
Satu hari berlalu setelah kepergian Estrid, warga desa melakukan kegiatan mereka seperti hari biasanya.
Kehidupan para kambing jauh lebih baik sekarang, selain mereka bisa merumput sesuka hati di ladang bawah tanah, mereka pun menikmati pemandian air panas seperti para manusia.
Namun bukan berarti mereka hidup bermalas-malasan ditengah para manusia yang terus bekerja keras membangun desa.
Para kambing digunakan oleh warga untuk berbagai keperluan, ada yang digunakan untuk peternakan, pengangkut, tunggang dan lain sebagainya.
Raja kambing tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh manusia pada kawanannya, selama tidak ada satupun dari mereka yang dimakan.
Mungkin untuk saat ini semua itu tidak masalah karena penduduk desa masih tidak terlalu tertarik pada dagi kambing.
Pembangunan jembatan berjalan lebih cepat karena bantuan dari para kambing yang digunakan sebagai penarik grobak pengangkut material.
Anak-anak murid Estrid menunggangi kambing untuk berpatroli dan berburu. Dalam waktu singkat para kambing bisa menjadi bagian yang begitu berguna untuk kehidupan para warga.
“Sepertinya jembatan akan segera selesai.”
“Benar, mungkin kita hanya memerlukan waktu dua minggu lagi untuk menyelesaikan sisa jembatan.”
“Aku sudah tidak sabar melihat kota pelabuhan, sudah lima tahun bukan.”
“Berpikir jika desa ini akan kembali dihidupkan, aku pikir itu hanya mimpi belaka, tapi lihat sekarang impian sudah di depan mata untuk terwujud.”
“Semu ini karena nona Estrid.”
“Benar.”
Hektor mendengar percakapan antara para pekerja yang membangun jembatan. Dia pun memikirkan kembali rencananya setelah jembatan selesai di bangun.
Pemuda yang berkerja sebagai keamanan desa itu berpikir akan menikahi kekasihnya Sania di kuil yang terdapat di kota pelabuhan jika jembatan selesai dibangun.
Rencana sederhana yang hampir saja bisa dia wujudkan. Hingga tiba-tiba...
Embeeekk!
Para kambing yang digunakan sebagai hewan penarik grobak tiba-tiba berhenti dan mengembik dengan keras, beberapa diantaranya melihat ke arah sungai. Para pekerja kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh para kambing.
“Apa yang kau lihat kawan?.” tanya seorang pekerja yang kemudian melihat kedalam sungai.
__ADS_1
Pekerja itu sangat terkejut melihat apa yang ia lihat. “Manusia ikan, para manusia ikan datang!.” teriaknya. Mendengar itu para pekerja yang penasaran pun melihat ke dalam sungai dan benar saja puluhan atau bahkan ratusan manusia ikan sedang berenang menuju permukaan.
Sebuah tombak melesat cepat mengarah pada salah satu pekerjaan yang menatap sungai, namun sebelum tombak itu mengenai sasarannya Hektor segera menarik si pekerja dari belakang.
“Huwaaa!.” pekerja itu berteriak panik karena hampir saja nyawanya melayang.
“Semuanya menyingkir dari sungai!.” Hektor yang tahu jika ini adalah serangan dari manusia ikan pun segera meminta pada para pekerja untuk meninggalkan jembatan.
Jembatan yang belum selesai dibangun itu sepanjang 460 meter. Para pekerja yang berlarian menyelamatkan diri terus diteror oleh manusia ikan yang mencoba menyerang dari dalam air.
Satu manusia ikan melompat dari dalam air lalu melempar trisula miliknya kearah seorang pekerja, tapi beruntung bagi pekerja itu karena Hektor dengan sigap menangkis trisula dengan tombaknya.
Lalu trisula yang ditangkis segera Hektor kembalikan pada pemiliknya dengan lemparan yang begitu kuat hingga satu manusia ikan tewas begitu saja.
Sepanjang jalan menuju tepi sungai Hektor terus berusaha untuk melindungi para pekerja. Semakin lama serangan para manusia ikan semakin gencar, puluhan monster itu berusaha keras untuk membunuh mereka.
Tapi beruntung saat Hektor hampir berkeringat karena banyaknya serangan yang datang, dari tepi sungai pasukan pengendara kambing memberikan bantuan.
“Seperti yang master Estrid khawatirkan, manusia ikan memang menyerang.” kata Jara.
Anak-anak yang telah mendapatkan pelatihan dari Estrid dengan mudah melawan para manusia ikan.
Namun karena jumlah lawan yang terlalu banyak dan minimnya informasi membuat mereka tidak berniat melawan manusia ikan, tapi hanya fokus untuk menyelamatkan para pekerja.
“Hektor, apa yang terjadi?.” tanya Herka setelah melihat banyak warga datang ke ladang dengan wajah cemas.
