
"Kenapa kamu membawaku kemari? Bukankah kamu tadi bilang kalau kamu akan mengantarku pulang?"
"Awalnya tadi aku memang ingin mengantarmu, tapi setelah aku pikir-pikir aku yang terlalu jahat, jadi akhirnya aku putuskan untuk membawamu kemari dan membenahi semuanya?"
"Membenahi semuanya maksud kamu?"
"Hubungan rumah tangga kita sudah terjalin hampir 2 tahun lebih, selama ini aku sangat bersalah karena melampiaskan semuanya padamu. Aku akui aku salah tidak seharusnya aku berbuat seperti itu, jadi disini aku ingin ucapkan, maafkan aku! Maafkan aku jika selama ini tanpa aku sengaja aku sudah bikin hatimu terluka maafkan aku! Maafkan aku!"
"Memaafkan seseorang memang itu sudah jadi hal yang mudah untuk dilakukan setiap orang. Aku tau kamu salah! Tapi aku juga tau tindakan kamu seperti itu karena suatu hal, jadi aku bisa maklumi itu. Aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf padaku jadi aku juga ingin mengakhiri semuanya?"
"Sungguh?"
"Iya. Aku sungguh-sungguh memaafkan kamu, aku harap ucapan kamu ini akan mampu membuatmu berubah menjadi lebih baik lagi, termasuk menjadikan aku sebagai istrimu, yaitu pengganti dari Bintang, wanita yang selama ini kamu banggakan bahkan menyayanginya lebih dari dirimu sendiri jujur aku menginginkan kesempatan itu untuk kamu berikan ke aku, apa kamu bersedia?"
"Memang menjadi pribadi baik tidak semudah setiap orang mampu melakukannya. Aku sadar aku belum terlalu sempurna untuk menjadi suamimu dan kekuranganku karena kita masih belum sama-sama saling mencintai, tapi aku yakin berjalannya waktu cinta itu akan mulai tumbuh dan aku bersedia memberikan kasih sayang itu untukmu, aku bersedia?"
"Terima kasih Gas! Terima kasih!"
Sama-sama memberikan membalas pelukan itu, keduanya menunjukkan akan keinginannya untuk membenahi hubungan rumah tangga yang hampir berakhir ini, berhasil atau tidak hanya kuasa Tuhan yang tau. Berjanji bersama dalam sebuah ikatan perkataan manis akan mereka lakukan.
Dilain itu dari jarak tak terlalu jauh dari keduanya, ternyata secara diam-diam seseorang telah membuntutinya, mencengkeram kedua tangannya yang kekar. Bersamaan dengan tatapan tajam pria itu tunjukkan seakan-akan tak terima jika wanita yang disayanginya lagi-lagi jatuh ketangan pria yang ia benci.
"Tidak Anindya? Selama aku masih hidup jangan harap kalau kalian akan bahagia karena aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi tidak akan pernah! Berhasil mendapatkan Bintang aku masih terima itu, tapi apa mungkin aku akan membiarkan lagi orang yang aku cintai akan jatuh ke pria yang sama? Tidak! Tidak akan pernah!"
"Aku bahagia akhirnya aku mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya? Mendapatkan suami seperti dirimu sungguh ini diluar dugaan-ku. Aku sama sekali tidak menyangka Gas! Sama sekali tidak menyangka?"
"Tuhan sudah mengatur nasib kita, aku sendiri juga tidak menyangka jika kita akan bersama, oh iya aku ingin beli minum apa kamu tidak titip sesuatu?"
__ADS_1
"Aku tidak haus tapi tidak papa kamu belikan saja apa maumu aku akan meminumnya kok?"
"Baiklah kamu disini dulu biar aku yang beli sekarang ingat jangan kemana-mana ya?"
"Iya, aku tidak akan kemana-mana kok!"
Di-dunia ini aku sadar kebahagiaan memang ada. Dan aku tidak menyangka kebahagiaan ku aslinya ada pada seseorang yang selama ini aku kenal. Jujur aku sangat bahagia mendapatkan pria se'pengertian seperti Bagas, jadi aku mohon jangan pernah menjauhkan hubungan kami jika kami memang ditakdirkan berjodoh, aku mohon jangan jauhkan kami.
Duduk disalah satu kursi tersedia ditaman. Sedangkan dari arah barat Bagas terlihat menenteng dua gelas minuman yang barusan ia pesan. Dari kejauhan dirinya tidak menyadari jika seseorang telah memperhatikannya dengan cermat, pria itu menatapnya dengan tatapan tajam, tangannya yang menggenggam erat setir mobil, tanpa se'ucap kata pria itu mulai melajukan laju kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi.
Melihat jarak Bagas yang tambah semakin dekat menuju kearahnya, sedangkan Bagas yang sedari tadi hanya fokus dan pandangannya yang hanya menuju ke depan. Tanpa melihat arah belakang mau pun kiri membuatnya hilang konsentrasi, celakanya Mobil yang ditumpangi Pria yang tak lain Samudra semakin cepat semakin mendekatinya.
