PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA

PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA
Bab 46." Apa yang akan terjadi."


__ADS_3

Melihat orang yang sangat disayanginya sudah jatuh ketangan pria lain, hatinya serasa mendidih mencoba bertahan namun apa yang sudah terjadi tidak mungkin berbalik seperti sedia kala.


Dengan segera ia pun masuk kedalam mobilnya yang berlalu ia mulai melajukan lagi laju kendaraannya. Berada didalam mobil, Samudra pun terlihat gusar. Ia mencengkram kemudinya dengan sangat erat. Tatapannya pun tak henti-hentinya menunjukkan wajah geramnya baru aja ia melihat jika Bintang sama sekali tidak mau memaafkannya.


Bahkan melihat wanita yang disayanginya sudah membuka hati untuk laki-laki lain membuatnya semakin memanas. Akan tetapi bukanlah Samudra namanya kalau dia tidak akan berjuang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Hatinya terasa panas. Darah dikepalanya seakan akan mendidih, bahkan raut wajahnya tidak bisa lagi dibohongi. Teringat akan apa yang telah ia lakukan selama ini membuatnya sadar jika apa yang dilakukan Bintang memang sangatlah benar, di dunia tidak ada seorang Wanita yang akan diam ketika harga dirinya selalu diinjak-injak oleh Suaminya.


Akan tetapi bodohnya Samudra karena ia baru menyadarinya sekarang sesaat semuanya sudahlah menjadi bubur. Rasa kecewa dan rasa sakit yang sudah terlanjur tertanam didalam hati Bintang membuatnya engan untuk mengucapkan kata maaf.


"Aku tidak akan menyerah. Aku akan mendapatkan mu kembali Bintang. Kamu hanya akan menjadi milikku. Selain Samudra aku pastikan tidak ada ada orang yang akan bisa memilikimu tidak akan bisa," gumam Samudra dengan tatapan sinisnya.


Mengambil ponsel dirinya lantas menghubungi salah satu nomor yang tertera, setelah tersambung dan berbincang-bincang, ekspresinya telah membuktikan jika ada sesuatu lain yang telah ia rencanakan.


Berdiri seorang diri di halte, pandangannya fokus kanan kiri berharap ada angkutan umum yang lewat, tak berapa lama kehadiran salah satu pengendara mobil hitam keluar, merasa ada yang ganjal dirinya mencoba berteriak namun keduluan tindakan pukulan yang telah salah satu pria itu lakukan, tubuhnya yang melemah spontan keduanya memasukkannya kedalam mobil.


Mata yang sipit mulai menunjukkan akan tanda-tanda kesadaran, arah samping terdapat dua pria yang telah menculiknya tadi, salah satu Pria mulai menampakkan diri dari depan tempat duduk samping supir.


"Samudra? Jadi ini semua rencana kamu? Orang-orang ini kamu yang sudah menyuruh mereka untuk menculik-ku?"tanya Bintang dengan wajah tidak percayanya.


"Iya memang aku dalang dibalik semua ini. Apa kamu tahu kenapa aku melakukan semua ini?"tanya balik Samudra dengan wajah sinisnya.


"Apa mau kamu sebenarnya dan apa alasan kenapa kamu sampai nekat menculik-ku dengan cara seperti ini, lepaskan aku! Aku ingin pergi lepaskan aku!" ucapnya yang berniat akan pergi, tapi langkahnya terhenti setelah Samudra yang menghalanginya dengan kasar.


Menarik tangan Bintang dengan cukup keras. Mencengkram kedua pergelangan Bintang , Samudra tidak akan pernah membiarkan jika Bintang sampai berhasil kabur sebelum ia berhasil menyelesaikan sebuah rencana licik yang sudah ia siapkan sejak sedari awal.


"Apa mau kamu kenapa kamu menghalangiku, lepaskan aku! Lepaskan aku!" gertak Bintang tapi tak dihiraukannya.


"Berikan botol itu?"pinta Samudra dengan tatapan tajamnya yang terus saja menatap Bintang dengan sinisnya.


"Ini tuan!" ucap seseorang itu dengan membawa cairan hitam dalam botol plastik pada Samudra, segera Samudra pun mengambilnya.

__ADS_1


"Minumlah," pinta Samudra dengan memberikan botol tersebut pada Bintang.


"Apa itu kamu tidak lagi merencanakan sesuatu kan?"tanya Bintang yang nampak ketakutan.


"Sudahlah ayo minum apa susahnya tingal minum aja ayo cepat minum," pintanya dengan memaksa.


"Tidak aku tidak mau meminumnya sebelum kamu kasih tahu minuman apa itu? Apa itu minuman buat mengugurkan kandungan?"


"Sangat pintar!"


"Tidak aku tidak mau meminum itu jika kamu ingin minum, minum sendiri saja aku tidak mau lepaskan aku! Lepaskan aku!"


"Bintang kamu itu sudah berada digenggaman-ku jadi apa kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja. Dan membiarkan janin yang ada dikandungan-mu ini terus membesar tidak lagi. Apa kamu tahu dengan adanya janin ini hidup aku akan tambah menderita dan pastinya apa yang ingin aku miliki darimu semua akan jadi sia-sia karena janin ini bukanlah anak kandungku! Jadi aku minta sekarang kamu minum kalau kamu tidak ingin aku sendiri yang memaksamu untuk meminum ini ayo minum." Tatapan tajam yang ditunjukkan Samudra semakin membuat Bintang takut dengan cara apa ia bisa meloloskan diri dari cengkraman mereka.


"Gila! Apa kamu sangat bodoh karena tidak mau mengakui jika anak ini anak kamu?"


