
Pemimpin guild Nort Dragon, Drake menatap kota Batavia yang terlahap api. Di saat semu player di kota tengah berjuang keras melawan pasukan musuh yang entah datang darimana untuk mendapatkan poin fame. Player dengan predikat sang naga dari timur itu justru bersantai dengan beberapa petinggi guildnya.
Mereka menatap kota yang sangat ramai itu di atas balkon hotel sambil menikmati minuman dan wanita, seolah mereka sedang merayakan sesuatu. Tidak lama kemudian datang seorang wanita dengan armor yang dinodai oleh darah.
“Apa anda yakin tidak ingin melakukan apapun di event ini?.” Gisella, penasehat guild Nort Dragon mempertanyakan keputusan pemimpin guild yang memiliki untuk tidak berpartisipasi dalam event, dan juga Drake membatasi member guild yang diijinkan mengikuti event.
“Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendekati keluarga kerajaan Jayakarta dengan semua Fame poin yang bisa kita dapatkan.” Gisella tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ketua guild nya hingga melewatkan kesempatan emas untuk semakin dekat dengan tujuan guild yaitu menjadi guild pertama yang menguasai sebuah kerajaan.
“Buahahaha....” Drake membalas perkataan Gisella dengan tawa terbahak-bahak, bir di mulutnya sampai tersembur keluar. “Kenapa kau bertanya akan sesuatu yang sudah jelas?.” perkataan Drake justru membuat Gisella lebih kebingungan lagi.
“Ahahaha.... aku tidak tahu jika bahkan Gisella yang dijuluki si paling pintar di guild kita pun bisa menunjukkan wajah seperti itu,” Dark Killer, petinggi guild Nort Dragon lainnya menertawakan Gisella.
Gisella tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun walaupun telah dijadikan bahan tertawaan rekan-rekannya. Wanita itu hanya menginginkan alasan keputusan Drake tidak membiarkan anggota guild Nort Dragon mengikuti event.
“Apa kau tidak melihatnya Gisella?, Padahal semuanya terlihat jelas di depanmu.” Drake menunjuk kerahk kota, belasan kapal terbang menembakan bola api lalu di bawahnya lautan pasukan penyerang membanjiri seluruh jalan menuju istana kerajaan.
“......” Gisella hanya terdiam melihat itu. Dia menyadari jika kerajaan ini sudah tidak dapat diselamatkan lagi, mungkin besok akan ada pengumuman kenaikan Raja baru Jayakarta.
“Tidak ada gunanya membela kerajaan yang sudah dipastikan akan hancur. Lebih baik kita mencoba memberikan wajah pada raja yang baru.” Drake tersenyum lebar seakan dia membayangkan masa depan yang cerah.
Tapi penjelasan Drake nampaknya masih belum cukup untuk meyakinkan Gisella. “Tapi bagaimana seandainya kerajaan Jayakarta berhasil bertahan, bukankah mereka akan musuhi kita karena tidak ikut membantu?.”
“Hahaha... bagaimana mungkin kerajaan ini bisa bertahan dengan penyerbuan pasukan sebanyak itu, sedangkan pasukan utama kerajaan sebagian besar sudah dikirim ke perbatasan.” Minghe assassin yang menjadi mata-mata guild Nort Dragon, membeberkan informasi yang tidak banyak orang ketahui.
“Jadi seperti itu....” Gisella sekarang memahami kenapa penyerang dengan mudahnya masuk ke ibukota, “Jika itu benar maka menang tidak ada masa depan untuk kerajaan ini. Sangat disayangkan usaha kita mendekati keluarga kerajaan selama satu tahun belakangan akan terbuang sia-sia.”
__ADS_1
Merasa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, Gisella ikut bergabung dengan anggota guild menikmati malam terakhir kerajaan Jayakarta. Mereka yakin jika hari esok akan menjy hari yang sibuk, terutama setelah Drake merencanakan akan menggerakkan seluruh kekuatan guild untuk menyerang kota terdekat.
“Kita akan mengobarkan api pemberontakan.” Drake sadar betul jika pengambilalihan kekuasaan akan menyebabkan pertentangan. Akan banyak pihak yang tidak setuju dengan tergulingnya Raja saat ini.
“Di sanalah kita akan menyuarakan pemberontakan, kita akan mendapat dukungan besar dari para npc. Kemudian perang terbesar yang belum terjadi sebelumnya di Minvers akan terjadi. Hingga pada akhirnya pemenang yang tidak lain adalah guild kita Nort Dragon akan mendapatkan segalanya.”
Para petinggi guild Nort Dragon bersorak keras setelah mendengar rencana Drake, mereka menganggap rencana itu sangat sempurna dan pemimpin mereka adalah pria yang sangat jenius. Sementara itu Drake memejamkan matanya saat membayangkan dirinya akan duduk di kursi Raja kerajaan Jayakarta.
