
Baru aja Bintang sampai di Rumahnya, ia sudah dibuat terkejut lantaran disana ternyata sudah ada Mama yang sedari telah menunggu.
Akan tetapi yang bikin Bintang penasaran, tatapan yang dilakukan Mamanya lah yang membuat Bintang merasa takut.
"Mama? Mama ada disini, sejak kapan Mama disini? Kenapa Mama juga terlihat marah sama aku?"
"Jadi kamu masih belum mengerti dengan kesalahan yang barusan kamu perbuat? Selama ini Mama banting tulang kerja untuk biaya Sekolah kamu hingga dewasa, tapi ini balasan yang kamu berikan ke Mama?" bentak Mamanya yang seketika membuat Bintang pun terkejut.
"Apa maksud Mama? Bintang sama sekali tidak mengerti?"balas Bintang yang agak terheran
Merasa emosinya memuncak, dan sudah tidak tahan lagi dengan perkataan yang dilontarkan. Amarah Mamanya pun memuncak.
Plak...
Satu tamparan pun berhasil mendarat tepat di pipi kanan Bintang, akibat darah segar pun mengalir disudut bibir kanannya. Setelah mendengar perkataan yang dikatakan oleh Bintang barusan.
"Ma! Apa maksud Mama? Kenapa Mama menamparku?"tanyanya bersamaan tangannya memegang pipinya.
"Kamu masih bertanya lagi pada Mama apa alasan Mama menamparmu? Kamu tidak sadar kamu egois Bin! Kamu egois kenapa kamu bisa-bisanya berniat menceraikan Samudra hanya agar bisa bersama dengan Pria seperti dia?"ucapnya bersamaan memberikan tatapan tajam kearah Bagas.
"Cukup Ma! Cukup!"
"Cukup! Kamu pikir dengan kata cukup kamu mampu membalikkan keadaan Mama? Kamu sadar jika kamu dan Samudra bercerai siapa yang perbulannya akan menafkahi Mama? Samudra itu menantu kebanggaan Mama karena dia tidak pelit dan setiap bulannya mampu memenuhi apa yang Mama inginkan! Kamu jangan bertindak bodoh jadi Mama mohon jangan ceraikan Samudra jangan ceraikan dia!"bentaknya yang terus memojokkan.
"Kenapa? Menapa Mama hanya menampar aku sekali, jika Mama inggin menamparku lagi, ayo tampar, ayo tampar lagi jika itu akan membuat Mama merasa lega menyesal memiliki putri seperti Bintang ayo tampar! Mana Mamaku yang dulu Mama yang sayang dan peduli sama aku. Mama yang akan menggendong putrinya disaat putrinya sedang ketiduran pada saat sedang menonton tv. Mana Mama yang akan menasehati putrinya dengan perkataan yang lembut tanpa harus menggunakan tangan kasar, mana?"bentak Bintang tanpa sengaja air matanya telah berjatuhan.
__ADS_1
"Bintang, diam-lah jangan bikin Mama kamu akan tambah emosi sama kamu diam-lah!"cegah Bagas.
" Selama ini aku aku berfikir jika aku akan jadi orang yang paling bahagia dimuka ini lantaran hidupku dalam kemewahan dan kemegahan dan membeli apapun yang aku inginkan setelah menikah dengan Samudra? Tapi nyatanya semua itu tidak pernah berpihak padaku. Aku memang punya segalanya tapi satu yang aku tidak punya dari mereka semua, yaitu kasih sayang dari Mamaku. Apa dengan Mama memberiku segepok uang perharinya aku akan menjadi orang yang bahagia dimuka bumi ini, tanpa adanya kekurangan apapun, tidak, aku tidak butuh semua itu.
Yang aku butuhkan hanyalah kasih sayang dari Mama, kasih sayang seorang Mama yang akan selalu hadir dan menemani Putrinya yang lagi membutuhkan pertolongan dan juga perlindungan.Tapi apa yang Mama lakukan, Mama hanya memperalat ku layaknya seperti hewan!"
Sebagai seorang Putri aku sudah tidak tahan dengan semua ini apa gunanya aku hidup jika pada kenyataanya orang tuaku sendiri sama sekali tidak pernah sayang kepadaku, sekarang aku tanya sama mama jika suatu saat nanti Mama disuruh memilih antara aku atau harta yang Mama miliki saat ini, apa yang inggin Mama pilih? Apa mama akan memilih aku, tidak kan itu tidak akan mungkin. Karena aku sudah bisa menebak semuanya?"ucap Bintang yang Mamanya pun terdiam.
