
"Bik berhubung Tuan Bagas sudah berangkat Bibik rapikan yang lain saja, soal beres-beres ini biar aku saja yang merapikannya?"ucap Bintang sembari merapikannya.
"Tidak Non! Tuan Bagas melarang saya untuk non ikut membantu saya, bukannya gimana-gimana tapi tuan kelihatan sangat mencintai Non, tuan takut non akan kenapa-kenapa jadi biar Bibik saja ya?"
"Tapi bik?"
"Saya mohon non?"
"Baiklah kalau gitu bik, tapi Bibik jangan paksakan ya jika sudah capek Bibik istirahat saja?"
"Iya Non terima kasih atas pedulikannya ya sudah saya permisi dulu!"
"Silahkan!"
"Semakin hari aku semakin berfikir apa segitu pedulinya kak Bagas padaku? Bahkan hanya beres-beres dan menjagaku dia sampai memerintahkan Bibik Ira?"gumamnya dengan terheran.
"Non?"panggil Bibik, lantas Bintang menoleh.
"Iya Bik?"
"Saya mau keluar dulu karena ada sampah yang mau saya buang, jika nanti saya keluar ada orang yang masuk non jangan keluar ya? Itu hanya perintah dari Tuan Bagas?"
"Iya Bik saya tidak akan keluar kok."
"Baik non permisi!"
"Silahkan!"
Memasukkan sampah kedalam bak sampah, Bibik yang berniat akan masuk tangannya seketika mendapatkan tarikan kuat dari seseorang, terkejut dirinya yang hendak akan berteriak seseorang itu langsung membungkamnya dan menyeretnya masuk kedalam kediaman tersebut. Mengigit tangan pria yang membungkam itu pun sekejap langsung melepaskan bungkaman tadi.
"Anda? Siapa anda berani sekali anda membungkam ku pergi!"
"Urusanku tidak ada sangkut pautnya sama Bibik, jika Bibik ingin selamat tanpa terluka cepat panggil nyonya Bintang untuk keluar, cepat panggil!"
"Anda Samudra kan? Tuan sudah memerintahkan aku untuk menjaga non Bintang jadi jangan harap aku akan menyerahkan dia pada pria seperti anda karena itu tidak akan mungkin terjadi!"
"Baiklah jika anda tidak mau melakukannya apa anda bersedia mempertaruhkan nyawa anda hanya untuk menolong orang yang tidak anda kenal?"
Mengarahkan pisau kebagian leher Bibik rasa takut sekaligus panik berpadu jadi satu, tidak tau apa yang harus dia lakukan Bibik hanya mampu terdiam tanpa bersuara.
"Kenapa Bibik diam? Bibik sungguh rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk nyonya Bintang?"
"Pria brengsek seperti anda tidak pantas untuk nyonya Bintang! Anda terlalu kejam lepaskan aku! Lepaskan aku!"
__ADS_1
"Terus apa aku akan memikirkan itu semua? Sudah jangan banyak tanya mendingan sekarang Bibik jalan cepat!"
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Apa bibik sungguh-sungguh lebih memilih terluka? Terluka akibat menyelamatkan orang lain ketimbang memikirkan nasib Bibik sendiri?"
"Tuhan bantu hamba terbebas dari pria ini bantu hamba ..."
"Sekarang aku minta Bibik teriak panggil Non Bintang ayo panggil?"bentaknya yang membuat Bibik ketakutan tidak main, namun dirinya tetap engan untuk memangilnya.
"Tidak! Aku tidak akan pernah memangilnya tidak!"
"Baik jika cara ini tak kunjung membuat bibik menyerah jangan salahkan aku jika aku sendiri yang akan memaksa Bibik!"
"Apa maksudmu!"
"Bintang ...aku tau kamu pasti didalam! Aku minta kamu cepat keluar jika tidak ingin Wanita ini terluka ayo cepat keluar!"
Teriakannya terdengar sangat menggelegar, Bintang yang tadinya berada didalam teriakan itu mampu terdengar dari kupingnya, sadar akan suara itu dirinya lantas beranjak, hendak ingin membuka pintu ia teringat akan ucapan Bagas untuk jangan keluar.
"Tidak! Kamu tidak boleh keluar Bintang? Kamu tidak boleh keluar ingat ucapan kak Bagas ingatlah!"
"Bintang ...ayo cepat keluar jika tidak ingin wanita ini terluka ayo cepat keluar!"teriakan Samudra yang lagi-lagi membuyarkan lamunan Bintang, tak tahan lagi dirinya lalu mengambil resiko keluar dari kediaman ini.
"Aku keluar apa maumu?"muncul dihadapan Samudra, Samudra lantas melepaskan Bibik.
"Apa maumu? Kamu juga tau darimana kalau aku ada disini?"tanyanya dengan pandangan Bintang tanpa melirik Samudra.
"Itu tidaklah penting aku dapat darimana alamat tempat tinggal mu. Karena yang jelas sekarang aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku ayo kamu ikut aku sekarang," ajaknya yang tanpa aba-aba Samudra langsung menariknya.
"Apa maksud kamu? Punya alasan apa kamu berani membawaku pergi dari tempat ini. Apa kamu lupa aku sudah memutuskan akan menceraikan kamu apa kamu lupa dengan semua itu?" gertaknya yang langsung menghempaskan tangan Samudra darinya.
"Samudra paling tidak suka sama orang yang memaksakan kehendaknya. Aku pertegaskan ke kamu! Aku tidak akan pernah menceraikan kamu kalau bukan aku sendiri yang menceraikan kamu apa kamu mengerti!"tegas Samudra dengan wajah garangnya.
