
Di tengah hujan petir, pertarungan antara para warga dan manusia ikan terus berlanjut.
Grooour!
Suara Auman datang dari barisan belakang pasukan manusia ikan, lalu bayangan hitam besar menutup setiap tentara manusia ikan.
“Itu ikan yang cukup besar.” ucap Hektor saat melihat sosok manusia ikan yang begitu mengintimidasi.
“Aku pikir dia adalah pemimpin dari pasukan lawan.” kata Sania.
“Ini akan menjadi pertarungan yang mematikan.” kata Byrome.
Kedua pasukan saling berhadapan. Sebelumnya Herka mengira pertarungan ini akan dimenangkan dengan mudah, tapi semua itu berbalik saat kedatangan komandan pasukan musuh.
Manusia ikan paus dengan tubuh besar mencapai lima meter itu begitu mengintimidasi.
Tapi kehadiran komandan pasukan musuh bukan berarti prajurit dari desa akan mundur, karena sebelumnya dalam rapat strategi semua orang telah mengira jika komandan musuh akan muncul.
“Hektor, bagaimana menurutmu?.” tanya Herka.
“Aku sudah lama ingin bertarung dengan nona Estrid, mungkin melawan makhluk ini akan menjadi pemanas untukku.” balas Hektor yang kemudian melangkah maju membawa tombaknya.
“Priska!.” Hektor memanggil gadis yang memiliki keahlian pemahaman bahasa untuk berbicara dengan para manusia ikan.
Gadis itu pun berdiri di samping Hektor. Pasukan ikan tidak bergerak karena perintah komandan. Ikan besar itu seakan mengerti apa yang akan terjadi.
“This is our Champion, the greatest Soldier in this land.” Priska berkata dengan bahasa manusia ikan. “Untuk mengurangi korban yang tidak perlu, kami mengajukan duel. Pemenang akan mendapatkan apa yang dia inginkan dan yang kalah...”
Sebelum Priska menyelesaikan kalimatnya, pasukan manusia ikan segera memisahkan diri menjadi dua kelompok, mereka membuka jalan untuk komandan manusia ikan menghampiri hektar.
“Gragik raghik ghotis sagarrrrr!” paus besar yang berdiri dengan dua kaki itu berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti kecuali oleh Priska.
Hektor dan semua pasukan dipihak warga desa menatap Priska seakan ingin tahu apa yang dikatakan oleh komandan manusia ikan.
“Yang kalah akan menjadi pecundang katanya.” kata Priska.
“Oh... sangat mudah dipahami.” balas Hektor.
Priska segera kembali ke barisan pasukan desa, manusia paus itu terus memperhatikan gadis yang memiliki kemampuan pemahaman bahasa. Dia berpikir jika manusia itu akan sangat berguna untuk koloni manusia ikan nantinya.
“Jangan melihat gadis kecil itu dengan tatapan seperti itu. Apa kau seorang l0lic0n atau semacamnya?.” kata Hektor.
Ikan paus itu menatap tajam kearah Hektor, tubuhnya yang lebih tinggi menatap rendah pada prajurit terkuat desa.
__ADS_1
“Gorus tetua yoo...”
“Hah? Apa lu kata?.” Hektor kebingungan.
“Dia mengatakan jika kau akan mati!.” Priska berteriak dari tengah pasukan desa.
“Oh... ya semua yang hidup akan mati pada akhirnya. Tapi hari ini bukan hari kematianku.” Hektor memasang kuda-kuda, tombaknya mengarah pada lawannya.
“Odin telah mengatakannya padaku.” lanjutnya.
“Gurooaaaa!.” ikan paus mengayunkan pedang tulangnya dengan kuat, Hektor segera menahan dengan tombak. Kuatnya ayunan pedang ikan paus membuat kaki Hektor terpendam dalam tanah karena dampak benturan.
Melihat jika lawannya tidak dapat bergerak akibat kakinya masuk kedalam tanah, ikan paus pun mengira pertarungan ini akan segera dia menangkan.
Pedang tulang diayunkan secara horizontal bermaksud untuk memenggal kepala Hektor, tapi pemuda itu segera mengunakan tombaknya yang dijadikan pelontar untuk melompat ke atas.
Langit bergemuruh dengan petir yang terus menyambar, Hektor yang masih melayang setelah lompatan segera mengaktifkan skill miliknya.
Bagaikan magnet, tombak Hektor menarik sambaran petir dari langit. Kekuatan yang luar biasa besar dirasakan oleh semua orang, dari bawah mereka menatap Hektor bagaikan dewa petir yang akan menjatuhkan bencana
“Gungnir!.”
