
"Jika nanti aku meninggal. Apa kak Bagas tidak akan menikah dengan seorang wanita, melupakan aku dan hidup bahagia bersamanya suatu saat nanti?" tanya Bintang yang membuat air mata Bagas menetes.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak mau membalas pertanyaan macam itu," balas Bagas seakan-akan tak mau menjawabnya .
"Kak? Jika pada dasarnya setiap manusia yang ditakdirkan bahagia dan merasakan apa itu cinta dan arti ketulusan. Apa di-dunia ini kamu sudah menemukan seseorang yang menurutmu dia adalah wanita yang memiliki hati sangat tulus? Aku ingin tau juga sebelum mencintaiku apa kak Bagas mengenal seorang itu lebih dulu dan menaruh perasaan yang paling dalam terhadap wanita itu?"
"Kenapa Bin, kenapa kamu selalu mengatakan seolah-olah kamu itu sudah menyerah dengan situasi ini? Menjawab pertanyaan kamu tadi apa aku harus mengatakannya secara jujur?"
"Karena sebelum aku pergi nanti aku ingin mengetahui apa isi hatimu yang sebenarnya. Aku mau jika nanti aku pergi, aku pergi dengan perasaan yang lega dan tanpa adanya sesuatu yang membuatku sedih begitu juga dengan diri kak Bagas? Aku tidak ingin kak Bagas menyiksa hati kak Bagas sendiri jika kehilangan aku nanti?"
Mata Bintang melebar saat tangan kekar Bagas yang menyentuh pipinya, pria itu menghapus bulir demi buliran air mata yang menempel di pipi Wanitanya, senyuman manisnya terukir di wajah Bagas, walaupun hatinya masih terasa sakit mendengar pertanyaan yang tak ingin ia balas.
"Jangan menangis!"
Sentuhan tangan Bagas mampu membuat senyuman Bintang seketika mengembang, Bagas segera mendekap tubuh Bintang dan berjanji akan selalu menjaga dan terus menjaga hinga ajal datang menjemputnya.
"Semua orang di-dunia juga pasti akan mati sama halnya dengan diriku sendiri. Jadi jangan beranggapan jika penyakit kamu ini tidak bisa disembuhkan aku sangat yakin jika nanti kamu sudah dapat obat aku sangat yakin kamu akan kembali normal seperti semula aku sangat yakin jadi kamu harus kuat?"ucapnya yang tak mau berhenti merangkul Bagas.
__ADS_1
"Tidak Kak. Aku tau kebanyakan orang yang mengidap penyakit ganas ini banyak yang tidak bisa selamat. Aku sangat yakin jika salah satunya nanti adalah aku sendiri. Dan kamu? Aku mau jika nanti aku mati kamu mampu menemukan wanita setia, tulus yang mampu bisa membuat kamu bahagia hanya itu permintaan aku kak, jadi aku ingin kak Bagas bilang jika ada seseorang yang kak Bagas kagumi secara diam, kak Bagas bilang padaku biar aku yang mempersatukan kalian, ayo bilang! Jika kak Bagas tidak punya seseorang yang kakak kagumi menikahlah dengan Anindya aku mohon! Aku mohon menikahlah dengan Anindya!"
"Akan tetapi mengagumi sangat berbeda dengan menyukai Bin. Mengagumi bukan berarti harus mendapatkan apa yang ingin kita miliki. Apalagi tahu jika seseorang itu sudahlah punya berlian spesial yang melekat pada hatinya pada seorang pilihannya. Jadi aku tidak mau merebut berlian itu dari genggaman-mu," timpal Anindya yang seketika datang dari belakang mereka.
"Anindya? Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu apa kamu tidak bisa menghargai perasaan Bagas yang dia berikan kepadamu? Dia sudah sangat mencintaimu bahkan berbagai pengorbanan sudah ia berikan apa kamu tega menyuruhnya untuk menikah lagi disaat hatinya sedang kacau memikirkan kondisimu? Ingatlah pada kenyataannya umur manusia kita tidak akan pernah tahu dan bisa saja nyawaku bahkan nyawa Bagas sendiri yang terlebih dulu diambil oleh Tuhan, begitu juga dengan semuanya. Aku percaya Tuhan tidak pernah tidur untuk menolong hambanya. Jika kamu memang sudah ditakdirkan untuk mati dengan cepat, kenapa? Kenapa tidak sedari dulu kamu meninggal! Kenapa?"
"Yang dikatakan Anindya memanglah benar! Dalam hal Menikah itu sangatlah gampang, tapi yang susah apa kita mampu menyeimbangkan keinginan kita jika pikiran kita tidak sejalan satu sama lain? Belum lagi menikah dengan perasaan yang sama-sama kosong apa mampu kita bisa menjalankan hubungan rumah tangga itu? Jadi aku mohon! Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku! Apalagi menyuruhku untuk menikah lagi karena sungguh aku tidak akan pernah melakukannya, aku mohon jangan pernah!"
"Syukurlah kalau kamu sekarang berubah pikiran aku lega sekarang, kamu jangan pikirkan tentang tadi mendingan sekarang kamu banyak istirahat karena kamu butuh istirahat yang cukup!"timpal Bagas.
"Iya kak aku bakal istirahat sekarang!"
Menghalangi Mama Bintang yang berniat ingin membelai wajah putrinya, Bagas secara pelan mengajaknya untuk keluar dari ruangan ini. Ketiganya yang sudah berada diluar kamar, mengijinkan Bintang untuk beristirahat ketiganya mulai pembicaraan.
"Kenapa Gas! Kenapa kamu melarangku untuk jangan bertemu dengan putriku? Dia sangat merindukanku?"
__ADS_1
"Maaf Ma! Bukan maksud Bagas jahat karena melarang Mama untuk jangan bertemu dengan Bintang, tapi kondisinya sekarang belumlah tepat! Kondisi Bintang sekarang lagi tidur stabil, bahkan dokter sendiri mengatakan jika kondisinya akan mampu kambuh secara tiba-tiba jadi sebagai penjagaan biar Bagas atur waktu yang tepat. Awalnya tadi Bagas sudah kepikiran untuk mempertemukan kalian, tapi Bagas sadar situasi ini belumlah tepat jadi pahamlah!"
"Benar yang dikatakan Bagas Tante! Saat ini kondisi Bintang belumlah normal secara seratus persen, kita takut sesuatu yang tidak kita inginkan akan terjadi jadi mengertilah pasti Bagas punya seribu cara untuk mempersatukan kalian, jadi sabarlah!"
"Baiklah kali ini aku hanya mampu mempercayai kalian, pintaku segera pertemukan kita karena aku sungguh-sungguh tidak sabar ingin meminta maaf pada Putriku?"
"Mama tenang saja dalam waktu dekat Bagas akan pikirkan rencana ini Mama janganlah cemas! Ya sudah sekarang Mama pulanglah, Mama terlihat pucat daripada banyak pikiran yang ada bikin darah tinggi Mama naik mendingan Mama istirahat saja biar Bagas yang jaga Bintang!"
"Iya Tan! Bagas benar Tante butuh istirahat aku akan mengantar Tante?"
"Baiklah aku akan pulang, kabari Mama kalau Bintang ada apa-apa?"
"Iya Mam! Bagas akan kabari Mama, Mama janganlah khawatir!"
Mencium telapak tangan Mama mertuanya, langkah kedua manusia itu perlahan mulai hilang dari pandangan Bagas, berlalu Bagas yang ingin menemui seseorang, seseorang itu sudah terlebih dulu berpapasan dengannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1