"Apa se'egois inikah kamu jadi orang? Apa kamu sadar kamu itu hanya mementingkan dirimu sendiri, kamu egois kamu egois karena kamu hanya mementingkan kebahagiaan kamu sendiri jadi mendingan sekarang kamu pergi karena aku tidak akan mau sudi melihat laki-laki seperti kamu lagi, biar pun kita masih syah jadi suami istri tapi aku tidak akan pernah mau tidur atau pun tingal satu atap denganmu lagi apa kamu mengerti! Jadi cepat kamu pergi ayo pergi!"
"Terus Kalau aku tidak mau gimana?"tanyanya dengan menantang.
"Kalau kamu tidak mau pergi itu artinya kamu memilih dengan caraku sendiri untuk mengusir mu, ayo cepat kamu keluar dari sini ayo cepatlah keluar!"
Dengan berusaha Bintang pun mendorong tubuh Samudra untuk keluar dari dalam kediaman ini. Akan tetapi belum juga ia berhasil mengusirnya ia sudah dibuat terkejut setelah Samudra yang dengan tiba-tiba langsung mendorongnya.
Hampir tersungkur ke belakang, hingga akhirnya Samudra pun mendorongnya hingga benar-benar terbaring di atas Sofa. Memegang kedua pergelangan tangan Bintang, mengunci dengan tangannya. Samudra menatap wajah Bintang dengan bringas. Memperhatikan pahatan indah dari wajah Istrinya itu. Sekaligus lekuk tubuh mengg4ir4hkan.
__ADS_1
Bintang yang tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia lantas memberikan satu tamparan untuknya.
Plaaakk!
Satu tamparan melayang keras tepat di pipi kanan Samudra.
"Aku minta sekarang kamu pergi kalau kamu tidak mau aku akan berteriak memanggilmu dengan sebutan maling, jadi cepat pergilah sekarang," perintahnya yang tanpa berkata lagi.
"Baiklah jika sekarang kamu berencana untuk menghindar dariku. Aku pastikan kamu tidak akan berhasil melakukan itu, karena Samudra bukanlah Pria lemah yang akan diam dan menyerah dengan begitu aja. Dan Laki-laki yang bernama Bagas aku akan pastikan laki-laki itu tidak akan pernah bisa mendapat kamu karena aku tidak akan pernah membiarkan itu sampai terjadi paham!" gertaknya yang terlihat masih menahan rasa sakitnya.
Hantaman keras telah didapat Samudra, tubuhnya seketika tersungkur mata melototnya menatap tajam kearah pria pelaku dari penendangan yang telah dialaminya.
"Kau ternyata masih berani juga untuk melangkahkan kakimu disini? Punya hak apa anda berani menginjakkan kaki di tanah kekuasaan ku?"gertak seseorang tersebut, menghampirinya tak lupa pria itu menunjukkan akan tatapan menantangnya.
"Aku tidak ada urusan denganmu? Kali ini aku akan melepaskan anda jadi stop ikut campur urusan kami! Serahkan Bintang padaku dengan begitu kau akan aman!"timpal balik Samudra namun hanya mendapatkan balasan senyuman licik para pria bernama Bagas tersebut.
"Punya hak apa anda mampu berani mengancamku seperti itu? Anda pikir aku pria bodoh dan pengecut karena akan membiarkan Bintang jatuh ketangan pria seperti mu? Ingat aku akan mengampuni mu jadi pergilah sebelum aku berteriak memangil anda dengan sebutan maling pergi dari sini sekarang!"
"Awas kau! Kali ini kamu selamat tapi jangan salah aku kalau aku mampu bertindak kasar dari ini. Bukan Samudra namanya jika dia tidak bisa berbuat sesuatu yang sudah seharusnya Samudra miliki jadi pejamkan itu baik-baik!"
"Anda salah jika menganggap dirimu hebat! Aku pertegaskan ke anda berani anda mencelakai Kak Bagas anda sendiri yang akan menyesal! Anda akan menyesal jadi pergilah cepat!"
Menjauh dari keduanya dengan tatapan memuncak, dirinya lalu pergi bersamaan dengan rasa kecewa dan amarahnya yang semakin menjadi.
"Bintang kamu tidak apa-apa? Laki-laki itu tidak mencelakai kamu kan?"tanya Bagas dengan wajah paniknya.
"Kak Bagas tenang saja dia tidak sampai mencelakai ku kok? Kak Bagas kenapa bisa kembali bukankah tadi kak Bagas sudah berangkat!"
"Iya tadi aku sudah berada dipertengahan jalan, lalu perasaan ku tidak enak jadi aku putuskan untuk kembali. Maaf ya Bintang aku belum bisa mencarikan tempat yang aman untukmu maafkan aku! Maafkan aku!"
"Kak Bagas jangan berkata seperti itu? Ini sudah takdir, Samudra mengetahui keberadaan ku, kakak jangan menyalahkan diri kakak sendiri itu tidak benar?"
"Kamu kayaknya harus bertindak tegas! Jika kamu masih seperti ini Samudra akan semakin menjadi dia akan tetap mengejarmu sampai dapat jadi kamu harus bertindak Bintang?"
"Iya yang kakak katakan memang benar aku memang harus bertindak. Aku sudah putuskan aku akan menceraikannya entah itu pilihan yang sulit aku sudah putuskan aku akan menceraikannya?"
"Kamu serius dengan keputusan kamu itu?"
"Iya aku serius! Kak Bagas nanti sore tidak keberatan kan kalau nganterin aku ke Perusahaan Samudra aku harus menyerahkan surat perceraian jadi kakak bersedia kan?"
"Iya kamu tenang saja aku akan menemani kamu! Aku takut jika kamu sendirian dia akan bertindak kasar jadi tenanglah!"
"Terima kasih kak!"
__ADS_1
"Sama-sama."
BERSAMBUNG.