
Mata cantik sang istri terlihat perlahan mulai terbuka, menghampiri, menggenggam tangan Bintang telah menyadarkan siapa seseorang yang menggenggam erat tangannya.
"Kak Bagas?"
"Iya, ini aku sayang?"
"Bolehkah kak Bagas tidur bersebelahan denganku?"tanpa membalas, Bagas lalu ikut merebahkan diri disamping sang istri, menggenggam erat tangannya seakan-akan tidak ingin melepaskannya.
"Apa kamu menginginkan sesuatu dariku?"tanyanya yang sesekali mengecup telapak sang istri.
"Apa kak Bagas tau, aku sangat bersyukur diumur yang sekarang Tuhan masih memberiku waktu hingga memberikan aku kesempatan untuk tetap berada dalam dekapan kakak seperti ini? Entah sampai berapa lama Tuhan memberiku kesempatan, pokoknya kali ini aku masih bersyukur aku masih bisa berada dalam dekapan kak Bagas seperti ini?"balasnya yang berselimut senyuman manisnya, namun berbeda dengan sang suami yang tak henti-hentinya menitihkan air matanya.
"Ingatlah Tuhan tau cinta kita tidaklah mudah untuk dipisahkan, melihat perjuangan ku tuhan juga tau bahwa kita ditakdirkan untuk bersama-sama selamanya, jadi aku mohon bertahanlah untukku, aku mohon!"
"Kak?"panggilnya.
"Iya?"balasnya.
"Bolehkah aku meminta satu permintaan lagi pada kak Bagas?"
"Permintaan? Permintaan apa itu?"
"Aku ingin menagih kembali permintaan yang dulunya pernah kandas? Aku ingin menagih kembali permintaan ku agar kak Bagas bersedia mau menikahi Anindya aku mohon! Aku mohon kabulkan permintaanku ini aku mohon?"
"Tidak! Sudah aku katakan aku tidak akan pernah mengabulkan permintaan bodoh itu, kita sama-sama memiliki hati terhadap orang lain jadi mana mungkin kita bisa bersama jika aslinya hati kita terlanjur mencintai orang lain, tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan pernah mau! Aku mohon jangan paksa aku!"
"Apa kak Bagas percaya adanya kata yang mengatakan umur manusia tidak ada yang tau? Jika seandainya aku tiba-tiba meninggal disaat kak Bagas tidak mengabulkan permintaan ku? Apa kak Bagas tidak akan pernah menyesal hidup dalam penyesalan akibat menolak keras mengabulkan permintaan ku ini?"
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Di-dunia ini tidak ada penyesalan terhadap orang seperti diriku, tidak akan pernah ada!"
"Kak? Sadarlah aku sudah memiliki tanda-tanda bahwa tidak akan lama aku akan pulang? Setiap hari aku bermimpi aku selalu ditunggu Papa disalah satu tempat dengan adanya pemandangan yang sangat indah? Aku yakin itu salah satu tanda jika aku memang sudah ditakdirkan untuk berpulang dan berkumpul dengan Papa. Jadi aku mohon jangan buat kepergianku akan meninggalkan luka dalam entah buat kak Bagas atau pun dengan diriku sendiri, jadi aku mohon! Aku mohon kabulkan permintaan ku aku mohon!"
__ADS_1
Dirinya mulai berlutut dibawah kaki Bagas, melihat sang wanitanya berniat ingin mencium kakinya dengan langkah cepat ia menghalangi, tak membiarkan untuk sampai melakukan tindakan ini.
"Aku mohon kabulkan permintaan ku aku mohon!"
"Apa hanya dengan cara ini kamu sungguh-sungguh akan bahagia? Apa hanya ini permintaan kamu?"
"Seperti yang kakak tau aku tidak pernah meminta banyak permintaan, hanya inilah permintaan ku, jadi aku mohon! Aku mohon kabulkan lah!"
"Baiklah aku bersedia menikah dengan Anindya, aku bersedia untuk menikahinya demi kamu, aku bersedia!"
"Terima kasih kak! Terima kasih!"
Setelah menyetujui permintaan yang dikatakan oleh Bintang, akhirnya pernikahan mereka pun akan diselenggarakan. Akan tetapi pernikahan mereka hanya akan digelar secara diam-diam dan tidak banyak mengundang para tamu undangan.
Dengan balutan kebaya putih yang menghiasi tubuh Anindya, ditambah lagi dengan riasan yang tidak terlalu berlebihan membuat kecantikan Anindya terlihat sangat natural dan terlihat sangat cantik.
