mau dipenjara, mereka akhirnya spontan berlari melarikan diri.
Sedangkan seseorang yang memukulnya ia beralih menghampiri Bintang yang diselimuti rasa cemasnya.
"Bintang kamu tidak apa-apa kan? Apa kamu terluka?" tanya seseorang itu yang tak lain adalah Bagas.
__ADS_1
"Kak Bagas? Tidak! Aku tidak apa-apa kok. Apa kakak terluka?"tanya balik Bintang memperhatikan tubuh Bagas.
"Tidak aku baik-baik saja kok!"
"Tunggu? Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan sekarang kenapa kamu ada disini? Bukannya tadi kamu bilang kamu akan pulang kerumah Mama kamu? Tapi kenapa kamu malah berkeliaran disini?" tanyanya yang membuat Bintang pun terdiam.
"Apa yang harus aku katakan sekarang?" batinnya yang kemudian Bagas pun membalasnya.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak sungguh-sungguh pergi kerumah Mama kamu ,makanya kamu masih keluyuran disini?"timpal Bagas lagi.
"Iya sebenarnya aku memang tidak berniat ingin kembali kerumah Mama! Jika aku pulang pasti banyak pertanyaan yang akan Mama tanyakan padaku? Belum lagi hubungan kita mulai meregang aku tidak yakin jika kali ini Mama ada di pihakku?"ucapnya yang hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Kenapa perkataan kamu seperti itu? Kamu tidak percaya jika Mama kamu ada di pihakmu? Ingat yang namanya seorang Ibu pasti akan ada untuk Putrinya karena seorang Ibu separuh jiwa untuk putrinya?"jelas Bagas.
"Tapi Nyatanya itu tidak berpihak pada Mama? Sejak aku menikah dengan Samudra, Mama memiliki sifat yang jelas sangat berbeda dengan sifat yang sebelumnya dan itulah yang membuatku tidak berani untuk pulang?"
"Terus selanjutnya kemana sekarang kamu akan pergi?"
"Tapi nyatanya tidak semudah itu, ya sudah mendingan sekarang kamu ikut aku," ajaknya dengan langsung mengandeng tangan Bintang.
"Ikut? Ikut kemana?" tanya Balik Bintang.
"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu, ayo cepat masuklah kedalam mobilku!" ajaknya lagi.
"Tapi...."
"Sudah jangan membangkang," balas Bagas.
__ADS_1
Tanpa berfikir, Bintang akhirnya ikut dengan Bagas setelah ia mendapat tawaran baiknya.
Sesampainya dikediaman yang cukup besar keduanya sudah berada dihalaman rumah itu, lantas mereka pun turun.
"Kenapa kamu membawaku kesini? Ini Rumah siapa kamu gak lagi merencanakan sesuatu kan?"
"Kamu tenang saja aku bukanlah orang jahat yang seperti kamu pikirkan. Ini kediaman ku berhubung aku hanya tinggal sendiri aku tidak masalah jika kamu akan ikut aku tinggal disini?"
"Tapi?"
"Ingat Bintang kita sudah menikah! Biarpun kita hanya menikah atas dasar paksakan biar bagaimanapun juga kamu sekarang sudah jadi tanggung jawabku jadi anggap saja ini rumah kamu sendiri ya?"
"Aku sama sekali masih belum paham dan belum percaya jika aku benar-benar menemukan orang sebaik kak Bagas. Sebenarnya hati orang itu terbuat dari apa kenapa dia sampai bisa punya hati sebaik itu," batinnya sesaat Bagas mengagetkannya.
"Kamu jangan melamun?"timpalnya dengan menepuk pipi Bintang.
"Iya maaf! Aku hanya tidak percaya kak Bagas akan sebaik ini sama aku, aku sangat bersyukur aku masih memiliki kak Bagas terima kasih kak! Terima kasih!"
"Kamu jangan terus-terusan berkata terima kasih ini sudah jadi tanggung jawabku, ya sudah kita masuk!"
"Baiklah!"
"Alhamdulilah akhirnya aku sekarang sudah dapat tempat tingal baru, jadi aku gak harus susah payah mencarinya sekarang,"Lantas keduanya masuk kedalam kediaman ini.
"Ya sudah kamar itu kamar kamu masuklah kamu pasti ingin istirahat! Aku harus kesana ada sesuatu yang harus aku lakukan!"
"Iya kak sekali lagi terima kasih!"
__ADS_1
"Iya sama-sama,"ucapnya dengan membelai pipi Bintang lagi.
BERSAMBUNG.