
"Sayang kamu darimana aja kenapa kamu segini kamu baru pulang?"ucap salah satu Pria ketika istrinya baru menginjakan kakinya memasuki kediaman mereka.
"Maaf sayang tadi dijalan aku terjebak macet, belum lagi kak Bagas yang memerintahkan ku mengerjakan tugas lain akhirnya kita jadi pulang telat kamu tidak masalah kan? Maaf kalau aku sudah bikin kamu khawatir?"
"Iya tidak apa-apa aku percaya kok ya sudah ini sudah malam kamu istirahatlah!"
"Iya rencana aku juga mau istirahat."
Beranjak pergi dari pandangan Samudra, memasuki kamar mandi, terlebih dulu membasuh wajahnya berharap apa yang terjadi tadi sungguh tidaklah nyata. Berharap semua yang terjadi padanya hanyalah mimpi, beberapa kali dirinya menampar pipinya dengan pelan namun masih terdapat rasa sakit yang dia rasakan dan menunjukkan jika itu tanda semua yang terjadi sungguhlah nyata.
"Aku mampu merasakan rasa sakit itu artinya ini sungguhlah terjadi! Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi padaku sekarang apa yang harus aku lakukan? Berdosa kah jika aku berbohong pada suamiku sendiri? Berdosa kah jika aku menikah lagi disaat aku masih menjadi Istri dari orang lain?"
"Maafkan aku Samudra, maafkan aku kali ini aku sudah berani berbohong sama kamu, maafkan aku!"
Menyantap sarapan pagi ekpresi Bintang terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu, Samudra yang saat itu juga ada disampingnya dirinya lantas bertanya.
"Kamu kenapa? Aku perhatikan sedari tadi kamu seperti banyak masalah kamu tidak lagi ada masalah yang membebani pikiran kamu kan?"
"Aku tidak apa-apa kok sayang, aku hanya berfikir aku mungkin ini saatnya aku terlepas dari kak Bagas? Jika aku keluar dari tempat kerja aku rasa itu cara yang tepat untuk aku ambil saat ini?"
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin keluar? Bukankah kamu sudah memutuskan jika kamu akan tetap kerja disana?"
"Awalnya aku memang sempat berkata seperti itu namun semakin lama kak Bagas sifatnya tidak kunjung berubah jadi daripada aku kesal setiap harinya alangkah baiknya aku keluar saja?'
"Aku tidak masalah jika kamu akan keluar karena ini sudah jadi tanggungjawab kamu, memutuskan pergi atau tetap bertahan itu terserah kamu sayang."
"Terima kasih kamu sudah mendukungku?"
"Sama-sama."
Pria tampan perlahan mulai menginjakkan kakinya memasuki restoran miliknya. Pandangannya menjurus kesemua arah, memperhatikan satu persatu pelayan restoran namun seseorang yang ia cari tak kunjung ia temukan batang hidungnya. Menghampiri wanita yang juga sibuk merapikan beberapa barang dirinya dikejutkan dengan kehadiran atasannya.
"Tuan! Ada apa? Apa yang membuat tuan langsung terjun ke dapur?"
"Dimana Bintang apa dia tidak masuk hari ini?"tanyanya yang sesekali tetap memperhatikan pandangannya.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa hari ini Bintang masuk atau tidak karena dia tidak berkata apa-apa padaku? Kenapa? kenapa tumben kamu mencarinya!"
"Tidak! Tidak ada apa-apa!"
Berlalu pergi dari dapur ini, dirinya kembali memasuki Ruangan pribadi yang dirasa sepi. Sesekali Bagas itu melihat jam tangannya dan menunjukkan jika jarum jam sudah menunjukkan pukul 07:00 lebih.
"Jam sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi aku rasa Bintang sengaja tidak masuk akibat masalah kemaren? Sebenarnya siapa seseorang yang menjebakku dan juga Bintang kemaren?"
Ketukan pintu terdengar dari luar pintu, mengijinkannya untuk masuk seorang pria kemudian menghampirinya.
"Tuan?"
"Gimana apa kamu sudah menyelesaikan permintaan ku kemaren?"
"Sudah tuan! Dari jarak beberapa kilo meter tempat yang tuan minta, saya menemukan salah satu bukti cctv tentang adanya sesosok wanita yang muncul dalam kejadian kemaren, anda lihatlah!"
Memperhatikan secara teliti rekaman cctv yang muncul adanya seorang wanita yang diyakini dirinya mengingat jelas siapa wanita itu. Wanita itu yang berbicara pada seorang Pria, lalu memberikan sesuatu pada pria tersebut membuat dirinya yakin semua yang terjadi ada hubungannya dengan wanita tersebut.
"Anindya? Hanya dia yang muncul dalam rekaman ini? Apa masuk akal jika ini hanya kebetulan semata?"gumamnya dengan terheran.