Akan tetapi dihari pernikahan yang sudah lama dia impikan dan dia tunggu-tunggu tak menampakkan wajah kebahagiaan yang terpancar, Anindya sendiri tidak bisa menghentikan air matanya yang terus-menerus terjatuh membasahi pipinya.
"An! Apa kamu menangis? Apa kamu menyesal mengabulkan permintaan aku?"
"Bukan menyesal karena mengabulkan permintaan kamu? Hanya saja aku tak percaya apa kamu sungguh-sungguh akan menyuruh Bagas untuk menikahiku, disisi lain kamu masih menjadi istrinya?"
"Ingatlah An! Aku tidak pernah menyesal membagi cinta terlebih kamu adalah sahabat terbaikku. Aku yakin jika aku pergi nanti kamu mampu memberikan kesetiaan yang tulus untuk kak Bagas? Begitu juga dengan kak Bagas aku percaya dia bisa aku andalkan ketimbang aku harus mempercayai pria seperti Samudra yang akan menjadi suamimu nanti, jadi aku mohon bersedia lah menikah dengan kak Bagas tanpa adanya hati yang tersakiti dalam diri kalian masing-masing aku mohon!"
"Dan untuk Kak Bagas sendiri, bukankah kakak sendiri sudah janji kalau kak Bagas tidak akan pernah menangis lagi tapi kenapa kak Bagas sekarang mengingkarinya? Usap air mata kak Bagas, laki-laki kalau nangis akan terlihat Cengeng, jadi hapuslah!"tak banyak yang Bagas katakan selain dirinya hanya terdiam, beralih Bintang meraba-raba sesuatu untuk mencari dimana keberadaan Mama mertuanya, setelah dapat ia menggenggam erat tangan mertuanya yang sedari tadi nampak terdiam.
"Ma? Apa yang aku lakukan ini benar? Apa aku tidak egois karena melakukan semua ini? Apa aku egois membiarkan suamiku menikah lagi untuk melanjutkan kebahagiaannya?"
"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang, yang kamu lakukan ini sangatlah benar, dan kamu juga tidak pernah egois. Jika mama ada diposisi kamu, Mama juga akan melakukan hal yang sama, jadi jangan menangis! Usap air mata kamu!"mengusap air mata Bintang keduanya sama-sama tak mampu membendung air mata tersebut.
"Dan kamu Bagas penghulu dan para tamu sudah pada datang, jadi kamu harus bersiap-siap sekarang, dan ingat jangan menangis lagi ya, Bintang juga gak akan suka jika melihat kamu menangis seperti ini. Jadi usap lah."
__ADS_1
"Baik ma, terima kasih karena mama sudah selalu ada di sampingku, terima kasih?"ucap Bagas sambil memeluk mamanya.
"Ya sudah, sudah waktunya untuk melakukan ijab kabul, jadi bersiaplah!"
"Baik ma!"
"Apa ijab kabulnya sudah bisa dilakukan sekarang, apa para mempelai juga sudah siap?"tanya penghulu.
"Iya kita semua sudah siap pak!"jawab Bintang dengan semangatnya.
"Baik mari kita mulai ijab kabulnya sekarang!"
Belum juga ijab kabul dilakukan, tubuh Bintang tiba-tiba jadi gemetaran, keringat Bintang yang tiba-tiba keluar sejagung-jagung, bahkan wajah Bintang yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi agak memucat setelah dia mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dirinya.
Pandangan mata juga mulai rabun, bahkan Bintang rasanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan kata apapun, melihat Bintang yang sedari tadi terdiam, Bagas dan orang-orang yang lainnya pun terkejut setelah melihat kondisi Bintang yang mulai drop.
"Bin! Kamu kenapa?" tanya Bagas cemas.
"Aku tidak apa-apa!"jawab Bintang dengan agak telat.
"Ah!" ucap Bintang yang menahan rasa sakit. Tak mampu menahan dirinya, yang akhirnya membuat dirinya pun jatuh dipangkuan Bagas.
"Bin wajah kamu sangat pucat lebih baik kita tunda pernikahan ini?"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya, aku mohon cepat lakukan ijab kabul sekarang!"ucapnya bersamaan dengan suara yang mulai patah-patah.
"Tidak Bin kondisi kamu memburuk aku tidak bisa lakukan ini?"
"Aku mohon?"ucapnya bersamaan dengan rintihan sakitnya.
"Baiklah!"
__ADS_1
BERSAMBUNG.