“Akan bagus jika itu benar-benar menjadi kenyataan.” gumam Gisella yang merasa mulai mabuk setelah menghabiskan satu botol minuman.
“Aku terlalu mabuk hingga seolah melihat salah satu kapal terbang semakin rendah dan menuju ke mari.” kata Gisella sambil menunjuk kearah langit.
Tapi bukan hanya Gisella yang melihat kapal terbang itu semakin terbang rendah melainkan rekan-rekan pun dapat melihat hal yang sama, itu menandakan jika yang Gisella lihat bukanlah sebuah ilusi yang terbentuk karena mabuk.
“Apa ada beberapa player bodoh yang berharap bisa membajak kapal terbang?.” Drake berkomentar ketika melihat pertarungan di dek kapal.
“Itu percuma, belum ada player yang dapat mengendarai kapal terbang. Daripada itu aku justru penasaran bagaimana mereka bisa sampai ke sana.” Dred killer penasaran dengan para player di atas kapal terbang. Jarak yang masih jauh membuat tidak ada seorang dapat mengidentifikasi keempat player itu.
Kapal terbang semakin mendekat hingga akhirnya melewati gedung dimana mereka berada. Dalam jarak sedekat itu semua petinggi guild Nort Dragon pun dapat melihat keempat player yang mati-matian bertarung melawan armor berkilau.
“Brengs3k, mataku terasa terbakar setelah melihat para pecundang itu lagi.” Dred killer menunjukkan kebenciannya pada keempat anggota guild AFK. Tapi dia menunjukkan senyumnya saat melihat mereka mengalami kekalahan akibat armor berkilau mendapatkan bantuan.
“Mereka hampir saja memenangkan pertarungan, namun sayangnya keberuntungan mereka telah habis.” Gisella memberikan komentarnya, dia sangat terkesima dengan pertarungan yang baru dia lihat.
“Ahahaha.... bagus bunuh para pecundang itukalian pasukan berkilau!.” sementara Dred killer memberikan sorakan pada Armor berkilau untuk segera membunuh Hanna dan temannya. Tapi sayangnya apa yang sangat diinginkan oleh Dred killer tidak pernah terjadi.
__ADS_1
“Ke... kenapa!, Kalian jangan pergi begitu saja meninggal para kecoa itu,” Dred killer memprotes kedua prajurit berkilau meninggalkan keempat anggota guild AFK begitu saja.
Sementara itu dari sebuah jendela kapal keluar seorang wanita yang menggendong gadis kecil. Mata Gisella langsung terbuka lebar saat melihat gadis itu. “Putri Tasmira?!.” nampaknya Gisella mengetahui identitas dari gadis yang dibawa oleh Emira.
Ketika kedua prajurit berkilau memasuki kapal udara, Emira segera melompat dari jendela menuju dek kapal, dia segera melepaskan teman-teman dari belenggu sihir dengan merusak mantra dibawah kaki masing-masing.
“Cih, dasar tidak berguna.” Dred killer tidak dapat menahan kekesalannya ketika melihat orang-orang yang dia benci berhasil melarikan diri dari kapal terbang.
***
Saat masih di dalam kapal Emira membagikan blok hijau yang dia gunakan sebagai trampolin sebelumnya. Setelah masing-masing dari anggota guild AFK mendapatkan satu blok mereka segera melompat dari kapal.
“Woaaaaah!.” gadis itu berteriak keras saat dibawa oleh Emira jatuh dari ketinggian ratusan meter. “Ini gila, kau ingin mengajakku mati yah!.” gadis itu berpikir jika Emira hendak mengajaknya bunuh diri.
“Kenapa kau begitu histeris, padahal kau sudah melihat kegunaan blok hijau ini sewaktu kita menaiki kapal terbang.” Emira sangat terganggu dengan teriakan gadis dipunggunya.
Sebenarnya bukan hanya gadis itu, tapi semua anggota guild AFK termasuk Hanna juga agak ragu saat melompat dan mengandalkan blok hijau. Tapi setelah melihat bagaimana Emira melakukannya, mereka pun merasa bersyukur bisa selamat.
Blok hijau awalnya hanya seukuran genggam tangan, namun saat dilempar akan menjadi lebih besar. Emira melempar blok hijau ke tempat dimana dia akan mendarat. Sifat memantul dari blok hijau membuat Emira tidak mengalami cidera walaupun terjatuh dari ketinggian ratusan meter.
Begitu berhasil mendarat dengan selamat Emira, Hanna dan yang lainnya segera mencari tempat yang aman untuk gadis itu. Sedangkan di belakang mereka ledakan yang begitu besar terjadi hingga menimbulkan awan jamur membumbung tinggi ke angkasa seolah-olah sebuah bom atom baru saja diledakkan di kota.
***
Bersambung.
__ADS_1