"Iya! Aku tidak percaya dan aku lebih percaya jika anak ini anaknya Bagas kan? Bahkan pernikahan kalian secara diam-diam katakan saja itu murni keinginan kalian kan?"tegas Samudra lagi.


"Sekarang aku tidak perduli kamu mau percaya atau tidak jika anak ini memang anak kandung kamu! Aku pertegaskan ke anda beberapa kali aku bilang aku tidak mau ya tidak mau apa kamu tidak mengerti juga. Kalau pun kamu berniat ingin mengugurkan janin ini untuk selama-lamanya aku rasa itu hanya mimpi kamu karena selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan siapapun orang berhasil mencelakai calon anakku termasuk itu dirimu sendiri ayah kandung dari anak yang aku kandung ini," gertak balik Bintang yang tak ingin kalah darinya.


"Kalian cepat pegang dengan erat kedua tangan wanita ini. Jika dia tidak mau meminumnya biar aku sendiri yang memaksanya," perintah Samudra berlalu kedua anak buahnya pun mencengkram dengan erat kedua tangan Bintang.


"Samudra apa kamu sudah sangat gila, ini anak kandung kamu sendiri kenapa kamu setega ini kamu menyingkirkannya dari dunia ini. Anak ini tidak tahu apa-apa, dia hanya korban keegoisan kamu tapi kenapa kamu malah setega ini mau membunuh dengan cara kasar seperti ini?"


"Aku tidak perduli karena menurut-ku dia hanyalah anak yang tidak dianggap, jadi sebelum dia lahir aku harus menyingkirkannya agar aku sepenuhnya bisa mampu memiliki mu. Jadi jika kamu tidak ingin aku sangat kasar sama kamu cepat buka mulut kamu ayo buka cepat!"


"Tidak. Sudah aku bilang aku tidak mau apa kamu tuli? Apa kamu tidak punya kuping!"


Plak ...


Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Bintang yang hanya menyisakan luka memar merah dengan adanya darah yang keluar dari sudut bibirnya.

__ADS_1


Berada dalam kandang harimau yang siap memangsanya dengan hidup-hidup, tatapan Bintang tidak menunjukkan jika dia akan takut dan menyerahkan calon anak yang tidak bisa ini pada pria yang tak lain adalah ayah dari anak yang ia kandung sendiri.


"Apa itu cukup! Apa kamu masih ingin merasakan tamparan lagi yang kedua kalinya. Ingat Bintang aku bukanlah Samudra yang manis jika posisiku dalam keadaan terpojok seperti ini. Apa kamu sadar jika aku merasa terancam aku tidak akan segan-segan membunuh seseorang yang berani menghalangiku termasuk ini kamu sendiri. Jadi cepat muka mulut kamu jika kamu tidak ingin aku akan lebih jahat dari ini cepat buka!"


"Sudah aku bilang aku tidak mau apa kamu masih belum paham juga. Apa kamu pikir dengan sejuta kali pun kamu menampar-ku aku akan mengalah dan menyerah dengan semua ini tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Jika kamu ingin membunuh-ku silahkan, bunuh-lah aku jika itu akan membuat-mu merasa lebih lega asal jangan kamu pisahkan aku dengan darah daging-ku sendiri."Kedua tatapan yang saling bersahutan tak membuat Samudra berfikir kedua kali atas keputusan salah yang telah ia ambil.


"Baiklah jika itu pilihan kamu!"


Dengan keadaan kedua tangan yang sudah mendapatkan cengkraman erat dari kedua anak buahnya. Samudra dengan paksa ia mencoba memaksa Bintang untuk membuka mulutnya secara lebar. Akan tetapi bukan Bintang namanya jika dia tidak akan melakukan hal untuk menolongnya dirinya sendiri.


Kedua tangan Samudra yang berusaha membukanya, Bintang gunakan kesempatan ini untuk mengigit-nya secara kasar dan akhirnya darah berhasil keluar dari tangan Samudra sendiri setelah Bintang yang berhasil mengigit sudut jempol Samudra yang membuatnya meringis kesakitan.


Akan tetapi bukan Samudra namanya jika ia akan terdiam tanpa melakukan perlawanan yang lebih kasar yang akhirnya usahanya pun berhasil setelah ia mencekoki cairan tersebut tepat pada mulut Bintang, terus memaksanya agar meminum beberapa cegukan ramuan yang diberikannya.


Merasa lemas pada peperangan yang barusan ia hadapi yang akhirnya dia kalah setelah usahanya tak juga mendapatkan hasil yang sempurna.


Wajah Bintang nampak pucat, pandangannya mulai buram dan berkunang-kunang. Melihat Bintang yang seketika terdiam kesadaran Samudra mulai terlihat.


"Bintang kamu tidak apa-apa?"ucapnya namun Bintang hanya terdiam mematung.


"Bintang aku sedang berbicara denganmu kenapa kamu malah diam seperti ini jawab pertanyaan aku jangan bikin aku bingung?"


Belum juga Samudra selesai mengucapkan katanya, ringisan sakit tiba-tiba menyerang Bintang. Meringis kesakitan sejadi-jadinya membuat Samudra yang berada dihadapannya menjadi menegang.


Mencengkram pergelangan tangan kanan Samudra dengan sangat kasar yang akhirnya tak sengaja melukai tangan Samudra sendiri.


Mendengar teriakannya yang semakin menjadi, Bintang yang berada dalam pelukan Samudra bersamaan keadaan darah segar bercucuran pada kaki jenjang sang Istri .


"Tuan sepertinya ini reaksi yang dihasilkan ramuan penggugur kandungan ini? Kami tidak akan menyangka jika efeknya akan strategis ini?"


"Cepat tunggu apa lagi kita bawa kerumah sakit!"pintanya.

__ADS_1


"Baik tuan!"


BERSAMBUNG.


__ADS_2