
Berada dalam ruangan sendiri tanpa ada orang yang menemani, Bintang pun akhirnya tersadar dari tidurnya. Setelah ia sadar ia pun mengingat kembali akan perkataan yang barusan dikatakan Dokter tadi, lagi dan lagi hatinya pun hancur ketika ia mengetahui kenyataan bahwa janin yang ada di kandungan saat ini sudahlah tidak bersama dengannya.
"Apa gunanya aku masih bertahan hidup di kehidupan yang tidak ada artinya ini. Dulu aku bertahan karena aku yakin anak yang ada dikandungan ku ini akan jadi penyemangat bagiku melanjutkan semua penderitaan ini, tapi ternyata semua impian itu telah lenyap. Tuhan kenapa engkau memberikan ujian seberat ini pada hamba? Dulu kamu menggambil Papaku tapi kenapa sekarang kamu malah merebut anak yang tidak sepantasnya untuk kamu ambil kenapa!"
Air mata yang terus menerus menetes membanjiri dari kedua sudut matanya, hingga kemudian Bintang yang sudah tidak tahan dengan semua ini. Dengan perlahan-lahan ia pun melepaskan infus yang masih merekat di telapak tangannya dan perlahan-lahan ia pun menurunkan kakinya dan segera pergi meninggalkan ruangan rawatnya.
Berjalan sembari berpegangan pada suatu benda yang tempatnya tak jauh dari posisinya dan pandangan Bintang yang agak buram membuat Bintang tak henti-hentinya meneteskan air matanya, hingga ia yang tak sengaja menabrak pejalan kaki yang tadinya berjalan didepannya.
"Maaf..maafkan saya...maafkan saya!"ucap Bintang yang setelah terjatuh dilantai.
"Astaga Mbak gak papa, Mbak mau kemana biar saya bantu berjalan?" ucap seseorang Wanita itu sembari membantu Bintang untuk bangkit dari duduknya.
"Makasih Mbak. Apa Mbak mau mengantar saya untuk keluar dari Rumah sakit ini karena ada seseorang yang inggin saya temui?" ucap Bintang yang tanpa berkata lagi, seseorang itu pun membantu Bintang berjalan menuju ke luar Rumah sakit ini.
__ADS_1
"Baiklah saya akan membantu anda mari!"
Berhasil keluar meninggalkan Rumah sakit ini, Bintang pun berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti, lantaran tidak ada orang yang mampu membantunya ia hanya berjalan melewati jalan pikirannya. Hingga tanpa ia sadari ia berjalan melewati jalanan yang sangat ramai akan pengendara yang melewati jalanan ini.
Untungnya para mengendara yang melihat Bintang dalam kondisi tidak bisa melihat dengan jelas, mereka pun memperpelankan laju kendaraan untuk memberi jalan pada Bintang. Sesaat kemudian seorang laki-laki pun turun dari kendaraannya menghampiri Bintang dan menawarkan diri untuk membantunya karena merasa sangat kasihan dan bersimpati.
"Maaf Mbak apa Mbak perlu bantuan, biar saya bantu Mbak berjalan lewat jalanan yang agak sepi, disini sangat berbahaya jadi mari saya bantu Mbak!"ucap salah satu pengguna jalan.
"Tidak usah Mas, saya bisa jalan sendiri jadi maaf!"
Menolak tawaran dari seseorang itu dan memilih melanjutkan lagi jalannya, Bintang yang sama sekali tidak perduli akan kondisinya saat ini jika ia akan celaka, ia pun kembali berjalan dipertengahan jalan.
Dan hampir saja sebuah mobil berwarna hitam pun menerobosnya lantaran pemilik mobil itu melajukan kecepatan dengan kecepatan cukup tinggi. Untungnya dengan waktu yang bersamaan seseorang pun datang dan langsung menarik tangan Bintang yang akhirnya Bintang pun terjatuh tepat di pelukan laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Kenapa kamu menolongku lepaskan aku...kenapa kamu tidak membiarkan aku tertabrak dan ma*i saja kenapa kamu menyelamatkanku kenapa?"gertak Bintang sembari kedua tangannya yang terus-menerus memberontak dan memukul dada seseorang itu sambil air matanya yang tak henti-hentinya mengalir.
"Bintang sadar apa yang kamu lakukan sangatlah berbahaya sadarlah!"
"Lepaskan aku kak! Lepaskan aku!"ucapnya bersamaan dengan Bintang yang terus saja memberontak.
Tak tahan lagi akhirnya Bagas pun langsung memberikan satu pukulan tepat mengenai dada belakang Bintang. Saat itu juga tubuh Bintang pun menjadi lemas dan tidak berdaya yang kemudian membuatnya jatuh pingsan dan kemudian seseorang itu pun langsung menggendongnya dan membawanya kembali pergi ke Rumah sakit.
"Astaga apa yang terjadi dengannya?"
"Dia baru saja melakukan tindakan gila, saya terpaksa memberikan pukulan karena cara itu yang mampu menenangkannya!"
"Baiklah baringkan biar saya periksa kondisinya!"
__ADS_1
"Baik Dok!"
BERSAMBUNG.