
Benar yang dikatakan Anindya, memang sudah lama kamu pergi meninggalkan aku tapi dengan bodoh dan egoisnya aku, aku masih saja mengharapkan akan kehadiranmu untuk kembali. Mungkin apa yang dia katakan memanglah benar jika aku harus mulai melepaskan kamu, sekarang sudah 2 tahun sejak kamu pergi jadi sudah sepantasnya aku untuk melepaskan kamu, sudah sepantasnya.
Pandangannya yang hanya diselimuti wajah penyesalan. Tak lama kupingnya terasa bergetar, kelopak matanya seketika merasakan akan sesuatu setelah dirinya mendengar akan suara seseorang yang mungkin pernah dia dengar sebelumnya.
Menatap kearah kanan mencari arah suara itu berasal, langkah Bagas yang tadinya hanya duduk termenung meratapi nasib. Kini langkah sekaligus tubuh itu seketika ia bangkitkan setelah dirinya yang melihat akan seseorang yang sangatlah mirip dengan Bintang, yang membedakan hanya penampilan keduanya yang terbilang cukup berbeda. Bintang yang ia kenal tampak sangat anggun dan kalem, namun kini yang ia lihat wanita itu terlihat masih sangatlah gadis belia. Bahkan seragam putih abu-abu yang dikenakannya telah membuktikan jika dia sungguh-sungguh masih seorang gadis ingusan.
"Bintang? Ini ...ini aku tidak salah lihat kan? Apa yang aku lihat ini beneran dia kan?"
__ADS_1
Wajah bahagianya kembali terukir jelas, menitihkan air mata sekaligus menunjukkan wajah bahagia tidak jelas apa yang ia rasakan saat ini, langkahnya langsung berlari menghampiri arah dimana seseorang yang sangatlah mirip dengan wajah Bintang tersebut. Memeluknya dengan sangat erat tak merelakan jika dirinya harus disuruh untuk melepaskannya.
"Bintang ini beneran kamu? Kamu beneran masih hidup kan? Aku tidak lagi salah lihat kan?"
"Om kenapa? Apa saya kenal dengan Om?"balas seseorang itu yang terlihat sedikit kebingungan, dia berusaha memberontak melepaskan pelukan tersebut. Sesaat kemudian gadis mungil itu pun akhirnya berhasil melepaskannya setelah mengigit lengan dari Pria itu.
"Hey! Om ini sebenarnya gila atau apa? Jika Om benar-benar gila alangkah baiknya Om segera berobat ke rumah sakit jiwa agar penyakit Om tidak sering kambuh! Aku pertegaskan ke Om lagi aku bukanlah orang yang Om kenal! Aku juga tidaklah kenal dengan siapa tadi? Bintang? Siapa itu bahkan aku tidak mengenal dengan seseorang pemilik nama itu, jadi jika Om masih bersikeras jangan harap Om tau siapa aku karena aku sendiri tidak tau siapa Om jadi pergilah!"
__ADS_1
"Bintang! Aku tau kamu sengaja berpura-pura tidak kenal denganku karena kamu mungkin ingin balas dendam denganku kan? Seperti yang kita lihat kamu mempunyai penyakit ganas, berusaha menjauh dariku ini kan yang kamu lakukan sekarang? Inilah rencana kamu selanjutnya rencana yang sudah kamu susun rapi-rapi bahkan berpenampilan seperti ini? Ini salah satu penyamaran yang kamu rencanakan kan?"
"Stop! Stop Om berkata omong kosong! Aku bisa saja membungkam Om dengan tangan kasar ku tapi aku sadar Om bukanlah sainganku, jadi jika Om tidak mau mencari masalah pergilah! Pergilah dari hadapanku karena aku tidak akan pernah termakan akan omong kosong Om itu ayo pergi! Cepat pergi!"bentaknya dengan kasar, sesekali mendorongnya namun yang dilakukan Bagas masih tidak ingin mengalah.
Lantaran diselimuti amarah yang memuncak. Seseorang yang sangat mirip menyerupai wajah Bintang itu pun seketika mengarahkan tangannya tepat mengenai pipi bagas. Dengan kasar mendorong Bagas hinga terjatuh tersungkur dihadapannya. Tanpa adanya rasa ibanya, gadis yang sangatlah mirip itu pun pergi tanpa memperdulikan pria yang ia dorong sampai terkapar ditanah.
Setelah pergi dan mendapatkan abaikan dari seseorang itu, pandangan Bagas mulai buram, dirinya menatap langit dan menatap awan cerah, pandangannya yang tambah mulai buram, tak menunggu waktu lama kedua kelopak matanya mulai tertutup dan dalam sekejab tubuhnya pun tersungkur ketanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
BERSAMBUNG.