BRUAK.
Benturan yang tidak bisa dihindari lagi sesaat Samudra yang dengan sengaja telah menabrak Bagas dengan mobil hingga tubuh Bagas terpental jauh. Seketika darah segar seketika mengalir dari kepala mau pun hidung Bagas dengan sangat derasnya. Minuman siap dinikmati kini hanya tersisa wadah yang sudah pecah dengan air yang sudah ambyar entah seperti apa wujudnya.
Gerombolan orang mulai berdatangan, separuhnya mereka mengejar pelaku utama dari penabrakan ini. Kerumuman orang yang tiba-tiba muncul dan pada berlarian mengalihkan pandangan Anindya berbalik fokus pada kerumuman tersebut. Rasa penasaran memuncak yang akhirnya membangkitkan langkahnya menuju kerumuman tersebut.
"Ada apa disana? Kenapa orang-orang pada berkerumun disana?" gumam Anindya, melihat seseorang habis kesana ia lantas bertanya.
"Pak maaf mau tanya? Disana ada apa? Kenapa orang-orang pada berkerumunan?"
"Itu mbak disana baru aja ada korban tabrak lagi, pelaku sudah berhasil kamu ringkus namun korban masih terkapar disana kondisinya sangat memprihatinkan!" ucap salah seorang warga.
"Tabrak lari?" Rasa paniknya semakin menjadi, langkahnya perlahan mulai menghampirinya.
Tanpa memperdulikan orang-orang yang lagi berkerumun sembari melihat seseorang yang tak lain Bagas yang masih dalam tergeletak bersimbah darah di tanah. Bergegas Anindya berlari kearah kerumunan itu, sesampainya.
__ADS_1
"Bagas? Kenapa kamu seperti ini tolong ..panggil ambulan sekarang juga aku mohon, tolong ..." ucap Anindya sembari membopong tubuh Bagas yang penuh dengan darah yang terus mengalir di kepalanya.
"Mbak tenang saja, kita sudah menelfon ambulance tadi, sebentar lagi ambulan pasti akan segera datang. Jadi mbak tenang saja!"ucap salah seorang warga.
"Bagas aku mohon bertahanlah! Aku mohon, kamu harus kuat! Aku mohon jangan tinggalkan aku! Kamu harus kuat, aku mohon!"
Belum juga Bagas berkata sepatah kata, tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetaran, keringatnya yang tiba-tiba keluar, bahkan wajahnya yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi sangatlah pucat setelah dia mencoba menahan rasa sakit yang sedari tadi ia tahan. Pandangan mata juga mulai rabun, rasanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Anindya a ...aku sudah tidak kuat! Ini mungkin terakhir kalinya aku memandang mu jadi kamu bersedia ...bersedia menuntunku melafalkan k ..kata syahadat?"
"Tidak! Kamu jangan berkata seperti itu, aku yakin kamu pasti selamat! Aku yakin!"
Rasa sakit yang tidak tertahan telah ia rasa, muntah darah yang seketika ikut serta Pelan-pelan tubuh Bagas mulai tidak berdaya. Anindya yang hanya mampu bertumpah air mata dirinya akhirnya menggenggam erat tangan suaminya.
Kedua mata yang tadinya terbuka dengan lebar, kini dalam hitungan detik peja'man mata itu mulai kusut. Meringis kesakitan dilantai dengan banyak darah yang keluar hinga mengotori tanah ini.
Akan tetapi tuhan berkehendak lain, perlahan-lahan nafas Bagas mulai sesak, Anindya yang melihat kondisi Bagas tambah semakin parah, dengan berat hati dia pun membantunya untuk mengucapkan sebuah kata.
"Ikuti ucapanku, Asyhaduallla illaha ilallah, waashaduanna muhammad darrasuallah, Ikuti sampai ketiga kali!"
Setelah berat hati Anindya perlahan-lahan membantu Bagas untuk bisa mengucapkan lafal tersebut. Setelah tiga kali ia mengikutinya dengan suara terbata-bata ia akhirnya bisa mengucapkan lafal tersebut dengan sempurna, perlahan-lahan mata cantik Bagas pun mulai memejamkan matanya.
Tangisan Anindya mau pun seketika pecah ketika melihat orang yang baru ia banggakan lagi-lagi telah pergi meninggalkannya. Tangan yang tadinya menggenggam dengan erat, kini tangan itu mulai terlepas dari genggamannya.
TAMAT
TIDAK BANYAK YANG BISA SAYA UCAPKAN KECUALI RASA TERIMA KASIHKU PADA KALIAN SEMUA YANG TELAH BERSEDIA MEMBACA CERITA INI HINGGA SAMPAI DI BAB AKHIR.TANPA KALIAN MUNGKIN CERITA INI TIDAK AKAN SAMPAI DISINI, JADI SEKALI LAGI SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH, TERIMA KASIH.
__ADS_1