
Masih ditempat yang sama, Anindya yang saat ini berjalan seorang diri dirinya mulai kesal rencana makan siangnya telah gagal.
"Sial! Kenapa harus ada Bintang segala kan gagal deh sekarang, tapi ngomong-ngomong balon itu siapa yang memberikan pada Bintang?"
"Aku!"sahutan seseorang yang memalingkan pandangannya pada arah suara tersebut, pandangan mata yang tertuju arah tepat ke depan dirinya tak percaya dengan siapa ia berhadapan.
"Ba ...Bagas kamu?"
"Kenapa? Apa kamu terkejut melihatku sekarang!"Perlahan dirinya mulai menghampiri Anindya.
"Tunggu! Kamu kenapa bisa ada disini?"tanya Anindya lagi dengan ekpresi tidak percayanya.
__ADS_1
"Harusnya aku yang tanya kenapa kamu bisa ada disini? Aku melihat kalian tadi sedang berjalan berdua, aku juga lihat kedekatan kalian sepertinya berbeda jika disebut dengan sebutan teman kalian tidak ada hubungan yang lebih serius kan?"
"Kenapa pertanyaan kamu jadi aneh gitu kamu menuduh kami selingkuh?"
"Bukannya menuduh tapi apa salah aku menuduh jika orang yang sering berduaan memang tidak ada hubungan yang spesial?"
"Kamu jangan gila! Bintang sahabatku mana mungkin aku akan tega mengkhianatinya dan soal kami? Kami berdua jalan bareng karena kami hanya rekan kerja, aku Sekretaris Samudra jadi apa salah jika kita jalan bersama disaat ingin makan siang?"
"Sekretaris? Samudra menjadikan kamu sekretarisnya wah sangat hebat ternyata lelaki brengsek itu?"
"Pergi atau pun tidak itu urusanku! Aku rasa kamu juga tidak perlu mengikutkan campurkan urusanku! Baiklah jika kamu hanyalah Sekretarisnya setidaknya kalian tidak akan ada bau-bau cinta pertama belum kelar kan?"ucapnya lagi seakan-akan tau perbuatan keduanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu mengatakan cinta lama belum kelar?"
"Anindya? Kamu pikir aku bodoh! Aku tau lagi kalau kamu itu sejak SMA sudah mengagumi laki-laki bernama Samudra Putra Alvario itu kan? Biarpun Bintang tidak tau perasaan kamu aku tau lagi dan sekarang aku pertegaskan ke kamu! Berani kamu menghancurkan kebahagiannya kamu akan menyesal paham!" Mencengkram rahang Anindya dengan kasar yang saat itu juga Anindya menghempaskan tangan Bagas darinya.
"Oh jadi ini ceritanya kamu lagi mengancam-ku? Kamu pikir aku akan takut! Jika dibilang soal cinta pertama belum kelar bukannya yang mengalami itu bukan hanya aku! Tapi kamu sendiri juga sepertiku kan? Kamu mencintai Bintang yang selama ini telah kamu anggap sudah seperti Adik kandung kamu sendiri, namun nyatanya perasaan itu tidak bisa diartikan sekaligus rasa sayang yang kamu tunjukkan akhirnya secara perlahan mampu berubah menjadi rasa cinta dan ketulusan untuk memilikinya itu kan maksud kamu? Aku tau lagi kedekatan kalian yang katanya hanya sebatas Adik dan Kakak itu sangatlah berbeda! Menunjukkan perhatian kamu yang menurutku sangat berlebihan itu sudah menunjukkan jika kamu itu sangat mengagumi akan sosok Bintang tapi yang membuatku penasaran apa membuatmu kembali? Apa kamu sungguh-sungguh berencana ingin merebut Bintang dari Samudra?"
" Tujuanku kembali bukan untuk mengejar hati wanita yang aku cintai? Tahun sudah berlalu biarpun dulu aku sangat mencintainya hatiku sudah cukup mampu melupakannya. Dan kamu? Apa kamu sendiri masih mencintainya dan berniat ingin merebut Samudra dari sahabat terbaik kamu sendiri?"
"Aku tidak perduli apa yang kamu katakan yang terpenting aku tidak ada maksud seperti itu aku cukup lega! Aku cukup lega karena semua perkataan yang kamu katakan sama sekali tidak ada benarnya jadi paham kan sekarang?"
"Biarpun kamu masih sulit untuk mengakui perbuatan kamu! Yakinlah Tuhan tidak pernah tidur, kali ini kamu masih bisa berbohong tapi lihatlah karma tidak akan lama juga akan kamu dapatkan, kamu cantik kamu juga pintar kenapa kamu harus mengejar satu Pria yang jelas-jelas sudah beristri? Bahkan Pria itu sudah jadi Suami dari sahabat kamu sendiri jika kamu bisa diluar masih banyak lelaki yang menunggumu jadi sebagai teman yang pernah akrab aku sarankan kamu lupakan dia dan jauhi kehidupan Samudra atau pun Bintang hanya itu saranku!"
__ADS_1
Dirinya lantas beranjak pergi dari hadapan wanita itu, merasa ucapan yang dikatakan Bagas adalah ancaman untuknya, rasa panik akhirnya dia rasa, takut jika hubungan gelapnya bersama selingkuhan dari sahabatnya sendiri akan terbongkar kecemasannya mulai menjadi.
BERSAMBUNG