Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
93(Arc2): Menikmati Festival bersama Hanna


__ADS_3

Pawai bergerak menuju Collosus, tempat itu benar-benar penuh oleh player dikarenakan developer seperti telah memanggil banyak artis untuk meramaikan acara satu hari ini.



Tiket terjual habis hanya dalam tiga puluh menit setelah event dimulai. Aku dan anggota guild AFK bahkan tidak ada satupun yang mendapat tiket masuk. Tapi kami tidak khawatir karena ada perlakuan khusus untuk player yang menduduki papan Ranking.



Developer memberikan tiket eksekutif pada para Player Renked. Aku yang berada di posisi pertama mendapatkan kursi VVIP, kursi terbaik di colloseum.



Tapi aku tidak mau menggunakannya.



Kursi VVIP merupakan sebuah singgasana tempat raja menonton pertandingan di Collosus, tempat yang begitu terbuka hingga semua penonton bisa melihat sang Raja di mana pun mereka duduk.



Mungkin sebagian player yang gila akan perhatian, kursi VVIP adalah tempat terbaik yang ingin mereka duduk. Tapi tidak untukku.



“Jika aku duduk di sana, aku akan merasa seperti manekin pada toko pakaian yang berdiri di depan jendela kaca hanya untuk pajang.” gumamku.



Saat ini aku berserta Hanna sedang berada di taman bermain. Event hanya berlangsung selama satu hari, daripada menghabiskan waktu untuk menonton para idol di Colloseum, kami berdua lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang.



Walaupun begitu beberapa anggota guild AFK juga pergi ke Colloseum menggunakan tiket khusus mereka. Hanna dan Emil yang tidak tertarik dengan konser memberikan tiket mereka pada Lilian dan Ariska, sedangkan Setyo tengah menikmati perannya menjadi Raja karena aku memberikan tiket VVIP milikku padanya.



Satu jam berlalu, kami telah mencoba semua wahana dan permainan di taman hiburan.



“Bisakah kita pergi ke rumah hantu sekali lagi?.” Hanna memohon sambil memeluk lenganku.



“Rumah hantu? Apa kau sedang mencoba membunuh kakak perempuanmu ini atau semacamnya?.” jawabku dengan wajah lelah.



“Ahahaha... aku hanya bercanda.” dia tertawa keras saat mengingat berhasil membuatku ketakutan ketika kami memasuki rumah hantu.



Sebenarnya aku tidak memiliki ketakutan pada hantu. Ini bukan sebuah pembelaan, aku hanya tidak suka mendapatkan jumpscare karena membuatku panik dan seringkali lepas kendali.



Sebelumnya aku sudah mengatakan pada Hanna jika rumah hantu hanya dimasukin oleh para pasangan. Karena itu akan menjadi momen romantis jika pasanganmu memeluk secara tiba-tiba ketika mendapatkan kejutan dari para hantu.



Tapi Hanna mengatakan jika saat ini tidak memiliki seorangpun kekasih. Jawaban Hanna membuatku berhenti sejenak untuk memikirkan dunia yang semakin menjadi aneh.



Begitu aneh hingga gadis secantik adikku masih belum memiliki pengalaman tentang dunia percintaan. Itu benar dia sama sekali belum sekalipun berpacaran, aku mulai khawatir jika nantinya dia harus dijodohkan oleh ibu karena tidak kunjung menemukan seorangpun Pria.



“Apa kau yakin tidak kesurupan setan prawan tua atau semacamnya?.” kataku sambil menikmati eskrim bekicot.


__ADS_1


“What!,” Hanna tersedak eskrim mentimun setelah mendengar pertanyaan dariku.



Ada satu kedai eskrim di area taman hiburan yang menjual eskrim dengan rasa yang tidak biasa. Dibandingkan disebut unik tempat ini lebih baik disebut aneh.



Seperti sebuah Rusian rollet, pembeli diharuskan memutar sebuah roda yang menunjukan bermacam-macam rasa eskrim. Kami berdua mencoba karena penasaran hingga mendapatkan eskrim mentimun dan eskrim bekicot. Rasa yang benar-benar aneh.



Tapi kami masih merasa beruntung mendapatkan dua rasa itu.



“Bleh... bleeh... eskrim apa ini, rasanya sangat pahit, aku pikir ini rasa alpukat tapi ternyata pare.” seorang player tidak kuat memakan eskrim yang baru dia beli. Tapi tindakan itu justru menimbulkan kemarahan dari pemilik kedai.



