
Dua TAHUN KEMUDIAN
Berdiri dikerumuni ribuan bunga Krisan sekaligus bunga mawar yang bermekaran dengan sangat indah, lirikan mata pria itu tertuju pada semua arah, dikelilingi banyaknya orang yang ikut merasakan rasa bahagia memandangi bunga-bunga itu nyatanya tidak berarti pada pria bernama Putra Bagaskara Verlanto.
Disaat semua orang mampu berbahagia menikmati pemandangan indah ini, pria bernama Bagas itu hanya mampu meratapi nasibnya, sadar jika wanita yang sangat ia sayangi hanya bisa ia pandang dalam sebuah ukiran batu nisan yang hanya bertuliskan nama Bintang Natalia Alvarelia.
Iya, wanita cantik yang menjadi kebanggaan nya itu dinyatakan meninggal akibat penyakit yang sudah lama ia derita, memandang langit yang sangat cerah nampaknya tak mendukung akan suasana hati yang dirasa sepi tanpa adanya sesosok pengganti. Bertahan bagaikan daging tanpa jiwa telah ia rasakannya, bertahan atau tidak kini hanya mampu ia pertahankan untuk mempertahankan jiwa yang dikata tidak ada lagi perjuangan.
......................
__ADS_1
Laporan kerja yang pada bertumpukan, sesosok pria terlihat sibuk mengerjakan semua laporan tersebut. Tak lama langkah wanita memasuki ruangan itu, tatapan pria itu tertuju pada si wanita yang hanya menunjukkan ekpresi mengejutkannya.
"Kenapa? Apa ada masalah?"tanya si pria, beralih wanita itu pun membalasnya.
"Hubungan rumah tangga kita sudah terjalin hampir dua tahun lamanya. Aku melihat sejak kita menikah kamu tidak pernah menunjukkan akan raut wajah kebahagiaan kamu? Aku sadar hubungan kita terjalin hanya atas dasar terpaksa, jadi pertanyaanku sampai kapan kamu akan memendam penderitaan kamu menjalankan hubungan tangga dengan berpura-pura kamu sudah bisa mencintaiku?"Berdiri dari langkah ia terduduk, Bagas lalu mendudukkan Wanita itu yang tak lain ialah Anindya.
"Yang aku tanya bukan soal rasa keperdulian kamu terhadap Nina, tapi yang aku tanyakan sampai kapan kamu akan menyakiti dirimu sendiri seperti ini? Aku akui kamu memang sangat perduli pada Nina, bahkan padaku kamu juga menunjukkan keperdulian itu tapi apa aku bisa menerima semuanya jika aslinya dalam hatimu kamu masih sangatlah hancur akibat kepergian Bintang. Dan katakanlah sampai saat ini kamu sebenarnya belum bisa move on dari Bintang kan?"
Hanya mematung terdiam tanpa membalas pertanyaan Anindya, Anindya menepuk pundak sang suami, tau apa maksud dari tindakannya yang sudah menunjukkan jika Suaminya masih belumlah mampu melupakan akan cinta pertamanya.
__ADS_1
"Diamnya kamu sudah menunjukkan jika kamu memang masih sangat mencintainya? Aku tidak menyalahkan kamu jika kamu masih mencintainya, tapi saran aku lupakanlah dia, mempertahankan perasaan kamu itu sama saja kamu menusuk dirimu sendiri dengan ribuan pisau jadi lupakanlah! Lupakanlah!"
"Bagi semua orang hal melupakan adalah tindakan yang paling gampang untuk dilakukan. Bahkan jika hanya dengan ucapan semua orang juga bisa tak termasuk aku! Tapi yakinlah aku sebenarnya juga sudah berusaha? Aku sudah berusaha mati-matian melupakannya tapi kenapa sampai saat ini aku tak kunjung berhasil apa kamu bisa menjawabnya alasan kenapa aku sesulit ini melupakannya? Ingatlah aku sendiri sudah berusaha tapi kenapa sampai saat ini aku masih sulit untuk melupakannya, kenapa? Dan apa alasannya?"
Serasa merasakan rasa sakit yang dirasakannya, Anindya kemudian memeluk Bagas, menepuk pundaknya mencoba menenangkannya dan akhirnya berhasil lalu Bagas sendiri pun membalas pelukan tersebut.
"Waktu sudah berjalan satu tahun lamanya jadi aku mohon lupakanlah dia! Aku mohon lupakanlah!" Tak membalas ucapannya, yang ia lakukan masih memeluk erat pelukan tersebut.
BERSAMBUNG.
__ADS_1