
"Sampai kapan kamu akan menangisi pria seperti itu? Ataukah kamu akan menangisi dia sampai air mata kamu mengering baru kamu akan terhenti untuk menangis lagi?"
"Kak Bagas tidak tau apa rasanya jadi kak Bagas diam-lah! Diam-lah jika tidak mau kena amukanku!"
Tak tega melihat Wanita dihadapannya menahan tangisnya, ia lantas memberikan pelukan hangatnya, membekap tubuh Bintang dengan erat pada pelukannya, Bintang lantas membalas pelukan itu bersamaan dengan derai air matanya.
"Sedari dulu kamu tidak pernah berubah! Kamu masih sama yaitu menangis dengan menunjukkan ekpresi wajah jelek kamu itu? Kamu sadar kalau kamu menangis wajah kamu itu tidak ada bedanya sama monyet-monyet yang ada di kebun binatang kamu mau mereka datang mengira kamu adalah temannya?"ledek Bagas yang spontan mampu bikin Bintang tersenyum malu.
"Tidak lucu!"balasnya dengan menahan.
"Wah rupanya susah juga ya belajar jadi pelawak? Tapi setidaknya kalau aku gagal aku tidak akan gagal untuk membuatmu tersenyum jadi senyum dong?" Mendengar ucapan Bagas barusan senyuman tipis tak sengaja ia tunjukkan, Bagas yang melihat dirinya hanya mampu menertawakannya.
"Kak Bagas selalu saja mencoba ngelawak tapi ujung-ujungnya pasti gagal! Oh iya kak apa aku boleh bertanya sesuatu sama kak Bagas? Selama ini aku sudah banyak menceritakan masalah hidupku pada kak Bagas, tapi sebaliknya kak Bagas tidak pernah bercerita apa-apa jadi bisa kan kak Bagas kasih tau aku siapa seseorang yang kakak cintai?"
"Apa kamu sungguh-sungguh ingin tau siapa wanita yang sudah berhasil masuk dalam hatiku?"ucapnya dengan memberikan tatapan ketulusan padanya.
"Iya aku memang sangat ingin tau kak, bisa kan kakak katakan padaku siapa wanita itu?"
"Baiklah berhubung suasana hatiku hari ini mulai baik aku akan kasih tau kamu siapa wanita itu? Tapi kita tidak bisa disini kamu bersedia ikut denganku?"tanpa membalas Bintang hanya menganggukkan kepalanya , memberikan kode jika dirinya sepakat akan keputusan Bagas barusan.
Awan hitam berselimut mendung telah mendukung akan suasana indah yang hendak akan dilakukan dua sejoli ini. Keduanya telah sampai disalah satu Restoran miliknya, keduanya lantas duduk satu persatu pelayan mulai mendatangi beberapa menu yang sudah sebelumya dipesannya.
"Kak Bagas tipe laki-laki yang sangat romantis? Wanita yang kakak cintai belumlah datang tapi kak Bagas sudah menyiapkan kejutan ini semua. Aku jadi tidak sabar seperti apa wajah cantik wanita itu sehingga berhasil membuat kak Bagas jadi seperti ini?"ucapnya yang hanya mampu tersenyum, melihat Bagas yang juga hanya tersipu malu dirinya lantas bertanya.
"Kak? Ini sudah jam berapa kenapa wanita yang kakak cintai tidak kunjung datang dia tidak akan membohongi kak Bagas kan?"
__ADS_1
"Kamu janganlah cemas! Tanpa kehadiran wanita itu aku tidak cukup memperdulikannya kok, yang penting seseorang yang sungguh-sungguh aku cintai sudah bisa aku pandang dengan leluasa. Bahkan bisa memandang mata indahnya saat ini aku sudah sangat bahagia kok?"
"Ma ...maksud kak Bagas?"
Beranjak dari tempat ia duduk, Bagas mulai berjongkok dihadapan Bintang, pandangan Bintang yang tak percaya berselimut penasaran dirinya lantas bertanya.
"Bintang?"ucapnya dengan tatapannya yang tak kalah tulus dari raut wajahnya.
"Iya kak ada apa?"tanya balik Bintang.
"Aku ingin kamu berdiri di sampingku saat ini?"pintanya.
"Berdiri disamping kak Bagas untuk apa?"
"Ayolah berdiri,"ucapnya yang kemudian ia pun mengandeng tangan Bintang dan mengajaknya untuk bersanding dengan dirinya.
"Aku sengaja membawamu kesini karena ada satu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu. Dihadapan banyaknya orang aku tidak perduli jika apa yang akan kamu katakan akan membuatku kecewa lantaran malu. Tapi aku tak perduli dengan semua itu, yang terpenting aku sudah melupakannya bagiku itu sudah lebih dari cukup dan mampu membuat perasaan-ku lega."
"Apa yang dimaksud Kak Bagas sekarang ini? Apa dia bermaksud ini menyatakan cintanya padaku? Dihadapan banyaknya orang yang sudah memperhatikannya?"batinnya dengan lirikannya yang ia arahnya pada pandangan semua orang.
Kemudian Bagas yang tadinya berdiri dihadapannya, Bagas terlihat sedang menekuk kedua kakinya, berlutut pada pandangan Bintang sembari tangan kanannya yang memegang tangan Bintang dengan eratnya.
"Kenapa kak bagas bela-belain berlutut seperti ini dihadapan banyak orang? Apa kamu tidak akan malu jika aku menolak-mu dihadapan mereka dan berganti mereka akan menertawakan kak Bagas? Apa kakak tidak akan malu jika semua ini akan terjadi?"
