
Langkahnya mulai pergi menjauh dari kediaman Mamanya, serasa tidak dipedulikan dirinya pergi tanpa ada langkah Mamanya yang berniat menghalanginya.
Aku sadar ternyata kemewahan dengan mudah mampu merubah sifat seseorang dalam sekejab? Aku sangat tidak menyangka jika Mama akan berubah secepat ini? Hanya karena suamiku pengusaha Mama beranggapan jika semua yang Suamiku punya sudah otomatis akan jadi milikku, itu semua sungguhlah tidak benar! Aku rasa semua itu tidak akan pernah terjadi!"
Dan penyakitku? Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya apa aku akan kalah dengan penyakitku ini? Aku takut jika waktunya tiba nanti aku sungguh-sungguh akan kalah dengan penyakitku ini? Aku takut jika tiba ajalku nanti masih banyak dosa yang aku perbuat dan akan menjerumuskan aku ke dalam panasnya api neraka itu aku takut? Aku takut?"
Meratapi nasibnya seorang diri, menatap langit yang berselimut mendung nyatanya telah mendukung akan suasana sunyi lan sepi yang dirasakan gadis berwajah cantik lan manis itu.
Sedih yang dirasa wanita cantik itu, namun siapa sangka dari jarak kejauhan terdapat seorang Pria berjas hitam yang terus saja memperhatikannya dengan teliti, dari raut wajah Pria tampan itu terlihat mencemaskannya, namun kecemasan yang dirasakan masih belum mampu melawan gengsi dan ego dari Pria tersebut.
Pria tampan yang tak lain ialah Bagas, dirinya terlihat sangat mengkhawatirkannya belum lagi mimisan yang waktu itu menambah rasa kecemasan itu dalam diri pria tersebut.
"Apa yang dilakukan Bintang disini? Dia punya Rumah apa dia tidak bisa nangis dirumah saja? Apa dia menangis ditempat umum seperti ini karena ini semua ulah dari Samudera? Apa Pria itu yang telah membuat dirinya menangis seperti ini?"
Melihat tukang balon yang melintas didepannya, bersamaan dengan 20 balon yang masih belum terjual spontan Bagas menghentikannya.
"Apa mas? Apa mas serius ingin memborong balon ini?"tanya si tukang balon.
"Iya Pak saya sungguh-sungguh akan pemborongnya berapa semuanya pak?"
"Berhubung mas memborong nya saya kasih 50 ribu saja mas?"
"Baiklah ini, kembaliannya buat bapak aja ya?"
"Iya Mas sekali lagi terima kasih! Terima kasih!"
"Iya sama-sama Pak, tapi sebelum itu apa Bapak bisa bantu saya memberikan semua balon ini pada wanita yang duduk di-kursi taman itu?"
__ADS_1
"Baik mas saya akan memberikan nya."
"Sekali lagi terima kasih!"
"Iya sama-sama mas, saya juga sangat berterima kasih mari!"
"Silahkan!"
"Aku memang tidak tau apa permasalahan kamu Bin? Tapi aku tidak lupa jika aku juga pernah kenal denganmu, mungkin dengan bantuan balon kesukaan kamu, tindakan ini akan mampu membuat dirimu kembali tersenyum?"
Air matanya yang terus saja terjatuh, tak berselang lama seorang Pria datang dengan membawa banyak balon. Memintanya untuk menerimanya namun dalam hatinya bertanya-tanya dari manakah ini?"
"Maaf pak saya tidak memesan balon?"
"Saya tau non, tapi ini atas permintaan seseorang? Tadi ada seorang Pria tampan berjas hitam yang memborong ini semua untuk Nona, jadi terimalah dia sudah membayarnya jadi mohon terimalah!"
"Tadi ada diarah barat Non? Mungkin dia sedang bersembunyi dan hanya memperhatikan nona dari kejauhan?"
"Baiklah kalau gitu pak sekali lagi terima kasih!"
"Iya sama-sama non ya sudah saya tingal dulu!"
"Baik Pak!"
"Pak balon itu berkata jika ada seseorang yang menyuruhnya untuk memberikan balon ini tapi siapa? Apa seseorang itu Samudra? Apa dia ada disini?"
Dirinya mulai mencari dan pergi kearah barat mencari seseorang yang telah memberikan balon ini untuknya. Pandangannya melirik kesemua penjuru arah, arah kiri mau pun kanan namun dirinya tidak mendapatkan bukti siapa seseorang itu. Bahkan Pria berjas hitam tak kunjung ia temukan dihadapannya.
__ADS_1
Pandangannya dikejutkan setelah tidak sengaja melihat samudra dan Anindya yang sedang jalan bersama
"Samudra ada disini? Dia juga mengenakan jas hitam jadi dia yang memberikan balon ini?" Berlari kearahnya sekejab ia memeluk Samudra, Samudra yang terkejut tidak kepayang dia mau pun Anindya sendiri tidak menyangka dengan kedatangan bintang sekarang.
"Bintang kamu?'
"Sayang terima kasih sudah memberikan kejutan ini? Kamu tau aja kalau aku lagi sedih sekali lagi terima kasih!"
"Apa maksud dia? Soal kejutan? Kejutan apa yang Bintang maksud apa balon yang dibawanya?"
"Sayang kamu kenapa diam?"
"Kamu kenapa bisa tau aja kalau memang aku yang memberikan balon ini? Tadinya aku dan Anindya mau memberikan kamu kejutan lain tapi karena kamu sudah keduluan sadar ya mau gimana lagi?"
"Baiklah karena kamu sudah sadar akan kejutan ini aku pamit cabut ya? Kalian habiskan waktu berdua biar aku yang pergi sekarang selamat bersenang-senang?"
"Kamu memang harus pergi agar tidak menganggu kita cepat pergilah!"
"Baiklah aku akan pergi, Bintang aku cabut dulu ya?"
"Iya An kamu berhati-hatilah!"
"Iya Bintang."
"Ya sudah kalau gitu kita pergi ya aku mau membawa kamu ke suatu tempat? Kita kan tidak pernah jalan-jalan lagi jadi bersedia kan?"
"Baiklah kemana pun kamu pergi aku akan mengikuti mu,"ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG.