
"Tidak disangka sudah enam tahun lamanya kita terpisah. Dan sejak saat itu hubungan kita sudah tidak pernah terjalin seperti adik kakak lagi, kenapa Kak? Kenapa kamu setega ini pergi tanpa memberikan pesan maupun kabar setelah memutuskan untuk pergi, jika pada awalnya kamu memutuskan untuk pergi dan menjauhiku kenapa kamu memberikan sifat keperdulian itu semua padaku, kenapa?"
Air matanya akhirnya terjatuh, hadirnya sesosok tangan dengan memberikan sap tangan sesaat mengalihkan pandangannya dari arah seseorang itu, mengusap air matanya secara perlahan seseorang yang tak lain Anindya ia lantas memberikan pelukannya.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis apa Samudra menyakiti kamu?"
"Tidak! Bukan Samudra yang telah menyakitiku aku sangat beruntung karena memiliki suami penyayang seperti dia, tapi yang membuatku sedih kenapa aku harus kehilangan seorang kakak disaat masa depanku sebahagia ini? Jujur dia memang bukan saudara kandungku tapi melihatnya pergi tanpa memberikan kabar aku merasa sakit! Aku merasa sangat sakit Anindya kehilangan sesosok seperti dia aku sangat sakit?"
"Bintang lihatlah aku! Kamu sekarang sudah bahagia karena mampu mendapatkan suami seperti Samudra? Dia selain tampan dia juga sangat pengertian! Sedangkan Bagas? Ijinkan dia untuk memilih kehidupannya, dia juga punya cita-cita dan impian untuk membahagiakan orang-orang yang sangat ia sayangi, jadi aku mohon jangan pernah menangisi kepergiannya aku mohon! Ada aku jadi usap air mata kamu usap ya?"
"Terima kasih Anindya terima kasih, untung saja aku hanya kehilangan kak Bagas aku sangat bersyukur aku masih memiliki kamu dan kamu masih mau menganggapku sebagai adik kamu terima kasih! Terima kasih!"
"Iya sama-sama Bin, kamulah yang membuatku menjadi pribadi seperti ini, kamu sudah terlalu baik jadi mana mungkin kebaikan yang kamu berikan akan aku balas dengan air tuba itu tidaklah mungkin, jadi usap air mata kamu jangan nangis lagi ya?"
"Iya Anindya, ya sudah aku masuk kekamar dulu ya aku merasa ngantuk?"
"Baiklah kamu memang harus banyak-banyak istirahat jadi masuklah?"
"Baiklah!"
"Tapi sayang kebaikan yang kamu berikan tidak sepenuhnya aku balas dengan sangat sempurna Bintang? Aku akui aku sangatlah jahat karena keegoisan mempertahankan anak ini aku tega mengkhianati mu dan berani main api di belakangmu dengan suami sendiri maafkan aku! Maafkan aku!"batinnya yang sesekali ia menitihkan air matanya.
Memasuki kedalam ruangan yang terdapat Samudra yang sedang memainkan ponselnya, sadar akan kehadirannya Samudra menaruh ponselnya dan memberikan ijin bagi Bintang untuk menyenderkan kepalanya di bahunya.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa wajah kamu tersedih ada apa?"tanyanya.
"Aku habis melihat albumku selama masih remaja, melihat foto-foto kebersamaan aku dan juga Anindya dan juga Bagas entah kenapa rasa rindu ini kembali muncul, mengingat persahabatan ku dengan Bagas sangatlah akur kenapa sejak menikah denganmu dia malah menjauhi ku?"
"Sayang. Kamu harusnya paham setiap orang punya cita-cita dan keinginan masing-masing, Bagas pergi bukan berarti dia menjauhi kamu, dia pergi karena dia ingin mengejar cita-cita termasuk menunjukkan padamu kalau dia bisa sukses jadi harusnya kamu paham! Ingat kamu bukanlah anak kecil jadi harusnya kamu paham sayang?"
"Iya benar yang kamu katakan sayang, dia pergi mungkin dia ingin mencapai cita-citanya, aku yang terlalu egois makasih ya sayang?"
"Iya sama-sama ya sudah kamu istirahatlah!"
"Baiklah sayang!"