Tombak yang dipenuhi energi petir itu dilepaskan kearah manusia ikan paus. Terjadi ledakan energi yang begitu dahsyat, hingga rumah penduduk di sekitar hancur karena sambaran petir dari serangan Hektor.
“Woah, aku tidak mengira kau masih utuh. Selama tujuh tahun aku tidak pernah menemukan lawan yang bisa menahan serangan ku tadi.” kata Hektor.
Komandan pasukan manusia y sudah tidak bisa bertarung, itu merupakan kemenangan dari pihak manusia. Tapi seakan tidak menerima kekalahan mereka, semua pasukan ikan segera melakukan serangan.
“Dasar pecundang!.” Byrome marah karena para manusia ikan tidak menghormati perjanjian sebelumnya.
Melihat pasukan ikan telah bersiap menyerang, prajurit desa pun mempersiapkan diri mereka. Banyaknya tentara manusia ikan membuat setiap orang sadar jika pertarungan ini akan menjadi sangat sulit, beberapa korban pasti akan jatuh.
Tapi ketika pasukan manusia ikan menyerbu pasukan desa yang memilih menggunakan strategi bertahan, tiba-tiba Sambaran petir yang sekuat serangan Gungnir milik Hektor meledak ditengah pasukan manusia ikan.
“Whaaa.... Hektor kau bisa menggunakan Gungnir dua kali!.” Grock terkejut melihat sambaran petir Itu.
“Bukan, itu bukan aku.” balas Hektor.
“Kalau bukan kau lalu siapa?.” kata Sania.
Mendengar jika bukan Hektor yang melakukan serangan petir barusan, beberapa prajurit desa mulai khawatir karena takut jika muncul monster lain selain pasukan ikan.
Kabut tebal menyelimuti daerah dimana petir itu menyambar. Kemudian muncul siluet makhluk berkepala naga dengan jumlah lebih dari satu.
__ADS_1
Auman menggelegar.
Sepuluh sayap mengembang.
Api, angin, petir, debu dan kegelapan disemburkan dari masing-masing kepala.
Suara teriakan penuh kesakitan mengguncang jiwa, entah makhluk apa yang mampu membuat naga lima kepala menjadi begitu menderita.
“Aaaaaahahahaha.” tawa seorang wanita yang terdengar gila mulai pecah.
Kelima kepala naga dengan putus asa mencoba menyingkirkan wanita yang saat ini tengah merobek dada mereka. Tidak peduli dengan serangan yang datang wanita itu terus mengoyak dada naga dengan cakarnya.
Hingga saat kesehatannya begitu kritis, wanita itu berhenti untuk menarik nafas dan dalam sekejap kesehatannya kembali dipulihkan.
“Dapat!.” wanita itu kemudian menarik sesuatu dari dalam dada naga yang membuat monster itu menjerit kesakitan. Setelah menarik sekuat tenaga akhirnya dia mendapatkan apa yang dicari, sebuah bongkahan daging yang masih berdetak dalam cengkraman tangan si wanita.
Guntur berhenti, tidak terdengar lagi suara kesakitan lima kepala naga, mereka semua tergeletak lemas menanti ajal setelah satu-satunya jantung yang mereka miliki telah ditarik keluar.
Angin berhembus kuat menyingkirkan debu yang menghalangi memandang. Terlihat jelas sosok wanita yang telah membuat naga berkepala lima begitu tersiksa.
Dengan rambut merah menyala, aura tebal penindasan menyelimuti dirinya, dua sayap emas dengan armor berkilau, dia terlihat seperti seorang Dewi perang.
Tapi darah hitam yang membasahi seluruh tubuhnya membuat wanita itu justru lebih mirip seperti iblis yang baru saja keluar dari comberan.
“Aaahahahaha....” dia tertawa terbahak-bahak tanpa peduli dengan ratusan mata yang menatap kearahnya.
Dengan penuh senyum mengerikan diwajahnya, dia meremas jantung naga yang berhasil dia ambil. Darah hitam mengalir dari tangannya, hingga hembusan nafas terakhir dari kelima kepala naga mengakhiri ujian harian.
“Oh yeah.... Oh Syit.”
Estrid baru sadar jika dirinya telah menjadi pusat perhatian. Dua sama sekali tidak menyangka jika pertarungannya dengan naga hitam akan berakhir di desa.
‘Ini sangat memalukan, apa mereka melihat semuanya? Apa mereka milihatku saat aku tertawa jahat...“
Dia tiba-tiba menjadi begitu panik.
‘AAAAAAAAAAAAAA.. aku ingin menyembunyikan wajahku di lubang kelinci.’
***
Bersambung.
__ADS_1