PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA

PENGHIANATAN DIMALAM PERTAMA
Bab 14." Keputusan Yang Salah."


__ADS_3

"Ada apa ini? Kenapa kepalaku rasanya sakit gini, kenapa juga aku sering merasakan migrain apa ini akibat karena aku kecapean karena seharian sibuk kerja? Iya mungkin ini hanyalah rasa sakit biasa jadi aku tidak perlu merasakan cemas yang nantinya akan membuatku tambah semakin sedih?"


Melanjutkan perjalanan memasuki kediamannya, sesampainya ia masuk ia melihat suaminya yang masih sibuk dengan berbagai aktifitas pekerjannya untuk menyelesaikan semua laporan yang belum jadi.


"Sayang kamu kok masih sibuk? Kamu tidak capek istirahat saja dulu ya?"


"Tidak bisa sayang, ini laporan harus selesai malam ini juga, jika telat sampai besok meeting akan ditunda!"


"Tapi kenapa malah kamu yang harus mengerjakan semua ini? Bukankah ada Mbah Nina yang menjadi Sekretaris kamu, harusnya dialah yang menyelesaikan semua ini?"


"Aku sudah memecatnya sayang?"


"Memecat? Kenapa, memangnya apa kesalahan dia?"


"Aku sadar dia bukanlah wanita baik-baik, selama ini kita telah kerja bersama tapi ternyata tanpa dugaan ku dia mulai berani menggoda atasan yang jelas-jelas sudah punya Istri. Belum lagi dia itu masih sendiri jadi aku takut hal yang tidak diinginkan akan terjadi jadi lebih baik aku memecatnya itu lebih baik! Kan aku sudah keduluan nyaman sama kamu jadi bagaimana mungkin aku akan tergoda sama bodinya karena menurutku istriku lebih cantik jadi pastinya aku akan memilih kamu daripada wanita seperti dia!"


"Benar yang kamu katakan sayang, demi keharmonisan hubungan rumah tangga kita aku setuju dengan pendapat kamu, ngomong-ngomong terima kasih ya kamu masih ingat denganku dan kamu selalu memprioritaskan kan aku?"


"Kenapa kamu berkata seperti itu, kamu istriku jadi sudah tanggung jawabku aku mengutamakan kamu?"

__ADS_1


"Oh iya tapi jika kamu sudah memecatnya siapa yang akan jadi Sekretaris baru kamu nanti? Apa kamu sudah menemukan orang pengganti mbak Nina ?"


"Saat ini aku belum menemukannya, tapi ketika aku ingat kalau kamu juga punya sahabat yang juga satu ahli seperti ku aku jadi mengarah ke Anindya kira-kira kamu setuju jika dia yang aku pilih jadi sekretaris-ku?"


"Gimana ya? Sebenarnya aku sedikit ragu, dia memang sahabat ku tapi hubungan kerja antara laki-laki dan perempuan yang setiap hari kerja bareng aku takut kamu akan mulai menyukainya, belum lagi dia juga cantik dan bodynya juga kamu juga tau jujur aku takut kamu akan berpaling darinya?"


"Baiklah aku mengerti dan paham kok. Awalnya aku juga sudah punya pikiran seperti ini tidak apa-apa aku bisa mengerti kok nanti aku cari Sekretaris lain saja?"


"Tapi kalau dipikir-pikir kasihan Samudra jika dia harus menghandle semuanya?" batin Bintang yang akhirnya dia pun mulai angkat bicara.


"Baiklah setelah aku pikir-pikir aku tidak keberatan jika kamu akan meminta Anindya untuk jadi Sekretaris kamu, ketimbang orang lain aku malah lebih lega jika sahabat ku sendiri yang ikut membantuku jadi tidak apa-apa aku mengijinkan kok sayang?"


"Kamu serius sudah memikirkan secara matang-matang? Kamu tidak merasa terpaksa jika harus memutuskan secepat ini? Aku tidak masalah jika kamu tidak mengijinkannya aku bisa cari Sekretaris lain lagi, hubungan rumah tangga akan semakin harmonis jika keduanya saling memahami satu sama lain, aku tidak mau nantinya kamu akan berfikir yang tidak-tidak jadi tidak apa-apa aku cari yang lain saja?"


"Baiklah jika itu memang sudah jadi keputusan kamu aku akan terima, sekali lagi terima kasih sayang?"


"Baiklah aku akan beritahu Anin kapan dia siap untuk masuk!"


"Baik sayang?"

__ADS_1


"Ternyata gadis sepertimu mudah sekali terprovokasi oleh suaminya sendiri? Entah dia yang bodoh ataukah dia yang sangat terobsesi memilikiku makanya dia se'bodoh itu percaya dengan perkataan bohong ini?"


Melihat istrinya hendak masuk kekamar Anindya, wajah bahagia sekaligus liciknya terpancar jelas dari raut wajah Pria bernama Samudra itu. Sedangkan Bintang yang sudah mengetuk pintu tersebut, Anin yang mendengarnya ia lantas keluar.


"Bintang ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Gini Nih, sekarang nas samudra lagi butuh Sekretaris baru dalam menjalankan kembali pekerjannya, kita sama-sama sepakat untuk menawarkan kamu menerima pekerjakan ini jadi gimana apa kamu tidak keberatan jika kamulah orang yang akan jadi Sekretaris baru itu untuk jadi pendamping mas Samudra?" Tak percaya dengan ucapan yang barusan diucapkan Bintang lantas Anindya pun meneguk air li*rnya tak percaya jika janji yang diucapkan Samudra akan secepat ini dia kabulkan.


" Gimana ya? Aku sebenarnya tidak masalah jika harus menjadi Sekretarisnya, tapi dibalik itu aku yang merasa tidak enak sama kamu? Kamu sahabat ku aku takut jika aku dan suamimu kerja bareng akan muncul gosip-gosip yang tidak-tidak?"


"An! Aku kenal siapa kamu? Jadi aku sangat percaya kalau kamu tidak akan mungkin berbuat seperti itu! Kamu juga butuh pekerjakan daripada kaku kerja sama orang lain aku malah lebih tenang jika kamu kerja bareng sama kita, jadi aku mohon kamu mau ya?"


"Baiklah jika itu sudah jadi pilihan kamu aku akan setujui permintaan kamu, sekali lagi terima kasih ya lagi-lagi kamu sudah mau membantu keringanan bebanku jujur aku juga bingung cari kerja dimana, dengan bantuan kamu, aku tidak perlu repot-repot lagi cari kerjaan sekali lagi terima kasih!"


"Iya sama-sama Nin, ya sudah istirahatlah besok kamu sudah bisa melakukan pekerjaan kamu!"


"Baiklah Bin, kamu juga istirahatlah kamu kelihatan capek seharian kerja istirahatlah!"


"Baiklah Nin!"Perginya Bintang dari kamarnya tatapan Anindya berubah licik.

__ADS_1


"Kali ini bukan aku yang ingin mencari kesempatan kepada suamimu Bin, tapi kamu sendirilah yang memberikan jalan untuk mendekatkan hubunganku dengan suamimu?"batinnya yang tak henti-hentinya memberikan tatapan licik tersebut.


BERSAMBUNG.


__ADS_2