"Iya sama-sama tuan, ya sudah saya lanjutkan kerja lagi?"
"Baiklah silahkan!"
Pria itu lantas keluar, sedangkan Bagas sendiri masih penasaran setengah mati apa maksud rencana Anindya merencanakan rencana segila ini, seseorang datang lagi dan kali ini dia ialah Clara.
"Clara ada apa? Apa ada masalah? Ataukah Bintang datang?"
"Tidak! Aku kemari karena Anindya kesini bolehkah dia masuk?"
"Anindya?"gumamnya dengan pelan.
"Iya Anindya? Ya sudah aku suruh masuk dia!"
"Baiklah suruh dia masuk!"
__ADS_1
Dengan ekspresi wajah seolah-olah menyesal, wanita itu hanya menundukkan kepalanya, ketika berhadapan pada seorang pria dan pria itu menghampirinya wajah panik sekaligus cemasnya berpadu jadi satu.
"Kamu? Apa yang membuatmu berani datang kemari? Apa tujuanmu kemari ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"
"Kamu sendiri pastinya sudah tau apa maksud aku datang kemari? Bahkan berani berhadapan langsung denganmu aku rasa kamu sudah tau apa maksudnya? Jadi katakan apa ingin kamu tanyakan aku bersedia akan menjawab sejujurnya!"
"Baiklah berhubung kamu ada disini kamu bisa jelaskan apa maksud dari rekaman cctv ini? Disini jelas-jelas ada kamu jadi tidak mungkin jika semua ini hanyalah suatu kebetulan?"ungkap Bagas dengan dirinya yang menunjukkan bukti cctv tersebut.
"Iya! Aku akui aku salah! Aku memang sengaja merencanakan ini semua dan akulah orang yang sudah menjebak kalian kemaren, maafkan aku! Maafkan aku!"timpal Anindya yang hanya berani menundukkan kepalanya.
"Gila! Apa kamu segila ini? Bukankah aku sendiri yang bilang kalau aku bakal menikahi kamu dan menganggap anak yang kamu kandung adalah anak ku tapi kenapa kamu malah merencanakan rencana diluar dugaan ku seperti ini? Kamu sadar akibat perbuatan kamu imbasnya semua jadi berantakan?"bentaknya yang semakin membuat Anindya takut.
"Iya aku tau akibat ulahku ini akan memberikan pengaruh buruk bagi semuanya tapi tidak dengan kebahagiaan Bintang? Jujur aku sama sekali tidak rela Bintang akan jatuh ketangan pria seperti Samudra! Jujur juga aku menyesal karena sudah percaya dengan tipuan manisnya dan karena hal inilah yang mendorongku untuk merencanakan rencana bodoh itu agar Bintang jatuh ketangan kamu. Jika kamu rela berkorban untuk kebahagiaan orang yang kamu cintai tapi kamu sendiri tidak melihat sisi buruk masalah ini jika Bintang tau tentang kebohongan suaminya Bintang akan hancur! Jadi aku tidak bisa membiarkan itu semua terjadi pada sahabatku, dia sudah sangat baik dan mungkin dengan cara inilah aku bisa menebus semua kesalahanku!"
"Terus rencana kamu selanjutnya apa? Apa kamu berencana ingin menikah dengan Samudra dan membiarkan Bintang bersamaku apa kamu pikir cara ini cara tepat Samudra akan merelakan Bintang begitu saja?"
"Jika dibilang menikah? Iya! Aku memang sangat ingin menikah dengan Samudra tapi itu dulu! Aku memang sangat berharap dia mau menikahiku tapi nyatanya sampai saat ini dia belum menikahiku dan alasan yang ia berikan selalu menunggu sampai anak ini lahir barulah dia bersedia mau menikahiku, tapi apa itu masuk akal?"
"Jadi maksud kamu? Disini kamu berniat ingin mendekatkan hubunganku dengan Bintang dan berniat ingin berbalas dendam pada Samudra?"
"Jika berbalas dendam tidak! Namun memberikan perhitungan pada pria itu aku memang harus melakukannya dan membongkar kebohongan Samudra kita memang harus melakukannya jadi apa kamu bersedia bekerja sama denganku?"
"Jika itu rencana kamu aku setuju untuk membantu kamu kapan kamu akan melakukan rencana ini?"
"Secepatnya aku akan melakukan rencana ini namun aku baru bisa menjalankannya jika Bintang menemui mu?"
"Menemui ku maksudnya?"
"Sudahlah kali ini aku belum bisa menjelaskannya, jika tiba-tiba nanti Bintang menemui kamu katakan padaku!"
"Baiklah aku akan memberitahumu nanti!"
"Ya sudah aku pergi!"
"Baiklah!"
__ADS_1
BERSAMBUNG