"Apa Mama sadar sekarang ini Bintang sangat hancur karena mengetahui fakta jika Janinku telah keguguran dan itu semua gara-gara Pria kebanggaan Mama! Sekarang Mama datang yang harusnya seorang Mama memberikan penyemangat untuk putrinya yang telah hancur tapi kenapa seseorang yang ada dihadapan Bintang saat ini sangat berbeda? Mama sadar Mama sudah sangat membuat hati Bintang hancur! Bintang cuma mau Mama mengerti keadaan Bintang? Apa dipikiran Mama, Mama hanya memikirkan jatah bulanan yang kemungkinan tidak akan Mama dapat jika aku bercerai sama pria yang sudah bikin Putri Mama hancur? Apa dipikiran Mama hanya itu?"
"Kamu jangan mencoba membelit keadaan ini demi kebaikan kita bersama?"timpal Mamanya.
"Demi kebaikan kita atau demi kebaikan Mama? Apa Mama tau Pria yang Mama banggakan telah tega membunuh anak kandungnya sendiri apa Pria seperti itu masih pantas untuk Mama anggap dan bela ketimbang mendukung putrinya sendiri?"
"Mama jahat! Kenapa Mama selalu memaksakan keinginan Mama tanpa melihat penderita Bintang? Bintang sakit Ma! Bintang sakit mendapatkan perlakuan berbeda dari banyaknya orang-orang? Kenapa juga harus Bintang yang mendapatkan perlakuan seperti ini dan kenapa juga harus Mama yang menjadi musuh terberat Bintang kenapa?"
Air matanya tumpah. Tidak tau berapa banyak tetesan buliran air bening itu terjatuh secara terus menerus, hadirnya seorang pria yang sigap datang, tak lupa memberikan sap tangan untuk wanitanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini, apa kamu tidak tahu sekarang lagi gerimis, jadi sebentar lagi pasti akan turun hujan jadi ayo cepat bangkitlah! Kalau kamu sakit gimana?"
"Mendingan kak Bagas pergilah aku ingin sendiri!"
"Baiklah jika kamu memutuskan akan berdiam diri disini aku akan menemanimu. Jika nanti kamu sakit harus aku yang merawat ku jadi jika aku ikutan demam mungkin aku tidak harus merawat kamu!"
"Kenapa kak Bagas berkata seperti itu? Jangan pedulikan aku cepat pergilah!"
__ADS_1
"Aku sudah bilang aku tidak akan pergi paham!"
"Kak Bagas ceroboh! Kenapa kak Bagas harus memprioritaskan aku ketimbang memikirkan kebahagiaan Kak Bagas sendiri, kenapa?"
"Aku melakukan ini semua karena aku tidak ingin sahabat kecilku akan menanggung semua penderitaan ini sendiri! Kamu sahabatku kita sudah bersama-sama sejak sedari kecil apa mungkin melihatmu terluka aku akan pergi dan mengabaikan kamu begitu saja?"
"Jika kali ini aku disuruh mengumpat mungkin orang pertama yang bakal aku umpat dengan kasar adalah kak Bagas? Kak Bagas terlalu bodoh karena selalu memikirkan kebahagiaan orang lain tanpa sadar kebahagiaan kak Bagas sendiri juga terancam! Kak Bagas sangat bodoh!"
Air matanya yang terus saja terjatuh, laki-laki itu dibuat tak berdaya, sigap ia memeluknya.
"Setidaknya jika aku bodoh aku masih mampu membuatmu tersenyum?"ucapnya yang berbalik Bagas melepaskan pelukan, menunjukkan senyuman dan beralih Bintang keceplosan membalas senyuman itu.
"Lihatlah kamu sungguh bisa tersenyum kan? Jadi benar jika ucapan aku mampu membuatku kembali tersenyum?"ledeknya kembali, Bintang yang tak bisa menahannya sesekali ia memukul dengan pelan.
"Kak Bagas bodoh! Kak Bagas sangat bodoh!"
"Sudah jangan nangis! Kamu sangat jelek kalau nangis cepat usap air mata kamu?"ucapnya bersamaan tangan manisnya membantu mengusap air mata itu.
"Apa mama sudah pulang?"tanya Bintang disaat dirinya mulai lega.
"Mama sudah pulang, kamu kembalilah pulang kesana aku masih ada kerjaan?"
"Baiklah aku akan kembali, sekali lagi maafkan Mama jika perkataan Mama sudah bikin kak Bagas terluka maaf?"
"Tidak ada ucapan yang aman mampu membuatku terluka? Apalagi hanya sekedar ucapan yang keluar dari mulut seorang Ibu itu tidak akan mampu membuatku bersedih, jadi sudah kamu kembalilah!"
__ADS_1
"Baiklah!"
BERSAMBUNG.