
Seseorang yang dalam kondisi sudah tidak berdaya terbaring lemas dengan wajah yang sangat pucat. Dan beberapa selang yang sudah tertempel pada tubuh seseorang itu sendiri.
Air matanya tidak berhenti mengalir mengingat akan kejadian dan perilaku yang selama ini dilakukan Bagas nyatanya tak sebanding dengan perasaan hancur yang ia rasakan saat ini.
Raut wajah pucat terlihat jelas nampak dari wajah Bintang. Biar pun kedua mata yang sudah terpejam ia masih terlihat sangatlah cantik.
Kembali melangkahkan kakinya dan tepat disamping Bintang terbaring. Bagas dengan langsung ia menggenggam erat tangan Bintang, kelopak matanya yang kembali terbuka dengan secara perlahan-lahan akhirnya telah menyadarkan dirinya.
"Aku tadi merasa ada seseorang yang sedang menggenggam erat tanganku tapi kenapa disini nampaknya tidak ada satu orang pun apa aku hanya berhalusinasi?"ucapnya tapi tak ada suara yang menyahutnya sedangkan Bagas yang berusaha sekuat hatinya ia memendam air matanya agar tidak terdengar oleh Bintang sendiri.
Suster yang berniat ingin memeriksa pasien, ia memasuki ruangan Bintang dan melihat seseorang yang sudah berada disana bersamaan air mata yang ia sembunyikan. Berniat ingin mengatakan sesuatu Bagas yang melarangnya ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Siapa itu apa ada seseorang yang datang?"tanya Bintang beralih pandangan Suster menghadapnya.
"Iya ada kenapa? Ini dengan saya sendiri?"ucap suster balik.
"Apakah selain Suster ada seseorang lain yang berada disini?"tanya Bintang, tapi Suster yang memandang Bagas, Bagas lagi-lagi melarangnya.
"Saya masih ada disini kok, saya hanya merasa bingung dengan pertanyaan anda? Disini hanya ada kita maksudnya hanya ada saya dan juga anda sendiri jadi bagaimana mungkin anda bisa bertanya apa disini ada orang?"
"Soalnya tadi saya merasakan ada seseorang yang menggenggam tangan saya, tapi saya cukup lega jika hanya Suster yang berada disini. Oh iya Sus jika ada seorang pria lain yang datang kesini kecuali kedua teman wanita saya, saya mohon tolong Suster mau pun Dokter jangan pernah mengijinkannya untuk masuk karena saya tidak ingin ia melihat kondisiku?"
"Kenapa anda melarang-ku untuk tidak mengizinkan pria yang anda maksud itu untuk jangan masuk? Jika ada hal penting yang ingin ia sampaikan atau pun seseorang itu sangat rindu dengan anda apa aku harus melarangnya?"
"Ada hal yang sangat penting yang tidak bisa aku ceritakan pada Suster, dia hanyalah pria yang malang dan selalu menderita jika bersama dengan saya jadi saya tidak mau akan terus-menerus menjadi beban baginya jadi Suster paham kan?"
"Baiklah saya akan mematuhi perintah anda, saya sudah memeriksa kondisi anda dan kondisi anda cukup membaik jadi besok anda sudah boleh pulang."
"Baiklah sus sekali lagi terima kasih."
__ADS_1
"Iya sama-sama mari saya tingal dulu."
"Baiklah."
"Ya sudah karena saya sudah memeriksa kondisi anda saya pamit permisi,"ucapnya.
"Baik Sus,"balas Bintang.
"Baiklah, sebenarnya aku yang merasa sedang berhalusinasi atau memang aku yang sedang merasakan jika memang ada seseorang di sampingku ini?"
"Kamu memang tidak lagi berhalusinasi, tapi aku memang ada di-sampingmu?"timpal Bagas yang spontan membuat pandangan Bintang beralih padanya.
"Kak Bagas? Kamu ngapain ada disini? Sejak kapan kamu disini?"
"Apa kamu merasa pusing sekarang. Apa kamu capek? Apa kamu merasakan sakit saat ini," tanyanya yang terus berkata tanpa terhenti.
"Berhenti Bintang! Berhenti! Kamu sekarang sudah tidak perlu lagi berusaha untuk membohongi aku, kamu juga sudah tidak perlu lagi untuk berakting lagi didepan-ku Karena aku sudah mengetahui semuanya?"
Sedangkan Bintang pun terkejut mendengar ucapan Bagas barusan.
"Apa? Jadi kamu sudah mengetahui semuanya? Jadi kamu sudah tau tentang kondisiku saat ini jika aku buta?"
"Iya aku sudah mengetahui semuanya."
