
Markas guild Nort Dragon
[You are Dead]
“Uwaaa!.”
Seorang pemuda bangun dari tidurnya dengan teriakan. Mendengar kegaduhan itu banyak orang yang menatap ke arahnya.
“Kau sudah bangun?.” tanya seorang wanita dengan tatapan tajam. Dia terlihat seperti seorang guru yang menemukan salah satu muridnya terlambat masuk kelas.
“Ya... ya Nona Bein, seseorang menyerang kami.” pemuda itu berkata dengan terbata-bata karena merasakan intimidasi yang kuat dari tatapan wanita itu.
“Kau terbunuh?.” tanya wanita itu dengan nada sinis seakan dia tidak percaya.
“Benar.” pemuda itu mulai menundukan kepalanya karena tidak berani menatap balik.
“Oleh satu orang?.” ucapannya semakin mengintimidasi.
“Se... Sebenarnya ada tujuh player tapi iya aku terbunuh oleh satu orang dari kelompok itu.” pemuda itu semakin ketakutan.
Tatapan wanita itu semakin tajam seakan bisa melubangi kepala pemuda di depannya, hingga perhatiannya teralihkan saat ada orang lain yang bangun sambil berteriak seperti pemuda sebelumnya.
“Kau juga mati?.” tanya wanita dengan penampilan jaket joging itu
“Ya... ya kita mendapatkan serangan dadakan nona Bein!.” tidak seperti pemuda di sebelumnya, pria ini berbicara begitu bersemangat seperti tidak merasakan intimidasi dari wanita itu.
Pria itu pun menceritakan bagaimana dirinya dan rekannya terbunuh dengan begitu mudah oleh satu player bertopeng kucing hitam. Mendengar cerita dari pria itu membuat wanita bernama Bein tidak begitu saja percaya.
Bein pun meminta rekaman aktifitas kedua player itu selama online di game Minvers. Setelah melihat menit terakhir aktifitas kedua player, Bein pun akhirnya percaya pada keduanya.
“Mengalahkan dua player guild kami dengan waktu sesingkat itu, player dengan topeng kucing ini bukan player biasa.” tatapan Bein tertuju pada monitor yang menampilkan pembantaian dua member guild Nort Dragon.
“Segera kabarkan pada anggota yang masih ada di dalam Dungeon Tengkorak jika ada penyusup yang masuk. Prioritaskan mereka untuk bertahan hingga bantuan tiba.” perintah Bein pada anak buahnya.
“Siap, akan saya laksanakan!.”
Bawahan Bein pun segera menulis pesan untuk rekannya yang saat ini sedang berburu di dalam Dungeon tengkorak.
“Mereka sudah menerima pesannya, tapi apa anda yakin hanya menyuruh mereka untuk bertaha?.”
Mendengar pertanyaan itu Bein melirik anak buahnya. Mendapatkan tatapan tajam itu membuat dua tersenyum kaku dengan punggung berkeringat dingin.
__ADS_1
“Apa kau tidak melihat bagaimana kucing hitam itu membunuh dua player kit?.”
“Ya... itu begitu cepat, dan kuat. Tapi bukankah lima player saja sudah cukup untuk mengalahkan kucing hitam?.”
Nona Bein semakin menyipitkan matanya setelah mendengar perkataan anak buahnya.
“Oh lihat kita memiliki orang jenius di tempat ini.” ucap wanita itu sambil melihat sekitar, semua orang pun menatap pemuda yang duduk di depan komputer itu.
“Apa yang aku katakan salah?.” tanya si pemuda.
“Ya jelas salah beg0!.” teriak Bein membuat si pemuda segera menutup telinganya. “Apa kau tidak melihat jika bukan hanya kucing hitam itu yang datang, HAH! Apa kau tidak melihat enam player lainnya di belakang kucing itu, HAH?.”
Si pemuda terlihat menderita saat wanita itu berteriak di dekatnya. Walaupun orang disekitarnya merasa kasihan pada si pemuda, tapi mereka tidak berani menolongnya karena takut ikut merasakan penderitaan oleh kemarahan nona Bein.
Tapi Kemaraha wanita itu seketika berhenti ketika lima orang lainnya terbangun hampir bersamaan. Mereka adalah player yang sebelumnya berada di dalam Dungeon dan diperintahkan untuk bertahan dari serangan penyusup.
Wajah Bein seketika menjadi begitu serius setelah melihat rekaman bagaimana kelima anggota guild Nort Dragon dikalahkan.
“Siapa petinggi guild yang berada dekat dengan Dungeon Tengkorak?.” tanya Bein dengan wajah yang begitu tegang.