"Bagas lagi! Bagas lagi! Kenapa setelah sekian lama aku harus mendengar nama itu lagi sungguh menyebalkan! Tapi ada untungnya juga aku memisahkan mereka, mereka sekarang sudah sangat menjauh dan aku suka itu!"batinnya dengan sinis.
FLASH BACK SMA
"Sekarang aku sadar tidak sepantasnya aku berharap terlalu lebih apalagi sampai berharap dan bermimpi jika kita akan bersama. Aku sadar cinta yang aku rasakan hanyalah cinta monyet dan mungkin perasaan seperti ini sudah banyak dirasakan oleh para remaja yang mungkin lagi dalam tahap awal pubertas. Aku sadar akulah yang terlalu bermimpi. Aku tidak menyangka jika cinta yang aku rasakan nyatanya telah bertepuk sebelah tangan aku akui aku sangat mengagumi ku tapi sadar cinta tidak bisa dipaksakan belum lagi aku juga tau kalau kamu sangat mencintainya jadi sebagai sahabat aku hanya bisa berdoa semoga kalian bahagia, semoga kalian bahagia!"
Pagi yang cerah dan hari ini adalah hari yang ditunggu bagi semua pelajar kelas IPA Xll yang akan mengetahui hasil kelulusan mereka sekaligus nilai dan peringkat mereka.
__ADS_1
Dan dalam hitungan menit perasaan mereka akan sangat merasa lega setelah mereka mengetahui pengumuman kelulusan mereka nanti.
Setelah seorang Guru yang menempelkan beberapa kertas di mading Sekolah, dengan segera mereka pun mengerubungi mading tersebut dan melihat data siapa saja nama orang yang lulus.
Tak mau kalah Bintang yang sedari tadi sedang bingung mencari keberadaan Bagas. Ia pun menyempatkan diri untuk melihat data tersebut. Wajah yang tadinya cemberut dan murung seketika berubah jadi bahagia sesaat ia melihat tiga nama yang tertera pada barisan paling atas.
Bintang Natalia Alvarelia
Bagaskara
Anindya Carmelita
"Akhirnya kita lulus An. Akhirnya kita lulus.
"Alhamdulillah, oh iya Bin dimana Bagas dia sekarang kenapa dia gak keliatan dari tadi apa dia sudah tahu kalau dia juga lulus. Kemana dia sekarang apa dia tidak masuk hari ini?'
"Iya Nih, aku juga bingung dimana dia sekarang yuk kita cari?"
"Baiklah ayo!"
Terdengar teriakan bahagia yang dilontarkan semua orang-orang setelah mereka melihat nama mereka tertera pada kertas pengumuman kelulusan tersebut.
"Percuma kamu mencarinya Bin karena orang sedang kamu cari nyatanya tidak akan pernah lagi berada disamping-mu!" timpal Samudra spontan membuat Bintang yang mendengarnya seketika kaget.
__ADS_1
"Apa maksud-mu?"
"Bagas hari ini memutuskan untuk pindah dan pastinya hari ini adalah hari terakhir dimana ia menginjakkan kakinya di Jakarta.
"Apa? Tidak, itu tidak mungkin kasih tahu jika apa yang barusan kamu katakan tidaklah benar?"
"Maafkan aku Bin, maafkan aku karena aku baru berani memberitahu-mu sekarang. Sekarang dia sudah berada di bandara jadi mungkin sejam atau pun sekarang ia sudah pergi meninggalkan Jakarta.
"Tidak, itu tidak mungkin. Kak Bagas tega banget kamu ninggalin aku ....tidak aku tidak akan membiarkannya," ucap Bintang yang rasanya inggin menangis setelah mendapat kabar ini. Tanpa berfikir lagi ia langsung berlari.
Tanpa menunggu lagi. Bergegas Revan pun berlari dengan sekuat tenaganya dan tanpa memperdulikan kerumuman yang menghadangnya. Layaknya tidak mengenal kata lelah ia terus berlari sampai keringatnya yang muncul tidak beraturan yang membasahi wajahnya. Dan hanya membutuhkan waktu 30 menit akhirnya ia sampai juga di bandara.
"Dimana dia sekarang kenapa aku gak melihatnya. Apa mungkin pesawat yang ditumpanginya sudah terbang, kemana lagi aku harus mencarinya.