Beberapa pembuat eskrim keluar dari kedai lalu memukuli player yang telah membuang eskrim yang dia beli. Beberapa saat kemudian para pembuat eskrim itu meninggalkan player yang kini tertutup oleh cairan kental berwarna putih.



“Hem... itu cukup SuS bukan?.”



“Ya, itulah akibatnya jika kau membuang-buang makanan.”



Kami berdua menikmati pertunjukan yang baru saja terjadi.



\*\*\*




Seorang pembawa acara dengan topeng jester berdiri di tengah panggung. Sorakan para penonton bergemuruh begitu melihat kehadirannya. Aku tidak mengerti kenapa para penonton begitu antusias.



Hingga Hanna memberitahuku jika pembawa acara itu cukup terkenal karena merupakan seorang personil grup idola terkenal.



“Bagaimana mereka bisa mengidolakan seseorang yang menyembunyikan wajahnya dengan topeng?.” aku semakin yakin jika dunia yang aku tempati sekarang begitu berbeda dari yang aku kenal.



“Banyak fans yang bilang jika wajahnya tampan hingga bisa menyebabkan para wanita terkena stroke jika melihatnya.” kata Hanna.



“Dan kau juga percaya itu?.” tanyaku.



“Mana mungkin.” Adikku menjawab dengan begitu ketus, seperti dia memiliki sesuatu dengan pria bertopeng badut itu.



Duduk di bangku taman sambil menikmati kopi dan beragam kue. Kami terus menonton layar yang memperlihatkan keadaan Colloseum. Hingga tiba-tiba sebuah pesan muncul.



\[Apakah anda akan mengikuti Turnamen?. Yes/No?\]

__ADS_1



Pesan itu bukan hanya aku yang menerima. Aku melihat Hanna pun mendapatkan pesan yang sama, begitu pula para player di sekitar.



“Akhirnya ini dimulai!.”



“Ini kesempatanku untuk bersinar!.”



“Ahahaha... aku pasti akan masuk seratus besar!.”



Semua player di Festaland begitu antusias setelah mendapatkan undangan untuk mengikuti turnamen.



Aku melirik Hanna yang duduk di sampingku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, matanya menunjuk kepercayaan diri dan ketakutan yang bersamaan. Tapi beberapa saat kemudian dia mengangguk kecil seolah telah memutuskan sesuatu.



Hanna bangkit dari tempat duduk lalu berdiri di depanku. Dengan raut wajah yang sangat serius dia pun berkata, “Kakak, kali ini aku pasti akan mengalahkan mu!.” ketegasan yang dia perlihatkan sungguh membuatku terpukau.



Tidak ada yang bisa aku katakan, aku merasa takut sendiri saat melihatnya seperti itu. Bertarung dengan adikku sendiri, itu adalah hal yang paling menyulitkan untukku. Kami pernah melakukan satu kali sebelumnya, dan sejujurnya itu membuatku trauma.



Tapi aku tidak bisa mengecewakan adikku yang telah sungguh-sungguh mengutarakan niatnya untuk bertarung melawanku.



“Tentu, perlihatkan padaku sudah menjadi apa adikku sekarang.”



Kami pun menekan tombol konfirmasi keikutsertaan turnamen secara bersamaan.



“Kali ini aku tidak akan kalah.” ucapnya penuh percaya diri.



“Kau begitu yakin. Kepercayaan diri adalah hal baik, tapi jangan berlebihan karena hanya akan menyakitimu sendiri.” aku memberinya saran karena tidak ingin Hanna pensiun dari pemain ini karena kalah dariku.



“Ahahaha... bukankah kakak yang terlalu percaya diri?.” dia tersenyum tapi matanya tidak. “Aku memiliki senjata rahasia yang tidak akan pernah kakak duga-duga, Hehehe....” senyuman itu berubah menjadi begitu jahat.



Mendadak aku merasa sangat khawatir.



“Ap....apa itu sebuah jumpscare?... Jika iya, lebih baik aku tidak jadi ikut.” aku dengan cepat mengajukan pembatalan keikutsertaan turnamen, tapi Hanna segera menghentikan dan berjanji itu bukanlah sesuatu yang menyeramkan dan berisik.



\*\*\*



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2