“Itu tuan Caracus, dia bersama timnya sedang beristirahat di desa terdekat.”
“Minta dia untuk segera pergi ke Dungeon Tengkorak.”
Tatapan Bein kembali pada layar monitor yang menayangkan rekaman pertarungan lima anggota guild Nort Dragon melawan tujuh player misterius.
Pertarungan yang tidak bisa disebut sebagai pertarungan karena tujuan player misterius begitu mendominasi. Mereka hanya menurunkan dua orang untuk melawan lima orang dan pertarungan selesai kurang dari satu menit.
“Mereka adalah para veteran,” gumam Bein.
***
Dungeon Tengkorak.
Lorong itu terbakar oleh kobaran api, lima mayat anggota guild Nort Dragon hangus terbakar di dalamnya, perlahan mayat-mayat itu menghilang menjadi butiran cahaya meninggalkan beberapa peralatan.
“Uwaaaa.... kita harus mengambil peralatan itu sebelum api menghancurkannya!.” teriak panik pria bertopeng banteng.
“Biar aku yang memadamkan api itu dengan sihir angin!.” kata Topeng kelinci begitu bersemangat.
“Apa sihir angin, tidak!.” topeng banteng berusaha menghentikan rekannya untuk menggunakan sihir angin pada api, tapi dia terlambat.
__ADS_1
“Angin beliung!.” sihir dari topeng kelinci membuat pusaran angin ditengah-tengah kobaran api. Tapi bukannya memadamkan api, pusaran api itu justru membuat kobaran api semakin membesar.
“Huwawawawaw....” topeng kelinci menjadi begitu panik melihat api yang semakin bertambah besar karena sihirnya.
“Oh tidak semua peralatan itu akan meleleh.” kata topeng banteng menyayangkan peralatan yang dijatuhkan oleh musuh mulai hancur.
“Oke sepertinya ini giliran ku.” topeng burung hantu maju sambil membawa bola kaca berisi cairan biru ditangannya.
“Ini adalah freezing poti....”
“Tidak ada waktu untuk presentasi!.”
Topeng burung hantu berniat untuk memperkenalkan item yang baru dia buat, tapi karena khawatir terlalu lama menghabiskan waktu, topeng banteng pun segera merebut bola dari tangan rekannya lalu dilempar kedalam kobaran api.
Dalam sekejap kabut putih bersuhu dingin menyebar memadamkan api dan membuat lantai serta dinding di selimuti oleh Es. Melihat itu membuat semua orang terpana dan mulai tepuk tangan, kecuali untuk topeng banteng yang segera mengambil peralatan di tanah.
“Ah sungguh malang semua ini sudah tidak bisa diselamatkan.” topeng banteng mulai menangis sesenggukan seolah telah kehilangan anaknya sendiri.
“Salahmu sendiri karena menggunakan sihir api utuk melawan anggota guild Nort Dragon.” kata topeng kelinci.
“Haaaa! Kau mengatakan itu begitu enteng seakan tidak melakukan kesalahan apapun.” Banteng menunjuk-nunjuk kepala topeng kelinci, “Jika kau tidak menggunakan sihir angin maka semua anak baik ini tidak akan mendapatkan nasib begitu tragis!.”
“Hentikan kadal!.” topeng kelinci yang marah segera menyingkirkan tangan topeng banteng dari kepalanya.
“Dasar tidak tahu terimakasih, sudah syukur aku membantumu!.”
“Membantu apanya, kau justru membuat masalah menjadi lebih besar!.”
Keduanya terus ribut hingga hampir terjadi perkelahian. Tapi topeng merah mengerikan melerai keduanya.
“Huweeee, bunga.... kadal itu benar-benar jahat.” topeng kelinci mengisi di belakang topeng merah mengerikan. Tapi tangisan itu sebenarnya hanya akal-akalan saja, topeng kelinci menjulurkan lidahnya untuk meledak di banteng.
“Kuh... lalat Sialan!.” kata Banteng yang begitu kesal pada Kelinci.
Tanpa sadar Banteng mengepalkan tangannya membuat semua item yang dia pungut hancur menjadi debu, melihat itu membuat Banteng menangis keras.
“Banteng tidak ada waktu untuk bertingkah konyol, kita sedang diburu oleh waktu. Aku yakin bantuan guild Nort Dragon sedang menuju kemari.” Kata Burung Hantu.
Setelah banteng pulih dari gangguan mentalnya, kelompok itu pun melanjutkan perjalanan menuju lantai berikutnya.
***
__ADS_1
Bersambung.