Dengan perasaan campur aduk yang ia rasakan sekarang ini, ia terus memperhatikan setiap orang yang lewat dihadapannya. Melihat banyaknya orang yang berada di-bandara ini membuatnya sangat kesulitan untuk mencari keberadaan Putri.
Hingga pada akhirnya pandangannya pun teralihkan setelah ia melihat sesosok Laki-laki yang berjalan sembari menyeret koper yang ia bawanya. Melihat jaket hitam yang dikenakannya itu, bergegas ia pun berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang.
Dan ternyata firasat yang rasakan Bintang akhirnya membuahkan hasil. Lantaran orang yang ia peluk ternyata memang sungguhan Bagas.
Merasakan ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya, bergegas Bagas pun membalikkan tubuhnya dan melepaskan pelukan seseorang itu.
"Bintang. Kamu? Tahu dari mana kalau aku ada disini dan akan pergi ninggalin Jakarta?" tanya Bintang dengan wajah terkejutnya setelah melihat jika sesosok laki-laki berseragam sekolah yang sudah memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan, kamu anggap apa aku ini, kamu masih sahabatku tapi kenapa kamu asal mau pergi dan ninggalin aku dengan cara seperti ini tanpa mengucapkan pamit atau pun sepatah kata padaku?"
"Maaf aku harus pergi sekarang, pesawat yang aku naikin akan segera berangkat," ucap Bagas yang mencoba mengelak-nya. Tapi Bintang dengan langsung, langsung memegangi atas koper Putri.
"Gak aku gak akan biarkan kamu untuk pergi. Aku akan melepaskan kamu asal kamu berkata jujur kepadaku apa yang sedang kamu sembunyikan dariku. Dan apa alasannya kamu mencampakkan aku seperti ini aku butuh penjelasan yang jelas. Jadi aku minta kamu cepat katakan padaku?"tegas Bintang.
"Aku gak butuh alasan lagi untuk menjelaskan semuanya sama kamu. Mama akan menyekolahkan aku ke universitas yang tinggi. Universitas yang selama ini aku impikan jadi hanya itu ... Hanya itu yang bisa aku jelaskan ke kamu saat ini!"
"Jadi itu alasan kamu? Kalau kamu pergi gimana dengan nasib persahabatan kita yang sudah kita jalani hampir 10 tahun lebih ini. Apa kamu akan melupakan persahabatan yang sudah sejak kecil kita lakukan apa kamu akan melupakan aku begitu saja?"
"Maafkan aku Bin, maafkan aku. Aku punya impian yang harus aku wujudkan. Ada Anindya dan Samudra yang selalu hadir dalam mimpi dan berada disamping-mu jadi kamu masih punya dia ...kamu masih punya dia. Aku harus pergi selamat tingal ...."
Berusaha tidak inggin terlihat cengeng dihadapan Bagas. Dengan berusaha ia pun menahan air matanya agar tidak terjatuh dan membasahi kedua pipinya. Dan dengan memalingkan wajahnya agar tidak melihat kearah Bagas yang mulai menjauhi dirinya.
Bagas yang dengan perjalan menuju kearah masuk sesekali ia menatap kearah Bintang, tapi Bintang sengaja tidak membalas tatapan yang diberikannya. Hingga Bagas yang sudah sampai diujung pintu ia pun mengucapkan kata selama tinggal untuk yang terakhir kalinya yang akhirnya tubuhnya seketika menghilang dari pandangannya.
Bintang yang akhirnya menatap kearah Bagas tapi ia sudah terlambat yang bisa ia pandang hanyalah punggung Bagas yang perlahan-lahan mulai hilang dari pandangannya.
Sadar jika seseorang yang sudah ia anggap sudah seperti Abang kandungnya sendiri memutuskan untuk pergi. Hatinya terasa pilu tidak ada lagi yang namanya wajah yang terukir manis dari raut wajahnya. Kasih sayang yang diberikan layaknya seperti seorang Abang yang sangat penyayang nyatanya tidak selamanya kasih sayang itu akan hadir dalam hidupnya secara terus-menerus.
__ADS_1
"Kamu jahat Kak! Kamu jahat aku benci kamu! Aku sangat benci kamu!"
BERSAMBUNG