PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA

PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA
Bab 44." Memutuskan Bercerai."


__ADS_3

Setibanya didepan ruangan Samudra, Bintang langsung menerobos masuk tanpa mengetuknya terlebih-lebih dulu. Ia melihat lelaki itu sedang duduk dikursi kebesarannya. Pandangan Samudra yang sedari tadi fokus menatap layar laptop, kini teralihkan pada pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka. Dengan bersamaan hadirnya seseorang yang datang dan membuatnya terkejut begitu melihat siapa yang datang.


"Bintang!"


"Bintang kamu kembali lagi sayang? Kamu akhirnya benar-benar takut akan ancaman ku tadi?"


"Sudahlah jangan berpura-pura baik padaku. Aku datang kesini hanya untuk memberikan ini, cepat bacalah," ucapnya yang dengan bersamaan Bintang pun melempar beberapa lembar surat tepat dihadapannya.


"Apa ini? Apa maksud kamu memberikan surat perceraian ini, bukannya aku udah bilang kalau aku tidak mau menceraikan kamu apa kamu lupa dengan perkataan ku kemaren. Aku pertegaskan ke kamu aku tidak akan pernah menanda tangani surat ini apa kamu paham," balasnya yang dengan sengaja Samudra langsung merobeknya hingga menjadi beberapa bagian dan melemparkannya ke udara.


Melihat tindakan apa yang barusan dilakukan Samudra. Bintang yang melihatnya ia hanya memberikan tatapan sinisnya sekaligus tawanya.


"Aku sadar ternyata aku selama ini terlalu bodoh karena percaya akan semua perkataan manismu itu! Aku bodoh karena dengan gampangnya aku percaya mulut bajingan seperti anda! Baiklah jika kali ini kamu tidak mau menanda tanganinya aku akan datang kembali dan pastinya aku yang memaksa mu untuk menanda tangani surat ini paham!"


"Tidak Bintang! Kamu tidak bisa melakukan ini semua padaku tidak bisa! Aku mohon beri aku kesempatan kedua aku mohon!"


"Memberikan kesempatan kedua bagi orang yang otaknya sudah rusak seperti anda? Berani berbuat maka itu artinya anda sudah menikmatinya bahkan berkata ingin menikahinya kenapa sekarang anda tidak menunjukkan pertangungjawaban anda itu?"


"Diam! Disini aku tidak ada urusan dengan anda! Anda hanya pria asing yang hanya menganggapnya sebagai adik jadi jangan pernah anda ikut campur urusan kami paham!"

__ADS_1


"Aku memang bukan siapa-siapanya Bintang tapi itu dulu! Sekarang aku sudah punya tanggung jawab untuk menjaganya belum lagi kita sudah menikah maka itu sudah sepenuhnya Bintang menjadi tangung jawab ku sekarang!"


Wajah terkejutnya menyulut sesaat dirinya mendengar langsung pernyataan Bagas barusan, menarik kera kemeja Bagas emosinya kembali memuncak.


"Menikah? Apa maksud kamu berkata kalian sudah menikah?"


"Iya aku dan kak Bagas kita memang sudah menikah, biarpun Pernikahan kamu hanya atas dasar salah faham aku akan melakukan tugasku menjadi seorang Istri, kami yakin kita bisa menghadapi ini semua dan Jika anak kita lahir kak Bagas juga tidak masalah jika dia harus menjadi Ayah pengganti!"


"Gila! Jadi kamu telah mengkhianati ku?"


"Kenapa juga kamu harus terkejut jika Bintang menghianatimu? Bukankah selama ini kamu juga sudah mengkhianatinya? Memiliki anak dari wanita lain apa salah kamu bilang kamu dikhianati jika pada kenyataannya kamu sendiri juga telah mengkhianatinya lebih dalam lagi!"


"Sudahlah kita tidak perlu meributkan masalah yang sudah terjadi, tujuanku kemari aku hanya mengantarkan surat ini jadi tanda tangani lah!"


Keduanya bergegas keluar dan membanting pintu dengan keras membuat Samudra terhenti dan tidak bisa mengelak lagi.


Seberapa besar aku berusaha tetap tenang dan berlagak kuat dihadapannya, nyatanya aku tidak sesangup itu memendam rasa sakit ini. Bagiku apa yang ia katakan tadi tidak sebanding dengan rasa kecewa dan rasa sakit yang pernah ia lakukan kepadaku. Jadi biar pun kamu sudah berubah mau pun bisa mencintaiku aku tidak akan pernah akan tertarik lagi dengan semua godaan itu. Apalagi menyadari nyawaku tidaklah panjang lagi aku harus benar-benar pintar membedakan mana yang bohong dan mana yang palsu.


Melangkah tanpa terhenti dari langkahnya. Tiba-tiba seseorang lagi-lagi datang dan memanggilnya, seseorang itu terlebih dulu menghampiri tak lupa pelukan hangat wanita itu berikan namun belum sepenuhnya merasakan Bintang terlebih dulu melepaskannya.

__ADS_1


"Apa yang mau kamu katakan?"Hanya memberikan tatapan sinis, Anindya menggenggam erat tangan sahabatnya namun lagi-lagi Bintang melepaskannya.


"Bintang aku tau aku salah! Aku memang tidak pantas untuk dimaafkan tapi aku mohon! Aku mohon jangan abaikan aku seperti ini aku mohon?"


"Setiap manusia memang pada dasarnya banyak kesalahan yang telah diperbuat. Aku mengabaikan mu agar kamu merasakan gimana rasanya diabaikan oleh seseorang yang sangat anda sayangi. Aku berlagak seperti ini aku hanya kecewa seseorang yang sudah aku anggap kakak nyatanya mampu menikung ku sampai sejauh ini, jadi untuk kali aku aku juga mohon! Aku mohon jangan pernah ganggu aku lagi aku mohon!"


"Tidak Bintang aku tidak akan pernah membiarkan kamu mengabaikan aku lagi! Aku tau aku salah terserah apa yang ingin kamu lakukan asal aku mohon jangan abaikan aku! Jangan benci aku seperti ini aku mohon!"


"Anindya yang dikatakan Bintang memang benar! Kali ini ijinkan dia untuk sendiri jadi mengertilah!"timpal Bagas mencoba memberikan penjelasan pada Anindya. Kembali melepaskan genggaman tangannya Bintang lalu pergi dari pandangan Anindya, Anindya yang hendak akan menyusul langkahnya dihalangi oleh Bagas.


"Aku mohon jangan! Berikan dia untuk sendiri dia butuh waktu, ijinkan aku untuk menjelaskan semuanya pada Bintang aku mohon?"


"Baiklah kali ini aku serahkan semuanya padamu Gas! Aku menyesal telah melakukan ini semua, tapi bukan hanya Bintang aku juga korban dari keegoisan Samudra jadi aku mohon buat Bintang mengerti untuk jangan membenciku aku mohon?"


"Kamu tenang saja sebisa mungkin aku akan mencoba mempersatukan persahabatan kalian, tapi berikan aku waktu!"


"Baiklah!"


"Aku pergi dulu!"

__ADS_1


"Baiklah!"


BERSAMBUNG.


__ADS_2