"Bagiku menahan malu sudah jadi makan keseharian semua orang termasuk diriku, tapi jika harus menunggu dan terus menunggu sampai bertahun-tahun lamanya, itulah yang membuat kesengsaraan sekaligus rasa sakit yang tiada habisnya jika harus terjadi berulang-ulang lagi.
__ADS_1
Jadi aku lebih memilih menahan malu ketimbang harus menahan rasa rindu yang rasa tidak sabar jika harus tetap menunggu. Aku sengaja berlutut seperti ini aku hanya ingin tau apa jawaban yang akan kamu ucapkan dan sepenuh hati aku akan menerima dengan lapang dada akan perasaan yang akan kamu berikan nanti, jika kamu menolak-ku aku tidak akan pernah membenci mau pun dendam padamu.
Tapi jika aku sampai mendapatkan hati kamu akan aku tunjukkan pada semua orang segitu spesialnya kamu dan segitu beruntungnya aku karena berhasil mendapatkan permata yang sangat indah ini jadi gimana? Apa tanggapan kamu apa kamu akan menolak-ku?"
"Jujur aku sendiri tidak tau harus mengatakan apa pada kak Bagas saat ini? Kakak orangnya terlalu nekat tanpa memikirkan apa yang akan terjadi jika aku sampai menolak-mu? Tapi yang namanya hati kita tidak bisa memaksakan dan sekarang dan hari ini maaf aku tidak bisa menerima cinta kak Bagas sebagai kekasih atau pun Istri sempurna aku tidak bisa!"
Bagaikan tersambar petir dalam siang bolong, Bagas yang tadinya raut wajahnya yang sudah terpenuhi rasa bahagia sekaligus penasaran ya tidak bisa ia pikirkan sebelumnya. Dirinya yang habis menerima jawaban tersebut, tangannya yang tadinya menggenggam erat tangan Bintang, kini tangan kini kembali terlepas dengan ekspresi wajah pasrah yang dihasilkan oleh Bagas sendiri.
"Aku tidak akan marah jika jawaban yang barusan kamu berikan cukup membuatku terkejut tapi setidaknya aku cukup lega karena aku sudah mendengar akan isi hati kamu yang sebenarnya Bin?"
"Kenapa kakak semudah itu putus asa? Apa dengan kata-kata ku yang mengatakan aku menolak-mu untuk menjadi suamiku seutuhnya kakak akan langsung menyerah dan pasrah seperti ini? Apa kakak lebih memilih aku menjadi pacar sekaligus kekasih yang hanya akan menjadi hubungan yang tanpa adanya kepastian? Apa kamu tidak berniat untuk memperjuangkan ku langsung?"
"Maksud kamu? Maksud kamu apa yang barusan kamu katakan tadi kamu sudah siap jika aku akan langsung meminang kamu tanpa harus menjalankan masa pacaran seperti orang-orang? Dan kali ini aku ingin menjalankan hubungan itu lebih dari seorang sahabat aku mau kita mulai menjalankan tugas kita sebagai suami-istri, saling mencintai dan memberikan ketulusan pada pasangan satu sama lain jadi kamu bersedia kan?"
"Menjalankan masa pacaran dengan status pasang kekasih aku rasa hubungan itu tidak akan memungkinkan kita akan menuju ke hubungan yang lebih harmonis. Kita sudah bersama sejak aku masih kanak-kanak hingga remaja, menjalankan masa-masa itu bersama dan menghabiskan waktu bersama aku rasa itu bisa dibuktikan jika kita pernah menjalankan hubungan tanpa adanya status dan kepastian yang kita buat bersama, jadi aku setuju dan tidak keberatan jika kita akan memulai hubungan baru lagi?"
Berbarengan dengan tangan Bagas yang mengeluarkan sepasang cincin yang dia keluarkan dari dalam sakunya, menunjukkan langsung dihadapannya sekaligus banyaknya orang yang sedari tadi menunjukkan rasa bahagianya.
"Iya aku bersedia pasangkan saja cincin-cincin ini dijari-ku?"ucap Bintang dengan senyumannya yang terukir secara tulus, menjulurkan tangannya pada hadapan Bagas membuat raut wajah Bagas yang melihatnya hanya bisa membalas senyuman tulusnya juga.
Melihat wajah bahagianya yang terukir jelas dalam benak Bagas, Bintang yang melihatnya ikut terharu diselimuti rasa bahagianya tapi bahagianya berbeda dengan kebahagiaan yang dirasakan Bagas saat ini.
"Melihat kakak tertawa dan senyum dengan lepasnya sudah membuat aku merasa menjadi Manusia yang sangat bahagia Kak. Biar pun pada kenyatannya aku sendiri tidak tau apa aku termasuk Wanita yang bodoh dan egois karena menyembunyikan kebenarannya jika sejujurnya tidaklah mencintai kak Bagas maafkan aku! Maafkan aku tapi aku janji aku akan berusaha untuk mencintai kak Bagas entah bagaimana pun caranya aku janji."
Batinnya yang selalu terucap, tatapan matanya selalu menatap balik pada Pria yang ada dihadapannya, melihat satu cincin sudah terpasang pada jari tengahnya, dengan pasrah dan suka rela Bintang mencoba tegar dan bahagia dihadapan semua orang.
__ADS_1
"Terima kasih Bin ...terima kasih,"ucap Bagas yang langsung memberikan pelukan hangat untuknya.
BERSAMBUNG