
"Apa ini kak Bagas?"
"Iya, ini aku Bin, aku akan selalu ada di sampingmu jadi janganlah cemas ya?"Bersamaan tangan Bagas yang membelai lembut pucuk rambut Bintang.
"Pokoknya mulai sekarang kak Bagas tidak boleh tinggalkan aku! Aku ingin kak Bagas tetap disini jadi aku mohon jangan pernah tinggalkan aku ya?"Tak ingin melepaskan genggaman tangannya dan dirinya lebih memilih mempererat genggaman tersebut.
"Ada apa? Apa yang membuatmu jadi penakut seperti ini? Bukankah dulu kamu itu wanita yang dibilang sangat pemberani dan tidak ada rasa takut sekali pun, tapi kenapa sekarang kamu malah jadi penakut seperti ini?"
"Kakak juga tau umurku tidak lagi lama? Bahkan kapanpun Tuhan mampu menjemput nyawaku, jadi aku ingin kak Bagas selalu ada di sisiku sebagai penjagaan jika sewaktu-waktu aku pergi kak Bagas bisa menuntunku pembaca lafal syahadat dan juga membacakan aku surat Yasin jika aku pergi nanti, jadi kak Bagas bersedia kan?"Tak sadar air matanya perlahan jatuh, dengan menahannya Bagas berpura-pura bersikap tegar.
"Apa sekarang kamu sungguh-sungguh sudah putus asa dengan penyakit yang kamu alami saat ini? Kamu sudah tidak ada perjuangan untuk bertahan hidup demi orang-orang yang menyayangimu? Setidaknya jika kamu tidak kasihan padaku lihatlah Mama kamu dia juga butuh kamu Bin! Dia sangat membutuhkan kamu?" Mendengar ucapan Bagas, terlihat wajah sedih Bintang nampak terlihat jelas.
__ADS_1
"Kak Bagas salah! Kak Bagas sendiri juga tau seperti apa perilaku Mama kepadaku saat ini? Jadi untuk apa aku harus mengingatnya bahkan melihat keadaan ku seperti ini aku rasa Mama juga tidak akan perduli!"
"Apa kamu sungguh yakin dengan perkataan kamu itu? Apa kamu sungguh yakin jika kamu pergi Mama kamu akan senang bahkan bahagia jika melihat Putri kesayangannya seperti ini? Yakinlah perubahan seseorang pasti ada penyebab dan pastinya setiap ada perubahan, pasti ada jalan keluar bagi seseorang untuk bisa berubah jadi yakinlah Mama kamu sangat membutuhkan kamu yakinlah!"
Langkah kaki seseorang perlahan-lahan mulai menghampirinya. Menatap sesosok wanita bersama seorang Pria, pria itu mengalihkan pandangannya lalu ia mengijinkan wanita itu untuk bertukar tempat, sengaja menggenggam erat tangan keduanya, dengan berderai air mata yang sulit terbendung.
"Sekarang pertanyaanku apa kamu tidak ingin melihat Mama kamu?"
"Melihat kondisiku yang seperti ini aku takut Mama akan tambah sedih, jadi alangkah baiknya aku tidak memberitahu Mama jika kondisiku sudah seperti ini. Aku lebih baik menahan semuanya asal aku tidak melihat air mata Mama sampai tumpah hanya gara-gara menangisi kepergian ku?"
"Karena se'benci-bencinya seorang Ibu hatinya masih menyimpan perasaan tidak tega pada putrinya, jika dulunya Mama sama sekali tidak peduli padaku bisa jadi suatu saat nanti Mama berubah dan menyesal atas semua yang sudah terjadi?"
__ADS_1
"Iya yang kamu katakan memanglah benar, baiklah jika kamu tidak mau bertemu dengan Mama kamu apa kamu sungguh-sungguh tidak ingin mendengar suaranya? Setidaknya itu hanya bisa lewat handphone kamu bersedia?"
"Tidak mau kak! Aku tidak mau mendengar suara Mama, aku orangnya mudah menangis, aku tidak mau mendengar suara Mama biarpun aku sangat menginginkannya kali ini aku tidak mau jadi jangan paksa aku, aku mohon!"
"Baiklah jika kamu belumlah siap aku tidak masalah, baiklah kamu beristirahatlah!"
"Kamu tenang saja aku akan selalu ada disini kok!"
Tanpa sadar tangan mungilnya masih menggenggam erat tangan Mamanya yang sedari tadi telah setia mendampinginya. Berlalu Bintang mengajukan permintaan, beralih pandangan Bagas pun berbalik menatapnya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu sama kak Bagas lagi?"tanya Bintang.
__ADS_1
"Bertanya? Bertanya soal apa lagi?" tanya balik Bagas.
BERSAMBUNG.