"Terus apa yang kamu lakukan disini. Kamu sudah mengetahui semuanya terus kenapa kamu tidak mencari wanita lain yang lebih cantik dan lebih sempurna dan tidak penyakit'an seperti-ku! Kenapa?"
Tanpa berkata sepatah kata lagi, Bagas yang mendengar ucapan Bintang ia pun memberikan satu tamparan pelan padanya.
"Tega sekali kamu! Kamu pikir aku Laki-laki yang matre karena hanya butuh disaat senang saja. Apa kamu pikir dengan aku tahu kondisi kamu yang lemah ini. Aku akan ninggalin kamu dan mencari wanita yang lebih cantik dari kamu! Apa itu yang ada dipikiran kamu. Baiklah jika itu yang ada dipikiran kamu dan yang kamu inginkan ...aku akan pergi ninggalin kamu!"
__ADS_1
Niatnya yang selangkah akan pergi meninggalkannya, Bintang dengan sigap langsung turun dari tempat ia terbaring, tapi belum juga ia bisa meraih tangan Bagas tubuhnya terlebih dulu jatuh alhasil Bagas yang berniat akan pergi seketika langsung menghampirinya.
"Aku mohon tolong kamu jangan tinggalkan aku lagi aku mohon Kak! Aku harap kak bagas mau memaafkan ku atas perbuatan dan perilaku yang selama ini aku telah lakukan sama kak Bagas. Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan kondisiku yang lemah ini, maafkan aku! Maafkan aku!"
"Aku tahu aku juga mengerti dengan keadaan yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu harus tahu kalau kamu tidak sendirian. Aku akan selalu ada disamping kamu, aku tidak perduli jika kondisi kamu seperti ini aku tidak perduli karena yang aku pikirkan sekarang aku hanya mencintaimu aku tidak mau meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini, aku tidak mau!"
"Terima kasih Kak, terima kasih karena kamu sudah mengerti dengan kondisi ku saat ini terima kasih," balas Bintang yang kemudian ia memeluk Bagas lagi.
Berdiri didepan jendela raut wajah Bintang yang tadinya terlihat murung memikirkan banyak masalah yang sedang ia hadapi seketika raut wajah berubah setelah ia merasakan jika ada sentuhan kedua lengan kokoh yang melingkari tubuhnya dari belakang. Dekapannya sangat erat. Kemudian dengan perlahan ia memutar tubuh Bintang, menatapnya sejenak, dan kembali mendekapnya ke dalam pelukannya.
Menyadari dan mengingat aroma parfum laki-laki tersebut ia tahu siapa seseorang yang berani memeluknya.
"Kak Bagas apa ini kamu?" tanyanya yang kemudian Bagas pun menjawab.
"Ternyata biar pun selama ini kamu tidak mencintaiku, nyatanya kamu mengenali aroma parfum kesukaanku," ledeknya yang kemudian membuat Bintang bisa tersenyum.
"Aku bahagia Bintang. Aku sangat bahagia akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum seperti ini. Tuhan apa kamu benar-benar tega kepada hamba dan tega memisahkan kami berdua dengan cara seperti ini. Hamba akui hamba masih punya banyak dosa bahkan sangat sulit untuk dimaafkan kan. Tapi hamba mohon sebelum dia pergi meninggalkan hamba, hamba mohon tolong berilah dia kesempatan yang kedua kalinya agar hamba bisa menebus semua kesalahan hamba lakukan padanya hamba mohon!"
Batin yang terus berkata tanpa henti. Menatap wajahnya secara diam-diam hinga jatuhlah air mata yang sedari tadi telah ia tahan. Tanpa sadar buliran air mata itu tepat mengenai telapak tangan Bintang yang membuatnya tersadar. Berlalu ia meraba-raba wajah dan menghapus air mata tersebut.
"Aku tahu kenyataan ini sangatlah pahit tapi sadarlah biar pun kak Bagas menangis itu yang ada akan tambah membuatmu terluka. Jadi usap lah air mata kak Bagas, hidupku sudah tidak lama lagi bahkan kapan dan dimana aja Tuhan bisa mengambil nyawaku dan sebelum semua itu terjadi aku ingin mulai sekarang hari-hari ku dipenuhi dengan kebahagiaan jadi bisakah kamu kabulkan permintaan aku ini. Bisakah kamu membantuku untuk janganlah menangis karena aku tidak mau diantara kita ada yang menangis lagi jadi kamu bersedia kan?"
"Iya aku bersedia mengabulkan permintaan kamu, tapi sebelum itu aku ada kejutan untukmu. Aku ingin kamu ikut aku sekarang,"ajaknya yang kemudian Bagas membopong tubuh Bintang.
"Kamu mau bawa aku kemana?"
"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu," balasnya dengan tersenyum.
BERSAMBUNG.
__ADS_1