“Para manusia ikan yang sebelumnya Estrid tangkap, mereka menyerang dengan pasukan besar. Desa permukaan sudah mereka kuasai sekarang.” balas Hektor.
Mendengar kabar itu membuat semua orang di ladang menjadi panik. Tapi Herka yang merupakan pemimpin desa berusaha membuat mereka tenang.
“Estrid telah membuat gerbang pelindung yang kuat di setiap jalan masuk goa. Kita aman dari para monster itu di dalam goa ini.”
Para warga menjadi tenang setelah mendengar perkataan Herka. Dan memang benar seperti yang wanita tua itu katakan, dua jalu utama yang menghubungkan goa yaitu saluran sungai dan pintu masuk goa saat ini telah di tutup rapat dengan pintu besi.
Semua orang diminta untuk sementara waktu tinggal di dalam goa, sementara itu mereka yang bisa bertarung seperti Hektor dan murid Estrid mulai mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan terhadap monster ikan yang saat ini mengambil alih desa mereka.
Rencana serangan balasan dibuat begitu matang hingga malam tiba. Para warga yang berkumpul di ladang bunga tidak merasakan khawatir karena percaya jika mereka akan baik-baik saja di dalam goa.
Ditengah rapat, Sania tiba-tiba mendapat pesan dari Estrid yang mengabarkan jika dirinya tengah berada di atas gunung Frieg dan hampir menembus awan saat mendaki.
__ADS_1
Kabar itu tentu membuat semua orang senang karena Estrid yang tidak memberikan kabar apapun selama dua hari cukup membuat semua orang khawatir.
“Lihatlah, aku akan menunjukan langit yang sesungguhnya pada lalian.” kata Estrid dengan penuh kebanggaan.
Sania pun berinisiatif untuk mengumpulkan semua warga agar menonton momen itu bersama. Mereka tidak menceritakan apapun mengenai serangan manusia ikan yang kini menguasai desa, semua orang hanya tidak ingin Estrid menjadi khawatir dan mengganggu perjalannya.
Di ladang bunga Lunar Tear, semua warga berkumpul menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan.
Langit malam yang bersih dengan bintang yang tidak terhitung jumlahnya sungguh mempesona.
Semua orang meneteskan air mata, sudah bertahun-tahun mereka hidup dalam kegelapan yang begitu dingin. Tidak ada satu pun yang berpikir jika suatu saat akan memiliki harapan melihat langit itu sekali lagi.
Tapi semua itu terjadi hari ini berkat seorang wanita yang telah mereka anggap sebagai pahlawan.
Malam beranjak pergi, matahari mulai menampakan dirinya dari cakeawal. Walaupun hanya melihatnya dari pemutar video tapi seakan semua orang dapat merasakan kehangatan dari sinarnya.
Video call dari Estrid berakhir setelah itu. Semua orang jatuh dalam keheningan setelah video itu berakhir. Hingga Hektor pun berkata.
“Kita harus membersihkan desa untuk menyambut kepulangan Estrid.”
Perkataan Hektor sontak membakar api semangat di dalam diri para warga. Banyak orang yang ingin bergabung menjadi pasukan perlawanan. Melihat semangat para warga membuat Hektor yakin jika mereka akan dengan mudah mengalahkan penjajahan manusia ikan.
Beberapa jam setelah persiapan, Hektor membawa ratusan prajurit dari pintu masuk goa menuju desa. Sementara itu tim lain yang dipimpin oleh Sania menggunakan jalur kedua, menunggu di saluran air bawah tanah.
Saat pasukan Hektor menyerang para manusia ikan dari depan, pasukan kedua segera melakukan serangan dadakan.
Jumlah manusia ikan mencapai lima ratus sementara pasukan penduduk desa hanya sebanyak empat puluh manusia. Namun strategi matang yang berjalan dengan baik membuat pasukan manusia ikan kebingungan sehingga mereka dengan mudah di kalahkan.
Tapi ditengah pertandingan besar itu tiba-tiba langit menghujani seluruh daratan dengan hujan petir, kemudian raungan keras terdengar terus menerus.
Jiwa setiap orang merasa ketakutan dari suara Auman itu, seakan seekor naga tengah mengamuk di atas langit.
“Master sedang menjalani ujian.” ucap Priska yang saat ini mengendarai seekor kambing.
Mendengar perkataan gadis itu membuat setiap warga langsung mengetahui apa yang terjadi. Mereka semua sudah tahu apa ujian yang dimaksud.
Ujian mengerikan yang terlihat begitu mustahil diselesaikan oleh manusia biasa. Banyak cerita yang diedarkan oleh para murid Estrid, semua cerita itu terdengar sangat hebat sehingga terasa terlalu berlebihan.
Tapi untuk orang yang menyaksikan secara langsung bagaimana Estrid melalui ujian yang di berikan dewa padanya, mereka justru mengaggap jika cerita yang disampaikan oleh para murid Estrid justru terlalu sederhana.
__ADS_1
***
Bersambung.